
Lemas tubuh Nining begitu mendengar ucapan Sri. Dia tidak menyangka kalau Dony sangat membencinya sehingga tidak mempercayai ucapan Sri. Seluruh tenaganya hilang, seakan kekuatannya tercabut begitu kabar buruk dia dengar dari mulut tetangganya itu. Rasanya dia tak ingin lagi hidup di dunia ini.
"Mbak … Mbak gak apa-apakan? Mbak yang kuat, ya?" ucap Sri pura-pura menguatkan, padahal dalam hatinya dia bersorak kegirangan. Usahanya untuk memisahkan Dony dan Ningsih berjalan lebih mudah dari apa yang dia bayangkan.
"Kalau begitu saya pulang dulu, ya, Mbak. Kalau ada apa-apa, Mbak bisa hubungi saya. Saya selalu ada di rumah, kok," pamit Sri. Semakin lama dia di sana, Sri takut tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Lebih baik dia pamit pergi untuk menyoraki kesedihan Ningsih yang akan segera diceraikan oleh Dony.
Tanpa menunggu balasan dari Nining, Sri segera pulang. Begitu sampai di rumah, dia meloncat keluarga dan berteriak sangat kencang.
"Ups." Menyadari suaranya begitu nyaring, dia menutup mulutnya lalu bersorak tanpa suara. "Yeeey. Ternyata mudah banget ngadu domba mereka. Jangan sampai wanita tolol itu tahu kalau saya sudah mengatakan semua yang gak bener tentang mereka," ucap Sri.
Sri duduk di sofa dengan merentangkan kedua tangan lalu menaikkan salah satu kaki di atas kaki yang lain dia menyeringai penuh kepuasan, membayangkan Dony dan Nining yang akan segera berpisah.
"Saya sudah gak sabar lihat mereka jadi duda dan janda. Setelah mereka resmi berpisah, saya juga akan berpisah dengan Mas Lucky. Masa bodoh dengan semua uang yang dia punya. Yang penting saya bisa mendapatkan Mas Dony. Laki-laki yang selalu saya impikan."
***
Dony melajukan motornya dengan santai. Begitu sampai di depan gerbang rumahnya yang sederhana, dia mengucapkan salam kemudian membuka pagar pendek lalu memasukkan motor yang belum genap tiga tahun dia miliki.
Terlihat ibunya sedang duduk bersama suami tercintanya di teras rumah sambil menikmati secangkir teh dan kopi.
"Dony. Kok, kamu sendirian? Di mana Nining?" tanya ibu Dony sambil melihat ke belakang tubuh Dony.
Dony menyalami tangan ibunya lalu berkata, "Nining sedang di rumah, Bu. Dia sibuk makanya gak ikut," jawab Dony.
__ADS_1
"Dony. Kamu tidak sedang ada masalah dengan istrimukan?" telisikk ayah Dony. Dia orang yang paling tahu rahasia yang disembunyikan oleh anaknya lewat raut wajah yang tidak biasa.
"Dony capek, lengket juga habis kerja. Dony mau mandi dulu, ya, Pak, Bu." Dony pun segera masuk tanpa mau menjawab pertanyaan itu.
"Loh-loh-loh. Kok, malah masuk? Ditanya orang tua, kok gak jawab?" gerutu ibunya sambil memperhatikan langkah Dony yang terlihat lemas.
"Sudahlah Bu. Sepertinya mereka sedang ada masalah. Biarkan saja mereka menyendiri dulu. Daripada mereka mengambil keputusan di saat emosi, lebih baik mereka menenangkan diri. Sini duduk … temani Bapak minum kopi," titah suami yang sudah menemaninya selama tiga puluh tahun.
Wanita itu pun menuruti perintah suaminya dengan kembali duduk di samping meja di antara mereka berdua. Menikmati suasana sore berdua dengan minuman hangat, rasa begitu nikmat. Satu kebahagiaan sederhana yang tidak akan pernah merasa lupakan seumur hidup.
"Kira-kira mereka ada masalah apa, ya, Pak? Mereka baru menikah satu tahun, masa mereka sudah ada masalah besar sampai-sampai Dony pulang ke rumah kita?" Ibunya mulai penasaran dan ingin meneliti lebih jauh kehidupan rumah tangga anak tunggalnya itu.
"Sudahlah, Bu. Mereka sudah dewasa. Mereka bisa menentukan apa yang terbaik untuk mereka sendiri. Kalaupun mereka meminta bantuan kepada kita untuk menyelesaikan masalah mereka, kita dengan senang hati harus membantunya. Tapi kalau mereka diam dan ingin menyelesaikan masalah mereka sendiri, kita tidak usah ikut campur." Lelaki bijak itu memberitahu istrinya dengan lembut. Dia memang selalu berpikiran tenang agar keadaan tidak semakin runyam.
Mereka berdua masuk lalu memanggil Dony untuk melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan
***
"Dony … makan dulu, Nak. Ini sudah waktunya makan malam," ajak ibunya setelah mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan apapun dari dalam.
Rupanya Dony sudah terlelap sambil memandangi foto Nining yang ada pada ponselnya. Masalah baju hijau itu membuat dirinya capek hingga dia pun terlelap tanpa disadari.
Ayah Dony datang menghampiri istrinya yang masih saja menunggu Dony keluar dari kamar.
__ADS_1
"Masih belum mau keluar juga, Bu? Mungkin Dony sudah tidur. Ibu tahu sendirikan kebiasaan Dony itu seperti apa kalau dia lagi ada masalah? Dia itu akan tidur cepat. Kalau dia sudah merasa baikan, dia akan keluar sendiri dan menceritakan masalahnya kepada kita. Lebih baik kita makan dulu dan sisakan makanannya untuk Dony. Siapa tahu nanti malam dia keluar dan ingin makan." Mereka berdua pun kembali ke ruang makan dan menikmati makan malam berdua.
"Ibu jadi khawatir, Pak. Ibu takut Dony sakit. Dari tadi sore dia diam dan mengurung diri di kamar. Dia juga belum makan. Ibu ajak dia makan, ya, Pak?" Wanita paruh baya itu sangat perhatian pada anaknya sampai-sampai di umur yang kedua puluh lima tahun saja dia masih menganggapnya seperti anak balita yang harus dibujuk dan disuapin.
"Sudahlah, Bu. Biarkan Dony menyendiri dulu. Masalah yang dihadapi mungkin cukup berat, biarkan dia berpikir dengan jernih tanpa harus kita campuri. Lebih baik kita mendoakan saja agar semuanya cepat selesai dan Dony bisa seperti dulu lagi." Bukannya tidak peduli, hanya saja sebagai orang tua, Arya tahu batas mencampuri urusan anaknya. Dia tak ingin terlalu ikut campur dan malah akhirnya membuat keadaan semakin tidak karuan.
Sekarang ini dia memilih diam, untuk mengamati dan mengambil suatu tindakan jika diperlukan.
"Tapi Pak … Ibu khawatir. Ibu masuk ke dalam, ya, Pak, ya? Ibu hibur Dony sekarang." Eni bersikeras ingin melihat keadaan Dony.
"Bu … Dony sudah berumur dua puluh lima tahun. Dia sudah dewasa. Kita tidak perlu memakaikan dia baju lagi, dia bahkan sudah menjadi kepala rumah tangga dan menjadi pemimpin dari rumah tangga yang sudah dia jalani selama setahun ini. Berikan dia kepercayaan untuk memimpin rumah tangganya sendiri. Ibu yakin Dony mampu menjadi pemimpinkan? Kalau ibu ingin membantu Dony … doakan dia agar selalu mengambil keputusan dengan pikiran jernih agar semuanya tidak salah langkah." Dengan sabar Arya menasehati Eni yang terlalu mengkhawatirkan Dony.
Sesungguhnya dia masih khawatir, tapi tidak berani membantah ucapan suaminya yang santai tetapi berbobot itu. Ucapan itu sangat mengena hingga membuat wanita itu untuk menentangnya.
Mereka berdua pun menikmati makan malam mereka hingga selesai tanpa kehadiran Dony di tengah-tengah mereka.
Doony begitu capek sehingga dia tertidur hingga subuh hari. Eni kembali mengetuk pintunya agar Dony mau salat berjamaah di Masjid bersama sang ayah.
"Iya, Bu. Dony sudah bangun," jawab Dony ketika ibunya memanggil.
Dia meregangkan seluruh badannya yang terasa pegal dan kaku. Biasanya Nining akan memijat pundaknya setiap kali Dony merasakan pegal. Namun kali ini dia tidur sendiri dan dia merasa ada yang hilang. Dia mulai merasakan ada yang aneh dalam hidupnya.
"Nining. Biasanya kamu akan langsung memijat pundak Mas. Tapi sekarang kamu gak melakukan itu. Kamu juga gak cari Mas. Apa kamu senang karena kamu bisa leluasa bertemu selingkuhan kamu?" kenangnya bercampur sedih dan kecewa. "Apa aku temui dia saja, ya? Aku tanya baik-baik agar semuanya selesai. Aku juga kangen banget sama Nining."
__ADS_1