
“Yakin mau kabulin semuanya?” tantang Nining.
“Iya. Kamu mau apa, Sayang?” tanya Dony menegaskan.
“Aku mau cuci piring, cuci baju sama nyapu ngepel.”
Dony berkacak pinggang dengan tatapan tidak suka. Mana mungkin dia turuti keinginan Nining yang membahayakan itu. Sangat tidak masuk akal.
“Sayang. Mas kan udah bilang. Kamu jangan kerja. Kenapa kamu malah minta kerja?”
“Gak pa-pa kalau cuma sekedarnya aja. Lagian itu tidak membahayakan, kok. Justru kalau diam tidak melakukan apapun akan membuat bosan dan membuat persalinan sulit.” Seorang wanita tiba-tiba memberitahu dari luar.
Dia sengaja datang untuk menjenguk Nining, tapi saat dia mengetuk pintu dan mengucap salam, tidak ada jawaban apapun. Dia coba-coba membuka pintu, ternyata tidak dikunci. Mendengar ada suara ribut dari dalam, dia pun memberanikan diri masuk.
“Ibu. Kapan datang?” tanya Dony menyamani ibu tersayang lalu menuntunnya duduk di samping Nining.
“Ibu. Apa kabar? Maaf, ya, Bu. Kami jarang main ke rumah Ibu dan Bapak.” Nining menyapa dengan hangat.
“Kalian tanyanya banyak sekali, Ibu bingung mau jawab yang mana.” Ibu itu lalu tertawa disambut dengan tawa dari in dan juga Dony.
“Ibu mau makan apa? Biar aku siapin.” Nining siap bangun untuk memasak.
Dony langsung menatap Nining dengan pandangan tidak suka. Lalu dia pun segera menyuruh Nining untuk duduk lagi.
“Biar aku yang siapkan. Ibu mau apa?” Dony langsung mengambil alih pembicaraan.
“Aku bisa, Mas. Lagian udah lima bulan aku diam terus gak ngapa-ngapain … bosen. Boleh, ya, siapin makan buat ibu,” rengek Nining dengan wajah yang dibuat manis dan manja agar diperbolehkan.
“Enggak! Kamu temenin Ibu, biar Mas yang kerja. Pokoknya kamu harus jaga diri dan calon anak kita dengan baik. Masalah kerjaan atau yang capek-capek itu urusan Mas.” Semua keinginan itu ditolak mentah-mentah oleh Dony. Semua itu dia lakukan demi kebaikan Nining dan anak mereka.
Nining cemberut. Dia menjadi kesal dan melengos, tidak mau menatap Dony. Ibu mertunya tersenyum memperhatikan tingkah mereka berdua.
“Kalian ini seperti lagi main rumah-rumahan. Pakai ribut segala tentang pekerjaan rumah. Tapi Ibu suka lihat anak ibu sangat memperhatikan istrinya. Tapi—“ ucap Eni memberi nasihat tapi dengan ucapan terpotong.
“Tapi apa, Bu?” Dony penasaran.
“Jangan terlalu posesif. Biarkan istri kamu olahraga. Olahraga itu tidak harus joging, senam, erobik … nyapu, ngepel, cuci piring dan cuci baju juga bisa dijadikan olahraga. Izinkan kalau itu membuat istri kamu senang, kecuali dia sedang tidak sehat.” Eni memberi tahu.
“Tapi aku takut dia kecapekan, Bu. Kasihan nanti anak dan ibunya,” ucap Dony membela diri.
“Yang tadi ibu bilang, Jangan yang berat-berat. Kalau sekedar nyapu, ngepel yang sedikit … menurut ibu itu gak pa-pa. Asalkan hati ibu hamil bahagia.”
__ADS_1
Mendengar ucapan ibu mertuanya, Nining tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ada juga yang membelanya. Dia menaikturunkan alisnya untuk meledek sang suami. Dony menghela napas. Kemudian mulai membuka kelonggaran.
“Iya, deh. Mas bolehin kamu nyapu. Tapi ada syaratnya.” Dony tidak selonggar itu ternyata.
“Apa syaratnya?” Nining sedikit kesal.
“Kalau capek, jangan dipaksain. Bilang ke Mas, nanti Mas yang selesaikan. Ok?” putus Dony.
Nining langsung bangun dengan semangat lalu memberi tanda hormat lewat tangannya yang diletakkan di depan alis sambil berkata, “Siap, Bos.”
Nining pun ke dapur untuk membuat teh manis. Tak lupa dia membawakan beberapa camilan yang ada di kulkas. Tiga gelas minuman dan dua toples besar camilan dia bawa di atas nampah besar.
Jarangnya bergerak membuat perut dan badan Nining terasa kaku, hingga dia pun merasakan sebuah adaptasi yang tidak enak. Tubuhnya pegal dan sakit di bagian perut setiap kali dia bergerak. Namun, semua itu dia tahan sampai dia sampai di ruang tamu bersama suami dan ibu mertuanya.
Nining menyajikan minuman dan makanan di meja sambil menahan rasa sakit. Wajahnya terus berusaha menyembunyikan, tapi Dony tidak bisa dibohongi.
“Kamu duduk, biar Mas bantu.” Dony memaksa Nining duduk sambil menarik lembut tubuhnya untuk bersandar di sofa. Dia tahu kalau Nining sedang menahan rasa sakit. Setelah selesai menyajikan makanan dan minuman, Dony mendekati Nining dan mengelus pinggang serta perutnya.
“Sakit? Mana yang sakit?” tanya Dony halus. Ingin memarahi, tapi dia juga sadar kalau istrinya tidak biasa berdiam diri di rumah.
Nining terkejut mendengar pertanyaan Dony. Selain memijat bagian yang sakit, dia pun tahu kalau Nining sedang menyembunyikan kesakitannya.
“Siapa yang sakit? Aku gak sakit,” tepis Nining berusaha baik-baik saja.
Nining terdiam. Dia sangat beruntung punya suami yang sangat perhatian pada dirinya. Bahkan tanpa dia bilang, dia sudah tahu apa yang dia rasakan.
“Ini? Terus yang mana lagi?” Seakan tahu yang dirasakan istrinya, Dony sangat tepat memegang titik yang sakit. Nining merasa jauh lebih nyaman.
“Mungkin Nining keram karena jarang gerak. Sekalinya gerak, tubuhnya kaget. Tidak apa-apa. Kalau sudah terbiasa, nanti tidak akan sakit lagi,” jawab Eni sesuai pengalamannya sendiri.
“Tapi kasihan, Bu. Apa ibu gak kasihan kalau sampai terjadi apa-apa dengan menantu dan cucu ibu?” protes Dony tidak mau melihat istrinya sakit lagi.
“Kamu mau istri kamu adaptasi sekarang atau pas nanti melahirkan? Semua wanita hamil harus menghadapi proses persalinan dan dengan cara normal ataupun operasi … badan harus siap. Dengan banyak bergerak, bisa memperbesar kesempatan untuk lahir normal.” Eni melirik Nining yang merasa bahagia mendengar nasihat dari ibu mertua yang sangat baik itu.
“Tuh, dengerin Ibu. Aku mau lahiran normal, Mas. Biarin aku kerjain tugas rumah seperti biasa agar anak kita semakin sehat dan kuat.”
Mendapat keroyokan dari dua orang wanita yang sangat dia sayang, Dony tidak bisa mengelak lagi. Dia pun pasrah dan menuruti apa kata mereka berdua.
***
Malam sudah tiba. Nining sudah tidur sejak jam sembilan malam, tapi Dony masih mengerjakan pekerjaan yang sengaja dia kerjakan di rumah hingga pukul sebelas malam. Begitu Dony masuk, Nining malah tidak bisa tidur. Perutnya terasa lapar dan dia ingin makan.
__ADS_1
“Mas Dony baru selesai kerja. Aku gak tega kalau harus minta tolong dia untuk membelikan makanan. Lebih baik aku tidur aja, deh. Pasti gak akan lapar lagi kalau udah tidur,” ucap Nining lirih mendengar langkah kaki Dony yang berjalan menuju kamar.
Benar saja, tak lama kemudian Dony masuk dan duduk di samping tubuh Nining. Nining tidur miring menghadap kiri sesuai anjuran dokter, Dony menatap dari belakang. Senang melihat tubuh dan perut istrinya semakin besar. Itu artinya dia semakin sehat.
“Syukurlah semua pekerjaanku udah selesai. Sekarang waktunya tidur.” Dony pun bersiap tidur.
Kruk kruk
Ternyata perut Nining tidak bisa diajak kerja sama.Dia mengeluarkan bunyi yang cukup keras hingga Dony terduduk dan menempelkan teliganya ke perut Nining.
‘Aduh, jangan bunyi lagi, dong. Aku gak mau ngrepotin Mas Dony. Kasihan dia, dia pasti capek. Perut, tolong kerja samanya, ya?’ pinta Nining dalam hati. Dia menutup mata rapat-rapat berharap Dony tidak tahu kalau dirinya sedang lapar berat.
Kruk kruk
Sayang sekali perutnya tidak bisa diajak kerja sama. Kembali perutnya mengeluarkan bunyi yang cukup keras.
“Sayang, kamu lapar? Mau makan apa?” Dony pun tidak mengantuk dan siap kalau Nining memintanya beli makan saat itu juga.
Nining perlahan membalikkan badan. Terlihat perutnya yang buncit seperti kura-kura sedang tengkurap dan Dony selalu tersenyum melihat calon anaknya ada di dalam rahim Nining.
Sambil mengusap perut, Dony menempelkan telinganya di perut Nining. Dia mengajak ngobrol sang anak yang sudah mulai menendang perut Nining.
“Sayang, anaknya papa yang baik. Kamu lapar, ya? Mau makan apa, Sayang?” Dony mengajak ngobrol anaknya.
Tentu saja tidak ada balasan. Dia hanya mendengar bunyi perut Nining yang berdendang minta diisi.
“Sayang. Kamu mau apa? Mas siap membelikannya untuk kamu.”
Nining menunduk, tidak enak harus menggangu suaminya yang sudah capek kerja dari pagi. Seolah tau isi pikiran Nining, Dony menatap wajah Nining. Memberitahu kalau dia senang bisa melayani mereka berdua.
“Sayang. Mas akan sedih kalau Mas gak bisa turutin kemauan kamu dan calon anak kita. Sekarang kamu mau apa? Mas akan belikan itu untuk kamu,” paksa Dony dengan nada yang sangat halus.
“Sate ayam madura.” Nining berkata sangat lirih. Masih merasa tidak enak setiap kali harus membuat suaminya repot.
“Siap, Bos. Mas akan beli sate ayam madura. Kamu tunggu di sini, ya?” Dony segera pergi dan Nining menunggu di kamar.
Perut yang sudah besar, menunggu dua bulan lagi membuatnya sering kelaparan dan kegerahan. Namun, semua itu tidak membuat Nining mengeluh. Dony selalu membantunya, mengerti semua keinginannya bahkan sebelum dia memberitahu.
Nining tidak sabar menunggu Dony, dia pun ke ruang tamu dan mengambil piring serta nasi dan juga gelas untuk persiapan makan mereka. Menunggu hingga lebih dari satu jam, Nining tidak sengaja tertidur di ruang tamu.
Dony pun merasa kasihan. Sudah jam sebelas malam, sate ayam madura sudah tutup semua. Dia harus mencari ke luar kota sampai dia mendapatkan sate itu. Untungnya ada satu yang belum buka dan itu pun tinggal satu kodi. Dony memborongnya hanya untuk istri tersayang.
__ADS_1
“Sayang. Maafin Mas. Mas terlalu lama membeli sate sampai kamu tidur. Kamu pasti udah laper sama ngantuk banget,” ucap Dony di depan Nining yang sudah tertidur. Dia berjongkok lalu menggendong tubuh Nining yang tak lagi ringan. Meski berat, Dony tetap memaksakan diri untuk menggendong Nining hingga ke kamar.
“Sayang. Mas udah bawa sate ayam kesukaan kamu. Maaf, ya, lama. Tapi Mas akan tunggu di sini sampai kamu bangun. Mas gak mau kamu dan anak kita kelaparan. Akan mas tunggu di sini untuk memastikan kamu dan anak kita makan sate itu malam ini.” Dony pun duduk di bawah sambil menunggui Nining sampai bangun.