
“Sri kehilangan cincin berlian? Jangan-jangan cincin ini miliknya lagi? Bukankah dia yang membantu Nining waktu Nining mau cuci piring?” Dony mencurigai Sri. Sudah terlalu banyak kejanggalan yang terjadi pada Sri. Dony merasa Sri bukanlah wanita yang baik.
“Aku harus bisa membuktikan kalau Sri itu memang bukan wanita baik.” Dony tak mau ada lagi korban. Dony pun mengatur strategi agar bisa membuka topeng Sri.
***
“Sayang. Kita udah cari ke mana-mana tapi gak ada. Kita beli yang baru aja, ya?” bujuk Lucky yang sudah capek dengan rengekan Sri yang terus meminta cincinnya kembali.
“Gak mau. Pokoknya saya hanya mau cincin itu. Kembalikan cincin itu-kembalikan cincin itu.hiks hiks,” tangis Sri pecah. Dia begitu menyukai cincin itu. Jika Sri sudah menyukai seseorang, maka dia tidak akan mau menggantinya dengan yang lain.
“Kita beli dua, deh. Gimana?” tawar Lucky. Dia masih kuat beli cincin berlian lima buah lagi.
“Gak mau. Saya hanya mau cinicn itu!” Sri berteriak hingga membuat Lucky kaget.
Dony yang sedang duduk mendengar teriakan itu.
“Suara siapa itu?” Dony mempertajam pendengarannya.
“Saya hanya mau cincin berlian yang hilang itu. Pokoknya kalau kamu gak bisa nemuin cincin itu, saya gak akan maafin kamu,” ancam Sri membuat Lucky takut dan sedih. Setiap kali ingin sesuatu, dia selalu mengancam seperti itu. Lama-lama Lucky capek dan ingin menyerah.
“itu seperti suara Sri. Jangan-jangan dia menekan Lucky untuk mencari cincin ini sampai ketemu? Gak bisa dibiarin ini. Sri emang keterlaluan.” Dony segera ke rumah Sri untuk memberikan cincin itu. Dia tak mau sahabat dekatnya dibuat pusing oleh cincin yang dia temukan.
***
“Kamu mencari cincin ini?” Dony menunjukkan cincin yang dia temukan di hadapan Sri.
Sri sangat kaget saat Dony membawa cincin yang selama ini dia cari.
“Iya, benar. Ini punya saya. Di mana Mas Dony menemukan cincin ini?” tanya Sri balik.
__ADS_1
“Aku menemukan cincin ini di dekat genangan minyak yang sudah membuat Nining jatuh. Sekarang Nining sedang kesakitan gara-gara jatuh tadi.” Dony ingin tahu reaksi Sri mendengar Nining sakit gara-gara minyak itu.
Sri menyeringai kecil. Sekali tepuk, dua lalat mati. “Ya Tuhan kasihan sekali Mba Nining. Dia pasti kesakitan. Kok, bisa jatuh Mas Dony? Pasti Mba Nining kurang hati-hati,” jawab Sri dengan gaya yang dibuat-buat.
“Nining sudah hati-hati, tapi ada minyak yang tumpah di dekat westafel. Aku nemuin cincin itu ada di samping genangan minyak itu. Kenapa cincin itu ada di dekat minyak yang menjatuhkan Nining?Apa yang kamu lakukan di dekat minyak itu?” desak Dony setenang mungkin.
Sri terbelalak. Aduh, Dony sangat yakin kalau Sri ada hubungannya dengan jatuhnya Nining. Gawat ini. Apa yang harus dikatakan Sri agar Dony tidak lagi mencurigai dirinya?
“Iya, tadikan saya yang bantu Mba Sri buat ambilin piring. Pasti cincin itu jatuh pas saya naruh piring. Cincin itu agak kebesaran, makanya sering jatuh. Iyakan, Mas?” Sri melirik Lucky.
“Iya. Cincin itu kebesaran, tapi dia suka banget sama cincin itu, makanya tetap dia beli. Sudah dibujuk buat beli yang lain tapi dia gak mau. Ya, gitu. Sering ilang, deh, cincinnya.” Lucky tidak berpikir macam-macam.
“Oh, gitu. Aku kira cincin itu terbang sendiri,” ucap Dony penuh penekanan. “Kalau begitu aku pamit dulu. Mau pijat istri tersayang biar cepat sembuh.” Dony kembali pulang.
‘Dasar, tukang pamer. Apa, sih, bagusnya Nining sampai dia gak nglirik saya sama sekali? Bagusan juga saya, seksi dan modern,’ batin Sri dalam hati. Narsis sekali padahal dia jauh di bawah standart.
“Sayang. Saya mau belanja. Ayo kita belanja cincin berlian lagi? Bosen dengan cincin ini,” rajuk Sri dengan manja.
Tak lama mereka pun sampai di toko berlian. Banyak sekali perhiasan yang dipajang di sana. Ada gelang, kalung,cincin, anting dan gelang kaki. Bahkan ada juga jam tangan berlapis emas dan berlian. Hanya orang kaya yang berani datang ke sini karena harganya sangat mahal.
Sebuah cincin berlian terpajang di salah satu etalase. Sri sangat tertarik pada cincin itu dan langsung menarik suaminya ke sana.
“Mas, cincin ini bagus banget. Saya mau ini,” tunjuk Sri pada cincin berlian sepuluh karat.
“Mas lihat yang ini. Kita coba dulu, ya? Jangan sampai kebesaran lagi. Pilih yang pas aja biar gak hilang-hilang terus.”
Cincin itu pun diambil dan langsung dicoba oleh Sri.
“Wah, bagus banget. Pasti pas di jari saya.” Sri langsung memasukkannya di jarinya. “Yah, kok, kebesaran lagi?”
__ADS_1
Cincin itu masih kebesaran. Sri kecewa karena hanya itu barang yang dia suka.
“Sayang,masih banyak model yang lain. Kita coba yang lain, ya? Mas coba tunjukkin yang lainnya,” pinta Lucky sopan.
Pelayan pun mengambil cincin yang lain, tak kalah bagus dengan yang disukai oleh Sri.
“Lihat, ini ada yang bagus lagi. Coba, deh. Kayaknya ini pas di jari kamu.” Lucky mengambil cincin dua puluh karat dengan bentuk yang bagus.
Sri menggeleng. Dia tak suka sama sekali. Lucky pun mengambil model yang lain. Semua model dicoba tapi tak ada yang disukai oleh Sri. Lucky menghela napas lemas. Sudah dicoba semua, tapi masih tidak ada yang suka.
“Kita cari di tempat lain aja.” Mereka pun pergi ke toko yang lain.
Sepanjang hari Sri dan Lucky mencari cincin berlian yang disukai oleh Sri, tapi tidak ada lagi yang dia suka selain cincin yang kebesaran itu. Lucky sudah kehabisan ide.
“Sayang, jangan sedih terus, dong? Mas gak mau kamu sedih kayak gini. Kita makan dulu, ya? sejak tadi kamu belum makan, lho?” bujuk Lucky.
Sri menggeleng lemah. Sebelum apa yang dia inginkan terwujud, dia tak akan makan apapun. Dia akan terus bersedih sampai apa yang dia mau dapat dia dapatkan.
“Ya, udah. Kita balik lagi ke toko perhiasan yang pertama. Kita minta dikecilin, ya, biar bisa dipakai sama kamu?”
“Yang bener, Mas? Mas gak bohongkan?” Seketika itu Sri bersorak kegirangan. Inilah jurus jitu yang sering dia lakukan agar keinginannya terwujud.
Mereka kembali ke toko tersebut dan melihat cincin itu masih ada di sana.
“Mas. Cincin ini apa bisa dikecilin? Masih sedikit kebesaran,” ucap Lucky.
“Pakai selotip aja, Mas. Jadi digulung di sampingnya, jadi lebih pas. Biasanya pada ngakalinnya kayak gitu,” saran pelayan perempuan.
“Diakalin selotip? Maksudnya gimana?” Lucky bingung.
__ADS_1
“Jadi cincinnya dililit selotip gitu, biar agar seret saat dipakai.”
“Gak mau. Cincin yang bagus jadi jelek. Saya gak mau. Pokoknya saya mau model itu dan cincin itu tanpa diapa-apakan. Titik!” Sri tidak mau menerima saran pelayan.