
“Ini bukan mimpi, Sayang. Ini kenyataan. Ya, udah. Itukan jadwal berangkatnya agak siang, jadi kita bisa santai. Kita makan dulu. Setelah makan, baru kita siapin baju yang akan dibawa. Kita akan menginap seminggu di sana.”
“Seminggu Mas? Apa gak kelamaan? Kalau nanti bayarnya mahal gimana?” Bukannya tidak senang, Nining tahu berapa kemampuan suaminya dalam membuang uang.
“Gak, Sayang. Mas dapat hadiah dari teman untuk menginap gratis di hotelnya selama seminggu. Kita bisa menghabiskan waktu di sana sesuka hati kita. Semua fasilitasnya gratis dan dipilihkan VVIP.”
“Ya Tuhan. Ini berkah banget buat kita Mas. Teman Mas baik banget. Jangan lupa bawakan oleh-oleh buat dia kalau kita pulang bulan madu nanti.” Jangan sampai melupakan orang yang sudah berbuat baik pada kita agar kita selalu mendapatkan keberuntungan dan pertolongan dari makhluk Tuhan yang tidak kita duga.
“Iya, Sayang. Ayo kita makan lagi. Duh, kamu kalau makan kayak anak kecil. Belepotan gitu.” Dony membersihkan makanan yang menempel di dagu Nining.
Nining tersenyum, seperhatian itu Dony sekarang. Nining sangat bahagia, buah kesabarannya menghasilkan hal yang manis sekali.
Tanpa disadari, Sri mengintip di balik tembok pemisah. Api cemburu berkobar hebat. Dia sangat panas melihat sepasang suami istri itu tertawa bahagia, mesra dan juga romantis. Dia sampai tidak sadar mengambil daun-daun yang ada di tanaman sekitarnya hingga tanaman itu gundul.
‘Sialan. Kenapa mereka malah makin mesra? Harusnya mereka itu cerai. Ih, nyebelin. Saya harus berbuat sesuatu,’ gumam Sri dalam hati. Segera dia berbalik tanpa melihat kalau ada pohon di belakangnya. Dia pun kepentok pohon itu cukup keras hingga benjol keningnya.
“Aduh,” pekik Sri keras, tapi langsung dia tutup mulutnya dengan tangan agar Dony dan Nining tidak tahu aksinya.
“Mas, denger sesuatu gak?” tanya Nining yang mendengar jeritan Nining.
“Gak. Mas gak denger apa-apa. Paling cuma orang lewat. Selesaikan makannya lagi, yuk. Habis ini kita siap-siap.”
***
__ADS_1
Dony dan Nining sudah sampai di hotel. Kamar dengan fasilitas yang sangat mewah. Kasur ukuran jumbo dengan hiasan kelopak mawar berbentuk hati, seprei bentuk hati berwarna merah dan emas. Jendela yang langsung menghadap ke pantai.
“Ayana Resort dan Spa. Bagus banget Mas.” Nining mengagumi setiap detail tradisional Bali yang disajikan di sana.
“Kamu suka?” Dony memeluk Nining dari belakang yang sedang memandang ke luar jendela.
“Iya, suka banget.” Nining menoleh pada Dony yang memeluknya erat.
Bulan madu yang sangat sempurna. Tebing yang indah di tepi pantai membuat Dony tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bermesraan. Dia mengecup mesra bibir Nining hingga Nining terpejam. Tak puas menikmati setiap lekuk bibir, Dony turun hingga entah mulai kapan mereka sudah berada di atas kasur yang empuk untuk menikmati tidur pertama mereka di hotel itu.
Aktivitas panas yang tak bisa terelakkan. Sensasi yang berbeda hingga Dony tak rela jika harus mengakhiri permainannya. Berkali-kali dia membuat Nining melayang, bahkan dia pun sudah berkali-kali di puncak kenikmatan, tak ingin dia sudahi.
“Mas,“ lenguh Nining lemas. Dia ingin memberitahu kalau dia ingin istirahat.
“Sayang. Kamu capek, ya? Maaf, ya, Sayang. Kamu sangat nikmat.” Dony masih ingin bermain, tapi dia tak tega melihat istrinya yang sudah tidak kuat. Dia pun berhenti dan melepas penyatuan mereka yang masih ingin dilanjutkan.
Jam menunjukkan pukul tujuh sore. Ini saatnya makan malam. Tak lupa Dony memesan makan malam romantis di samping pantai.
“Sayang. Sudah malam. Apa kamu tidak mau makan?” bisik Dony lembut di telinga Nining. Nining masih sangat capek sehingga ingin terus tertidur.
Tidak ada respon dari Nining. Terlihat wanita itu sangat capek hingga tak bangun-bangun. Tak ada gerakan pula, lama-lama Dony khawatir.
“Sayang? Bangun Sayang. Kamu gak pa-pakan? Kamu baik-baik ajakan? Apa permainanku sangat kasar sampai kamu kesakitan? Sayang Mas minta maaf. Mas gak bermaksud untuk menyakiti kamu. Sayang bangun.” Dony sangat panik, dia terus menggoyang-goyangkan badan Nining. Takut istrinya tidak bangun lagi, Dony sampai meneteskan air mata.
__ADS_1
“Sayang bangun. Jangan bikin Mas takut. Sayang bangun,” isak Dony mulai putus asa. Istrinya tidak bergerak sedikit pun.
Dony pun mengecek napas di hidung pujaan hatinya itu. Masih bernapas. Kali ini dia menempelkan telinganya ke tengah dada Nining. Mendengar detak jantung Nining. Masih berdetak juga. Kenapa dia masih belum bangun?
”Jangan-jangan Nining pingsan gara-gara gak kuat sama permainanku tadi. Ya Tuhan, maafin Mas Nining. Mas gak bermaksud buat kamu menderita. Nining bangun. Bangun sayang. Jangan tinggalin Mas. Mas minta maaf.” Bayangan kehilangan tersirat di depan mata. Jantungnya terasa berhenti berdetak, napasnya tercekat, rasanya sulit untuk menghirup udara yang tersisa banyak itu. Melihat wanita yang sangat dia sayangi tak ada respon, seakan hidupnya hancur berantakan.
“Aku harus telpon dokter. Iya, harus telpon dokter.” Dony menghapus air matanya. Rasa cemas membuatnya tidak terpikir untuk memakaikan baju untuk Nining. Yang terpenting baginya istrinya dapat pertolongan dari pihak kesehatan.
“Mana nomor dokter dekat sini, sih? Kenapa gak ada.” Panik dan cemas membuat fokus Dony hilang. Membaca pun dia tak bisa, semua terasa samar.
Gugup mencari nomor dokter yang tercatat di buku telpon setiap kamar, Dony membukanya dengan asal dan hasilnya tidak ada nomor fasilitas kesehatan manapun yang dia temukan.
“Hotel macam apa ini? Kenapa tidak ada fasilitas kesehatan darurat. Payah. Aku harus apa? Berpikir Dony, berpikir,” omel Dony tidak menentu. Dia pusing dibuat sendiri karena tidak bisa tenang.
“Hoam. Seger banget. Mas … Mas lagi apa?” tanya seseorang yang baru saja bangun sambil meregangkan tangannya. Dia tidur sangat pulas sampai-sampai tidak mendengar Dony yang sedari tadi berusaha membangunkannya.
Dony langsung menengok pada asal suara. Segera dia memeluk erat Nining.
“Ya Tuhan, Sayang. Syukur kamu udah bangun. Mas takut kamu kenapa-kenapa. Kamu gak pa-pakan?” Dony memeluk erat lalu melepasnya. Memperhatikan setiap lekuk tubuh Nining, memastikan tidak ada yang luka atau cedera.
“Aku gak pa-pa Mas. Emang kenapa? Kok, Mas kelihatan takut banget kayagitu. Eh, tunggu. Mas habis nangis, ya?” jawab Nining santai dan polos.
“Kamu daritadi dibangunin gak bangun-bangun. Mas takut kamu pingsan dan gak bangun lagi. Mas panik, cari dokter tapi gak ketemu.”
__ADS_1
“Pingsan? Emang segitunya aku dibangunin gak bangun-bangun? Ah, Mas bohong.” Nining tidak percaya. Biasanya ada suara telpon saja dia langsung bangun, masa suara suaminya sendiri yang membangunkan tidak bangun. Aneh dong?
“Hmmm. Kamu ngerjain Mas, ya?” Dony merasa ada yang janggal.