
Toko perhiasan itu terkenal bagus dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Di sana pun banyak sekali pembeli yang mengantre untuk membeli perhiasan bagus itu. Salah satu temannya pernah memberitahu Dony tentang hal itu dan Dony pun tidak ragu untuk ke sana.
Di etalase, dia melihat beberapa perhiasan tertata rapi di sana. Ada cincin, kalung, gelang dan liontin dan anting bahkan logam mulia ada di sana. Dony bingung memilihnya, tapi tidak mungkin dia mengajak Nining untuk memilih sendiri, tidak kejutan namanya.
Sedang pusing, seorang pelayan mendekat. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku mau cari perhiasan untuk istri sebagai hadiah. Tapi aku bingung mau pilih yang mana.” Dony terus melihat, siapa tahu ada satu yang dia suka.
“Mau beli cincin, kalung, gelang atau anting, Mas?” tanya pelayan lagi.
“Nah, itu aku bingung, Mba. Belum pernah aku beli hadiah sebelumnya untuk istri.” Dony malu-malu membuat pelayan tertawa.
“Mas ini so sweet banget. Saya jadi pengin punya suami kayak Mas. Punya saudara atau teman yang sama persis kayak Mas gak?” goda pelayan membuat Dony tersenyum menahan tawa.
“Hus, kamu. Kebiasaan. Orang mau beli perhiasan malah digoda, mau jadi pelakor kamu? Kerja, nanti Bos marah,” tegur temannya tidak mau dimarahi Bos yang super galak. “Maaf, ya, Mas. Dia emang gitu kalau obatnya belum diminum. Maklum, kelamaan jomblo, ya, kayakgitu.” Pelayan itu mengatakan pada Dony membuat Dony kembali tersenyum.
“Yeh, negur orang dirinya sama aja. Dasar Loe!” protes pelayan yang pertama. Dia pun pergi dan membiarkan Dony bersama pelayan yang kedua.
“Maaf, ya, Mas. Dia emang gitu orangnya. Mas mau beli apa? Biar aku bantu. Kami ada model kalung terbaru. Modelnya sangat bagus dengan harga yang terjangkau. Harga jual kembali pun tidak membuat rugi. Ini dia,” ucapnya mengambil sebuah kalung dengan liontin bentuk hati yang sangat cantik.
Dony yang tidak suka perhiasan langsung jatuh hati pada kalung itu. “Bagus banget. Kalau dipakai Nining pasti semakin cantik. Ini brp, Mba?”
“Harganya tujuh juta lima ratus ribu. Kebetulan kami ada diskon pelanggan keseratus ribu, jadi Mas bisa membelinya dengan separuh harga. Dua juta tujuh ratus lima puluh ribu saja,” jawabnya lagi.
__ADS_1
“Tiga juga masih ada di tabungan. Ini buat persiapan punya anak, tapi gak pa-pa. lagi pula Nining belum hamil dan aku masih bisa nabung lagi. Aku bisa pakai ini untuk beli kalung itu. Lagi pula harganya sangat murah jika dibanding dengan harga awal.” Dony pun melirik M-banking-nya. “Mba, bisa transefer?” tanya Dony, repot kalau harus tarik tunai dulu.
“Bisa, Mas. Silahkan ke sana dulu untuk menyelesaikan pembayaran. Aku buat suratnya dulu.”
Dony pun ke bagian pembayaran untuk menyelesaikan pembayaran. Menunggu giliran, Dony mendapat pesan dari teman sekantornya.
“Mas Dony silahkan cek rekening. Hari ini ada bonus dari kantor sebesar sepuluh juta rupiah.” Adam memberi informasi.
Dony segera mengecek rekening dan benar saja, sepuluh juta sudah masuk ke tabungannya. Dony tidak menyangka kalau ucapan ustadz yang itu benar. Setiap kali suami memberikan hadiah untuk istrinya, rezekinya akan ditambah berkali-kali lipar. Dony merasakannya sendiri.
“Tuhan, terima kasih. Kasih-Mu nyata dan aku sangat percaya.”
Dony sudah membeli kalung dan dia tambah gelang dan total lima juta rupiah. Sisanya dia simpan untuk kebutuhan di masa depan. Begitu Dony keluar dari toko perhiasan, dia dibuat kaget oleh antrian yang mengular. Kemacetan tadi semakin menjadi dan tidak ada tempat untuknya menyeberang pulang.
“Oh, itu ada kecelakaan, Mas. Kalau Mas mau ke sana, mending Mas pikir lagi, deh. Macet. Kayaknya bisa sampe malam atau mungkin besok. Ada bus terbalik, susah evakuasinya,” jawab tukang parkir berdasarkan cerita orang-orang.
“Rumahku ada di sana, kalau aku ikut antre pasti akan lama. Aku telpon Nining saja dulu.” Dony mengambil ponsel lalu menelpon Nining. Hanya satu kali deringan, Nining sudah mengangkatnya.
“Sayang, Mas kejebak macet. Ada bus terguling dan Mas lagi berteduh di toko,” ucap Dony sedih.
“Oh, ini ada beritanya di televisi. Iya, Mas. Keadaannya macet parah. Busnya juga susah dievakuasi. Kayaknya bisa sampe malam atau pagi. Gimana kalau Mas nginap di rumah Ibu sama Bapak dulu. Di sana lebih dekatkan? Jadi Mas gak usah macet-macetan,” usul Nining.
“Nginap? Harus pisah sama kamu, dong? Gak mau, ah. Mas pasti bakal kangen banget jauh dari kamu,” tolak Dony. Semalam tidak bertemu rasanya seperti seminggu dan itu sangat menyiksa.
__ADS_1
“Kan cuma satu malam, besok kalau udah gak macet Mas bisa pulang. Berangkat kerja dari sana dulu aja, Mas. Biar lebih cepat.”
“Sayang. Kamu tahu gak kalau semalam itu rasanya seperti satu minggu. Mas gak akan kuat jauh dari kamu walaupun cuma semalam. Mas macet gak pa-pa asal gak jauh dari kamu,” ulang Dony terus menolak usulan Nining.
“Mas ini. Kan cuma satu malam. Kalaupun Mas ikut macet-macetan, emang iya bisa sampai malam ini? Siapa tahu macetnya sampe pagi. Sama sajakan gak ketemu semalaman?”
Dony berpikir ulang. Benar juga yang dikatakan oleh Nining. Selain tidak bertemu, dia juga capek. Perhiasan yang sudah dia beli juga bahaya, bisa-bisa dicuri.
“Ya, sudah. Mas nginep di rumah Ibu aja. Mas pasti akan kangen banget sama kamu. Kamu kangen gak sama Mas?” ucap Dony lemas dan sedih.
“Hmmm, kangen gak ya?” ledek Nining. Dia masih tiduran tapi badan sudah enakan.
“Ih, kok, kayakgitu? Nyebelin.” Dony merajuk marah. Dia pun langsung mematikan telponnya. Lalu mengirim pesan.
“Mas benci hal ini. Tapi Mas gak bisa benci sama kamu. Benci karena gak ketemu semalaman, pasti Mas akan kangen banget. Nanti Mas video call sebelum tidur, sekarang Mas pulang duluke rumah Ibu. Kamu hati-hati di rumah, ya?” ucap Dony sambil mengetik pesan dan mengirimnya pada Nining.
Nining membaca pesan itu lalu tersenyum. Dia pun membalas dengan mesra. “Iya, suamiku sayang. Aku juga di sini akan sangat merindukan Mas. Mas jangan khawatir, aku di sini bisa jaga diri dan akan baik-baik saja. Mas juga hati-hati di jalan, jangan ngebut.” Tak lupa Nining menambahkan emoji bibir agar Dony tidak merajuk lagi.
Dony menerima pesan dengan senang. Dia tersenyum melihat istrinya sangat baik padanya.
“Kalau begitu, Mas jalan dulu, ya. I love you Sayang. Jangan lupa rindu Mas.” Di parkiran Dony berkirim pesan layaknya orang pacaran.
Tukang parkir yang masih muda pun merasa iri dan iseng menanyai. “Cie, chat sama pacar, ya, Mas?”
__ADS_1
“Mau tahu aja apa mau tahu banget?” goda Dony membuat tukang parkir mengerucutkan bibirnya. Ternyata Dony bisa juga meledek orang.