
Wajah Dony penuh amarah dan langsung meninggalkan Adam sendirian. Seperti biasa, Dony akan menyembunyikan masalahnya agar rahasia rumah tangganya tetap terjaga.
"Woi, Don. Mau ke mana? Pasti ada masalah lagi. Kebiasaan, tuh, anak. Pasti kabur kalau ada masalah. Ya, udahlah. Biarin dia selesaikan sendiri masalahnya, gue gak mau ikut campur." Adam memilih bergelut dengan tugas hariannya, menyelesaikan laporan seperti biasa.
Sementara itu Dony memilih pergi ke mushola kantor yang ada di lantai atas. Memperhatikan foto itu membuatnya semakin geram. Di saat dia mulai melupakan baju penyebab dia menuduh Nining selingkuh, dia justru melihat Nining bersama seorang laki-laki.
"Kenapa, Ning? Kenapa kamu malah asyik-asyikan sama cowok lain padahal aku di sini sangat merindukan kamu? Apa dia selingkuhan kamu? Apa lebihnya dia dari aku sampai-sampai kamu tega mentingin dia daripada aku?" rintih Dony sedih dan frustasi. Rasanya sangat menyakitkan melihat istrinya tidak peduli padanya dan nampak akrab dengan laki-laki asing.
Kepercayaannya mulai goyah lagi. Sejujurnya Dony ingin tidak percaya, tapi bukti itu membuatnya ragu dengan keyakinan tentang kesetiaan Nining pada dirinya.
Sepanjang hari Dony dilanda kegelisahan. Dony tak tahu harus berbuat apa, padahal dia ingin pulang dan meminta maaf. Namun, semua rencananya harus dia urungkan dulu. Hatinya bergejolak lagi, membuat lelaki tampan dengan kulit putih itu ingin menyendiri lebih lama.
Adam memperhatikan Dony dari tempatnya bekerja. Dia sangat tahu apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Ingin membantu tapi tak tahu harus dengan cara apa.
"Gue tahu Loe lagi ada masalah. Gue ingin bantu, tapi gue nggak tahu caranya gimana. Jadi gue bikinin teh manis anget buat Loe. Siapa tahu teh ini bisa bikin pikiran dan otak Loe lebih dingin dan tenang. Loe nggak mau berbagi masalah Loe sama gue, gue hargain itu. Tapi tolong dengerin ucapan gue. Jangan menilai sesuatu hanya sepintas karena bisa saja apa yang Loe lihat sepintas itu nggak seperti apa yang sebenarnya terjadi. Pikirin baik-baik apapun yang akan Loe lakuin. Gue tahu Loe orang yang bijak dan nggak gegabah. Pikirin baik-baik apa yang akan Loe lakuin."
Adam menyodorkan satu gelas teh manis hangat dicampur dengan madu buatannya sendiri. Itu adalah minuman favorit Dony ketika dia sedang dalam keadaan seperti ini.
Dony menghela nafas lalu tersenyum, mengerti semua ucapan Adam. Adam memang selalu bisa dia andalkan. Namun, dia tetap tidak biasa mengumbar masalah apalagi masalah rumah tangganya.
Dia pun memilih untuk menyesap minuman buatan Adam, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Terasa jauh lebih tenang, pikirannya tidak runyam.
__ADS_1
"Terima kasih. Kamu memang sahabat yang sangat pengertian. Maafin aku karena aku tidak biasa curhat pada orang lain selain pada Tuhanku," ungkap Dony pada sahabat lelaki yang sangat dia sayang.
"Santai, Bro. Gue juga tahu, kok. Sebagai jojoba alias jomblo-jomblo bahagia, gue bisa ngertiin seorang suami yang sedang bingung. Mungkin kamu masih adaptasi sama kehidupan baru Loe yang harus bertemu dengan satu cewek setiap hari. Gue paham gimana bosennya tiap hari lihat muka itu terus. Gue sebagai jomblo yang masih setia dengan kesendirian ini juga berpikir seperti itu. Bisa nggak, ya, gue nanti hidup sama satu cewek tapi nggak bosen? Aduh … gue ngomong apa, sih? Ya udahlah, lupain aja. Anggap aja gue lagi belajar dari Loe, tentang masalah rumah tangga. Apapun yang terjadi sama Loe, Loe tetap bisa menjaga rahasia hidup Loe."
Sebagai jomblo, Adam memang masih ragu untuk memilih pendamping hidupnya, karena untuk memilih pacar saja dia akan berpikir seribu kali lipat, apalagi pendamping hidup. Bercermin pada keluarganya yang broken home, dia merasa trauma untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia hanya serius menjalin pertemanan dengan sesama jenis saja, tentunya dia masih normal, hanya saja masih belum ada yang bisa memikat hatinya.
***
Nining sudah bersiap secantik mungkin untuk datang ke rumah mertuanya. Tak lupa makanan kesukaan Dony dan dua mertuanya itu dia siapkan khusus untuk dimakan bersama.
"Aku harap mereka suka dengan makananku. Aku sengaja masak ini, semoga bisa membuat hati Mas Dony kembali mencintai aku," desis Nining penuh harapan.
Dia pun menyiapkan satu rantang isi empat tempat lalu diisi nasi dan lauk-pauk yang sudah dia masak dengan sepenuh hati.
Hari masih siang, tentu saja Dony belum pulang. Namun, itu menjadi kesempatan untuk memberikan surprise pada Dony–suami tercintanya.
"Nining kamu sudah lama sampai di sini?" tanya Eni membuka pintu.
Nining memang tidak ingin mengganggu jam istirahat mertuanya, sejak tadi dia duduk di teras dan menunggu salah satu dari mereka keluar dan menyambutnya.
Satu jam dia menunggu tanpa ada rasa bosan dan kesel. Dia justru bisa mengingat-ingat masa-masa romantis dia dan Dony ketika masih menjadi calon istrinya- dulu.
__ADS_1
"Gak, Bu, nggak lama, kok. Ibu apa kabar? Ibu baik-baik aja kan?" kata Nining sambil mengecup punggung tangan ibu mertuanya dengan hidmat.
"Alhamdulillah sehat. Ayo masuk." Mereka pun masuk.
Makanan di dalam rantang dia berikan pada wanita paruh baya yang sangat dia rindukan itu
"Pakai repot-repot segala bawa makanan ini. Terima kasih, ya." Eni menyambut hangat makanan dari Nining sembari membuka dan menyimpannya di atas meja. Sudah mendekati waktu Ashar, Eni pun menyuruh Nining untuk mandi dan bersiap-siap di kamar Dony. Biasanya jam empat sore Dony sudah sampai di rumah karena jarak rumahnya jauh lebih dekat ke kantor daripada dengan rumah mereka yang ditempati oleh Nining.
Segera mandi dan berganti baju, kebetulan dia meninggalkan beberapa potong baju di rumah mertuanya, agar dia bisa berganti baju ketika dia sedang menginap di sana. Tak lupa wewangian dan riasan natural di-aplikasikan ke wajahnya yang sudah cantik. Ini adalah salah satu kesukaan Dony yang selalu membuatnya dipuji oleh lelaki yang sangat dia cintai itu.
Terdengar langkah kaki, Nining sudah siap-siap berdiri dengan seulas senyum semanis madu. Dony membuka pintu dan betapa kagetnya dia melihat Nining sudah ada di kamarnya.
"Nining? Ngapain kamu di sini?" Terkejut Dony dengan perasaan tak menentu. Ada bahagia, tapi dia belum bisa menghilangkan kemarahan saat foto Nining bersama laki-laki teringat kembali.
"Aku–" jawab Nining.
"Aku mau istirahat dan gak mau diganggu. Lebih baik kamu pulang. Aku gak mau diganggu," potong Dony tak ingin mendengar apapun. Dia pun menarik tangan Nining untuk menjauh dari kamar.
Nining sangat kaget melihat Dony masih marah padanya. Dia pun mengetuk pintu kamar, siapa tahu setelah Nining menjelaskan semuanya, mereka bisa berbaikan dan kembali romantis.
"Pulanglah kamu bersama selingkuhan kamu. Aku gak mau dengar apapun dari kamu. Pergilah sari sini!" teriakan Dony membuat dirinya tertekan. Dia pun tak bisa berkata-kata selain meneteskan air mata.
__ADS_1
"Sabar. Biarkan Dony tenang dulu. Biarkan dia menentukan apa yang akan mereka lakukan." Ayah Dony tak tega melihat Nining menangis. Dia pun mendekati Nining lalu berbicara baik-baik padanya.