Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
43


__ADS_3

“Bukan sama pacar, tapi istri. Istri tersayang yang selalu aku rindukan,” jawab Dony dengan senyum gembira.


“Oh, kirain belum nikah. Kelihatannya masih muda,” jawab tukang parkir selanjutnya.


“Kenapa emangnya masih muda tapi udah nikah? Kalau udah yakin sama pacar, nikahin aja. Buat apa lama-lama pacaran, rugi. Rugi waktu, rugi uang. Mending langsung nikah, enak,” sambung Dony lagi.


“Kata siapa nikah itu enak? Tetangga saya udah nikah ribut terus. Padahal waktu masih pacaran, wih, lengketnya minta ampun. Sekarang tiaphari ribut mulu. Saya sampe harus tutup kuping supaya gak terganggu,” timpalnya lagi.


Dua orang yang belum kenal itu menjadi akrab menceritakan aib orang. Entah mereka kenal atau tidak, rasanya menjadi akrab kalau sudah membicarakan keburukan orang lain. Begitulan manusia. Gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan terlihat. Maha benar diri sendiri jika sudah menjadi hakim orang lain.


“Ya, mungkin karena ekonominya kurang atau perhatiannya sudah berubah. Makanya mereka ribut. Kalau ekonomi terpenuhi, komunikasi terjaga, gak akan seperti itu. Aku misalnya. Hidupku rukun-rukun aja walaupun pacaran cuma sebentar.” Dony mulai membanggakan diri.


“Gitu, ya, Mas. Jadi harus siapin uang dulu, ya?” Tukang parkir mulai berpikir.


“Iya. Kerja apapun asal halal dan rajin, In sya Allah rezeki berkah akan membuat hidup tenang. Sama satu lagi yang paling utama. Cari wanita yang gak gengsian. Kalau kamunya rajin tapi wanitanya gengsian, ya, gak bisa. Kamu akan ribut karena masalah gengsi itu.


Tukang parkir yang lebih dewasa itu mangguk-mangguk. Dia memang sudah punya pacar, tapi pacarnya selalu bilang malu punya pacar tukang parkir. Dia mulai berpikir untuk mencari yang lain. Percuma juga kalau dilanjutkan, hanya membuat luka.


Dony mulai memakai helm lalu meninggalkan parkiran. Bahkan karena sedang melamun, tukang parkir itu tidak sadar saat menerima uang dari Dony.


Dony melajukan motornya dengan santai. Jalan menuju rumah orang tuanya jauh lebih lengang membuatnya tidak buru-buru. Tak terasa sudah sampai di depan rumah ibunya.


“Assalamualiakum, Ibu. Ada di rumah?” salam Dony setelah mengetuk pintu.


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu. Nampak dia sangat kaget dan khawatir. Dia memindai tubuh anaknya dengan gelisah dan sedih.

__ADS_1


“Dony kenapa kamu ke sini? Apa kamu sedang ada masalah lagi dengan Nining?” tanya ibunya cemas.


“Iya, Bu. Nining menyuruhku pulang ke sini,” jawab Dony dengan wajah dibuat sedih.


“Kenapa? Kamu ada masalah apalagi dengan dia? Ibu tidak mau kalau sampai hubungan rumah tangga kamu ada masalah, Dony. Cepat selesaikan masalah kamu dengan Nining, ayo cepat.” Ibunya menyuruh Dony pun pulang lagi.


“Enggak, Ibu. Dony cuma bercanda. Di jalan macet banget. Jadi Nining nyuruh aku buat pulang ke rumah ibu. Kalau aku tetap pulang, bisa-bisa aku menginap di jalan. Makanya itu aku disuruh untuk pulang ke sini,” jawab Dony dengan seulas senyum. Menyesal rasanya bercanda pada ibunya yang sangat mengkhawatirkan rumah tangganya.


“Maksudnya?” Ibunya belum mengerti.


“Jadi gini, Bu. Aku baru saja mengantar Lucky berangkat. Pas jalan pulang, ada kecelakaan, bus terbalik. Jadi macet itu jalan. Aku gak bisa pulang. Nining gak mau aku sampai kepanasan dan kecapekan karena macetnya panjang banget sampe sepuluh kilometer. Makanya sekarang aku ada di sini.”


“Ya Tuhan. Kamu bikin ibu jantungan aja. Kirain kalian berantem lagi. Ya udah, masuk-masuk. Kamu mau makan? Minum atau istirahat?” tanya Ibunya menyuruh Dony untuk masuk.


“Makan boleh, Bu. Daritadi laper juga muter-muter.”


***


Malam pun tiba. Dony menelpon istri tercintanya.


“Sayang. Kamu lagi apa? Kangen gak gak ada Mas di situ?” tanya Dony manja seolah mereka sudah lama tidak bertemu.


“Hmmm, biasa aja, sih,” tawa Nining meledek suaminya yang terlihat sangat rindu padanya.


“Kamu gitu, ya? Apa gak sayang sama Mas?” Dony mulai kesal. Dia padahal ingin bermesraan di sangistri secara langsung.

__ADS_1


“Sayang gak, ya?” Nining kembali meledek. Senang melihat Dony seperti anak kecil.


“Ah, kamu. Bikin mas sebel aja.” Dony merajut. Dia membelakangi ponselnya.


“Yah, marah. Iya, maaf, Mas Sayangku. Aku di sini kesepian. Gak ada siapa pun di sini. Semua pekerjaan udah selesai jadi makin terasa bosennya, deh.”


“Kamu ngerjain semua pekerjaan sendirian? Ya Tuhan kasihan sekali. Kamu pasti capek. Mas pulang sekarang aja, ya? Biar Mas bisa pijatin kamu,” niat Dony bangkit dan bangun dari tidurnya.


“Gak usah. Lagian kalau pulang sekarang sampai sininya jam berapa? Lagi macet. Ini masih ada beritanya di tivi. Mas gak usah khawatirin aku, aku baik-baik aja di sini.”


Dony tidak bisa tenang. Di sana istri tercintanya sendirian di rumah, dia khawatir ada sesuatu dan tidak ada yang membantu jika Nining butuh sesuatu. Rasanya dia ingin segera pulang. Andai saja tidak ada macet, Dony passti sudah pulang jam berapapun itu.


“Mas gak bisa tenang. Mas pulang sekarang aja, ya?” Dony memaksa.


“Gak usah. Aku di sini baik-baik aja. Mas yang tenang aja di sana. Lagian paling besok pagi juga udah gak macet lagi,” cegah Nining yang tak mau Dony kenapa-kenapa.


“Kalau gitu, kamu harus nyuruh seseorang buat temenin kamu di rumah. Suruh teman kamu yang perempuan atau ibu untuk tidur di sana, ya? Mas gak tenang kalau ninggalin kamu sendirian di rumah.” Mana mungkin Dony tenang, yang ada selalu kepikiran Nining terus.


“Gak usah, Mas. Lagian rumah ibu jauh. Gak mungkin ibu ke sini buat nemenin aku. Aku di sini gak pa-pa, kok. Semua pintu udah dikunci, jendela juga.” Nining yakin dia akan baik-baik saja walaupun di rumah sendirian. Semua jendela dan pintu tertutup rapat dan tidak akan ada yang berani mendekat. Ada satpam keliling juga yang selalu siap setiap saat.


“Yakin? Tapi Mas gak tenang. Mas pulang aja sekarang, ya?” Tetap saja Dony ingin pulang.


“Gak usah, Mas. Lagian ada satpam keliling sekarang. Mereka mulai tugas malam ini jadi rumah pasti aman.” Susah sekali meyakinkan Dony kalau mereka sedang tidak bersama. Berbagai jurus serta alasan diberikan, tapi Dony masih cemas.


“Apa kamu gak bohong?” Dony masih ragu.

__ADS_1


“Bener, Mas. Mau aku panggilin satpamnya? Atau aku fotoin, ya?” Nining pun membuka jendela lalu memotret beberapa satpam yang bekerja ronda malam ini. Mereka keliling setiap setengah jam dengan jadwal tertentu. Semua itu akibat perampokan beberapa hari kemarin yang membuat kepala desa memberikan aturan baru agar warganya aman.


“Yakin itu mereka gak ada niat macam-macam? Jangan-jangan mereka yang nanti membuat ulah?” Dony masih saja ragu.


__ADS_2