
“Gak, dong, Sayang. Kemarin pasukan satpam itu malah yang gagalin rampok di tempat kita. Jadi Mas gak usah khawatir. Semuanya aman.” Nining meyakinkan suaminya.
“Ya, udah kalau begitu. Tapi Mas gak akan matiin telponnya sebelum Mas lihat kamu tidur,” pinta Dony yang sifatnya seperrti anak kecil.
“Iya. Nanti aku sampe tidur gak akan matiin telponnya. Oh, iya. Bukannya besok Mas berangkat kerja? Tidur dulu, dong. Nanti kesiangan gimana?”
Dony mencebik. Dia masih rindu ngobrol dengan Nining tapi Nining malah menyuruhnya tidur. Menyebalkan.
“Mas masih kangen, Sayang. Tidurnya nanti, ya?” Tidak biasanya Dony malas tidur. Biasanya kalau dia kerja pasti tidur sengaja sore agar tidak kesiangan bangun. Kali ini berjauhan dengan Nining rasanya ingin terus berbicara dengan Dony.
“Jangan, dong. Nanti dimarahi kalau berangkatnya kesiangan. Tidur dulu, ya?” bujuk Nining yang tak mau suaminya dalam masalah.
“Tapi Sayang—“ Dony menolak permintaan Nining.
“Tapi apa? Jangan egois. Tanggung jawab adalah yang utama.”
“Iya-iya. Mas tidur.” Dony pura-pura menutup mata. Namun, sesekali melirik Nining yang masih setia menatapnya sambil telungkup memandangi ponsel bergambar wajah suaminya yang tampan.
“Iya, aku masih di sini. Tenang aja. Aku gak akan matiin telponnya sebelum Mas tidur. Sekarang tidur dulu, ya?” Walaupun Dony tidak mengatakan belum tidur, Nining tahu gerak mata yang mengintip pelan.
Lama Nining tidak bicara—sengaja agar Dony bisa tidur—kini tidak ada gerak maupun suara. Nining memperhatikan dengan seksama. Meski berjauhan, dia bisa membedakan Dony sudah tidur apa belum.
__ADS_1
“Mas? Mas Dony? Mas Dony udah tidur?” bisik Nining memastikan suaminya sudah tidak apa belum dan ternyata dia sudah tidur, jauh lebih cepat dari yang dia kira. Seharian keliling membuat Dony capek, tapi dia juga rindu pada istrinya dan ternyata rasa kantuknya jauh lebih kuat dari rindunya pada Nining.
Nining hanya tersenyum. Itulah suaminya yang selalu membuat rindu. “Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah, ya,” bisik Nining lalu mematikan sambungan teleponnya.
***
Pagi sudah datang. Nining seperti biasa melakukan pekerjaan rumahnya. Subuh sudah siap dengan jemuran yang akan dijemur di depan rumah.
“Eh, Nining jelek udah keluar aja subuh-subuh gini. Pasti dibantu sama Mas Dony. Bodoh banget, sih, dia. Mau aja disuruh-suruh sama Nining,” cibir Sri sambil memperhatikan Nining yang baru mau membuka pintu. Padahal Sri sedang iseng duduk di teras, menunggu Dony yang biasanya keluar rumah di subuh hari.
Nining keluar sendirian. Dia hanya membawa jemuran basah. Seketika jiwa penasaran Sri meronta. Dia mendekat untuk memastikan tidak ada Dony Dony rumah itu. Dia mengintip semakin dekat dan semakin dekat hingga akhirnya dia tidak bisa mengendalikan diri untuk mendatangi Nining yang sedang menjemur baju.
“Mas Dony gak ada di rumah. Dia lagi nginep di rumah orang tuanya,” jawab Nining apa adanya. Dia pun kembali melanjutkan menjemur baju.
Sri kaget dan dia mulai berpikir mereka ada masalah lagi. Ini berita bagus, Sri segera bersikap manis untuk memberikan tambahan masalah.
“Kalian bertengkar lagi? Aduh, Jeng. Kalau laki suka uring-uringan dan dikit-dikit pulang ke rumah orang tuanya, tinggalin aja. Kayak anak kecil yang belum dewasa tahu gak? Males banget kalau laki saya kayakgitu. Bikin capek hati. Udah, deh, Jeng. Pisah, aja, pisah. Pasti masalahnya masalah sepelekan? Idih, ngeselin banget,” timpal Sri dengan gaya sok benar. Tentu tujuannya agar ruman tangga mereka hancur dan dia pun bisa memiliki Dony seutuhnya.
Nining tersenyum. Dia terus saja melanjutkan menjemur baju.
“Saya kasihan sama kamu, Jeng. Kamu itu cantik, muda, berbakat, pantes buat dapat suami yang baik, perhatian dan ganteng juga. Ngapain kamu masih bertahan sama Mas Dony yang sering marah dan pulang ke rumah orang tuanya, sih? Kalau saya jadi kamu … saya pasti akan gugat cerai dia. Ngapain dipertahanin rumah tangga yang bikin sakit hati,” tambah Sri agar Nining terpengaruh.
__ADS_1
Nining hanya tersenyum dan belum ingin menjawab ucapan Sri. Dia kembali menjemur baju yang basah, tanpa berniat membantah ucapan Sri.
“Kamu itu masih muda, pasti kalau jadi janda banyak yang antri buat jadi suami kamu. Gak usah khawatir gak dapat ganti karena saya yakin kamu masih laku walaupun second. Mau cari yang perjaka, duda kaya tanpa anak, duda tua harta berlimpah atau jadi istri kedua? Saya bisa bantu carikan suami kamu.”
“Sejak dulu Mas Dony emang kayakgitu. Suka ngambek, suka seenaknya sendiri. Kamu lihatkan waktu itu Sinta sampe datang dan bilang mandul? Itu semua gara-gara Mas Dony. Kamu jangan sampai terpedaya sama ucapan dia. Dia emang pinter banget buat ngrayu.” Nining terus dicekoki kisah busuk tentang suaminya. Walaupun Nining tidak menjawab, Sri terus melancarkan jurus maut memprovokatori.
Nining mulai ingat tentang Sinta. Dony tidak pernah mengaku punya pacar namanya Sinta, tapi kenapa Sri terus membicarakan wanita yang tidak jelas itu? Nining pun mulai ingat dengan kecurigaan Dony.
‘Kenapa sejak tadi Mba Sri terus jelek-jelekin Mas Dony, ya? Apa yang dikatakan Mas Dony itu benar? Kalau Mba Sri punya niat gak baik dengan rumah tangga kita?’ pikir Nining dalam hati. Dia tidak melirik dan terus melanjutkan menjemut, tapi pikirannya berkelana jauh.
“Tahu gak? Dulu waktu Mas Dony masih sekolah, dia suka bolos dan nyontek. Pernah dia dihukum hormat di tengah lapangan karena ketahuan jahilin anak kelas dua. Padahal dia udah kelas lima tapi masih aja jail. Heran saya dengan sikap Dony. Dan ternyata masih berlanjut sampai sekarang. Mas Dony emang gak pantes buat dijadiin suami idaman,” cerocos Sri walaupun Nining tidak menjawab. Sri asyik mengarang cerita agar Nining percaya.
“Udah, kamu tinggalin aja Mas Dony. Kasihan saya lihat kamu yang terus disakitin sama Mas Dony.” Ucapan Sri mulai tidak karuan. Nining hanya menggeleng lemah sambil tertawa.
“Kok, kamu malah ketawa? Emang ada yang lucu?” Sri cemberut tidak mendapat respon dari Nining.
Nining menghela napas lalu berdiri walaupun masih banyak jemuran yang belum selesai dijemur.
“Mas Dony lagi gak marah sama aku. Mba salah paham,” jawab Nining tidak kuat mendengar cerocosan Sri.
“Gak marah, kok, gak mau pulang. Udah, ngaku aja kalau kamu berantem lagi. Gak usah malu-malu. Saya pasti akan bantu kamu supaya bisa keluar dari masalah kalian. Kamu mau saya bantu apa? Mau saya marahin Dony dan mengatakan akan urus gugatan ke pengadilan? Atau mau saya kenalin sama pengacara yang handal dalam mengurus perceraian?” ucapan Sri sangat menohok, membuat Nining segera mengehentikan aktivitasnya.
__ADS_1