
Walaupun Dony mendengar desas-desus tentang Sri yang menyukainya, dia tidak mungkin mengatakan tentang hal itu. Dia ingin sahabatnya bahagia bersama orang yang dia suka.
"Aku yakin Sri mau menerima kamu. Nanti kita nikah bareng-bareng, ya?" ucap Dony meyakinkan Lucky.
Dengan ucapan itu Lucky semakin yakin kalau cintanya bisa terbalas. Keesokan harinya Lucky pun mengajak Dony untuk membantunya dalam mengutarakan cintanya.
Dony duduk di samping Lucky, sedangkan Lucky kini sedang deg-degan berhadapan dengan Sri. Walaupun pandangan matanya terus melirik Dony, Lucky tidak menyadari.
"S—Sri. A—aku ingin melamar kamu. A—apa kamu mau menjadi istriku? Kalau kamu mau menerima aku, kita bisa nikah bareng sama Dony. Dony dan Nining udah lamaran dan akan menikah minggu depan,” ucap Lucky.
Hancur perasaan Sri. Dia tak menyangka kalau orang yang sangat dia cintai secepat itu meninggalkannya. Namun, tiba-tiba saja pikiran jahat Sri muncul.
‘Kalau aku gak bahagia bersama kamu, maka kamu juga gak boleh bahagia bersama Nining atau siapa pun itu. Akan aku rusak kebahagiaan kamu, Dony.’ Sri berubah niat. Dia ingin menghancurkan Dony kalau dia tidak bisa memilikinya.
“Aku mau nikah sama kamu. Dan aku mau nikah bareng sahabat kamu ini,” jawab Sri menyetujui rencana Lucky dengan niat busuk.
“Apa kamu serius?” tanya Lucky sangat gembira. Tak menyangka ucapan Dony menjadi kenyataan.
Satu minggu kemudian pernikahan mereka dilaksanakan di hari yang sama. Lucky yang sudah diterima kerja di sebuah kantor kelautan harus pulang dua kali dalam satu tahun. Itu pun hanya satu minggu saja. Namun, uang yang dihasilkan sangat banyak.
“Apa kamu gak keberatan kalau aku hanya pulang enam bulan sekali?” tanya Lucky pada Sri sebelum acara ijab qabulnya dilakukan.
‘Bukan keberatan lagi, tapi rezeki durian runtuh. Saya malah senang karena gak usah tiap hari ketemu sama kamu, Jelek,’ batin Sri pura-pura tersenyum padahal benci.
“Gak apa-apa, Mas. Aku percaya sama Mas Lucky. Mas Lucky pasti gak akan khianatin saya. Saya juga di sini akan selalu setia,” kata Sri memberi janji palsu. Lucky pun percaya dan melakukan pekerjaannya sampai sekarang.
Ijab qabul berjalan lancar. Kini giliran resepsi. Sri selalu mencari cara agar resepsi Dony dan Nining berlangsung memalukan. Sri menginjak gaun Nining agar Nining jatuh, tapi ada yang membantu. Siapa yang membantu? Lucky. Lucky melihat gaunnya tersangkut di kaki Sri dan dia sendiri yang melepasnya. Sri kesal. Padahal itu dia sengaja, tapi gagal gara-gara ulah suaminya sendiri.
__ADS_1
“Suami nyebelin. Belum apa-apa aja udah kayak gini, gimana ke depannya?” omel Sri dalam toilet. Susah payah dia mencari kesempatan mempermalukan Nining, Lucky datang seperti pahlawan kesiangan. Menyebalkan. “Saya harus cari cara lain.”
Sri memutar otak agar membuat Nining malu. Dia pun melihat tisu. Di sanalah dia punya ide. Dia segera keluar.
**
“Mba, sini.” Sri memanggil Nining yang tengah duduk mencari minuman.
Sri mengajak Nining ngobrol ngalor ngidul tanpa arah agar Nining tak tahu kalau dia menyembunyikan gunting dan diam-diam menggunting bajunya di bagian belakang.
“Bolong-bolong, deh. Pasti kamu akan sangat malu dan gak punya muka setelah hari ini,” ujar Sri menjauh dari Nining yang belum menyadari kalau bagian belakang gaunnya bolong.
Nining masih asyik duduk sambil ngonbrol, hingga Dony memanggil.
“Sayang. Bisa ke sini sebentar?” pinta Dony dari arah yang cukup jauh.
“Eh, apa itu? Itu bukannya baju Nining, tapi, kok, kayak sobek?” gumam Dony melihat baju Nining tak lagi sempurna. Segera Dony pun berlari lalu memeluk Nining dari belakang. Nining sangat kaget lalu menanyakan hal itu dengan bisik-bisik.
“Mas lagi apa? Kenapa tiba-tiba peluk aku dari belakang?” tanya Nining bingung.
“Baju kamu sobek. Kalau Mas gak peluk kamu dari belakang, nanti orang-orang lihat kamu yang bajunya sobek. Pokoknya kamu ikutin gerak kaki Mas aja. Kanan kiri-kanan kiri. Ok?” titah Dony.
Nining pun menurut. Mengikuti langkah Dony yang mengajaknya berdansa mudah tapi romantis. Dagu Dony menempel di pundak Nining dengan canda yang tak pernah membuat senyum di bibir Nining hilang.
“Ih, apaan, sih? Kenapa malah mesra? Gagal, deh, rencanaku.” Sri kesal bukan kepalang. Dia pun kembali ke kamar mandi dan mengamuk di sana.
***
__ADS_1
“Lucky. Kamu yakin harus kembali hari ini? Kita baru aja ketemu, tapi harus kepisah lagi,” ucap Dony sedih. Dia masih kangen dengan sahabat masa kecilnya itu.
“Iya, liburanku udah selesai, sekarang aku harus kembali kerja. Tenang aja, tahun depan kita ketemu lagi. Nanti kita buat janji dulu mau ke mana saja, jadi seminggu itu kita full jalan-jalan. Baguskan ideku?” usul Lucky.
“Bagus banget. Ya, udah. Kamu hati-hati, ya? Kalau ada apa-apa, hubungi aku,” ucap Dony melepas pelukan pada sahabatnya.
Dony pun dengan berat hati membiarkan Lucky kembali menjalani hidup sendiri tanpa Sri yang menemani. Dony membawa mobil yang dia beli, tapi tiba-tiba mobil itu mogok. Lucky harus keluar dari mobil untuk mengecek mobilnya.
Dony yang sejak tadi belum masuk ke rumah, langsung mendekat untuk membantu. “Ada apa, Luck?” tanya Dony.
“Gak tahu, nih. Tiba-tiba mobilnya mogok. Mana udah mepet lagi waktunya. Bisa telat berangkat.”
“Pakai motorku aja. Biar aku antar. Tunggu sebentar, ya.” Dony segera pergi untuk mengambil motornya.
“Eh, gak udah. Nanti malah ngrepotin.” Sayangnya Dony tidak mendengar ucapannya, hingga dia pun kembali tak lama setelahnya dan membawa motor miliknya.
“Ayo naik.”
“Gak usah, Dony. Nanti kamu repot.” Lucky tidak enak.
Dony tidak merasa direpotkan, dia malah senang bisa membantu Lucky. Berbeda dengan Sri yang daripada sibuk dandan dan menolak mengantar Lucky walaupun hanya duduk manis bersamanya naik taksi online. Banyak sekali alasan yang dikatakan Sri setiap kali Lucky meminta bantuan. Sehingga Lucky malas meminta bantuan Sri lagi.
“Kamu memang sahabat terbaikku, Dony. Terima kasih,” ucap Lucky.
“Sama-sama. Kamu juga sahabat terbaikku. Apa kamu ingat kenangan kita waktu masih kecil dulu? Kita sering jalan-jalan subuh untuk cari jambu yang udah jatuh dari pohon? Atau cari anggur belanda. Walaupun rasanya kadang sepet, kita masih aja suka memakannya. Sekarang mana ada seperti itu. Lebih enak beli di tokoyg sudah bersih dan manis. Gak kayak dulu, kotor, penuh debu dan sudah gak bagus bentuknya gara-gara jatuh terkena tanah,” kenang Dony.
“Iya, benar. Kamu masih ingat aja. Padahal yang suka ngajakin cari buah aku, aku yang lebih banyak makan, kalau kamu lebih suka lihatin aku makan. Kenapa kamu seperti itu?”
__ADS_1