
Dony tersenyum membawa sesuatu yang sangat besar. Buket bunga merah kesukaan Nining. Semua bunga yang berawana merah ada di buket itu. Tentu saja itu sengaja dia lakukan untuk menunjukkan cintanya pada istri tercinta.
“Ini untuk kamu, Sayang. Kamu suka bunga warna merahkan?” Dony menyerahkan buket itu lalu menggandeng tangan istrinya untuk berteduh. Dia pun menyuruh Nining untuk duduk.
“Kamu duduk dulu di sini. Sekarang Mas akan buatkan minuman yang segar untuk kamu. Sirup jeruk dengan sedikit es. Itu kesukaan kamukan, Sayang?” Dony masih sangat ingat semua kesukaan Nining.
Tanpa menunggu jawaban, Dony segera ke dapur untuk membuat minuman itu. Minuman yang dia buat dengan penuh cinta.
“Sudah jadi. Silahkan diminum, Sayang.”
“Terima kasih.”
Dony menunggui Nining meminum minuman buatannya dan rasanya sangat senang melihat senyum indah yang sudah lama tidak dia lihat. Seperti saat pertama bertemu dulu, penuh cinta dan bahagia.
“Enak? Sekarang Ratuku tunggu dulu di sini, biar Raja yang akan menjemur baju dan melakukan semua pekerjaan kamu.” Dony mengambil alih pekerjaan Nining.
“Jangan, Mas. Aku gak pa-pa jemur baju sendiri dan melakukan pekerjaan rumah,” cegah Nining, tak mau Dony capek.
“Kamu udah terlalu capek mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sekarang giliranku yang melakukannya. Sudah, kamu tunggu di sini aja. Kalau ada yang salah, langsung beritahu aku. Ok?” Dony tidak menurut. Dia langsung mengambil baju yang akan dijemur lalu menjemurnya satu per satu.
“Panas banget. Capek juga ternyata. Dingin, basah. Ternyata sulit juga pekerjaan ibu rumah tangga. Aku gak pernah tahu itu,” oceh Dony mengerti apa yang dirasakan Nining selama ini.
Awalnya tidak pernah terpikir kalau pekerjaan di rumah seberat ini. Ini baru menjemur baju, belum lagi pekerjaan yang lain. Pasti sangat susah dan capek. Namun, Nining tidak pernah mengeluh dan tetap menyambut kedatangannya dengan senyum mengembang.
“Mas capek? Biar aku aja yang lanjutin,” sela Nining tak tega melihat Dony kepanasan.
__ADS_1
“Enggak, Sayang. Aku gak capek. Kamu yang capek karena selama ini udah nglakuin semua ini sendirian. Aku gak pernah membantu, malah cuma merepotkanmu saja,” sesal Dony membayangkan sering sekali menyuruh Nining padahal dia sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
“Gak capek kalau kalau dilakukan dengan ikhlas dan aku ikhlas melakukannya,” jawab Nining, kali ini dia sudah berada di dekat Dony untuk menjemur baju.
Wangi menguar dari tubuh Nining, membuatnya tidak bisa diam. Dony memeluk Nining dengan mesra dengan dalih menjemur baju bersama. Dony memeluk tubuh Nining dari belakang dengan tangan mereka saling menyatu untuk menjemur baju bersamaan.
“Ih, Mas. Jangan kayakgini. Malu.” Nining risih karena itu mereka lakukan di halaman rumah. Berbeda jika dilakukan di kamar tanpa ada yang tahu.
“Kenapa malu? Mas suami kamu, wajar kalau peluk kamu. Lagian inikan lagi jemur baju. Ya, kayakgini,” kilah Dony tidak malu sama sekali. Dia malah senang.
“Ih, Mas. Malu, lepasin. Malu kalau sampai ada yang lihat.” Nining terus berusaha melepas pelukan Dony karena risih dan malu kalau nanti ada yang lihat.
“Biarin aja kalau ada yang lihat. Yang pacaran aja gak mau mesra-mesraan di depan umum, masa yang udah nikah lama malu?” kilah Dony tak masalah dengan yang dia lakukan.
“Mas,” rengek Nining tak nyaman. Bukan tak nyaman di peluk Dony, tapi tak nyaman kalau ada yang lihat dan digunjing orang-orang.
Sesuai prediksi Nining, ada yang membicarakan mereka karena ulah iseng Dony padanya. Nining merasa malu dan berusaha melepas jemuran itu, tapi ditahan oleh Dony.
“Iya, dong. Masa yang mesra orang pacaran sama pengantin baru aja. Kita juga bisa mesra-mesraan,” jawab Dony enteng. Dia malah semakin mempererat pelukannya dan lengket seperti perangko.
“Benar juga, ya, Mas. Aku juga mau mesra-mesraan, ah, sama istri. Terima kasih, Mas,” jawab laki-laki itu sembari berlari menemui istri di rumahnya.
Nining tertawa. Sama seperti Dony, dia malah tak menyangka kalau perbuatannya membuat orang lain ikut-ikutan.
Tidak seperti Nining dan Dony, Sri melihatnya menjadi marah dan kesal. Cemburu membakar hati. Tak menyangka rencananya gagal semua. Sia-sia sudah apa yang dia lakukan selama ini. Dia pun masuk lalu mengobrak-abrik meja riasnya.
__ADS_1
“Aaah, sialan. Kenapa mereka baikan lagi? Tambah mesra lagi. Saya gak terima. Pokoknya mereka harus musuhan,mereka harus pisah. Aaah,” jerit Sri setengah gila. Dia sangat terobsesi pada Dony sampai dia rela melakukan hal gila termasuk membayar orang untuk sandiwara.
“Gak. Saya gak akan biarin itu terjadi. Pokoknya mereka harus pisah. Mereka harus pisah. Awas kamu Nining. Wanita sialan. Kamu harus ninggalin Mas Dony. Mas Dony itu milik saya.” Sri benar-benar tidak waras. Dia sudah lupa kalau dia sudah punya suami yaitu Lucky.
Lucky sangat mencintai Sri dan dia pun rela menunggu Sri sampai melupakan Dony. Dia bekerja melaut dan pulang setengah tahun sekali dan seminggu di rumah hanya untuk memenuhi gaya hidup Sri yang hedon. Siapa sangka dia hanya dimanfaatkan oleh Sri. Rasa cintanya hanya untuk Dony saja. Kasihan Lucky.
***
Nining masih mencuci piring. Tiba-tiba Dony memeluk dari belakang sambil membantu menggosok piring yang sedang Nining pegang. Satu minggu berjauhan membuat Dony sangat rindu dengan Nining yang sangat dia cintai. Sesekali dia mengecup pundak Nining yang tidak tertutup oleh rambut.
“Mas … geli. Hmmm.” Nining menggelinjang mendapat sentuhan yang sudah lama tidak dia rasakan. Gelenyar aneh memenuhi hatinya. Gejolak yang menurun seketika memuncak.
“Mas kangen sama kamu. Apa kamu gak kangen sama Mas?” goda Dony tanpa menghentikan pegangannya pada tangan Nining seolah-olah sedang mencuci padahal dia hanya memegang tangan Nining saja.
“Ehm … kangen gak, ya?” Nining pura-pura mengingat sambil tersenyum. Dia memang senang menggoda suaminya itu. “Ehm, enggak. Aku gak kangen. Malah senang gak ada Mas Dony di sini. Sepi dan tenang,” ledek Nining.
“Bener? Ya, udah. Mas pergi lagi aja kalau begitu.” Dony melepas tangannya lalu bersiap untuk pergi.
“Eh, jangan. Hffft,” cegah Nining seketika dia berbalik untuk memangggil Dony kembali.
Tak disangka Dony hanya bercanda. Ketika Nining berbalik, dia langsung mengecup bibir Nining dengan bibirnya, lembut sekali. Meski begitu Nining tetap kaget. Sudah lama dia tak mendapatkan kejutan seperti itu. Nining merasakan sensasi yang sangat nikmat, melayang hingga langit ketujuh. Sentuhan Dony sangat lihai, tak bisa ditolak oleh Nining.
Pekerjaan mencuci piring pun terhenti bahkan sangat lama hingga keesokan harinya, karena Nining dibawa masuk oleh Dony. Mereka mengulang malam pertama mereka hingga puas sampai pagi menjelang.
“Aku senang Mas udah pulang. Walaupun nyeri karena Mas melakukannya berkali-kali, aku gak masalah. Terima kasih, Mas. Aku Sayang banget sama Mas Dony." Nining mengecup kening suaminya lalu mengutip baju yang berserakan di lantai akibat Dony yang tidak sabar menikmati tubuhnya.
__ADS_1
"Besok giliran aku yang akan beri Mas Dony kejutan," niat Nining dengan seringai yang berbeda.