
Dony gelegapan lalu menghela napas. Sudahlah, tidak usah berbohong, dia tidak pandai bohong, berbohong hanya membuat hidupnya tidak tenang.
“Sebenarnya Mas lagi nunggu tukang sayur,” jawab Dony, menundukan kepala dengan lemas dan merasa bersalah.
“Tumben. Emang mau beli apa? Biar aku aja yang beli,” saut Nining lagi.
“Mau beli buah naga. Tadi lihat buah naga di kulkas enak banget, jadi gak kerasa semua buah naganya mas habisin. Maaf, ya, Sayang. Mas pasti akan ganti, kok,” balasnya lagi dengan rasa menyesal dan bersalah serta takut.
Bukannya marah, Nining malah tertawa. Lucu sekali suaminya. “Gak usah diganti. Itu buah naga emang dari kemarin gak habis-habis. Emang rencananya mau beli lagi yang baru. Biasanya ada anak kecil-kecil main di depan rumah tapi dari kemarin gak ada. Jadinya buah naganya masih banyak. Aku sengaja beliin buat mereka, tapi dari kemarin mereka gak pada main, gak tahu ke mana,” cerita Nining panjang lebar.
“Jadi kamu gak beliin buat Mas?” Dony kaget dan malah merajuk.
“Kan Mas gak suka buah naga. Mas sukanyakan apel, anggur. Jadi aku beliin apel sama anggur di taruh di ruang makankan? Emang Mas gak pernah makanbuah apel sama anggurnya?”
“Oh, iya, ya. mas lupa.” Dony menggaruk kepala karena malu. Dia sudah salah sangka pada istrinya sendiri.
Dari balik tembok, seperti biasa Sri mengintip. Dia semakin kesal melihat mereka yang bercanda bahagia. Dia tidak sabar melancarkan aksinya lagi yang sudah dia susun sangat matang.
“Awas kalian. Pasti kalian akan berpisah untuk selama-lamanya. Lihat aja nanti. Jangan panggil aku Sri kalau aku gagal,” tekad Sri dalam hati tanpa mengeluarkan suara. Dia pun segera masuk untuk mematangkan aksinya.
***
Dony tidak lagi dipenuhi rasa bersalah. Nining sudah membeli buah naga dan Dony hidupnya tenang lagi.
__ADS_1
“Kata Ada, ada burung cantik di sekitar rumah. Aku mau coba videoin, ah.” Dony mengambil ponselnya lalu mulai merekam keadaan sekitar rumah.
Di tempatnya tinggal masih asri dengan banyak pepohonan tertanam di depan rumah. Itu adalah tempat kesukaan burung-burung istirahat bahkan membuat rumah.
“Mana, ya, burungnya? Kata Adam banyak di pepohonan,” celoteh Dony seorang diri sambil mengarahkan kamera ponselnya ke pohon-pohon yang rindang. Dia sangat serius dengan kegiatan barunya.
“Tolong-tolong,” jerit seseorang sangat keras.
Dony yang sejak tadi fokus, dibuyarkan oleh teriakan itu. Dia tahu dari mana asal suara itu, dia pun langsung berlari untuk menolong.
“Mba Sri kenapa? Mba Sri,” saut Dony sambil masuk tanpa pamit. Dia cemas Sri kenapa-kenapa sehingga tidak sempat mengetuk pintu.
“Aduh, kaki saya terpeleset, sakit banget.” Sri sedang duduk di lantai sambil memijat pergelangan kaki. Dia yang biasanya memakai baju panjang, kali ini memakai pakaian yang sangat seksi. Lingeri transparan sepanjang lutut dengan warna merah mencolok. Pakaian dalamnya pun terlihat jelas kalau dia sedang berdiri.
“Coba dibuat jalan,” pinta Dony yang telah melakukan upaya pijat yang benar. Dia ingin melihat hasil dari pijatan yang biasanya tidak pernah gagal.
Sri pun mulai bangun, tapi tiba-tiba dia meraaskan sakit dan terjatuh menimpa tubuh Dony.
“Aduh, sakit, Mas. Kaki saya sakit. Hati saya juga sakit, apa Mas bisa pijat hati juga.” Nining mendekatkan tubuhnya pada Dony lalu mulai merayu Dony. Tubuhnya yang paling sensitif terus didekatkan pada tubuh Dony, dia harap itu akan membuat Dony masuk perangkapnya.
“Maaf, Mba. Sepertinya pijatanku gagal, lebih baik panggil tukang pijat lain aja. Permisi akan aku panggilkan,” tolak Dony ingin segera bangun. Dia risih sekali dengan Sri yang terus memepetnya sebegitu dekat. Bukannya tergoda, Dony malah jijik.
“Kenapa? Apa saya kurang seksi? Atau kurang terbuka?” Sri menggigit bibir bawahnya semakin manja. Dia pun mengelus tangan Dony dengan lembut.
__ADS_1
Dony berusaha menjauh, dia tidak sedikit pun tergiur oleh Sri yang jauh di bawah Nining. Nining lebih sempurna dari Sri yang suka mengobral badan. Nining selalu memakai baju panjang, kecuali jika bersamanya. Nining akan berubah sesuai permintaan Dony dan Dony sangat menyukai hal itu.
“Maaf, Mba. Aku mau pulang. Aku gak enak sama Nining dan Lucky. Dia pasti akan sedih dan sakit banget lihat kita seperti ini. Lepaskan Mba, tolong,” pinta Dony berusaha melepas tangan Sri yang terus mencegah Dony untuk bangun. Dia ingin dipuaskan oleh Dony yang selama ini dia idam-idamkan.
“Kenapa, sih, kamu selalu menolak saya? Apa kurangnya saya, hah? Saya ini cantik, seksi dan menggoda. Apa yang kurang dari saya sampai kamu lebih memilih Nining dari saya?” Sri tak lagi bisa menahan diri, akhirnya dia ungkapkan semua unek-unek yang selama ini dia sembunyikan.
“Apa maksud kamu, Mba?” Dony tidak paham dengan ucapan Sri.
“Kamu bego apa oon, sih? Sejak dalu saya mencintai kamu dan saya yakin kamu juga tahu dengan hal itu. Tapi kenapa kamu gak milih saya? Kamu malah pilih Nining yang jelek itu. Apa lebihnya Nining dari saya? Saya cantik, muda, menawan dan seksi, tapi kamu gak melirik saya sama sekali. Saya sakit hati.”
Dony sangat kaget dengan pengakua Sri. Dia tidak menyangka kalau Sri akan nekad melakukan ini semua. Dia pikir semau itu hanyalah gosip semata dan ternyata benar adanya.
“Mba, kamu udah punya Lucky. Kenapa kamu seperti ini sama aku? Aku juga udah nikah. Kita sama-sama udah nikah, kita jalani aja hidup kita masing-masing. Anggap aja cinta Mba ke aku hanya cinta monyet anak SD yang harus dilupakan,” bujuk Dony agar Sri tidak mengamuk semakin parah.
“Cinta monyet kamu bilang? Kamu pikir semudah itu melupakan seseorang yang tinggalnya di samping rumah? Bertemu setiap hari tapi gak bisa memiliki. Kamu dan Nining selalu memanas-manasi saya, saya selalu marah dengan kalian. Apa kalian gak bisa jaga perasaan saya, hah? Mas Lucky jarang pulang, harusnya kalian jangan mesra-mesraan di depan saya. Kalian membuat saya terluka.” Sri mulai meracau tidak jelas.
“Maaf, Mba. Kami minta maaf dengan semua yang terjadi, kami janji gak akan lakukan itu lagi. Kami lupa kalau ada orang lain yang gak bisa seperti kami, aku minta maaf,” sesal Dony padahal dia bersalah.
“Gak! Kamu gak akan saya maafkan. Kecuali—“
“Kecuali apa?”
“Kecuali kamu lakukan juga apa yang kamu lakukan pada Nining, lakukan juga pada saya.”
__ADS_1
Dony terbelalak. Dia tak menyangka Sri akan dengan gamblangnya meminta hal menjijikan itu.