
Dony dipenuhi amarah dan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh.
“Nining!” jerit Dony dan segera bangun.
Ternyata Dony hanya mimpi. Namun, mimpi itu terasa sangat nyata. Seolah-olah itu pertanda kalau dirinya sedang menghadapi masalah yang sama.
“Nining. Apa ada laki-laki lain yang sedang mendekati kamu sampai kamu tidak mau memilihku lagi? Apa karena uang kamu berubah? Aku di sini sangat mencintai kamu dan selalu mencintai kamu. Aku jaga kesetiaan dan rasa cintaku untuk kamu ... tapi kenapa kamu tega cuekin aku seperti ini?” rintih Dony pilu.
Dia begitu merindukan Nining. Yang dia ingin hanya rayuan manja dari istrinya, tapi tidak terjadi. Jangankan rayuan, pesan atau telpon pun tidak ada, membuat Dony semakin merasa hubungan mereka menjauh dan tidak ada harapan untuk dipertahankan.
“Aku benci kamu, Nining. Aku benci. Aku gak mau mengemis cinta sama kamu. Aku laki-laki yang punya harga diri. Sebelum kamu menjemput aku, aku gak akan pulang ke rumah kita.”
***
Nining masih sedih mengingat foto itu. Sejak semalam dia terus di kamar. Tak ada rasa lapar atau lengket padahal dia belum makan maupun mandi. Rumah pun masih terkunci dan kotor. Semua masih berada di tempatnya masing-masing, berantakan tak ingin dibereskan.
“Mas Dony kenapa kamu tega sama aku? Apa salah aku ke kamu, Mas?” lirih Nining.
Merasakan kedukaan yang sangat dalam. Tak pernah dia membayangkan akan diduakan seperti ini. Rasanya sakit sekali. Apa karena mereka belum diberi anak sehingga Dony rela melakukan hal menjijikan seperti ini? Namun, apakah ada bukti ... kalau Nining hamil, Dony akan kembali dan tidak melakukan hal itu lagi? Oh, Tuhan ... Nining sangat bingung.
Wanita cantik itu memeluk guling dengan erat. Meneteskan air mata kesedihan.
“Mas Dony.” Nining terus merintih, memendam kerinduan juga kekecewaan. Tanpa sengaja dia pun terlelap.
__ADS_1
“Mas Dony. Sedang apa kamu di sini?” tanya Nining melihat dua orang memeluk mesra sembari memilih baju.
“Nining. Lagi pilih baju pernikahan. Eh, jangan lupa kamu datang, ya? Kamu sudah mengizinkan aku untuk menikah lagikan?” jawab Dony santai, masih menggandeng wanita yang ada di sampingnya. Tanpa rasa bersalah, Dony mengutarakan keputusannya.
“Apa Mas? Mas mau nikah lagi? Aku gak setuju,” protes Nining tidak terima dengan keputusan suaminya itu.
“Gak masalah kalau kamu gak setuju. Sekarang aku talak kamu dan aku akan menikah dengan dia tanpa penghalang. Sana pergi. Jangan ganggu rencana pernikahanku.” Dony mendorong tubuh Nining lalu tersenyum pada wanita di sampingnya. “Ayo, Sayang kita pergi. Sekarang kamu akan menjadi istri pertama dan satu-satunya. Aku udah talak Nining.” Dony pun pergi bersama wanita itu tanpa mempedulikan perasaan Nining.
“Tidak!” Nining berteriak sambil duduk. Dia berkeringat sangat deras hingga bajunya basah.
“Mas Dony. Mas Dony kamu ke mana, Mas? Jangan tinggalin aku,” rintih Nining lagi.
Nining mimpi buruk hingga akhirnya dia bangun dengan perasaan yang tidak menentu. Sedih, sakit, kecewa dan juga marah.
“Enggak. Aku gak boleh kelihatan lemah di mata Mas Dony. Aku memang mencintainya, tapi aku gak mau direndahkan oleh dia. Aku gak boleh larut dalam kesedihan. Aku harus kuat. Kalau dia memang cinta sama aku, dia pasti akan kembali dan meminta maaf padaku. Kalau dia gak cinta sama aku dan gak baik untuk aku, dia pasti akan menjauh. Ya Tuhan, aku pasrahkan semuanya pada-Mu. Aku ikhlas dengan semua yang terjadi.”
Mata hati Nining mulai sadar dan terbuka. Tidak ada gunanya meratapi masalah, tidak akan merubah keadaan. Yang harus dia lakukan adalah usaha dan doa. Seterusnya, dia serahkan pada Yang maha Kuas.
“Aku harus bangkit. Tunjukkan pada dunia terutama pada Mas Dony kalau aku ini bukan wanita lemah. Aku kuat dan tidak akanpernah tumbang oleh masalah apapun.” Semangat Nining sudah kembali. Dia berusaha melupakan masalahnya dengan Dony dan dia pun segera bangun dari tempat tidur. Masih banyak pekerjaan rumah yang belum dia selesaikan.
Nining memutuskan untuk mencuci baju. Setelah baju selesai, dia pun keluar untuk menjemurnya.
“Lho. Kok, jemurannya udah dipakai?” Nining kaget melihat jemuran besinya sudah terpasang di depan rumah dengan baju yang tertata rapi, padahal dia belum menjemur baju basahnya.
__ADS_1
Jemuran siapa itu, kenapa yang punya jemuran tidak pamit dulu padanya? Nining celingukan mencari pemilik jemuran. Dia ingin menjemur baju, mana mungkin dia tumpuk jemurannya dengan baju milik orang yang tidak dia kenal. Yang ada jemurannya akan tercampur dengan milik orang lain.
“Gak ada siapa-siapa. Terus ini punya siapa?” Nining mendekati baju itu, berusaha mengingat-ingat baju siapa yang tergantung di jemurannya.
“Aku sama sekali gak tahu ini milik siapa. Aku taruh jemuranku di sini aja. Pasti yang punya jemuran akan langsung ambil bajunya kalau lihat jemuranku juga banyak.” Nining pun masuk dan menyelesaikan pekerjaan yang lain.
Hingga menjelang asar, Nining melihat ke depan. Jemuran itu masih milik orang tak dikenal. Ternyata orang itu tidak mengambil jemurannya walaupun Nining sengaja menaruh jemurannya di depan. Kesal, tapi Nining mencoba berpikiran baik.
“Mungkin dia gak lihat. Aku ambilin aja yang udah kering. Biar aku bisa jemur bajuku.” Tanpa berpikir macam-macam, Nining mulai memilih baju yang sudah kering untuk diangkat dan ternyata sudah kering semua. Kini giliran Nining untuk menjemur bajunya.
Setelah selesai menjemur bajunya sendiri dan mletakkan baju kering di dalam keranjang miliknya, Nining masuk sebentar karena ada sesuatu yang ketinggalan. Begitu Nining keluar, dia sangat kaget melihat keranjang serta baju kering milik seseorang itu sudah hilang.
“Lho, di mana keranjang sama baju keringnya? Bukannya tadi aku taruh di sini?” Nining keheranan dan mencari dua benda itu.
Ke depan hingga sampai di pagar, tidak ada bahkan tidak ada orang sama sekali. Kalau tidak ada orang, lalu kenapa jemuran itu bisa hilang sendiri?
“Gak mungkin jemuran sama keranjangnya hilang sendiri. Pasti ada yang ambil. Tapi siapa? Maling atau yang punya baju?”
“Ya sudahlah. Kalau yang ambil yang punya baju, mungkin dia hanya pinjam keranjangku. Besok pasti dikembalikan.” Kembali Nining berprasangka baik. Dia menjepit baju yang tipis agar tidak jatuh tertiup angin. Setelah semuanya selesai, dia kembali masuk.
Di samping tembok, seseorang dengan seringai licik disertai bahagia mengintip Nining. Dia membawa keranjang berisi baju bersih.
“Baik juga ternyata kamu. Mau angkatin jemuranku tanpa rasa marah. Terima kasih, Nining. Kamu sangat baik tapi bodoh. Dengan kebodohan kamu, aku akan manfaatkan itu semua.”
__ADS_1