Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
19


__ADS_3

Mereka berdua sangat marah. Semua amarah di dalam hati terucap begitu saja.


“Alah, gak usah lempar batu sembunyi tangan kamu. Lebih baik aku pergi daripada meladeni ucapan kamu yang ngawur,” tandas Dony meninggalkan Nining yang masih memendam kemarahan karena ucapan Dony yang sembarangan.


“Mas, jangan pergi.” Nining mengejar Dony agar tidak ada keributan di tempat kondangan itu.


Tepat di sisi jalan, Nining melihat Dony sudah bersiap dengan motornya. Rupanya dia benar-benar memilih untuk pergi daripada menyelesaikan masalahnya dengan Nining.


“Mas, jangan pergi dulu!” jerit Nining hingga suaranya hampir habis.


Entah kenapa urat malu mereka berdua hilang seketika. Biasanya mereka akan sangat menjaga hubungan mereka di depan umum, tidak dengan hari ini. Semua kemarahan meledak karena tersimpan sejak lama.


“Aku harus menemui Mas Dony agar masalah ini tidak terkatung-katung gak jelas.” Nining memutuskan untuk menemui Dony di rumah orang tuanya.


Dia sangat yakin kalau Dony ada di sana sekarang. Nining segera melajukan motornya ke tempat mertuanya yang berjarak cukup dekat. Benar saja, ada motor Dony terparkir di depan. Nining menghentikan motor lalu mengucap salam dengan sopan.


“Nining. Kalian sedang bertengkar? Tadi Dony kelihatan sangat marah,” sapa ibu mertua Nining dengan gelisah dan ketakutan.


“Iya, Bu. Mas Dony salah paham sama aku makanya aku ke sini untuk menjelaskan. Apa aku boleh masuk, Bu?” izin Nining penuh santun.


“Iya, masuk saja. selesaikan masalah kalian dengan baik.”


Nining pun masuk dan mengetuk pintu Dony


“Aku minta maaf kalau ada salah. Kita harus bicara, Mas. Kita gak bisa terus-terusan kayakgini. Mau sampai kapan kita kayak anak kecil terus?” Nining memulai pembicaraan.

__ADS_1


Tidak ada jawaban. Di Dony dalam Dony masih kesal dengan masalah tadi. Tak menyangka dia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri istri tercintanya bersama laki-laki lain tertawa akrab padahal hubungannya sendiri sedang kusut seperti benang yang tidak bisa terurai. Dony marah, cemburu dan sakit hati melihat itu semua.


“Mas, tolong keluar. Aku mau kita bicarain baik-baik masalah kita,” tambah Nining lagi walaupun Dony tidak menyaut sama sekali.


“Mas ... Mas Dony.” Nining terus membujuk Dony untuk keluar tapi Dony tetap memilih di kamar dengan jurus diam seribu bahasa.


Arya melihat semua usaha Nining yang pantang menyerah membujuk Dony hingga satu jam lebih, lama-lama dia kesal juga melihat sikap keterlaluan Dony pada istrinya sendiri. Arya mendekat lalu mengusap pundak menantunya dengan lembut.


“Nining, tindakan kamu untuk datang ke sini dan membujuk suamimu dengan lembut sudah benar, tapi kamu juga tidak salah kalau kamu pulang dan tidak peduli pada suami yang merasa benar sendiri tanpa mau mendengar penjelasan dari kamu. Suami yang baik adalah menyelesaikan masalah dengan kepala dingin serta tabaruj atau musyawarah, bukan dengan egois dan mementingkan dirinya sendiri dengan segala pemikiran buruknya. Bapak percaya pada kamu. Kamu bukan wanita sembarangan yang Bapak pilih untuk menjadi menantu Bapak. Pulanglah, tenangkan diri kamu dan tidak usah merasa bersalah. Biar Dony Bapak yang urus,” ucap Arya memberi nasihat.


“Tapi, Pak. Mas Dony belum mau bicara sama aku. Aku takut Mas Dony mengira aku itu sama seperti apa yang dia pikirkan,” isak Nining tidak bisa memendam kesedihan dan takut ditinggalkan Dony.


“Menangislah jika itu membuat hati kamu tenang. Tuhan maha membolak-balik hati manusia. Berdoalah pada Tuhan agar semuanya berjalan dengan baik. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga, sekarang kamu berdoa. Selanjutnya serahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk umatnya. Pulanglah dan pikirkan dirimu sendiri, tidak usah memikirkan orang yang tidak peduli padamu.” Kali ini Arya benar-benar menyuruh Nining untuk pergi. Dia sangat yakin Nining tidak bersalah. Air matanya membuktikan semuanya dan semua itu bukan sandiwara semata.


“Pulanglah. Itu jauh lebih baik daripada kamu terus di sini untuk meminta sesuatu yang belum bisa diberikan. Bapak dan Ibu percaya sama kamu. Kamu wanita baik dan pasti bisa menjaga kehormatan suaminya.” Arya menoleh pada istrinya yang duduk gelisah di ruang makan menunggu suami dan menantunya berbicara. “Bu, tolong ke sini sebentar,” panggil Arya.


Eni segera mendekat, dia berharap adakabar baik tentang hubungan anak dan menantunya itu. “Iya, Pak. Ada apa?” tanya Eni semangat.


“Tolong antar Nining pulang. Bapak mau bicara dengan Dony.” Ayah itu mendekati kamar anak tunggalnya sedangkan istrinya mengantar Nining yang masih ragu untuk meninggalkan suaminya. Dia terus menengok pada kamar Dony dan berharap kamar itu akan terbuka dan serta menunjukkan senyuman dari laki-laki yang sangat dia sayangi.


“Yakinlah pada Tuhan. Semua akan baik-baik saja asal kita berdoa padanya.” Seakan tahu isi hati Nining, nasihat itu membuat Nining tersenyum dan merasa jauh lebih baik.


“Kalau begitu, aku pamit dulu, ya, Bu. Pasti Nining akan ke sini lagi,” janji Nining.


“Iya, hati-hati di jalan. Jangan melamun dan serahkan semua pada Tuhan.”

__ADS_1


Nining pun pergi , meninggalkan Dony dengan amarah yang masih belum mereda.


Di dalam rumah, Arya tengah membujuk anak laki-lakinya yang sudah lama bungkam dengan masalahnya. Bukannya mau ikut campur, tapi melihat menantunya sedih, mereka tidak tega. Kalaupun hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi, segera selesaikan dengan baik-baik jangan memperpanjang masalah yang sudah rumit.


“Bapak tidak berhak ikut campur dengan masalah rumah tangga kamu. Tapi Bapak punya hati. Bapak tidak bisa melihat wanita sebaik Nining sedih dan menangis di depan mata kepala Bapak sendiri. Kalau kalian ada masalah, selesaikan dengan baik-baik, jangan diam seperti ini. Tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau hubungan kalian memang sudah hancur berantakan dan tidak bisa diperbaiki lagi, putuskan secara baik-baik. Kalian memulai hubungan dengan baik-baik, berakhir pun harus dengan baik-baik.”


Mendengar ucapan menohok dari ayahnya, seketika Dony merasa sangat marah. Dia bangun dan segera membuka pintu dengan kasar.


“Bapak mau aku dan Nining cerai?” tanya Dony dengan nada sedikit tinggi.


“Kalau itu yang terbaik untuk kalian, kenapa tidak? Perceraian itu dibenci oleh Tuhan tapi tidak dilarang. Banyak yang bercerai walaupun dulunya mereka saling mencintai dan itu sudah banyak terjadi di zaman sekarang,” jawab Arya santai.


“Bapak jahat. Bapak mau aku jadi duda?” Dony tidak menyangka dengan ucapan ayahnya yang sangat menyakutkan itu.


“Jahat mana dengan perbuatan kamu yang membiarkan masalah terus berlanjut sampai membuat anak orang menangis?”


“Itu ... itu salah dia sendiri. Dia yang membuat aku marah dan kecewa,” jawab Dony mengungkapkan alasannya.


“Bicarakan semuanya dengan baik-baik. Tidak akan ada jalan keluarnya kalau kalian saling diam. Kalau kamu maunya seperti ini terus, Bapak yang akan menyuruh Nining untuk mengajukan gugatan pada kamu.”


“Bapak! Kenapa Bapak jahat banget sama anak sendiri? Bapak gak sayang sama aku?” Dony semakin dibuat marah oleh ayahnya.


“Kalau kamu tidak mau pisah dengan Nining, temui dia dan omongin baik-baik. Tanyakan alasan dia melakukan hal yang membuat kamu marah. Tapi kalau kamu tidak mau dan tetap membiarkan masalah ini berguling begini terus, masalah ini akan semakin membesar dan tidak akan selesai dengan baik.”


Dony terdiam. Apakah ini waktunya untuk dia menyelesaikan masalahnya dengan Nining di rumah mereka sendiri?

__ADS_1


__ADS_2