
Dony tidak menyangka Sri sebegitunya padanya. Dia merasa tidak enak pada Lucky dan Nining, jika tingkah Sri ini diketahui oleh mereka, mereka pasti akan sangat marah.
“Mba, kita udah dewasa. Bukan tentang diri sendiri tapi tentang orang lain. Kita gak bisa egois hanya demi kepentingan sendiri dan mengorbankan orang lain,” ucap Dony mencoba mengetuk hati nurani Sri.
“Apa? Mementingkan orang lain? Emang apa yang saya dapat dari mementingkan orang lain? Gak ada! Semua yang saya pentingkan sama sekali tidak mementingkan diri saya. Mereka berbuat seenaknya sendiri tanpa mementingkan saya.” Sri geram setiap mengingat pengorbanannya di masa lalu yang tdk pernah dihargai.
“Lucky. Lucky yang hadir untuk membalas perbuatan kamu di masa lalu. Dia sangat mencintai kamu dan dia selalu berkorban untuk kamu tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Buka pintu hati kamu, buka mata kamu. Hanya Lucky yang sayang sama kamu, jangan sampai kamu menyia-nyiakan dia.”
Sri menyeringai. Bukan Lucky yang dia inginkan, melainkan Dony. Hanya Dony yang dia cintai dan tak ada hati untuk siapa pun itu, termasuk Lucky—suaminya sendiri.
“Ck, Lucky. Lucky itu cowok bodoh. Saya benci dia. Hanya kamu yang saya cinta, Mas Dony. Buka hati kamu, buka mata kamu. Hanya ada saya di sini yang sangat mencintai kamu. Apa kamu gak bisa lihat besarnya cinta untuk kamu,” rayu Sri tanpa kenal lelah.
“Kamu udah gila, Sri. Minggir, aku mau pulang,” hentak Dony tak mampu lagi bersabar. Dia menghempaskan tubuh Sri hingga terjatuh ke lantai. Dia pun mencoba membuka pintu yang tadi terkunci.
“Buka, dong. Aku harus secepatnya pergi dari sini,” ucap Dony terus menggoyang-goyangakn pintu agar bisa terbuka.
Sri yang jatuh terduduk semakin kesal melihat Dony sama sekali tidak mempedulikan perasaannya. Dia pun menjerit meminta tolong.
“Tolong-tolong,” teriak Sri sambil merobek bajunya di bagian pundak.
Dony yang sedang berusaha membuka pintu merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Sri. Dia berhenti sejenak untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sri. Langsung Dony mengerti niat Sri, dia pun mendekat agar mencegah perbuatan Sri yang melebihi batas.
“Apa yang akan lakukan? Jangan gila mba,” tegur Dony berusaha menghentikan tangan Sri yang terus merobek bajunya sendiri.
__ADS_1
“Tolong-tolong,” teriak Sri semakin kencang. Bahkan sekarang Sri mendorong tubuh Dony. Dia berlari menuju pintu dan membukanya. Dia pun terus teriak sambil menangis.
Di depan pintu sudah banyak yang berkerumun karena teriakan Sri, begitu Sri keluar dia memeluk seseorang yang ada di sana.
“Tolong saya. Tolong saya, saya takut,” isak Sri ketakutan dan terus menangis. Dia memeluk erat perempuan yang biasanya di panggil Ibu RW.
“Ada apa, Mba Sri? Ada apa?” tanya cemas dan bingung. Dia yang sedari tadi sedang tiduran di rumah langsung mendekat gara-gara teriakan Sri.
“Dia … dia …hiks hiks,” isak Sri menujuk ke dalam rumahnya.
Penampilan Sri sangat kacau, rambut kusut dan baju yang sobek. Dia pun tak henti menangis, membuat Ibu RW prihatin dan tidak sedikit pun melepas pegangannya.
“Ada apa, Mba? Kenapa baju Mba sobek? Apa ada yang ingin berbuat kurang baik sama Mba Sri?” kembali Ibu RW menanyakan pada Sri yang histeris dan tidak langsung bicara. Membuat semua orang berasumsi sendiri dan bisik-bisik tidak enak mulai terdengar.
“Iya, benar. Dia juga kalau bicara sombong dan suka menyakitkan hati, pasti banyak yang gak suka sama dia,” timpal yang lain.
“Iya, bener. Itu karma buat dia,” sambung yang lain. Semua saling menyudutkan, seolah bahagia melihat Sri ditimpa kesialan.
“Hsst, tolong jangan berkata macam-macam. Tidak pantas mengolok seseorang di saat dia sedang kesusahan.” Ibu RW memberitahu. Lalu ibu RW pun menanyakan lagi pada Sri yang kini mulai tenang. “Sabar, ya. Mba. Sekarang Mba minum dulu, terus katakan pada kami apa yang terjadi.”
Sri meminum air dari ibu RT lalu mulai merasa tenang. Dia lalu menunjuk ke arah rumah. Bertepatan dengan itu, muncullah Dony dengan memegangi kepalanya.
“Dia. Dia mencoba melecehkan saya,” ucap Sri akting ketakutan saat melihat Dony keluar dari rumah.
__ADS_1
“Oh, dia yang kurang ajar sama kamu. Ayo tangkap dia.” Pak RW memerintahkan warganya untuk menangkap Dony. Dony pun belum siap, langsung dilumpuhkan dan diikat tangannya agar tidak kabur.
“Eh, apa-apaan ini? Kenapa aku diikat seperti ini?” tanya Dony heran dan takut.
“Jangan mengelak kamu. Semuanya sudah terbukti. Kamu sudah berusaha melecehkan Mba ini dan sekarang keadaan Mba ini sangat memprihatinkan,” jelas salah seornag warga geram. Dia salah satu orang yang ikut memegangi Dony dan mengikatnya kencang.
“Tunggu-tunggu. Kalian salah paham. Aku gak melecehkan dia. Aku datang ke rumahnya justru ingin membantu, bukan melecehkan. Kalian salah paham,” ungkap Dony.
“Bohong! Dia tiba-tiba datang ke rumah saat saya mau tidur. Dia masuk ke kamar lalu … hiks hiks,” isak Sri menutup wajahnya lalu menangis. Untuk meyakinkan aksinya, dia pura-pura trauma dan terus menangis.
“Bohong. Itu semua fitnah. Aku ke rumahnya karena dia teriak minta tolong. Kalau dia gak teriak, aku gak akan masuk rumahnya.” Dony tidak mau semua orang salah sangka padanya. Apalagi fitnah dari Sri sangat keji yang akan membuat nama baik serta rumah tangganya hancur berantakan.
Inilah yang selama ini dikhawatirkan oleh Dony dan ternyata benar-benar terjadi. Dony menyesal sudah membiarkan Sri melancarkan aksinya. Sekarang apa yang harus dia lakukan?
“Tidak usah mengelak kamu! Semua buktinya sudah ada dan kamu tidak bisa mengelak lagi,” hentak Pak RW untuk membela warganya.
“Bohong, Pak. Aku tidak melakukan apapun, semua itu fitnah. Mba Sri, kenapa kamu tega memfitnah aku.” Dony berusaha mengetuk hati Sri agar dia mengungkap semua kejadian yang sesungguhnya.
“Tega? Kamu yang tega. Kamu udah tega mengkhianati sahabat kamu sendiri. Saya ini istri teman kamu, tapi kamu tega mengkhianatinya,” karang Sri. Dia tak mau membiarkan usaha yang sudah dia lakukan sia-sia. Tentu saja dia akan membuar rencananya kali ini jadi kenyataan.
“Dengarkan aku, Pak, Bu. Aku gak bersalah. Semua itu hanya fitnah. Dia … dia mencintai aku sejak lama dan dia berusaha merayuku. Aku menolaknya tapi dia marah dan memfitnah aku seperti ini,” cerita Dony, tidak bisa lagi menyembunyikan kebusukan Sri.
“HIk hikhik.” Tangis Sri pecah. Dia terus bersandiwara dan meminta simpati dari orang yang ada di sana. Kalau sampai mereka percaya pada cerita Dony, maka habislah Sri. Sri pun terus berperang dengan Dony untuk membuat orang percaya padanya.
__ADS_1