Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
53


__ADS_3

Nining memang selalu tahu apa yang sedang dirasakan oleh Dony. Dony tersenyum, percuma berbohong pada istrinya sendiri karena dia tak akan bisa berbohong.


“Iya, Mas ngaku. Tapi sakit sedikit,” aku Dony sambil tersenyum agar Nining tidak terlalu mencemaskannya. “Mas cuma butuh minum, haus.”


Segera Nining mengambilkan minuman yang ada di meja. Kebetulan sudah ada jatah makan dari rumah sakit untuk pasien. Air putih dan juga teh manis hangat sudah tersedia, Nining menawarkan salah satu di antara minuman itu dan Dony memilih air putih.


“Makan, ya? Habis itu minum obat biar cepet sembuh,” bujuk Nining dengan senyum manis. Tangannya mengusap tangan Dony yang tidak terinpus.


“Iya. Biar bisa mesra-mesraan lagi sama kamu, ya?” canda Dony. Dia memang tidak pernah lupus mengajak istrinya bercanda agar tidak terlalu tegang.


“Ih, Mas ini. Lagi sakit juga, masih sempet-sempetnya mikirin itu.” Nining malu dan kesal.


“Ya habis mau apa lagi? Mau langsung kerja juga passti gak akan dibolehin sama kamu. Kamu pasti akan suruh Mas untuk cuti sementara agar kondisi Mas pulih total. Iyakan?”


Nining berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan oleh Dony. Tidak akan mungkin dia mengizinkan Dony langsung kerja, pasti Dony akan disuruh istirahat sementara waktu.


“Iya, deh, iya. Ya udah, aku ambilin makan dulu, ya.” Nining mengambil makanan lalu menyuapi Dony sampai makanan itu habis tak tersisa. Tak lupa dia segera membantu Dony untuk minum obat.


Walaupun sakit, tidak sedikit pun Dony manja pada Nining. Dia tetap riang seakan tidak ada yang terjadi padanya. Hanya tiduran seolah-olah baru bangun tidur di pagi hari.


Tak lama dokter datang untuk memeriksa. Nining mempersilahkan dokter untuk memeriksa Dony.


“Wah, hebat sekali. Kondisinya sangat baik. Kalau seperti ini terus, besok sudah boleh pulang,” puji dokter melihat luka dan keadaan Dony melaju pesat.


“Iya, dong, Dok. Siapa dulu susternya. Suster Nining,” canda Dony membuat Nining tersipu malu. Tak menyangka Dony akan memujinya di depan dokter.


“Benar sekali. Suster yang paling cepat menyembuhkan adalah pujaan hati. Gak heran kalau Mas Dony cepat sembuh. Istrinya selalu menemani.” Dokter pun tidak heran karena selama tiga hari dirawat, tidak sedikit pun Nining meninggalkan Dony kecuali untuk urusan mendesak.


“Tiga hari sudah cukup , Dok. Aku kangen rumah,” ujar Dony melirik Nining dengan tatapan nakal.


Dokter mengerti maksud Dony, dia pun tersenyum sambil mengangguk. “Saya paham sekali tentang hal itu. Tapi hati-hati, jahitannya belum terlalu kering, bisa luka lagi kalau terlalu dipaksakan.”

__ADS_1


“Haha.” Dony tergelak. Bisa-bisanya mereka membicarakan hal seperti itu di depan para wanita, yaitu suster dan Nining.


“Mas Dony apaan, sih?” Nining tidak enak pada suster yang ikut menemani dokter memeriksa Dony.


Suter itu hanya tersenyum. Entah yang dipikirkan apa, dia hanya ikut tertawa melihat mereka tertawa bersama.


“Ya sudah. Kami pamit dulu, masih ada yang harus diperiksa. Jangan lupa diminum obatnya. Kalau siang ini semakin membaik, Mas Dony bisa pulang.” Dokter ditemani suster itu pun meninggalkan kamar Dony.


“Gak kerasa udah tiga hari di rumah sakit ini. Akhirnya Mas sembuh juga. Mas udah gak sabar ingin pulang ke rumah,” kata Dony memandangi kamar rumah sakit yang mewah tapi tidak ingin ditempati siapapun.


”Alhamdulillah Tuhan masih beri kita kesempatan. Sekarang Mas mau apa?”Nining ikut senang mendengar kabar tersebut.


“Kita makan sama-sama, ya?” Dony pun mengajak Nining untuk makan bersama. Ada nasi padang yang sengaja dibeli Nining atas permintaan Dony. “Biar Mas yang suapin.” Dony menyuapi Nining dengan tangannya yang sudah dicuci bersih.


“Jangan Mas. Masa cowok suapin cewek. Biar aku aja yang suapin Mas Dony,” tepis Nining saat tangan Dony sudah menyentuh bibirnya.


Tangan Nining menepis tangan Dony yang penuh dengan nasi dan lauk, lalu dia alihkan pada Dony yang sedang duduk.


Dony tidak bisa mengelak, dia membuka mulutnya lalu makan. Tanpa terasa satu bungkus nasi padang sudah habis, Nining sampai tidak kebagian.


“Yah, habis. Sayang kamu belum makan, tapi udah habis sama Mas,” sesal Dony. Dia tidak enak pada Nining karena membaginya bersama Nining.


“Gak pa-pa, Mas. Aku bisa makan apa aja. Yang penting Mas dulu. Kalau aku gampang.”


“Tapi kamu belum makan. Mau makan apa?” Dony duduk dan ingin bangun untuk membelikan makanan untuk Nining. Dia lupa kalau sekarang dia masih belum pulih sempurna.


“Eh, gak usah. Mas mau ke mana? Mas belum sembuh, lho.” Nining mengingatkan dan menarik Dony kembali tiduran.


“Mas mau beli makanan untuk kamu.”


“Gak usah. Aku lagi pengin makan rujak buah. Nih, udah beli. Tadi pesna online dan udah dianter. Mas mau? Ada buah naga juga lho. Mas suka sama buah nagakan?” Nining menunjukkan plasti hitam berisi buah-buahan.

__ADS_1


“Buah naga? Kayaknya enak.”


Mereka pun makan buah bersama. Dony makan buah naga sedangkan Nining makan rujak buah. Mereka sama-sama menikmati makanan itu.


***


Dony sudah pulang. Adam menjenguk di rumah karena dia belum sempat menjenguk di rumah sakit.


“Bro, sorry banget baru sempet jenguk. Kerjaan banyak banget sampe lembur terus,” sesal Adam semberi memberikan buah tangan.


“Gak pa-pa. maaf, ya. Gara-gara aku gak masuk kerjaan kamu jadi banyak,” ujar Dony menyesal pula.


“Santai aja, Bro. Lagian kamu sedang sakit, mana mungkin berangkat. Oh, iya, gimana keadaan kamu? Yakin udah sembuh?”


“Udah. Paling besok atau lusa juga udah berangkat kerja lagi.”


Adam memperhatikan Dony secara detail. Selama tiga hari tidak masuk, dia melihat ada yang berbeda, tapi dia juga bingung apa yang berbeda. Melihat Adam memperhatikannya dengan serius, Dony menegurnya.


“Kenapa? Ada yang aneh sama aku?”


“Kayak ada yang beda, tapi aku bingung apa, ya, yang beda?” Adam memegang dagunya, mencari perbedaan Dony yang dulu dengan Dony sekarang.


“Memangnya apa yang beda? Biasa saja.”


Masih belum tahu apa yang beda, Nining datang membawa minuman dan buah. Kebetulan dia membeli buah naga kesukaan Dony dan beberapa camilan kue lainnya.


“Mba Nining. Bagaimana kabarnya? Nampaknya tambah gemuk saja. Apa sedang ada isinya?” Adam langsung terus terang saat melihat Nining menyajikan makanan di atas meja.


“Ada isinya? Maksudnya?” Dony bingung dengan maksud Adam.


“Iya, ada isinya. Hamil. Kamu mau punya anak tapi gak bilang-bilang. Jahat banget Loe, Dony.” Adam kesal.

__ADS_1


“Mana ada. Nining belum hamil. Kalau dia hamil, pasti aku dulu yang tahu. Kecuali dia mau memberikan kejutan.” Dony melirik Nining. Berharap apa yang dikatakan oleh Adam menjadi nyata.


__ADS_2