
Dony terdiam sambil merengungi ucapan ayahnya. Apakah dia sudah siap jika seandainya yang terjadi adalah yang terburuk? Siap tidak siap Dony harus siap karena itu adalah resiko dari keputusannya.
“Iya, Pak. Aku akan menemui Nining sekarang juga,” putus Dony.
“Jangan sekarang,” cegah Arya. Membingungkan. Tadi disuruh menemui Nining, sekarang malah dicegah. Apa sebenarnya mau Arya?
“Kenapa jangan sekarang, pak?” rajuk Dony kesal.
“Lihat jam berapa sekarang? Jam dua belas malam dan di luar juga sedang hujan. Kalau kamu ke rumah Nining sekarang, yang ada kamu mengganggu Nining yang sedang istirahat.”
Dony tersenyum melihat jam cinderella menampakkan diri. Kalau sudah membaik, ya, seperti ini. Jam saja dilupakan. Dony-Dony.
Dony masuk ke kamar. Rasanya tidak sabar menunggu besok datang. Dia merasa gelisah, tidur pun tidak nyenyak.
‘Lama banget, sih, paginya? Aku pengin cepat-cepat pagi,’ omeldo dalam hati, bolak-balik tidak menentu dan akhirnya dia bangun. Duduk memandangi jam yang baru menunjukkan jam satu malam.
Malamitu terasa sangat lama bagi Dony. Dia sampai begadang hingga jamm empat pagi dan bisa terlelap di jam lima, itu pun setelah dia tidak sengaja tertidur karena terlalu lelah menunggu.
“Hoam. Akhirnya pagi juga. Jam berapa ini? Waaah, jam sepuluh. Aku kesiangan. Aku harus cepat ke rumah Nining untuk menyelesaikan masalah kita.” Dony terpekik kaget dan segera melonjat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dony mandi sangat terburu-buru tapi dia tidak lupa untuk membersihkan setiap inchi bagian tubuhna menggunakna sabun dengan bersih. Sudah lama dia tidak disentuh istrinya dan dia ingin saat pertama kali mereka saling menyentuh, Nining tidak kecewa karena semua bagian tubuhnya bersih dan wangi.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, tak lupa Dony memilih baju yang paling bagus. Minyak wangi serta minyak rambut dengan gaya anak muda kekinian agar Nining semakin terpesona. Dony keluar sesudah yakin dengan penampilannya yang hebat.
“Bapak, Ibu. Dony pamit dulu ke rumah Nining. Doakan anak kalian ini agar bisa kembali bersama Nining. Oh, iya. Gimana penampilan Dony, bagus gak?” Dony berputar di depan kedua orang tuanya, siapa tahu ada sesuatu yang kurang.
“Sudah, sudah sempurna. Ibu sama Bapak selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua. Hati-hati, ya. Jangan ngebut bawa motornya.”
Dony melajukan motor dengan tidak sabar. Hingga dia pun menempuh perjalanan sepuluh menit lebih cepat dari biasanya karena dia menambah kecepatan agar cepat sampai. Sampailah dia di depan rumah mereka.
Jantungnya berdebak tidak menentu. Rasanya sama seperti pertama kali menemui Nining di rumahnya deg-degan dan takut. Di rumah saja dia yakin bisa menemui Nining dan berbicara panjang lebar, kenyataannya belum ketemu saja sudah gemetar.
“Aduh ... mulai, deh. Demam panggung. Lututku gemetar, badanku gak karuan. Aku gak bisa ketemu sama Nining sepert ini. Lebih baik aku tunggu di sini sebentar sampai demam panggungku hilang.” Dony memutuskan menunggu di depan rumah sampai demam panggungnya hilang.
Terlihat Nining akan menjemur baju. Gara-gara urusannya dengan Dony, dia bangun kesiangan dan sudah tentu jemurannya sudah dipakai Sri.
Dony terenyuh melihat Nining yang begitu mandiri melakukan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Dia kagum dan salut pada Nining yang tidak pernah mengeluh walaupun di rumah pekerjaanya tidak pernah habis.
Sri datang dan tidak tahu kalau ada Dony yang bersembunyi di balik pohon.
“Gitu, dong. Ngalah sama tetangga. Kan jadinya saya gak perlu pulang lagi untuk menunggu jemuran Mba kering. Makasih, ya, Mba udah izinin saya jemur baju di sini. dah,” ucap Sri lebih meledek dan memarahi dengan nada lemah-lembut.
“Jadi yang di jemuran besi itu bukan punya Nining tapi punya Sri? Kenapa dia malah biarin bajunya di jemur di tali sedangkan jemuran Sri di jemuran besi? Bukannya enak jemur di jemuran besi, ya? Kalau hujan tinggal angkat aja jemurannya,” gumam Dony heran. Semakin dibuat kaget oleh tingkah Nining yang sabar.
__ADS_1
Tetangga lewat di depan Dony yang masih bersembunyi. Dony memang sengaja tidak menunjukkan diri agar tidak ditanya macam-macam oleh mereka.
“Kemarin itu saya lihat sendiri kalau Mba Sri ribut sama Mba Nining. Gara-gara gak dipinjemin jemur di halaman rumahnya Mba Nining, Mba Sri sampai buang sampah di halamannya Mba Nining, lho. Saya sengaja lihat dan diem aja, mau lihat sikap Mba Nining gimana. Eh, tahu gak apa yang dilakuin sama Mba Nining? Dia cuma nyapuin sampah itu tanpa ngomong apa-apa. Padahal saya yakin kalau Mba Nining lihat Mba Sri waktu buang sampah itu,” gunjing tetangga Nining ketika melewati tempat persembunyian Dony.
“Wah, hebat banget, Mba. Mba Nining itu orangnya sabar dan baik banget. Kemarin juga aku lihat ada cowok kayak dan tampan ngajakin Mba Nining jalan-jalan. Malah ditolak sama dia. Katanya takut suaminya salah paham. Walaupun tidak ada di rumah, Nining tetap menjaga kehormatannya. Hebat.” Walaupun suara mereka sudah semakin menjauh, Dony masih bisa mendengar desas-desus yang mereka bicarakan.
Dony merasa semakin menyesal. Dia tak sabar untuk menemui Nining di rumahnya. Dia ingin meminta maaf dan menyakui kesalahannya selama ini. Tiba-tiba ada tamu tidak terduga datang ke rumah Nining.
“Mas yang kemarin ngrusakin HP-ku kan?” tanya Nining.
“Iya, Mba. Saya ke sini mau memberikan ini. Kartu memori Mba terbawa sama aku. Sama ... aku juga mau minta maaf sama Mba karena sudah membuat HP Mba rusak,” jawab laki-laki itu dengan penuh penyesalan.
“Iya, gak pa-pa, Mas. Lagian HP-nya udah bener, gak masalah, kok,”
“Ya, sudah kalau begitu. Ini kartu memorinya, aku pulang dulu. Permisi.” Laki-laki itu tak lama dan segera pulang.
Dony semakin dibuat mencengang. Semuanya hanya salah paham dan semua itu terjadi karena dia terlalu cemburu pada Nining. Dony menyesal dan tidak akan mengulangiya lagi.
Dony segera masuk dan melihat Nining masih menjemur baju. Dari belakang, Dony memeluk tubuh Nining. Dia sangat merindukan tubuh wangi yang selalu menjadi guling malamnya. Dia mengecup rambut indah Nining tanpa henti.
“Mas Dony?” seru Nining merasakan wangi yang khas dari suaminya itu. Seketika Nining mengentikan aktivitas paginya. Terdiam meyakinkan diri kalau apa yang terjadi saat ini bukan halusinasi.
__ADS_1
“Iya, Sayang. Ini Mas, mas Donimu, suamimu yang sangat kamu cintai. Aku minta maaf. Aku akui selamaa ini aku salah. Aku minta maaf.” Dony mengakui semua kesalahannya.
Nining hanya terdiam membisu. Dia kaget dan tidak menyangka kalau sekarang Dony kembali padanya. Namun, semua perbuatannya kemarin membuat hati Nining sakit. Apakah Nining akan memaafkan Dony?