
Sri benar-benar marah pada Nining karena hasutannya pada tetangga untuk membenci Nining gagal total. Judtru dia yang diserang dan itu membuatnya sangat marah.
“Aku harus cari ide buat balas dendam. Mikir Sri ... mikir.” Sri berpikir dengan keras hingga akhirnya dia pun punya cara.
“Aha. Aku punya cara. Tapi harus tunggu ibu-ibu rempong itu pergi dari sini. Kalau ada mereka, pasti rencanaku akan gagal.” Sri pun menunggu ibu-ibu itu pergi. Sembari menunggu, Sri melihat social media miliknya. Melirik status teman-temannya yang tidak bermanfaat.
Niat hanya sebentar, ternyata bablas sampai satu jam. Pekerjaan rumah yang masih tersisa terbengkalai tidak tersentuh. Lantai masih belum disapu, piring belum dicuci bahkan dia belum mandi. Rasanya malas mandi kalau tidak keluar rumah untuk jalan-jalan. Membiarkan badan baunya menjadi ciri khasnya tersendiri.
“Eh, tunggu. Jam berapa ini?” Sri melirik jam di tembok. “Ini saat yang tepat. Saya akan melakukan aksi saya lagi.”
Sri keluar rumah, mengambil sapi ijuk dan serok sampah. Begitu banyak sampah di depan rumahnya yang terdapat pohon mangga besar. Daunnya yang rimbun membuat halaman rumahnya tidak pernah bersih. Dia pun menyapu daun-daun itu lalu ditumpahkan di halaman rumah Nining.
“Rasain kamu Mba. Ini balasannya udah bikin saya kesal.” Rumah Nining yang sudah bersih, kembali kotor oleh daun-daun kering yang Sri tebarkan di halaman rumah. Bahkan ada beberapa daun yang terbang hingga di atas baju-baju Nining yang sedang dijemur.
“Kotor-kotor, deh, rumah kamu, Mba Nining. Biarin aja, saya tidak peduli.” Sri senang melihat rumah Nining yang kotor bukan main. Setelah memastikan aksinya berhasil dan tidak ketahuan, Sri segera meninggalkan rumah Nining.
Tak lama kemudian Nining keluar rumah. Siapa yang tidak kaget melihat halaman rumahnya mirip sarang berang-berang. Banyak sekali sampah padahal dia baru saja selesai menyapu.
“Ya Tuhan. Angin besar banget sampe sampah dari jalanan masuk ke sini. Aku harus secepatnya bersihin, kalau enggak ... nanti tambah parah.” Bukannya marah, Nining malahmengambil sapu dan pengki.
Tanpa rasa marah dan curiga, dengan senang hati dia kembali menyapu halaman rumah tentunya dengan perasaan berbunga-bunga. Baginya bersih-bersih adalah hal yang sangat mengasyikan, Nining suka hal itu.
Setelah semua beres, Nining masuk dan membuang sampahnya di tempat sampah. Dia pun kembali masuk dan membereskan pekerjaan yang lain.
“Aku tahu kalau Mba Sri yang udah nglakuin itu. Maafin aku, Mba. Aku emang pelit karena gak mau berbagi jemuran. Aku harus memakai seragam kondangan makanya aku harus cepat menjemurnya. Kalau sampai tidak dipakai, bisa-bisa pengantinnya marah sama aku. Maafin aku Mba Sri.” Bukannya marah, dia merasa menyesal. Dia sudah menjadi menyebab Sri melakukan kesalahan dan itu Nining sedih.
“Apa aku harus minta maaf sama mba Sri?” pikir Nining bingung. Dia tak suka membiarkan masalahnya berlarut-larut.
__ADS_1
“Iya, aku harus minta maaf sekarang juga agar masalahnya cepat selesai.” Nining pun keluar lalu menemui Sri.
“Mba Sri. Apa mba ada di rumah?” Nining mengetuk pintu dan mencari keberadaan Sri.
Terdengar sebuah sautan, tapi bukan dari Sri melainkan dari tetangganya lagi.
“Mba Nining cari Mba Sri? Mba Srinya lagi pergi. Kayaknya bakal lama, deh, soalnya dia pakai pakaian heboh,” jawab tetangga Sri.
“Gitu, ya, Bu. Kalau gitu aku pamit dulu.”
***
Acara kondangan berlangsung sangat meriah. Nining berangkat sendiri, tapi karena yang menikah satu angkatan dengan Nining, pengantin ini sengaja mengadakan acara reuni besar-besaran. Bukan hanya reuni, pernikahan ini sangat mewah dan glamor, sesuai dengan mereka yang berasal dari keluarga berada.
“Hai Nining. Sudah lama gak ketemu. Kamu tambah cantik aja,” tegur salah satu teman Nining.
“Adnan. Gimana keadaan kamu? Aku dengar kamu baru aja nikah. Mana istri kamu?” tanya Nining sembari mencari.
“Istriku gak mau ikut. Dia lagi hamil jadi bawaannya muntah mulu. Kasihan dia. Obatnya apa, ya, biar gakmuntah terus?” tanya Adnan.
“Obatnya gampang. Cinta dan perhatian,” canda Nining. Bukannya meledek, dia tak tahu sama sekali tentang kehamilan. Dia saja belum hamil, mana dia tahu.
Mereka berdua tampak akrab. Membuat seseorang yang tidak sengaja melihat kedekatan mereka langsung mendekat dan mencengkeram krah baju laki-laki itu dengan penuh emosi.
”Jangan ganggu istri orang. Dia ini sudah punya suami dan aku suaminya. Kamu mau apa, hah? Mau nikahin dia apa cuma mau senang-senang aja, hah? Jawab!” hentak Dony tidak bisa menahan emosi.
Adnan tertawa mengecek. Dia tak takut pada Dony walaupun dia terkenal galak, Adzan lebih galak.
__ADS_1
"Jangan karena kamu suaminya Nining, kamu bisa nyetir aku. Aku bisa bikin kamu babak belur, " ancam Adnan tidak kalah galak..
"Kamu berani sama aku? Kamu nggak takut sama aku? Kamu nggak tahu siapa aku," gertak Dony agar Adnan takut.
"Lepasin tangan kamu. Kamu pikir aku takut? Enggak sama sekali." Sangat marah. Adnan kembali berbelanja.
Nining ketakutan melihat mereka saling marah. Tak mau ada keributan, Nining menarik tangan Dony agar kembali padanya.
"Mas. Jangan emosi. Aku sama dia cuma temen doang, gak ada hubungan lain." Mereka encari tempat untuk berdua saja dalam membicarakan masalah mereka berdua.
"Teman apanya? Teman gak aman sedekat itu, " tepis Dony tidak percaya. Dia sangat yakin mereka punya hubungan khusus di belakangnya.
"Dia lagi curhat sama aku tentang istrinya yang lagi hamil. Aku belajar sama dia siapa tahu aku nanti hamil."Nining membayangkan dirinya berbadan gemuk dengan perut buncit sedang bermain dengan anak-anaknya.
"Gak usah bohong. Aku tahu kamu sama dia ada hubungan. Aku kecewa sama kamu, Nining. Aku gak nyangka kamu seburuk itu," hina Dony tak bisa mengendalikan diri.
"Ya Tuhan, Mas. Aku sama dia gak ada hubungan apapun selain teman. Ketemu aja baru, gimana ada hubungan?" kilah Nining, menepis semua tuduhan yang menyakitkan itu.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan untuk menutupi keburukan kamu. Aku tahu kamu sudah lama menyembunyikan hubungan kalian. Baju itu. Iya … baju itu milik diakan? Dia yang sudah membuat hubungan kita menjadi renggang," sambung Dony tak mau mendengar ucapan Nining.
"Istighfar, Mas. Aku bukan seperti apa yang kamu tuduhan."
"Aku yakin sekali dengan semua ucapan-ucapanku. Aku juga punya bukti kalau tentang hubungan menjijikan kalian. Sekarang kalian mengajukan, mungkin aku akan memaafkan kalian," kata Dony sekali lagi. Kali ini nada suaranya lebih rendah.
"Bagaimana mungkin aku mengaku kalau aku gak nglakuin itu, Mas. Aku bukan cewek seperti itu. Tolong percaya sama aku," iba Nining ingin Dony percaya. Dia melupakan foto yang dikirim padanya sehingga terus meminta Dony mengertikan pertemuan mereka yang tidak disengaja.
"Aku gak percaya. Kamu pasti menghabiskan waktu dengan laki-laki lain jugakan?"
__ADS_1
"Jaga ucapan kamu, Mas. Aku diam bukan berarti aku lemah. Aku juga punya bukti tentang kamu yang selingkuh," ancam Nining.