
Nining sudah bersiap dengan masakan di ruang makan. Dia pun membangunkan Dony yang tidur kembali setelah shalat subuh.
“Mas, bangun. Katanya mau joging?” bisik Nining di telinga Dony. Dia mengguncang lembut badan Dony yang tertidur menghadap ke kanan.
“Hmmm, masih ngantuk,” jawab Dony setengah mengigau.
“Jadi Mas gak mau joging? Ya, udah. Aku tinggal dulu, ya, Mas.” Nining pun meninggalkan Dony yang rupannya masih mengantuk.
Di dapur Nining sudah membuat berbagai menu istimewa. Hari ini tanggal merah, dia ingin memberikan suguhan yang tidak biasa.
“Aku mau buat masakan kesukaan Mas Dony. Ada rendang padang, ikan bakar madu, lalapannya jangan sampai lupa,” gumam Nining mempersiapkan masakannya.
Dengan penuh semangat, Nining membuat semua masakan itu. Hingga satu jam, semua masakan telah selesai. Dony pun yang sedang tidur menciu aroma ikan bakar madu buatan Nining dan langsung bangun.
“Hmmm, enak banget baunya. Mas jadi lapar,” ucap Dony sambil memeluk Nining dari belakang. Melihat Nining sedang membakar ikan di atas kompor yang masih menyala kecil.
“Kok, Mas udah bangun? Bukannya tadi gak jadi joging?” tanya Nining heran.
“Emang gak jadi joging, kan ini udah jam sembilan pagi. Masa joging siang-siang gini? Udah panas, berdebu. Mending makan masakan kamu aja yang super enak,” rayu Dony semabri membalik ikan, tak membiarkan Nining masak sendirian.
Suasana panas mendadak romantis dengan kedatangan Dony. Dia tahu apa yang harus dibantu hanya dengan memperhatikan keadaan sekitar yang masih belum sempurna. Nining yang sedari tadi sibuk, mendadak bingung dengan pekerjaan yang akan dia pegang karena semuanya sudah diambil alih oleh Dony. Dia pun memperhatikan cekatannya Dony mengurus sisa masakan yang belum selesai seperti menaruhnya di atas piring, membalik ikan yang belum matang sempurna, memotong lalapan dan membuat sambel dari cobek yang belum halus.
“Mas ini pernah kerja jadi koki, ya? Atau pelayan restoran,” tanya Nining disela pekerjaannya menjadi mandor dadakan.
“Koki? Pelayan restoran? Emangnya kenapa?” Dony bingung dengan maksud pertanyaan Nining.
__ADS_1
“Mas cekatan banget bantuin masak sama beres-beres. Biasanyakan kalau koki atau pelayan restoran kayakgitu. Cekatan dan cepat,”” jawab Nining.
Dony malah tertawa. Dia tak menyangka Nining menilainya sebegitu dalam. Padahal dia tidak pernah kerja sebagai koko atau pelayan restoran. Dulu dia sering membantu ibunya masak di dapur, sehingga dia tahu apa saja yang harus dia kerjakan. Sudah hapal sejak kecil apa saja yang harus dia lakukan agar pekerjaannya cepat selesai.
“Tapi, kok, bisa cekatan kayakgitu. Aneh.” Nining tidak percaya.
“Suami kamu ini anak sholeh yang suka membantu ibu di dapur, Sayang. Dulu ibu sering nyuruh Mas bantuin masak, jadi hapal apa aja yang harud dikerjain. Mas juga kan jago masak.”
“Oh, iya. Mas lulusan tata boga, ya? Aku lupa.” Nining meringis malu. Masakan Dony pasti lebih enak dari masakannya.
Akhirnya masakan selesai, mereka pun makanbersama.
“Alhamdulillah, kenyang. Enak banget masakan kamu, Sayang. Ini, mah, bisa satu minggu gak makan, kebanyakan makan,” puji Dony setelah menjilat jari yang penuh dengan bumbu masakan. Dia tak rela makan dengan sendok, dia pun makan dengan tangandan setelah makan, jarinya bersih semua. Tidak membiarkan sisa masakan terbuang percuma. Karena masakan Nining sangat enak.
“Udah bersih, Mas. Sampe gak usah dicuci udah berkilau.” Nining meledek Dony karena piring kotor milik Dony tidak ada satu nasi pun tersisa. Bahkan, bumbu atau sisa noda pun tidak ada. Semua dibersihkan oleh jari lihai Dony.
“Iya, Mas. In Sya Allah. Ya, udah. Aku cuci piringnya dulu, ya.”
“Eh, jangan. Kamu duduk aja di sini. Biar Mas yang cuci semuanya. Dari pagi kamu udah capek bersihin rumah, sekarang giliran Mas yang bersih-bersih. Kamu nonton TV aja, ok!” perintah Dony mengambil piring yang sudah dipegang Nining. Nining tidak dibiarkan mencuci karena sekarang tugasnya untuk melayani istrinya.
Nining pun memilih untuk menurut. Walaupun terasa tidak enak, dia tidak mau berdebat. Kebetulan juga dari kemarin perutnya terasa mual setiap kali berdiri, sekarang saatnya untuk duduk dan istirahat.
Dony mencuci piring dan tiba-tiba melihat buah naga, dia menjadi lapar. Dia yang awalnya ingin mencuci, sejenak berhenti dan makan buah naga.
“Wah, enak banget buah naga ini. Makan satu dulu gak pa-pakan?” gumam Dony mengambil satu lalu memakannya. “Hmmm, enak banget. Baru kali ini aku ngrasaian buah naga seenak ini. Ah, lagi ah.” Entah kenapa hari itu Dony sangat mengukai buah naga. Awalnya satu, tapi lagi-lagi nambah dan tak terasa empat buah buah naga habis tak tersisa.
__ADS_1
“Aduh, kok, bisa habis semua? Gawat, nih. Kalau Nining tahu, dia marah gak ya?” Dony baru sadar setelah melihat kulit buah naga yang berserakan di bawah. Dia kebingungan. Bagaimana kalau Nining tahu tentang buah naga yang sudah dia makan?
“Ah, aku sembunyiin aja. Habis itu nanti beli lagi biar Nining gak tahu kalau buah naganya aku habisin.”
Segera Dony membuah kulit buah naga ke dalam plastik lalu dia sembunyikan. Mencuci piring dan semua yang kotor dalam waktu yang cepat. Setelah selesai, dia keluar sambil membawa plastik.
“Mas Dony bawa apa?” tanya Nining ketika Dony lewat di sampingnya.
Mendadak Dony gemetar dan berkeringat. Dia tidak biasanya berbohong, dia pun bingung bagaimana menjawab pertanyaan Nining.
“Ehm, sampah. Mau buang sampah,” jawab Dony gemetar.
Nining melihat Dony berbeda, dia pun memperhatikan Dony dengan seksama. Ada sesuatu yang disembunyikan.
“Mas kenapa gemetaran? Mas sakit?” tanya Nining.
“Gemetar? Eng—nggak. Gemetar kenapa?” Dony gagap. Dia berkeringat dengan semua pertanyaan Nining.
“Oh. Ya, udah. Mumpung tukang sampah belum datang. Mending langsung dibuang sekarang aja. Kalau tukang sampah udah datang, nanti sampahnya gak keangkut.”
“Iya. Ya, udah. Mas ke depan dulu, ya.” Segera Dony keluar untuk membuang kulit buah naga yang sudah dicampur dengan sampah lainnya. Begitu dia membuangnya di tempat sampah, rasanya tenang sekali.
“Udah dibuang, sekarang tinggal beli buah naga lagi. Di mana, ya, beli buah naganya? Di sekitar sini ada gak, ya?” Dony menyapu keadaan sekitar. Siapa tahu ada penjual buah yang keliling. Sebelum Nining sadar buah naganya sudah hilang, dia ingin segera menggantinya.
“Tukang sayur. Iya. Biasanya di tukang sayur keliling kan ada buah. Sekarang aku harus cari tukang sayur aja. Di mana, ya, tukang sayurnya?” Dony celingukan menunggu tukang sayur.
__ADS_1
Tanpa diduga, Nining pun ikut keluar. Dia mencari tukang sayur juga karena persediaan bahan masakan sudah habis.
“Mas Dony, kok, belum masuk? Lagi nunggu apa?” tanya Nining.