Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
33


__ADS_3

Sri sangat marah pada Lucky. Tidak peduli keadaan Lucky masih sakit dan lemah, dia tetap menyalahkan suaminya itu. Dia tidak mau namanya buruk di mata orang lain apalagi Dony.


“Iya, Sayang. Mas minta maaf. Seharusnya Mas gak nglakuin itu. Maafin Mas, ya, Sayang?” sesal Lucky. Dia merasa sangat bersalah. Dia pun mencoba bangun agar bisa menjelaskan semuanya pada Dony.


“Iya, sana pergi dan jelaskan semuanya pada Mas Dony. Awas, ya, kalau Mas Dony masih nganggep saya kejam sama Mas Lucky. Saya gak akan maafin, Mas Lucky!” ancam Sri lalu meninggalkan Lucky sendirian di kamar walaupun dia berusaha untuk bangun dan memperbaiki semuanya.


Tanpa diduga, Nining dan Dony sudah ada di depan pintu. Mereka ingin menjenguk Lucky yang sedang sakit.


Tok tok tok


Lagi-lagi pintu tidak dikunci. Namun, karena tidak ada orang, Nining tetap mengetuk pintu agar yang punya rumah keluar dan mengizinkannya masuk.


Sri yang tidak ada niat untuk mempersilahkan Dony dan Nining masuk, tidak sengaja berpapasan mata dengan mereka saat dia keluar dari kamar. Sri pun tidak dapat mengelak dan mendekat. Sri menyapa mereka berdua yang selalu tampil romantis.


Dalam hati sangat kesal, tapi dia tidak mungkin menunjukkan hal itu di depan Dony dan Nining. Apalagi sekarang ada Lucky yang sedang pulang.


“Mba Sri. Kami ke sini mau jenguk Mas Lucky.” Nining menyapa lebih dulu.


“Iya. Aku juga mau minta maaf soal yang tadi. Aku akui aku terlalu ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian. Aku terlalu cepat berpikiran buruk pada kamu,” sesal Dony.


“Oh. Itu yang seharusnya terjadi. Mas Lucky lagi istirahat di kamar. Dia gak bisa diganggu. Lain kali aja kalau mau jenguk,” jawab Sri ketus. Muak sekali melihat mereka berdua bermesraan di rumahnya.


“Aku gak lagi istirahat, kok,” ujar seseorang dari belakang. Mereka pun menoleh dan terlihat Lucky berjalan tertatih keluar dari kamar.


‘Ih, ngapain, sih, pakai keluar? Dasar gak ada guna. Pasti nanti saya lagi yang dimarahi. Saya harus berbuat sesuatu,’ gumam Sri dalam hati. Sri pun langsung berlari untuk memapah suaminya menuju ruang tamu untuk duduk. Semakin baik pada Lucky di depan mereka berdua, mereka tidak akan curiga kalau selama ini dirinya tidak sebaik yang mereka kira.

__ADS_1


“Sayang. Kok, malah keluar? Harusnya Mas istirahat. Dokterkan tadi bilang untuk istirahat yang banyak,” kata Sri lembut dan perhatian. Tentu bukan dari hati, semua hanya sandiwara.


“Aku gak pa-pa, Sayang. Di laut aku sering kayakgini tapi gak pa-pa, kok.” Lucky mencoba menyembunyikan kenyataannya.


“Lucky. Apa kamu sudah membaik? Wajah kamu masih terlihat pucat? Apa kamu sudah makan dan minum obat?” Dony tidak bisa dibohongi.


Lucky menggeleng pelan sambil menoleh takut pada Sri. Dia ingin mengatakan apa yang diniatkan Dony, tapi dia tidak berani, takut Sri akan semakin marah padanya.


“Mba Sri mungkin lebih mementingkan Mas Lucky buat istirahat dulu, baru setelah istirahat, Mba Sri siapkan makan terus minum obat. Benarkan Mba Sri?” bela Nining.


Dibela Nining, Sri sama sekali tidak suka. Dia malah benci dan semakin tidak suka padanya.


‘Sok banget belain saya! Padahal dalam hati, dia pasti seneng kalau nama saya buruk di mata Mas Dony. Dasar licik,’ geram Sri dalam hati, tapi pura-pura tersenyum. Seolah dia berterima kasih karena pembelaan Nining, padahal dalam hati sangat bertolak belakang.


Sekali lagi Lucky mengangguk pelan dan takut. Dia selalu melirik Sri setiap kali menjawab pertanyaan Dony. Dia takut, benar-benar takut pada Sri yang sangat dia cintai. Walaupun selama ini sikap Sri tidak pernah menghargainya, dia masih belum rela kalau Sri meninggalkannya.


“Kebetulan aku bawa makanan. Kamu makan, ya? Biar aku yang suapin. Aku rindu sama masa kecil kita dulu. Dulu kita sering main bersama. Kamu jadi kakak dan aku jadi adiknya. Selalu kamu suapin aku, sekarang gantian kamu yang jadi adik, biar aku yang suapin kamu.” Kenangan masa kecil mereka berdua masih terbayang jelas diingatakan. Tidak pernah sedikit pun terlupa.


“Gak usah. Sayakan istrinya, saya yang seharusnya suapin Mas Lucky.” Sri memotong. Dia tak mau nama baiknya semakin buruk, dia pun cari muka dan langsung ke dapur untuk mengambil makanan. Sebelumnya dia melihat banyak makanan di ruang makan dan dia yakin sekali kalau itu yang masak Lucky.


“Ini makanannya. Mas makan dulu, ya. Biar saya yang suapin. Kalau istri yang suapin dengan penuh cinta, nanti cepat sembuh,” ucap Sri dibuat-buat. Padahal dia jijik sekali harus menyuapi laki-laki yang sama sekali tidak dia cintai. Yang dia inginkan adalah menyuapai dan disuapi Dony.


“So sweet. Aku iri sama kalian, romantis banget,” puji Nining sambil tersenyum.


“Kamu juga mau disuapi, aku sini Mas suapi. Aaa.” Dony mengambil minuman yang sedari tadi mereka bawa.

__ADS_1


Iya, sejak tadi tidak ada makanan ataupun minuman yang disuguhkan. Untungnya Dony dan Nining sempat membeli minuman dua botol dan minuman itulah yang disuapkan untuk Nining. Tentunya yang disuapkan minuman bekas Dony minum, sedangkan minuman Nining masih utuh.


“Minuman ini punya Mas Dony? Kan aku ada ,” protes Nining.


“Gak pa-pa. Biar bekas bibir Mas nempel di bibir kamu. Kan jadi makin romantis.” Dony mulai menggombal. Nining bersemu merah karena malu.


Sri terbakar cemburu sampai dia tidak sadar menyuapi Lucky dengan makanan yang sangat banyak.


“Uhuk-uhuk.” Lucky tersedak gara-gara makanan itu terlalu banyak dan terlalu cepat dimasukkan ke mulutnya.


“Ya Tuhan, Mas kenapa batuk? Minum dulu.” Sri pura-pura perhatian agar menarik simpati Dony. Membuat Dony dan Nining tak lagi mesra-mesraan.


Suasana menjadi panas. Mereka berempat saling beradu romantis. Lucky yang hanya telat makan pun lebih cepat sembuh karena perhatian Sri—walaupun itu hanya pura-pura.


***


“Mas salah pahamkan? Makanya jangan suka buruk sangka sama orang,” tegur Nining saat mereka berdua berdua di kamar.


“Iya. Mas akui Mas salah. Ternyata Mba Sri gak sejahat yang Mas kira. Mas minta maaf.” Dony menatap mata Nining yang sejak Lucky sakit, selalu menyalahkan Sri. Nining mengingatkan agar tidak berburuk sangka, tapi Dony tidak percaya. Setelah kejadian tadi siang, barulah dia percaya.


“Sudah,ya. Jangan marah lagi sama Mas. Mas janji gak akan buruk sangka lagi sama siapapun,” bujuk Dony yang selalu dicuekin gara-gara buruk sangka.


“Jangan minta maaf sama aku. Minta maafnya sama Mba Sri.” Nining masih cuek dan tidak mau memaafkan Dony.


“Kan tadi udah minta maaf. Jadi udah selesai, dong, masalahnya? Udah,ya. Jangan marah lagi. Mas gak akan kuat marahan lama-lama sama kamu.”

__ADS_1


__ADS_2