Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
7


__ADS_3

Dony dilanda kerinduan di pagi hari. Walaupun dia marah pada istrinya, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia masih menyimpan rasa cinta yang sudah tertanam sejak enam tahun terakhir. Dony memang sejak dulu mengagumi Nining yang berbeda dengan wanita-wanita lain yang dia kenal. Nining wanita yang mandiri, penurut dan pendiam. Dia sangat patuh kepada kedua orang tuanya dan itulah yang semakin membuat Dony mantap menjadikan Nining sebagai istrinya.


"Iya. Aku harus secepatnya menemui Nining. Aku gak mau ada yang merebut Nining dari tanganku. Dulu Nining menjadi incaran banyak laki-laki dan dia wanita yang setia, pasti baju itu bisa dijelaskan oleh Nining. Aku gak akan biarin satu orang pun memiliki kesempatan untuk memisahkan kita dan merebut dia dari tanganku."


Sekarang pikirannya jauh lebih tenang, dia bisa berpikir jernih untuk memutuskan apa yang ingin dia lakukan.


***


Nining melakukan aktivitas seperti biasa. Walaupun semua tertata rapi, nyatanya hatinya tidak. Dia merasa ada yang kosong dan hampa tanpa kehadiran sang suami di sisinya.


"Mas Dony kangen gak, ya, sama aku? Aku di sini kangen banget sama Mas Dony," gumam Nining sambil mengusap foto suaminya yang sedang mengenakan jas hitam pernikahan. Menyiratkan rindu yang begitu dalam.


Terlihat dalam foto tersebut dia menggampit mesra tangan Doni dengan senyum lebar penuh kebahagiaan. Hari di mana mereka mengikat janji suci untuk berdua hingga akhir hayat.


"Aku harus ke rumah orang tuanya Mas Dony. Aku gak boleh biarin Mas Dony salah paham sama aku terus. Iya … aku harus ke sana demi keutuhan rumah tanggaku dengan Mas Dony." Sekarang Nining pun bersiap untuk ke rumah orang tua Dony yang berjarak cukup dekat dengan rumah orang tuanya.


Dengan pakaian yang sederhana dan riasan yang natural, Nining tetap terlihat cantik karena memang dasarnya dia sudah cantik. Riasan biasa pun tidak mengurangi kecantikan alaminya. Wajah ayu khas orang Sunda dengan biir tipis. Sangat cantik disertai hidung yang mancung.


Menyeruak wangi parfum hingga ke hidung Sri yang tengah asyik bergurau di telpon bersama temannya yang sama-sama tidak punya sopan santun. Mereka tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan keadaan orang lain yang mungkin saja terganggu karena kerasnya tawa mereka.


"Wangi banget. Wangi parfum siapa ini?" ucap Sri tiba-tiba, mencari asal muasal wangi tersebut.


Begitu melihat Nining keluar menggunakan motor dan helm di kepala, Sri segera mendekat.


"Aku gak boleh biarin Nining ketemu sama Mas Dony dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa Mas Dony jatuh cinta dan kepelet lagi sama Nining jelek itu. Gak akan saya biarkan itu terjadi. Saya harus berbuat sesuatu," kata Sri, secepat kilat mengatur rencana baru.


"Mbak Nining mau ke mana?" tanya Sri pura-pura baik.


"Aku mau ke rumah Mas Dony. Mau coba menjelaskan sendiri pada Mas Dony. Siapa tahu dia akan percaya sama ucapanku," jelas Nining. Keputusannya yang terlalu terbuka membuatnya dalam masalah besar.


Tentu saja Sri tidak akan membiarkan itu terjadi dia segera bersandiwara memegang perutnya.


"Aduh, perutku." Sri memegangi perutnya yang tidak sakit. Dia marus menggagalkan niat Nining untuk menemui Dony agar hubungan mereka tidak membaik.


"Mba Sri kenapa? Mba sakit?" sela Nining khawatir.

__ADS_1


"Perut saya sakit. Kayaknya asam lambung saya kumat, deh, gara-gara makan kekenyangan," ucap Sri asal.


"Hah? Asam lambung bukan dikarenakan kekenyangan, Mba. Tapi zat asam yang berlebih dalam lambung." Nining bingung. Apa yang dikatakan Sri membuatnya heran.


"Iya … kan makannya pedes sama asem. Kebanyakan dan kekenyangan. Kan jadinya sakit perut. Aduh, sakit banget. Tolong saya, Mba," karang Sri agar Nining percaya. Inilah ketika sekolah tidak memperhatikan pelajaran dengan baik. Berbohong saja tidak nyambung.


Untungnya Nining orang baik sehingga tidak ada rasa curiga kalau Sri akan mengelabuinya. Dia percaya begitu saja dengan semua ucapan Sri.


"Aduh, gimana ya? Aku mau ke jemput Mas Dony." Nining bingung.


"Aduh, sakit. Sakit banget. Masa Mba tega biarin saya kesakitan? Tolong saya, ya, Mba? Ke rumah Mas Donynya besok aja. Dia pasti ngerti, kok, kalau sekarang gak bisa dateng. Mba Niningkan orang baik, pasti tahu mana yang harus didahliukan dan mana yang bisa ditunda," bujuk Sri. Pokoknya dia harus berhasil. Jangan sampai Nining dan Dony baikan.


"Ya, udah, deh. Ayo naik. Aku antar ke dokter yahg di depan sana, ya?" Nining menunjuk sebuah praktek dokter bersama yang masih buka sampai jam delapan malam.


Yes. Usaha Sri berhasil. Setelah ini, masih ada rencana lain yang akan membuat hubungan mereka tambah kacau.


***


Sri dan Nining menunggu giliran diperiksa. Sambil menunggu, Sri mengirim pesan pada seseorang untuk datang.


"Saya masuk dulu, ya? Tapi tolong tungguin saya sampai saya pulang. Saya takut gak bisa pulang sendiri," pinta Sri.


"Iya. Aku tungguin di sini, kok," balas Nining sambil memperhatikan Sri yang menghilang masuk ke ruang pemeriksaan.


Agar tidak bosan, dia pun mengambil ponsel ingin memberitahu Dony kalau setelah ini dia akan datang menjemput suaminya tersebut.


"Aduh. Maaf-maaf," kata seseorang. Belum sempat Nining mengirim pesan, seseorang menabrak Nining dan ponsel yang dipegangnya jatuh hingga berserakan di lantai.


"Yah, HP-ku," sesal Nining melihat ponselnya hancur berantakan. Memungut bagian-bagian ponsel, dia merasa sedih karena tidak bisa memberitahu Dony tentang niatnya untuk datang.


Orang yang menabrak Nining pun langsung memungut bagian-bagian ponsel itu.


"Aduh, maaf banget, ya, Mbak. Aku gak sengaja. Aku akan tanggung jawab. Akan aku service HP-nya. Bagaimana kalau sekarang Mba ikut aku ke tukang servis? Lalu setelah selesai, biar Mba yang bawa, tapi nanti aku yang bayar," ajak lelaki itu bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah dia perbuat.


"Tapi aku lagi nunggu temen yang lagi diperiksa. Kalau dia udah selesai tapi gak ada aku gimana? Dia pasti kebingung kalau lihat aku nggak ada di sini," jawab Nining memikirkan Sri.

__ADS_1


"Itu gak masalah. Nanti aku akan bilang ke bagian pendaftaran, untuk meminta temannya Mba menunggu sebentar. Lagian konternya gak jauh dari sini, kok. Jadi Mba juga gak akan kerepotan kalau nanti HP-nya sudah selesai diservis dan bisa diambil. Bagaimana?" Tawaran lelaki itu cukup menggiurkan, Nining pun bersedia ikut dengan lelaki tersebut.


Konter yang dimaksud dekat dengan praktek dokter yang sedang dikunjungi Sri dan Nining. Hanya menyeberang jalan, mereka berdua pun sudah sampai.


"Berapa semuanya, Pak?" tanya lelaki itu.


Setelah mengecek kondisi ponsel Ningsih, dia membuat kwitansi dan diberikan pada lelaki tersebut.


"Baik, akan aku bayar semuanya. Tapi nanti yang ambil Mba ini, ya?" ucap lelaki itu sambil menghitung uang yang ada di dompet tebalnya.


"Terima kasih. Ssya terima uangnya, ya?" jawab pemilik konter.


"Kwitansinya diberikan ke Mba ini saja soalnya nanti yang akan ambil HP-nya Mba ini." Kwitansi yang sudah di-cap lunas pun diberikan pada Nining, service ponsel selesai, mereka berpisah dan berjanji tidak akan meminta ganti rugi lagi karena HP-nya sudah selesai.


Nining kembali ke ruang pemeriksaan dan ternyata Sri sudah duduk sambil celingukan mencari keberadaan Nining.


"Akhirnya Mba datang juga. Saya kira Mba ninggalin saya sendirian di sini," tutur Sri ketakutan.


Nining tersenyum disertai rasa penyesalan. "Maaf, ya, Mba. Tadi HP-ku rusak makanya tadi di-servis di depan sana. Tapi sekarang udah selesai, kok. Ayo kita pulang." Mereka pun pulang


Sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Sri meminta Nining untuk menemaninya di rumah karena dia takut sakitnya kembali kambuh dan tidak ada yang membantunya. Akhirnya Nining pun menjaga Sri hingga Sri terlelap di jam dua belas malam.


"Yah … udah tengah malam. Gak mungkin kalau aku ke rumah Bapak sekarang. Besok pagi aja aku ke sananya," lirih Nining, melirik jam dinding Sri yang sudah bertumpuk di angka yang sama. Nining pun pulang setelah memastikan Sri sudah baik-baik saja.


***


Dony sudah sampai di kantor. Hari ini dia sudah tidak sabar untuk menemui Nining–istrinya tercinta.


"Woi, Bro! Senang banget romannya? Gimana, udah selesai masalahnya?" sapa Adam sambil menepuk pundak Dony dengan keras.


"Alhamdulillah pikiranku sekarang sudah lebih baik. Maaf, ya? Kemarin aku emosi sama kamu," jawab Dony dengan senyum merekah.


"Santai saja, Bro. Gue tahu siapa Loe. Loe itu emosian kalau lagi ada masalah, tapi nggak mau ngomong masalahnya apa. Itu yang bikin gue sebel sama Loe. Harusnya Loe itu ngomong masalah Loe itu apa, biar gue bisa bantuin. Jangan diem aja. Tahu-tahu meledak kayak petasan," ledek Adam ditemani kekehan.


"Iya-iya, maaf." Dony hanya menjawab semua keluhan Adam, tapi tak tahu apakah nanti dia bisa melakukan apa yang diinginkan Adam–sahabat baiknya.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel, Dony pun langsung membukanya. Suasana hati yang berbunga-bunga seketika berubah hancur saat sebuah foto terpampang jelas di ponsel miliknya. Pesan yang baru saja masuk membuat emosi Dony kembali memuncak.


__ADS_2