Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
34


__ADS_3

Dony terus merayu Nining yang marah akibat Dony berpikiran buruk pada Sri. Walaupun Sri sering sekali membuatnya kesal, Nining tidak pernah menaruh dendam padanya.


“Iya, deh. Aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi,” balas Nining memandang suaminya penuh cinta.


“Terima kasih, Sayangku yang cantik, manis seperti gula pasir.”


“Kok, gula pasir?”


“Iya, gula pasir. Gula pasir itukan putih, lembut, sama seperti hati kamu. Putih dan lembut.” Pujian Dony membuat Nining melayang. Dia pun tak bisa menyembunyikan gurat malu di pipinya yang kemerahan.


“Cie, malu, ya? Jangan malu, kita sudah satu tahun menjadi suami istri buat apa malu-malu lagi.”


Dony memegang pundak Nining dan menatapnya penuh kelembutan. Memandangnya syahdu hingga Nining terbawa dalam buaian penuh cinta. Entah berawal dari menit keberapa, mereka mulai melakukan malam indah berdua. Menikmati dinginnya kamar bersama keringat kenikmatan yang halal dan indah.


***


Lucky sudah sembuh. Dia pun melakukan kegiatan ibu rumah tangga seperti biasanya. Dony tidak sengaja melihatnya dan meliriknya dengan sinis.


“Lucky melakukan pekerjaan rumah tangga? Emangnya di mana Sri? Kenapa dia membiarkan suaminya yang baru pulang kerja menjadi ART?” gumam Dony marah. Dia tidak terima jika itu semua atas perintah Sri. Dony pun mendekat untuk memastikan semuanya.


“Lucky. Lagi apa kamu?” sapa Dony yang kini sudah berada di depan Lucky yang sedang menjemur baju.

__ADS_1


“Oh, ini. Lagi bantuin istri tercinta jemur baju. Tadi dia kecapaian … sudah masak, cuci piring dan cuci baju … jadi aku yang bantu dia jemur baju,” karang Lucky. Padahal Sri masih tidur. Sengaja agar semua pekerjaan rumah yang mengerjakan Lucky. Dia akan bangun kalau semuanya sudah selesai.


Dony merasakan ada yang janggal. Pasalnya tangan Lucky terlihat keriput dan pucat. Itu artinya dia sudah lama bermain dengan air. Namun, dia tak mungkin menanyainya dengan detail, takut Lucky tersinggung dan mengganggu hubungan persahabatan mereka.


“Kalau begitu aku bantu.” Dony sigap membantu Lucky. Mereka asyik menjemur baju hingga tanpa terasa semua baju sudah selesai dijemur. Melakukan pekerjaan dengan senang hati akan membuat badan semakin bahagia dan pekerjaan pun terasa menyenangkan. Itulah yang dilakukan oleh Dony dan Lucky.


Nining yang merasa kehilangan Dony, melihat Dony sedang tertawa riang di rumah tetangga. Dia tak ingin mengganggu, dia pun masuk dan menyiapkan sarapan istimewa untuk mereka berempat.


“Untung kemarin sempat beli ikan, daging sapi sama sayur-sayuran. Hari ini aku mau bikin makanan spesial untuk mereka.” Nining mulai membakar ikan dan membuat bumbu madu kesukaan Dony. Rendang padang pun tak lupa dia buat karena dia dulu pernah belajar membuatnya dan rasanya sangat enak. Pokoknya semua makanan yang dibuat oleh Nining sangat enak. Tidak ada yang bisa menolak aromanya, termasuk Sri.


Iya. Sri yang masih tertidur merasa terusik dengan aroma wangi yang dihasilkan Nining. Tanpa sadar dia bangun dan mencari asal aroma makanan itu.


“Ih, ngapain, sih, pagi-pagi pamer masakan. Nyebelin aja. Oh, dia pasti lagi cari muka sama Mas Dony dan Mas Lucky biar dipuji. Dasar licik. Awas, ya, kamu. Gak akan saya biarin itu terjadi. Saya harus labrak dia.” Sri tak ingin Nining mendapat pujian lagi dari siapapun, termasuk Lucky.


“Eh, tunggu. Saya harus mandi dulu. Malu kalau ketahuan baru bangun jam segini.” Sri pun bergegas mandi dan memakai baju kebanggannya, yaitu pakaian mencolok layaknya anak TK yang pamer warna.


Sri mandi dan berdandan cukup lama sehingga semua masakan Nining sudah siap. Nining pun sudah menyiapkan semuanya di ruang tamunya dengan lesehan. Sekarang waktunya Nining ke rumah Lucky dan Sri untuk mengajaknya makan bersama.


Nining mendekati Dony dan berbisik dulu. Minta izin untuk mengajak Lucky dan Sri makan bersama di rumahnya dan Dony pun menyetujuinya. Dia malah sangat senang. Ternyata bukan dengan dirinya saja Nining baik, tapi pada semua orangyg dekat dengannya. Dony semakin merasa beruntung bisa mendapatkan Nining.


“Mas Dony. Apa , Mas Lucky. Aku udah masak. Gimana kalau kita makan bareng? Kebetulan aku masak banyak, gak akan habis kalau dimakan berdua.”

__ADS_1


“Apa? Makan bareng?” ulang Sri yang baru saja keluar dengan dandanannya yang cetar. Rok di atas lutut warna pink, tangtop putih disertai rompi hanya sebatas perut warna hitam. Rambut dikuncir dua ke atas dengan tali rambut warna warni.


Lucky tersenyum melihat gaya istrinya, tapi dia hanya tersenyum menahan malu. Mau malu bagaimana, Sri istri yang sangat dia sayangi.


“Iya, Mba. Aku masak ikan bakar madu, rendang padang sama sayur yang macam-macam. Masakannya banyak banget. Gak akan habis kalau dimakan berdua. Kalian mau, ya, makan bersama kami?” paksa Nining yang ingin hubungan mereka tetap harmonis.


“Waw, enak banget. Tahu aja kalau Mas lagi pengin ikan bakar madu. Kamu emang istri idaman. Kamu punya indra keenam, ya?” puji Dony di depan Sri. Tentu saja api cemburu kembali membara. Dia paling tidak suka melihat Nining dan Dony bermesraan di depannya.


‘Pasti mereka akan pamer kemesraan. Males banget. Saya gak akan mau ikut. Pokoknya Mas Lucky gak boleh terima tawaran itu. Saya harus lakukan sesuatu untuk menggagalkan rencana mereka. Dasar Nining licik. Kamu pasti mau bikin aku panas. Awas, ya, kamu. Saya akan beri kamu pelajaran,’ gumam Sri kesal dalam hati.


“Mas Lucky. Apa Mas mau makan bareng mereka? Kalau Mas gak mau, gak pa-pa. Kita makan di luar aja. Di luar makanannya pasti jauh lebih enak dan mahal,” ucap Sri menohok. Dia tak mau melihat Dony dan Nining bermesraan di saat makan bersama. Dia pun mencegah suaminya untuk ikut makan bersama.


“Gak pa-pa. sekali-kali makan bersama mereka. Lagian Mas pulang hanya setengah tahun sekali, kalau bukan sekarang, nunggunya pasti akan lama lagi.”


Di luar dugaan. Ternyata Lucky menerimanya dan itu membuat Sri kesal bukan kepalang. Apa yang harus dia lakukan untuk mencegah Lucky makan bersama mereka?


“Aduh. Perut saya sakit. Sakit banget, Mas. Tolongin saya,” aduh Sri pura-pura. Dia memegangi perutnya yang tertutup kain tipis.


“Kamu sakit, Sayang? Apa mau aku bawa ke rumah sakit? Biar disuntik sekalian, ya? Biar cepat sembuh.” Lucky sangat panik melihat Sri kesakitan. Dia pun akan melakukan apapun agar istrinya sembuh menolak ajakan Nining dan Dony.


‘Apa disuntik? Saya gak mau disuntik. Gimana kalau sampai disuntik beneran? Oh, tidak. Sayaharus gimana, dong ini? Sudah tanggung ngomong sakit perut lagi,’ omel Sri dalam hati. Dia menyesal sudah berbohong, sekarang dia terjebak oleh kebohongannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2