Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
25


__ADS_3

Dony sangat marah dan ingin menemui Sri di rumahnya. Nining berusaha mencegah dengan mengejar, tapi langkahnya jauh lebih pendek dari langkah Dony. Dony pun sudah sampai di depan rumah Sri.


“Mas. Kita pulang aja, yuk?” ajak Nining takut. Dia tak mahu terjadi pertengkaran di antara mereka.


“Enggak bisa, Sayang. Mas harus bertindak.” Dony mengetukpintu Sri yang masih tertutup. “Mba, buka pintunya.” Dony sudah marah dan tak bisa lagi bersabar.


“Mas, gak usah. Ayo kita pulang. Lagian Mba Srinya juga gak ada. Dia lagi pergi,” bujuk Nining agar Dony tidak bertemu dengan Sri. Nining sangat takut mereka bertengkar.


“Mba tolong buka pintunya. Mba Sri,” teriak Dony agar Sri membuka pintunya.


Di dalam Sri mendengar teriakan Dony. Dia malah bahagia mendengar lelaki pujaannya itu memanggil namanya. Dia yang baru selesai mandi, segera merias diri lalu berlari ke arah pintu.


“Mas Dony. Mas Dony udah pulang?” jawab Sri dengan manja. Gayanya dibuat menggoda padahal ada Nining—istrinya.


“Mba. Maaf, bisa gak jemurannya diambil terus jangan jemur lagi di rumahku. Istriku mau jemur baju gak bisa,” labrak Dony tanpa ampun. Terlebih saat dia ingat ketika Sri bohong tentang baju itu. Rasa marahnya semakin bertambah.


Sri yang manja seketika cemberut. Bukannya dibuat senang, dia malah dimarahi.


“Diambil sekarang, ya, Mba? Istriku mau jemur baju,” tegas Dony sekali lagi. Melihat Sri yang nampak tidak senang seperti itu, Dony tidak peduli. Yang dia pedulikan adalah kenyamanan istrinya. Mas bodoh kalaupunsr marah dan tidak suka dengan sikapnya.


“Iya. Saya ambil sekarang.” Walaupun tidak suka, Sri tetap mengambil jemurannya.


Dengan kasar Sri mulai mengambil baju yang masih belum kering. Wajahnya terus ditekuk, tidak rela kalau dia disuruh oleh Dony yang sangat dia cintai. Hanya butuh sepuluh menit, semua jemuran bajunya sudah ada di tangan.


“Udah semua.” Sri pun pulang tanpa ikhlas.


“Mas. Harusnya Mas jangan sekasar itu sama Mba Sri. Kalau nanti Mba Sri marah gimana?” Nining mengkhawatirkan hubungan di antara mereka.


“Sayangku. Mas tahu banget siapa itu Sri. Dia itu gak akan marah sama Mas. Dia orang baik. suaminya juga pasti gak akan marah, dia itu temannya Mas.”

__ADS_1


“Tapi, Mas—“ Nining masih takut.


“Udah, jangan mikirin Sri, ya? Sekarang kita jemur bajunya. Eh, bukan. Biar Mas aja jemur. Kamu nunggu di sana aja. Duh, kasihan banget istri Mas ini. kepanasan. Sini Mas payungin sama tangan Mas.” Dony memayungi Nining dengan tangannya seolah ada air hujan yang membasahi tubuh Nining.


Nining tertawa melihat tingkah suaminya itu. Setelah mereka bertengkar, sikap Dony semakin romantis. Nining sangat menyukainya.


Nining duduk di teras sambil melihat suaminya yang tengah menjemur baju. Dengan susah payah Dony mengambil baju basah. Dia peras dengan kaku serta kuat.


Nining tertawa keras, sungguh menggemaskan Dony sampai menengok karena tawa Nining yang keras.


“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?” tanya Dony masih memeras baju.


Nining menggeleng. Dia takut mengatakan kakunya perasan tangan suaminya. Mereka pun bercanda sambil terus menjemur baju. Nining ikut serta membantu Dony walaupun telah dilarang.


“Kenapa malah ke sini? Udah, sana aja. Di sini panas, biar Mas aja yang jemur. Kamu nunggu sambil duduk manis di teras.”


Asyik menjemur baju berdua, tak pernah Dony melepaskan kesempatan untuk bercanda dan bermesraan. Memeluk dari belakang, tapi tetap melakukan pekerjaannya. Sangat romantis dan selalu membuat mereka tertawa bahagia tanpa ada niat macam-macam.


Di balik keromantisan mereka, ada seseorang yang tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Sri. Dia marah dan cemburu melihat mereka yang sudah mesra lagi.


“Sialan. Ngapain, sih, pakai mesra-mesraan di depan umum? Mau pamer?” Sri ngomel-ngomel sendiri.


“Awas, ya, kalian. Gak akan saya biarin kalian hidup bahagia. Pokoknya Dony itu milik saya. Gak boleh ada yang miliki dia selain saya. Lihat aja nanti. Saya pasti bisa rebut Dony dari kamu Nining.” Sri tetap bertekad merebut Dony apapun caranya.


***


“Tutup mata dulu, ya?” Dony menutup mata Nining saat mereka akan makan malam.


“Tutup mata? Emangnya mau apa, Mas?” tanya Nining heran.

__ADS_1


“Ada, deh. Pokoknya ini kejutan.” Dony mengikat mata Nining dengan sehelai dasi lalu membimbingnya keluar rumah.


Di halaman rumah mereka sendiri, Dony sudah menyiapkan dua kursi dan satu meja ukuran sedang. Dua makanan sederhana yang dimasak sendiri oleh Dony, minuman kesukaan Nining yaitu susu coklat hangat dan minuman kesukaan Dony, jeruk peras hangat. Iya, Dony sengaja memilih yang hangat karena cuaca sedang dingin. Sangat pas jika menikmati yang hangat. Tak lupa beberapa lilin yang dibentuk hati, kelopak bunga yang menghiasi bagian dalam lingkaran bentuk hati tersebut.


Tempat yang sederhana dan hemat biaya, disulap sangat indah dan menawan. Siapa pun yang melihat pasti akan suka karena mudah ditiru dan tidak menguras isi dompet. Mempengaruhi hubungan sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara, pasangan akan semakin jatuh cinta jika meniru apa yang dilakukan oleh Dony.


“Udah sampe. Siap, ya? Mas mau buka matanya.” Dony membuka mata Nining dengan pelan.


“Wah, bagus banget, Mas. Ini yang nyiapin Mas sendiri?” Nining menatap Dony penuh cinta.


Pemandangan di depannya tidak berbeda dengan candle light dinner yang biasa disiapkan restoran mewah. Dengan pepohonan rindang di samping kursi, memayungi mereka berdua, sangat teduh dan nyaman. Lilin itu sudah ditutup dengan gelas ukuran tinggi dan besar yang dibalik sehingga tidak akan padam tertiup angin. Juga akan jika terkena kulit karena yang tersentuh bagian kaca gelas yang menutupinya. Dony sangat memperhatikan keselamatan.


“SIlahkan duduk.” Dony menarik kursi untuk Nining dan Nining pun duduk dengan anggun—menirukan adegan artis di televisi yang sedang berakting dalam sebuah sinetron.


Dony tersenyum melihat kelucuan Nining. Ternyata Nining yang sudah berdandan, semakin cantik jika di luar ruangan dengan penerangan lilin. Mereka pun mulai menikmati makan malam romantis mereka.


“Kok, Mas bisa siapin semua ini, sih?” tanya Nining di sela makan malam mereka.


“Bukan hanya ini yang Mas siapin untuk kamu sebagai tebusan kelakuan Mas yang menyebalkan kemarin. Mas minta cuti sama kantor seminggu. Jadi ... kita akan bulan madu di Bali. Kamu suka gak?” Dony menyodorkan dua tiket untuk mereka berdua.


“Mas serius?” Nining sekali lagi tidak percaya. Ini seperti mimpi yang sangat indah. Kalaupun ini mimpi, Nining tidak mau bangun.


“Serius, dong. Habis ini … kita siap-siap, ya?” ucap Dony tak bisa menyembunyikan lagi rencana berduaan dengan Nining.


“Bulan madu?”


“Iya. Kamu senangkan?”


“Ini mimpi atau kenyataan, Mas?”

__ADS_1


__ADS_2