Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
45


__ADS_3

Nining menahan diri dan kembali tersenyum. Masih ada pekerjaan lain yang lebih penting dari ghibahan Sri, tapi dia merasa tidak enak kalau harus cuek pada tetangganya itu. Dia pun menghentikan kegiatannya sejenak.


“Mas Dony gak marah sama aku, Mba. Kemarin Mas Dony kejebak macet gara-gara ada bus terguling setelah mengantarkan Mas Lucky berangkat. Daripada terus menerobos macet, aku suruh untuk nginap di rumah orang tuanya. Lebih dekat ke sana daripada pulang ke sini. Di sana juga gak macet, jadi lebih aman buat Mas Dony.” Nining menjelaskan semua kejadiannya pada Sri.


Sri memicingkan matanya, menerka apakah yang diceritakan oleh Nining benar atau hanya rekayasa.


“Bohong. Gak masuk akal banget. Kalau cinta, macet juga diterobos. Ini macet dikit doang langsung gak pulang. Kalau kejadiannya kayakgitu, artinya dia gak sayang lagi sama Mba Nining. Hati-hati, lho, Mba. Jangan-jangan di luar sana Mas Dony punya wil alias wanita idaman lain,” sudut Sri tidak percaya dengan cerita Nining.


Nining kembal tertawa dengan ucapan Sri. Dia yang mengiranya terlalu jauh. Nining tahu apa yang terjadi sebenarnya.


“Gak mungkin, Mba. Semalam juga dia telpon aku sampai ketiduran. Gak ada waktu buat cari wanita idaman lain. Satu aja gak habis-habis masa iya mau nambah lagi?” canda Nining agar mereka tidak terlalu serius. Eh, bukan. Sri yang terlalu serius menanggapi ucapannya sendiri. Karena dalam hati terdalamnya dia menginginkan keretakan hubungan rumah tangga Dony dengan istrinya lagi.


“Kamu itu kalau diomongin ngeyel. Udah diingetin masih aja belain orang yang salah. Kalau sampai apa yang saya omongin benar, jangan ngangis minta tolong sama saya, ya? Dasar tetangga gak tahu diuntung. Udah dikasih perhatian malah gak bersyukur. Udah, ah. Saya pulang. Makan hati terus di sini,” omel Sri marah.


“Semalam malah Mas Dony minta pulang, tapi aku yang cegah. Kalau pulang sekarang, gak mungkin malamnya sampai rumah. Macet sampai sepuluh kilometerkan semalam? Di tivi ada beritanya. Kita sampai ribut gara-gara Mas Dony mau pulang tapi gak diizinin sama aku. Jadi kayaknya gak mungkin Mas Dony punya wanita idaman lain, Mba. Dia sayang banget sama aku. Katanya kangen walaupun baru beberapa jam gak ketemu,” kenang Nining.


Mendengar itu hati Sri panas. Bukannya membuat Nining meninggalkan Dony, dia yang terbakar cemburu. Ternyata Dony lebih bucin dari apa yang Sri kira.


“Kamu itu kalau dikasih tahu gak percaya. Terserah kamu aja. Kalau sampai ada apa-apa, saya gak mau bantu! Huh, dasar tetangga gak tahu diuntung,” hentak Sri emosi, dia pun segera pergi meninggalkan Nining yang masih menjelaskan dengan sabar.


Nining merasa tidak enak melihat Sri yang pulang dengan marah-marah. Padahal dia tidak ada niat untuk membuat dia kesal. Tak lain dia hanya menjelaskan semuanya dengan apa adanya.

__ADS_1


Sri pulang ke rumah dengan perasaan dongkol. Menghempaskan tubuhnya di atas sofa mahal dan empuk tak langsung membuatnya nyaman.


“Dasar Nining. Kerjaannya manas-manasin mulu. Nyebelin banget, sih, dia. Awas, ya, kalian. Saya akan balas kalian. Kali ini saya harus berhasil misahin mereka berdua. Enak aja kerjaannya bikin orang kesel tiap hari. Saya balas kalian,” tekad Sri dalam hati. Dia pun mulai mengatur rencana agar semuanya berjalan lancar.


***


Dony baru saja pulang dan dia langsung menerobos masuk karena membawa kunci sendiri. Nining sedang memasak di dapur, Dony seketika memeluk Nining dari belakang lalu mengecupnya lama sekali hingga membuat Nining kaget dan kesakitan.


“Hmmm! Mas Dony. Kok, gak salam dulu tapi langsung cium kayakgini. Kaget tahu,”protes Nining, tapi dia tidak menolak.


“Mas kangen banget sama kamu. Oh, iya. Mas ada kejutan untuk kamu. Tara … ini dia.” Dony menunjukkan tas perhiasan yang dia beli kemarin.


Nining melihat sebuah kalung emas berliontin hati dan gelang dengan model yang sangat cantik. Nining tersenyum hampir pingsan. Belum pernah Dony membelikan perhiasan sebanyak ini, rasanya ini seperti mimpi.


“I—ini buat aku, Mas?” Kembali Nining menanyakan semuanya pada Dony sebab kaget mendapatkan hadiah yang sangat indah.


“Iya, Sayang … buat kamu. Buat siapa lagi kalau bukan buat kamu. Kamu tahu … waktu Mas niat beliin hadiah untuk kamu, Tuhan langsung ganti berkali-kali lipat. Uang tabungan yang Mas niatin buat nanti kita punya anak, ditambah lagi sama Tuhan. Padahal Mas udah niat nanti nabung lagi, ternyata Tuhan kasih lebih. Mas dapat bonus dari kantor sepuluh juta. Padahal buat beli perhiasan kamu gak sampe lima juta. Akhirnya mas tambah gelang. Gimana, kamu suka gak?” Dony menjelaskan panjang lebar sembari memasangkan kalung serta gelang.


“Alhamdulillah, rezeki rumah tangga kita, ya, Mas. Aku suka banget. Terima kasih, Mas,” ucap Nining dengan senyum mengembang dan manja.


Dony melipat kedua tangan di depan dada lalu melengos pura-pura kesal. “Masa cuma terima kasih doang? Hadiah buat Mas mana?”

__ADS_1


Nining tahu apa yang diinginkan Dony. Dia pun mendekat lalu sedikit berjinjit agar bisa menyentuh pipi suaminya. Iya, dia ingin menyentuh pipinya dengan bibirnya yang merah. Sayang, belum sempat Nining mengecup, Dony bergerak hingga bukan pipi yang disentuh, melainkan bibir.


Tak memberitahu dulu, Dony mendekatkan tubuh Nining hingga menempel pada tembok dan mereka pun menikmati sentuhan panas di dapur. Tahu Nining sedang memasak, tangan Dony lihat mematikan kompor hingga tak ada yang mengganggu.s Nining pun tak bisa protes, dia justru menikmati dan melayani suaminya dengan ikhlas.


Tak puas bermain dengan bibir, Dony menggendong Nining menuju kamar lalu mereka pun melanjutkan semuanya di sana. Membuat keringat semakin mengucur, mencoba menciptakan Dony junior yang sudah lama mereka idam-idamkan.


Sore panas mereka berlangsung hingga adzan isya berkumandang. Dony yang telah puas melupakan waktu maghrib, dia menyesal karena terbawa nafsu.


“Di-qadha bisa, gak, ya? Mas lupa banget soalnya,” sesal Dony.


“kalau benar-benar lupa, gak pa-pa. kecuali disengaja,” jawab Nining sembari membereskan pakaiannya yang belum rapi. Dia ingin merebus air untuk mandi besar.


“Tapi kita termasuk disengaja apa gak?” Dony bingung sendiri.


Nining pun bingung, dia mengendikkan bahunya tanpa tak tahu.


“Tuhan maha tahu segalanya. Yang penting shalat aja dulu, niatnya yang lurus. Pasti dimaafkan oleh Tuhan, kok. Sebentar aku masak air dulu, jadi gak dingin. Aku gak mau Mas mandi air dingin.” Nining meninggalkan kamar menuju dapur untuk membuat air panas. Sedangkan Dony membereskan kamar mereka yang basah oleh peluh kenikmatan yang tiada tara.


Di samping rumah, ada wanita yang sedang uring-uringan. Dia melihat Dony pulang dengan sangat bersemangat. Itu artinya apa yang dikatakan oleh Nining benar dan itu tidak disukainya.


“Pokoknya besok saya harus mulai beraksi.”

__ADS_1


__ADS_2