
Semua orang memandang hina pada Sri yang terbukti sudah sangat tega memfitnah Dony. Cibiran dan jijik terlontar lewat pandangan mata mereka.
“Saya tidak menyangka Mas Lucky begitu apes punya istri sejahat dia. Kasihan Mas Lucky. Padahal dia sangat baik tapi sayang, nasibnya buruk,” ucap seorang yang kenal dengan Lucky.
“Iya, benar. Kasihan dia. Cewek ini aja yang gak bisa bersyukur. Udah dapat cowok sebaik Mas Lucky masih saja kurang. Dasar gak tahu diuntung,” cela yang lain.
Semua memandang hina pada Sri. Kini Sri tak beda seperti penjahat yang sedang membela diri walaupun terbukti bersalah.
“Bawa dia dan bantu dia berkemas untuk pergi dari kampung ini,” putus kepala desa adil. Tidak ada gunanya mendengar pembelaan penjahat yang egois seperti Sri.
Dony dan Nining merasa lega. Pandangan menyesal pun terlihat dan mereka mulai mendekati Dony untuk membantu melepas ikatan serta meminta maaf karena sudah salah sangka. Dengan senang hati Dony memaafkan karena Sri memang sangat lihai dalam bersandiwara.
“Maafkan kamikrn telah tertipu oleh sandiwara Mba Sri.”
“Tidak apa-apa. Aku paham. Kalau begitu aku mau pulang. Yang penting nama baikku sudah pulih, sekarang aku ingin istirahat,” ucap Dony merasa lega dan capek.
“Aku antar, Mas. Permisi semuanya.” Nining mengantar Dony pulang dengan kelegaan. Akhirnya terbukti kalau suaminya memang laki-laki yang baik. Dia tidak menyesal sudah percaya pada suaminya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, lirikan marah, kecewa dan emosi terarah tajam pada mereka. Siapa lagi kalau bukan Sri. Dia marah karena kembali gagal bahkan sekarang dia akan diusir dari kampungnya sendiri.
‘Saya tidak terima. Kalau saya tidak bisa memiliki Mas Dony, gak ada yang bisa memilikinya,’ gumam Sri dalam hati.
__ADS_1
Dia pun mencari sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya pada Dony. Melirik sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melancarkan aksinya, dia melihat sebuah gunting tergeletak di atas meja. Tanpa berpikir ulang, Sri langsung berlari dan mengambil gunting itu. Setelah gunting itu ada di tangannya, dia mendekati Dony dan langsung dia tusukkan benda tajam itu ke perutnya.
“Mas Dony,” jerit Nining yang tidak bisa mencegah Sri melakukan aksi kejam itu pada suaminya. Terlihat Dony membungkuk sambil memegangi perutnya yang mulai berlumur darah sedangkan gunting masih menancap di tubuhnya.
Melihat tangannya berwarna merah dan Dony meringis kesakitan, Sri pun kaget. Dia melepas gunting itu dengan penyesalan. Dia khilaf sampai tidak sadar telah melukai Dony.
“Mas Dony. Mas Dony maafin saya. Saya tidak bermaksud—“ sesal Sri. Dia sedih, takut dan gemetar melihat Dony yang terlihat semakin lemah.
“Tolong bawa Mas Dony ke rumah sakit. Tolong,” teriak Nining histeris. Dia tidak berani mengambil gunting itu, takut lukanya akan semakin parah. Dia hanya memegangi agar sakit yang dirasa Dony tidak bertambah.
Warga terbelah menjadi dua, satu untuk menolong Dony dan satu lagi mengamankan Sri yang sangat keterlaluan. Dia yang awalnya hanya akan diusir, kali ini kepala desa berubah pikiran. Dia akan melibatkan polisi karena semua yang dilakukan Sri sudah melanggar hukum.
Sedangkan Dony buru-buru dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Nining sangat cemas, dia terus bolak-balik menunggu kabar dokter yang sedang memeriksa suaminya di dalam.
“Sabar Mba. Mas Dony pasti kuat. Dia pasti bisa melewati masa kritisini,” hibur tetangga yang ikut mengantar.
“Sabar, ya, Mba. Aku tidak menyangka kalau Mba Sri akan senekad itu menyakiti Mas Dony. Tapi kamu tenang aja, dia sudah dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabakan apa yang sudah dia lakukan.” Ibu RW menghibur dan memberi informasi yang akurat agar Nining merasa keadilan di tempatnya telah ditegakkan sebenar-benarnya.
“Terima kasih. Aku tidak mempermasalahkan Mba Sri, yang aku takutkan adalah nyawa Mas Dony. Aku takut dia kenapa-kenapa,” isak Nining. Dia tak bisa membayangkan hidup sendirian tanpa Dony. Selama ini dia sangat bahagia hidup bersama laki-laki yang sudah menemaninya selama satu tahun lebih itu. Jika dia harus berpisah untuk selama-lamanya, hancur hidup Nining.
“Lebih baik kita berdoa. Semoga dokter segera keluar dan memberi kabar baik.” Belum lama tetangga Nining mengatakan hal itu, dokter keluar dari ruang perawatan.
__ADS_1
Nining segera mendekat dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
“Bagaimana keadaan suamiku, Dok? Dia baik-baik ajakan? Dia gak kenapa-kenapakan?” Nining khawatir.
“Pasien sudah melewati masa kritis. Kami juga sudah menjahit lukanya. Dia hanya butuh istriahat karena darah yang keluar cukup banyak. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan. Silahkan kalian tunggu di ruang rawat dan beri waktu pasien untuk istirahat agar cepat sembuh.” Dokter memberi perintah dan Nining pun mengerti.
Dony sudah dipindahkan di ruang rawat. Nining tidak berani membangunkan walaupun kini Dony sudah tidur lama. Efek obat tidur, sampai malam tiba Dony masih saja memejamkan matanya. Nining hanya memandangnya dari jauh. Bahkan untuk mendekat untuk mengusap tangannya pun dia tidak berani. Dia terlalu takut Dony kurang istirahat.
Nining duduk di kursi sambil tertidur. Itu pun tak sengaja dia lakukan karena terlalu capek sejak tadi menunggu Dony bangun tapi tak kunjung bangun. Tak ada selera makan walaupun dia baru satu kali makan dalam hari itu.
‘Maafin aku, Mas. Aku gak bisa jaga kamu. Kalau aja aku bisa cegah Mba Sri nglakuin itu, kamu pasti gak akan ada di sini. Kesakitan,’ sesal Nining dalam hati. Bulir bening terus berjatuhan melihat Dony yang biasanya ceria tergolek lemas tidak berdaya. Rasa tidak berguna merajai hati hingga membuat Nining merasa menjadi wanita paling bodoh sedunia.
“Jangan nangis. Mas gak pa-pa, kok,” ucap Dony yang ternyata sudah bangun. Melihat wanitanya menangis, dia menghibur walaupun keadaannya masih lemas.
Nining segera mendekat. Dia sangat senang melihat suaminya sudah siuman. “Mas udah bangun? Mas butuh apa? Mau minum? Makan? Ke kamar mandi atau mau apa? Mas ngomong aja ke aku, aku pasti akan bantuin Mas,” ucap Nining panjang lebar.
Dony tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Seperti biasa, pasti Nining akan bersikap berlebihan jika dia sakit dan Dony tidak suka itu.
“Kamu ini terlalu berlebihan. Aku ini kuat. Masa digigit semut aja aku kalah. Lihat, nih. Aku gak pa-pa,” karang Dony tidak ingin Nining sedih. Walaupun kenyataannya tidak sesederhana itu, dia merasa bahagia jika melihat Nining lega mendengar dirinya baik-baik saja.
“Aku gak percaya. Pasti Mas sekarang sedang menahan sakit. Pasti sakit bangetkan? Darah Mas banyak yang keluar, pasti Mas pusing dan kurang darah.” Nining mencemaskan Dony.
__ADS_1