Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
39


__ADS_3

“Iya, ya, Mas. Aku baru ingat tentang kejadian itu. Tapi, ya, sudahlah. Masa iya Mba Sri sejahat itu sampe mau celakain aku? Mungkin cincinnya hanya menggelinding dan jatuh tepat di sampingnya. Kan cincin itu bundar sudah pasti kalau jatuh pasti menggelinding jauh. Lagian untuk apa dia nglakuin itu ke aku, Mas?” Nining tidak percaya dengan kecurigaan Dony.


“Mungkin—“ Dony merasa kalau Sri menyukainya, tapi dia tak berani mengatakan semua itu di hadapan Nining. Bisa bahaya kalau sampe terjadi perang dunia lagi.


“Mungkin apa Mas?” tanya Nining.


“Enggak-enggak. Mungkin Mas yang salah.” Dony mengurungkan niat untuk mengatakan dugaan ekstrimnya.


Nining hanya mengangguk. Lalu kembali menatap beragam bunga yang bermekaran di taman. Dony melihat ada tukang es krim keliling dan menghentikannya. Dia membeli dua es krim berbentuk kerucut.


“Es krim.” Dony membuka lalu memberikannya untuk Nining.


“Terima kasih. Kok, bisa ada penjual es krim di sini?” tanya Nining heran.


“Ya ada. Kan mereka cari rezeki. Memangnya kenapa?”


Nining menggeleng. Dia memakan es krim, lalu memandang sepasang kekasih yang tengah berantem di depannya. Mereka yang awalnya bersama, kini saling marah bahkan pergi meninggalkan pasangannya.


“Kalau seandainya ada orang yang suka sama aku selain Mas, gimana?” tanya Nining tiba-tiba.


“Tergantung,” jawab Dony.


“Tergantung dia mencintai kamu. Kalau cintanya padamu melebihi cinta Mas padamu, Mas akan melepaskan kamu untuk dia agar kamu lebih bahagia. Tapi jika cintanya padamu tak lebih besar dari cinta Mas padamu, akan Mas pertahankan kamu sampai aku mati.”


“Kenapa seperti itu?” Nining heran.


“Untuk Mas … yang lebih Mas utamakan adalah kebahagiaan kamu. Jika cinta Mas kalah oleh cinta seseorang yang jauh lebih besar mencintai kamu dan bisa membuat kamu bahagia, Mas dengan senang hati melepas kamu untuk dia. Untuk Mas, bukanlah bersama kamu. Tapi kebahagiaan kamu. Untuk apa kamu bersama Mas kalau kamu tidak bahagia. Lebih baik Mas jauh dari kamu tapi kamu bahagia.”


“Kalau aku gak bahagia sama dia gimana?” Nining kembali bertanya.

__ADS_1


“Kalau kasusnya kamu gak bahagia. Maka Mas akan berusaha mmendapatkan kamu sekuat hati Mas.”


“Terima kasih.” Nining bahagia mendengarnya.


“Untuk apa?”


“Untuk semua yang Mas lakukan untuk aku.”


“Mas gak nglakuin apa-apa untuk kamu. Daritadi Mas di sini makan es krim.”


Nining mencebik kesal. Dony tidak bisa diajak pura-pura. Menyebalkan. Nining merajuk dan duduk menjauh sambil membuka es krimnya dengan kasar. Dony melirik sambil tertawa. Diajak bicara serius, ternyata dia malah meledek. Iya, Dony memang suka melihat Nining merajuk.


“Dasar Mas Dony nyebelin. Gak bisa romantis.” Nining ngomel sendiri sambil makan es krim dan memandang bunga-bunga yang indah. Namanya sedang kesal, tentu saja bunganya yang tadi bagus terasa jelek. Nining benci hal itu.


“Maaf.” Dony mendekat dan menjewer kedua telinganya sambil berjongkok. “Maafin Mas, ya? Mas ngaku salah. Nining cantik, Nining manis, jangan marah lagi, dong?” rayu Dony agar Nining tak lagi marah.


“Gak mau. Kecuali … Mas push up sepuluh kali. Di sini. Iya, di sini.” Nining menunjuk tanah yang ada di hadapannya.


“Di sini, Sayang? Di depan umum?” Dony ragu.


“Iya. Di sini. Ayo cepat push up. Sepuluh kali.” Nining mengetes Dony. Apakah dia mau melakukan apapun demi dirinya.


“Sebenarnya malu, tapi demi kamu, Mas rela menahan malu. Ok, sekarang juga Mas akan pus up di sini.” Dony pun siap-siap push up.


Banyak pasang mata yang memperhatikan tingkah Dony, tapi Dony cuek saja. Dia asyik push up sambil menghitung sampai sepuluh hitungan.


“OK, sudah selesai. Sekarang apa yang harus Mas lakukan lagi agar kamu mau maafin Mas?”


“Hmm, apa, ya?” Nining berpikir keras. Kira-kira hukuman apa yang harus dia beri untuk Dony yang sudah mengerjainya?

__ADS_1


“Beli bunga terus dijadiin kalung. Habis itu dipakai,” iseng Nining.


“Ok.” Ternyata Dony langsung mencari tukang bunga untuk melakukan apa yang diminta oleh Nining.


Nining ditinggal sendirian hingga beberapa menit. Setelah kembali, Dony sudah memakai kalung bunga dan berlenggak-lenggok seperti wanita. Nining tertawa gemas. Hari ini Dony sungguh lucu, Nining tidak bisa berhenti tertawa.


“Apa, sih, Neng? Kok, tertawanya sampai segitunya? Apa ada yang salah dengan Eike?” kata Dony dengan suara seperti wanita dan itu membuat perut Nining semakin sakit gara-gara tertawa terus.


Bukan hanya Nining yang tertawa, banyak juga yang menertawakan Dony.


“Syukur kalau Nining bisa tertawa dan mau bicara lagi padaku. Gak pa-pa jadi bahan tertawaan banyak orang, asal Nining gak lagi marah.” Dony bahagia bisa membuat istrinya bahagia.


***


Mereka sudah pulang ke rumah. Nining kecapekan saat di mobil hingga dia pun tertidur saat masih di perjalanan. Dony hanya memadangi wajah capek Nining dan tak berani menyentuh. Dia tak mau mengganggu istirahat sang istri. Setelah puas, dia keluar dan duduk di ruang tamu.


“Aku masih penasaran dengan Sri. Sebenarnya apa yang disembunykan oleh wanita itu. Sejak dulu aku dengar desas desus kalau dia suka sama aku. Apa karena masalah dulu itu, sampai sekarang Sri masih menyimpan rasa untukku dan tega berbuat nekad pada Nining?”


Dony mengenang kisah saat dirinya menolong Sri saat hanyut di sungai. Dia melihat Sri sangat bahagia saat tangan Dony berhasil menariknya dan dia pun selamat. Sejak sat itu Sri berubah. Dia lebih suka dekat dengan Dony daripada yang lain.


Dony pun sering diledek tentang hal itu. Namun, Sri bukan wanita idaman Dony. Bahkan sampai dia berumur dua puluh tahun, tidak sedikit pun rasa cinta hadir untuk Sri. Dony hanya menganggap Sri teman biasa.


Sejak bertermu dengan Nining, barulah Dony merasakan hal yang berbeda. Nining wanita yang lembut, cantik dan baik. Hati Dony bergetar saat pertama kali melihatnya.


“Nining itu kembang desa di sini. Banyak yang suka sama dia. Kalau kamu suka sama dia, cepat lamar dia. Aku dengar kalau dia gak mau pacaran lama, tapi maunya dilamar lalu menikah,” ucap Lucky waktu itu. Dia sangat mendukung Dony yang memilih Nining sebagai pujaan hatinya.


“Kamu juga. Kamu harus perjuangin Sri. Aku tahu kalau suka sama Sri. Gini aja. Kamu nembak Sri, aku nembak Nining. Terus … kita lamaran di hari yang sama dan nikah di hari yang sama juga. Ginana?” usul Dony, ingin sekali dia dan Lucky selalu bersama walaupun sudah besar.


“Apa Sri mau menerimaku? Bukannya dia lebih suka sama kamu, ya?” Lucky rendah diri. Karena selama ini yang dia dengar Sri menyukai Dony bukan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2