Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
30


__ADS_3

Sri mencari cara agar tidak bertemu dengan suaminya sendiri. Walaupun dia tahu Lucky sangat mencintainya, dia tidak peduli. Yang Sri cinta hanya Dony dan dia masih berharap untuk memiliki Dony.


“Ya sudah. Mas siap-siap dulu, ya, Sayang. I love u,” ucap Lucky penuh cinta.


“Hmmm. “


Nut


Sambungan telpon dimatikan. Sri sangat kesal mengetahui Lucky akan pulang nanti malam.


“Aduh. Kenapa pake pulang segala, sih? Saya kan bingung. Pasti nanti Mas Dony ngira kalau saya dan Lucky hidup bahagia. Padahal kenyataannya hidupku tersiksa. Mikir, Sri. Mikir,” ujar Sri bolak-balik tidak menentu.


“Aha. Saya punya ide. Saya akan main ke rumah teman sampai besok aja. Jadi gak ketemu sama Mas Lucky. HP-nya dimatiin. Jadi dia gak akan bisa telpon. Ide bagus Sri.”


Sri mulai menelpon temannya lalu mengadakan janji untuk menginap. Ada salah satu teman yang nasibnya sama dengan Sri dan dia lah yang selalu mendukung Sri dalam menjalankan aksi-aksinya.


“Kamu ini. Padahal kamu punya suami ganteng, kaya dan perhatian. Kenapa kamu masih terobsesi pada Dony?” protes Nela—teman Sri. Lama-lama dia merasa kasihan juga pada Lucky. Sama seperti dirinya yang mulai jatuh cinta pada kebaikan hati sang suami yang dulu dia benci, dia ingin Sri mencintai Lucky dan melupakan Dony.


“Kamu ini temen apa musuh? Di mana Nela yang dulu selalu suport saya kalau saya punya cara bagus untuk memisahkan Nining dan Dony?” Sri kesal.


“Ya temanlah. Aku cuma mikir aja. Gak seharusnya kita sia-siain orang yang udah baik sama kita. Aku sadar sekarang. Cinta suamiku sangat tulus padahal aku sering banget jutek sama dia. Aku jadi cinta sama dia dan melupakan mantan pacarku yang brengsek itu,” cerita Nela.


“Omong kosong. Namanya gak cinta … ya, gak cinta. Gak akan berubah cinta, Nela yang baik udahlah. Ngobrol sama kamu bikin aku BT. Saya mau pulang saja.” Sri pun memutuskan untuk pulang. Niat ingin kabur, malah diceramahi. Lebih baik pulang.


***


Sri sudah sampai di rumahnya. Tiduran di kamar, dia lupa kalau hari ini Lucky akan pulang. Entah berapa lama Sri tertidur, tiba-tiba ada seseorang yang tidur di sampingnya.


“Hah, siapa kamu?” tanya Sri kaget. Dia segera bangkit dan melihat laki-laki yang ada di sampingnya.


“Mas Lucky. Ya Tuhan. Gara-gara BT sama Nela, saya sampe lupa hari ini Mas Lucky pulang. Aduh, gimana, nih? Saya harus cari alasan apa?” Pelahan Sri mengendap untuk keluar dari kamar. Dia tak mau Lucky bangun dan meminta jatah pada dirinya yang sudah lama tidak bertemu.


“Huh. Akhirnya sampai juga di luar. Saya harus pergi,” tekad Sri. Sekali lagi Sri mengendap untuk membuka pintu. Kini mereka sudah keluar dari rumah, bersiap untuk meninggalkan rumah.

__ADS_1


“Sayang. Kamu mau ke mana?” tak disangka Lucky menyusul. Kini dia ada di belakang Sri. Sri mematung, ketahuan, deh. Apa yang akan dikatakan Sri pada Lucky?


“Eh, Mas u—udah bangun.” Sri menunjukkan gigi-gigi yang putih.


“Udah. Kita makan di luar, yu? Gak usah masak. Ayo,” paksa Lucky, menarik tangan Sri dan menaikkannya ke dalam mobil yang sengaja dia bawa di kepulangannya kali ini.


“Wah, ini mobil siapa, Mas?” tanya Sri terperangah melihatmobilmewah yang dibawa Lucky.


“Ini mobil Mas. Sengaja Mas bawa mobil ini untuk dihadiahkan untuk kamu. Kamu suka ga?” Lucky menunjukkan kunci mobil.


“Wah, suka. Suka banget, Mas. Tapi saya belum bisa nyetir. Nanti ajarin, ya?” rengek Sri bermanja di pundak Lucky. Jika ada hal seperti ini, sikap Sri akan berubah baik. Namun, kalau dia meminta jatah, sebisa mungkin dia mencari alasan agar tidak melayani Lucky.


“Ayo kita jalan-jalan.” Sri dan Lucky pun jalan-jalan menggunakan mobil baru.


Tak sengaja Sri melihat Dony dan Nining yang sedang duduk berdua. Tangan mereka saling bergandengan, membuat Sri panas. Dia pun pura-pura tidak melihat.


“Mas Lucky. Pulang kapan?” sapa Dony saat mobil Lucky sengaja berhenti di depan rumah Dony.


“Barusan. Kalian sedang apa? Mau ikut kami shoping gak?” ajak Lucky yang sangat baik pada Dony dan Nining.


Sri melotot. Menyebalkan sekali kalau mereka berdua ikut. Mau pamer mesra-mesraan apa gimana? Sri cemberut tidak suka dan Nining melihat ekspresi Sri yang seperti itu.


“Gak usah, Mas. Kamu ada acara. Kami harus ke rumah orang tua kami, ada acara kecil-kecilan,” tolak Nining yang kebetulan memang ada acara.


“Beneran, nih, gak kamu ikut? Seru, lho, shoping-nya,” tambah Lucky memanas-manasi untuk ikut.


“Kami ingin ikut, tapi kami punya acara lain. Lain kali aja, deh. Dah … have fun ya.” Dony melambaikan tangan dan Lucky pun meninggalkan mereka berdua.


Sri lega. Setidaknya dia tidak akan cemburu melihat keromantisan mereka berdua.


***


Sri dan Lucky sampai di Mall. Lucky mengajak Sri untuk belanja baju. Berbagai baju bagus dan mahal dibelikan Lucky untuk Sri.

__ADS_1


“Masih ada yang mau dibeli lagi?” ajak Lucky.


“Mas. Aku mau beli baju di butik yang ada di pojok sana. Eh, bukan. Kita makan dulu aja. Laper daritadi belanja terus.”


“OK. Ayo kita makan. Mau makan apa, Sayang?” Sambil barjalan, Lucky membawa paper bag berisi pakaian Sri yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka pun sampai di restauran.


“Sayang. Kamu tunggu di sini dulu. Biar Mas pesankan. Kamu mau pesan apa?” Lucky meletakkan paperbag di kursi yang ada di samping Sri duduk.


“Aku mau makanan yang enak-enak dan mahal. Pokoknya semua yang mahal dan enak dibeli semua, ya, Mas,” pinta Sri agar Lucky kesal. Jika dia tahu Sri suka menghambur-hamburkan uang, dia berharap Lucky akan membencinya dan menceraikannya.


“Siap, Sayang. Apapun yang kamu mau, pasti aku berikan. Pelayan,” kata Lucky, memanggil pelayan.


Pelayan pun datang lalu memberikannya daftar menu. Terlihat harganya sangat fantastis, itu memang restoran mewah dan ini kesempatan yang bagus untuk membuat Lucky malu jalan dengannya.


Sri menaikkan satu kakinya di atas kursi seperti anak kampung yang tidak punya sopan santun. Pelayan itu melihatnya dengan gaya menghina.


"Saya mau pesan yang ini, yang ini. Yang ini, yang ini. Pokoknya semua yang mahal dan enak, ya, Mba?" ucap Sri sengaja membuat pelayan itu memandangnya dengan rendah.


"Aku ini sama ini aja. Tolong cepat, ya, Mba. Kita sudah lapar," pinta Lucky, takut Sri sudah tidak mampu menahan lapar karena sejak tadi muter-muter.


"Iya, Mas. Sebentar, ya." Pelayan itu pergi.


Sri mengambil tusuk gigi lalu membuka mulutnya seakan ada kotoran yang menyelip di gigi-giginya. Semua itu sengaja Sri lakukan agar Lucky marah padanya.


Di luar dugaan, Lucky malah tersenyum. Melihat tingkah istrinya, dia terhibur.


"Kamu gemesin banget, sih. Pengin aku gigit tahu gak?" ujar Lucky gemas.


Sri heran. Bukan ini yang diharapkan, tapi kenapa malah terjadi? Tidak beres. Otak Lucky tidak normal apa, ya? Masa tingkah memalukan seperti itu membuatnya gemas? Aneh memang suami Sri ini.


Sri harus cari cara lain.

__ADS_1


__ADS_2