Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
48


__ADS_3

Dony bergidig dengan ucapan Sri. Dia istri dari sahabatnya sendiri, tetangga dekatnya, tapi kenapa kelakuannya sangat gila? Apa dia salah minum obat atau bagaimana?


“Kamu salah minum obat atau gimana, Mba?” tanya Dony mencoba berpikir positiv.


“Salah minum obat? Kamu pikir saya sakit? Iya, sih, emang sakit. Sakit karena jatuh cinta sama kamu.” Sri menyeringai bahagia. Dia sudah tidak memikirkan perasaan Lucky maupun Nining. Dia hanya ingin Dony tahu semua isi hatinya.


“Kamu sakit Mba. Kamu perlu priksa ke psikiater,” ucap Dony berniat pergi.


Namun, Sri segera berlari menuju pintu keluar. Dia mengunci pintu dan memasukkan kuncinya ke dalam bajunya sendiri. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Sudah lama dia menunggu datangnya hari ini, tak akan dia biarkan berlalu tanpa ada hasil.


“Jangan gila kamu, Mba. Buka pintunya, biarkan aku pergi,” pinta Dony dengan sedikit menekan nada suaranya.


“Biarin kamu pergi setelah lama menunggu datangnya hari ini? Gak akan. Saya sudah lama menunggu hari ini dan gak akan pernah aku sia-siakan,” tolak Sri semakin manja. Dia mendekati Dony yang berdiri tepat di depan tubuhnya.


Dony menjauh, jijik sekali melihat Sri dengan pakaian begitu menggoda mendekatinya. Dia tak mau berdekatan apalagi bersentuhan. Dony selalu menjauh setiap kali Sri mendekat.


“Kenapa kamu menjauh? Apa saya kurang seksi? Atau saya kurang menggoda?” Sri berlenggak-lenggok menunjukkan tubuhnya yang seksi dengan baju lingeri transparan menunjukkan pakaian dalam yang kecil.

__ADS_1


Dony menutup mata, sekali lagi jijik melihat yang bukan haknya. Dia tak mau mengotori matanya dengan sesuatu yang jauh lebih jelek dari kepunyaannya sendiri.


“Kenapa kamu malah merem? Kamu menghina saya? Kamu pikir saya tidak lebih cantik dari Nining? Iya? Akan saya buktikan kalau kepunyaan saya jauh lebih indah dan nikmat. Saya masih perawan dan sempit, beda dengan Nining yang sudah sering kamu bobol,” ucap Sri penuh kemarahan. Dia pun mencoba membuka bajunya.


Dony segera membuka mata dan mendekat. Bukan untuk membuktikan, tapi dia mencegah Sri melakukan hal memalukan itu.


“Apa yang kamu lakukan Mba? Jangan gila kamu. Kamu gak seharusnya nglakuin ini ke aku. Harusnya kamu lakuin ini ke Lucky … saat dia pulang kemarin.” Dony memegang tangan Sri agar Sri tidak membuka bajunya, tapi Sri berontak. Dia keras kepala ingin menunjukkan tubuh indahnya yang lebih legam dari Nining.


“Lepasin. Saya akan buktikan kalau saya lebih nikmat dan indah dari Nining. Kamu harus menyesal memilih Nining daripada saya.” Sri histeris dan berusaha melepaskan tangannya. Dia begitu terobsesi pada Dony hingga dia melupakan semua akal baiknya.


“Istighfar, Mba. Pikirkan perasaan Lucky. Bagaimana perasaannya kalau dia sampai tahu hal ini,” teriak Dony berusaha menyadarkan Sri.


“Kamu sakit, Mba Sri. Kamu harus ke psikiater,” ucap Dony tegas. Dia tidak bisa menangani Sri kalau sudah terobsesi seperti ini.


“Ha ha ha. Psikiater? Kamu yang harus ke psikiater. Kamu yang harusnya sadar kalau saya sangat mencintai kamu dan kamu harus pilih aku. Tinggalin Nining dan nikahin aku, secepatnya. Ha ha ha,” tawa Sri tidak bisa mengendalikan diri.


Dony terus berusaha mencegah Sri melakukan hal yang tidak dia inginkan. Dia ingin melumpuhkan Sri untuk sementara waktu agar ada seseorang yang membawanya ke rumah sakit jiwa. Keadaan Sri sudah tidak seperti dulu dan dia sangat khawatir. Apalagi dia pasti akan terseret dalam urusan Sri ini.

__ADS_1


‘Aku harus cari cara agar Sri bisa tenang dan gak nekad. Berpikir Dony,’ ucap Dony berusaha tenang tanpa melepas tangan Sri.


“Sri. Kamu sedang ada masalah dengan Lucky? Kalau kamu ada masalah dengan Lucky, cerita ke Nining. Kalian sama-sama perempuan, pasti kamu bisa lebih nyaman cerita padanya. Kalau aku, aku laki-laki. Gak akan tahu apa yang kamu rasakan.” Dony berusaha mengalihkan perhatian Sri.


“Nining lagi-Nining lagi. Saya benci dengan dia. Kenapa kalian selalu memuji cewek jelek itu, hah? Apa lebihnya dia dari saya? Dia itu jelek, miskin. Aku cantik, kaya. Kenapa kamu gak cinta sama aku?” hentak Sri tidak terima Dony membicarakan Nining di depannya. Dia tidak mau selalu menjadi bayang-bayang Nining dalam kehidupan Dony.


Aduh, Dony salah bicara. Bukannya semakin tenang, Sri semakin menjadi. Dia tak mau salah langkah. Dia pun diam untuk merangkai kata-kata yang akan membuat Sri tenang.


“Iya. Kamu lebih cantik dan kaya dari siapa pun, makanya Lucky sangat mencintai kamu. Kamu sangat beruntung punya Lucky,” tambah Dony lagi agar Sri beruntung dinikahi Lucky.


“Lucky lagi-Lucky lagi. Lucky itu kaku, terlalu penurut, membosankan. Saya gak suka sama dia. Gak ada tantangannya. Dia juga bego. Mau aja disuruh apa aja. Cowok gak ada harga dirinya. Saya benci dengan cowok lembek kayak dia. Kenapa kamu tutup mata? Selama ini saya sangat mencintai kamu. Sejak sekolah saya menyimpan rasa untuk kamu tapi kenapa kamu pura-pura gak tahu? Saya benci kamu. Tapi saya ingin balas dendam. Saya terima Lucky agar kamu bisa jatuh cinta sama saya. Tapi apa nyatanya, kamu malah bikin saya semakin tersiksa.”


Dony kaget bukan main, ternyata gosip yang beredar itu benar. Meski begitu, sejak dulu Dony memang tidak pernah menyimpan rasa untuk Sri. Hanya Nining yang mampu membuat hatinya bergetar dan sampai saat ini hanya dia yang menjadi ratu di hati Dony.


“Mba Sri. Kita udah punya pasangan masing-masing. Aku udah punya Nining dan kamu udah punya Lucky. Anggap aja semua itu hanya cinta monyet. Kita jalani aja apa yang ada. Aku yakin Lucky bisa berubah. Omongin baik-baik dengan Lucky, semuanya pasti akan baik-baik saja,” bujuk Dony untuk menerima Lucky.


“Enggak! Saya gak mau bicara sama cowok budak itu. Saya benci dengan dia. Dia terlalu sempurna dan saya tidak suka itu. Saya hanya suka kamu. Cowok berkepribadian, romantis dan jauh lebih tampan dari Lucky. Lucky itu jelek dan gak bisa mesra. Saya benci-benci-benci.” Sri semakin marah mengingat bagaimana sikap Lucky padanya yang selalu menuruti semua keinginan Sri. Yang Sri ingin sebuah perlawanan yang mesra bukan kepatuhan yang membosankan. Sedangkan Lucky terlalu penurut hingga membuat Sri bosa.

__ADS_1


Lucky terlalu mencintai Sri hingga dia rela melakukan apapun asal Sri bahagia. Tak ada penolakan, semua itu karena dia takut Sri akan meninggalkannya. Namun, semua yang dia lakukan semakin membuat Sri benci padanya.


__ADS_2