Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
24


__ADS_3

“Kenapa? Cemberut gitu. Katanya mau nasi goreng. Ini nasi gorengnya. Masih mau gak?” ledek Dony sekali lagi membuat bibir Nining semakin berkerucut.


“Gak, ah. Habis Mas Dony jahat.” Nining merajuk. Dia tak mau makan nasi gorengnya lagi.


Melihat istrinya marah, Dony malah tersenyum. Dia mendekat lalu memelukerat istrinya dari belakang. Sudah lama dia merindukan hal ini. Selama di rumah orang tuanya tak pernah dia melupakan kenangan indah mereka berdua. Raga memang berjauhan, tapi hati saling merindukan.


“Maafin Mas, ya? Mas keterlaluan. Sekarang gak ada lagi syarat-syaratan. Sini Mas suapin. Aaa.” Dony melepas pelukannya lalu mengambil piring nasi goreng kepunyaannya. Walaupun dia belum makan, melihat istrinya makan dengan lahap, mendadak dia ikut kenyang melihatnya.


Nining diam saja, Dony yang menghampiri Nining. Dia melihat wajah Nining seseram kuburan. Namun, Dony terus saja tersenyum dan menggoda Nining. Dia memegang nasi berisi nasi goreng layaknya seorang ibu yang sedang menyuapi anak balitanya yang sedang merajuk.


“Pesawat datang. Ngeeeng … awas jangan dekat-dekat, nanti ketabrak. Eh, ada bandara, tuh. Tapi, ada yang aneh dengan bandara itu. Lihat, deh. Itu bandara dari bidadari yang turun dari langit. Cantik sekali. Tapi sayang gak mau dibuka pintu bandaranya. Pesawatku harus parkir di mana, nih?” oceh Dony seorang diri.


Diam-diam Nining tertawa mendengarnya. Ada-ada saja tingkah Dony. Dia tak bisa menyembunyikan tawa manisnya itu, hingga membuat Dony kembali menyambung ucapannya.


“Eh, bidadarinya senyum-senyum. Pasti seneng, tuh, soalnya pesawat yang membawa pangeran tampan akan segera mendarat. Tapi, mendaratnya kapan, ya? Pintu bandaranya belum mau terbuka. Ngeeeng, harus nunggu sampe kebuka dulu, nih, bandaranya. Bidadari … tolong, dong, buka pintu bandaranya. Pesawat gak bisa turun, nih,” sambungnya lagi membuat Nining semakin dibuat terpingkal. Meski begitu, dia berusaha menyembunyikan tawanya agar Dony tidak merasa menang.


“Yah, Bidadari masih ngambek. Dia ketawanya malu-malu. Ok, kita harus bikin dia ketawa lebih keras lagi kalau begitu. Pesawat … tugas kita sangat berat. Kamu harus kuat, ya? Karena Bidadari ngambeknya lama. Bisa sampai satu minggu.” Dony mengajak bicara sendok yang dia bayangkan sebagai pesawat terbang.


“Iya, Tuan. Apa kita harus buat nastar dulu? Bukankah nastar itu makanan kesukaan bidadari itu?” Kali ini Dony berbicara seolah-olah dia menjadi pesawatnya.

__ADS_1


“Bukan, Pesawat. Hanya nastar buatan Dony yang mampu meluluhkan hati sang Bidadari,” jawab Dony sebagai Dony sendiri.


“OK, kalau begitu kita harus menemui Dony dan menyuruhnya membuat nastar dulu. Jangan lupa buat yang enak dan banyak. Aku juga mau. He he he.” Kali ini sebagai pesawatnya.


Demi Nining, Dony rela menjadi dalang dadakan. Antara dirinya dan sendok pesawat kini ke dapur untuk mencari bahan membuat nastar. Dony benar-benar akan membuat nastar. Dia membuka kulkas dan semua bahan untuk membuat nastar ada. Dia pun dengan cekatan mengambil semua bahan-bahan itu dan dikeluarkan. Hampir ditakar, Nining datang.


“Sejak kapan bandara ada pintunya untuk mengizinkan pesawat masuk?” ujar Nining dengan gaja manja, menunjukkan dirinya sudah tak lagi marah.


Dony tersenyum lalu segera mengambil sendok berisi nasi goreng lalu menyuapkannya. Senang sekali membujuk istri tercintanya.


“Terima kasih,” ucap Dony penuh cinta.


“Terima kasih untuk apa?”


“Jangan bilang seperti itu, Mas. Harusnya aku yang minta maaf sama Mas. Aku kayak anak kecil. Aku banyak kekurangan,” tepis Nining ikut sedih dan menyesal membuat Dony emosional.


“Enggak. Mas yang harusnya minta maaf. Kamu gak salah. Mas yang salah. Harusnya kemarin Mas gak pergi dari rumah dan ninggalin kamu sendirian di sini. Kamu pasti kesusahan karena gak ada Mas,” sesal Dony. Dia benar-benar menyesal dengan semua yang dia lakukan kemarin.


“Enggak, Mas. Jangan bicara seperti itu. Mas gak salah. Aku aja yang gak teliti. Harusnya kau cek lagi baju yang akan Mas pake. Aku yang salah, Mas. Maafin aku.” Mereka saling meminta maaf dan tidak membiarkan pasangannya merasa bersalah dan sedih. Bagi mereka, menyadari kesalahan dan meminta maaf adalah cara paling efektif untuk memperbaiki hubungan di antara mereka yang sempat retak.

__ADS_1


“Ya udah. Lebih baik sekarang kita saling memaafkan. Mas janji. Mulai sekarang gak akan ambil kesimpulan sendiri. Apapun yang terjadi, Mas akan tanya sama kamu. Gak akan Mas sok tahu dengan dugaan Mas sendiri. Maafin Mas, ya, Sayang?” Dony meraih kepala Nining lalu mendekapnya erat. Hangat dan sangat bahagia merasakan kembali harmonisnya rumah tangga yang baru mereka bina satu tahun lamanya.


“Iya. Aku juga janji, akan selalu tanya sama Mas apapun yang membuat aku marah dan cemburu. Komunikasi itu penting dan itu yang harus selalu kita ingat.” Nining mendekap erat tubu suaminya. Melepas rindu yang belum juga habis meski sejak kemarin mereka menghabiskan waktu berdua saja.


Mereka melupakan semua masalah yang terjadi di masa lalu. Menjadikan masalah itu sebagai pelajaran agar tak terulang lagi dan memperat hubungan di antara mereka berdua.


***


Nining serta Dony sudah selesai makan dan Dony pun sudah tampan dengan pakaian rumahannya. Dia membawa keranjang baju basah yang akan mereka jemur di depan.


“Lho, Sayang. Kok, itu jemuran kita ada yang pakai?” Dony heran, jemuran besi miliknya sudah terisi pakaian basah padahal dia belum menjemur baju miliknya dan Nining.


“Iya, Mas. Kayaknya itu punya Mas Sri. Katanya jemurannya rusak dan belum sempet beli baru, makanya dari kemarin dia jemur baju di sini,” jawab Nining sembari menyapu halaman.


“Kok, begitu? Kan kita gak bisa jemur baju.” Dony marah, kesal dan kecewa pada tetangganya itu. Sikapnya tidak pantas untuk ditiru.


“Udahlah, Mas. Gak pa-pa. Bantu tetanggakan berpahala. Lagian kemarin aku udah bikin jemuran dari tali. Kita bisa jemur di tali aja.” Nining tak mempermasalahkan hal itu. Sudah cukup kejadian kemarin membuatnya malu dan dia tak mau itu terulang lagi.


“Tapi ini gak bisa dibiarin, Sayang. Lama-lama dia nanti ngelunjak. Kalau tiap hari dia jemur di sini terus gimana? Kan kita sendiri yang repot. Sejak kapan dia jemur baju di sini?” Dony tidak mau membuat istrinya kesusahan.

__ADS_1


“Gak lama Mas pergi.” Nining masih sibuk menyapu sambil membersihkan jendela dengan kemoceng yang dia apit di antara ketiaknya.


“Gak bisa dibiarin. Mas harus ngomong sama Mba Sri. Dia gak bisa seenaknya sendiri jemur baju di sini apalagi itu udah lebih dari tiga hari. Kalau jemurannya rusak, dia beli beli lagi. Bukankah suaminya itu kaya.” Dony tidak terima dan dia bersiap untuk menemui Sri di rumahnya.


__ADS_2