
Dony terlelap sambil memandangi foto Nining. Dalam hati terdalam, dia tak percaya dengan semua kenyataan yang dia lihat, tapi untuk meminta penjelasan dari Nining pun Dony belum siap. Dia terlalu takut menerima kenyataan semua tuduhannya itu benar.
“Sayang. Aku mau bel itu?” tunjuk Nining ketika mereka berdua berada di sebuah mall.
Dony dan Nining nampak sangat bahagia memilih beberapa baju yang indah dan mahal.
Nining melihat baju yang terpasang di manekin, berwarna putih dengan payet yang sangat rumit. Terlihat begitu elegan dengan berbagai warna payet semakin mempercantik baju itu.
“Sayang, aku mau baju ini.” Nining seakan terhipnotis dan hanya menginginkan pakaian itu. Dia tak mau yang lain walaupun Dony sudah mengalihkan pandangannya pada beberapa potong baju yang ada di sana.
Tak berhasil, Dony pun mendekat dan melihat harganya. Seketika itu dia langsung melebarkan bola matanya. “Lima puluh juta? Baju apa motor ini?” gumam Dony kaget setengah mati.
Dia tidak menyangka kalau ada baju semahal itu. Satu baju itu bisa membeli dua motor standar yang dia miliki saat ini.
“Sayang. Kita cari bajunya di tempat lain aja, ya? Siapa tahu di tempat lain yang model seperti ini tapi harganya lebih murah masih ada. Uang Mas gak cukup untuk beli baju ini,” bujuk Dony yang tak ingin menghabiskan seluruh uang tabungannya hanya untuk satu baju yang kurang bermanfaat.
Nining cemberut. Dia menjauh dari manekin baju yang sangat dia inginkan tanpa protes sedikit pun. Namun, dalam hati dia sangat sedih karena tidak bisa memiliki baju itu. Kecewa dan ingin rasanya Nining menangis. Baru kali ini dia meminta dibelikan sesuatu, tapi Dony tidak mau membelikannya.
“Hai, Cantik. Apa kamu mau baju ini? Aku pemilik mall ini. Dan ini untuk kamu, gratis,” sapa seseorang sembari memberinya paperbag berisi baju yang dia inginkan tadi.
Nining mendongak pada orang itu. seorang laki-laki, muda, tampan, baik dan pastinya kaya raya. Sangat berbeda dengan Dony yang tidak ada apa-apanya.
“I—ini untuk aku?” ulang Nining tidak percaya.
__ADS_1
“Iya. Ini untuk kamu. Terima saja,” paksa lelaki itu.
“Kamu serius?” Nining segera menerima dan membuka paperbag itu. “Wah ... bagus banget. Tapi ini mahal, aku gak bisa terima ini begitu aja. Bagaimana kalau kamu kasih aku kerjaan agar aku bisa menerima baju ini,” tawar Nining yang tak mau menerima barang gratisan.
“Ok,kalau kamu tidak mau gratisan. Bagaimana untuk membayar baju ini, temani aku di kamar sempai semalaman?” goda lelaki itu.
Terasa harga diri Dony diinjak-injak mendengar hal itu. Bisa-bisanya ada seorang laki-laki yang merayu wanita di depan suaminya sendiri. Apa dia tak takut dengan suaminya itu?
“Apa maksud kamu? Kamu pikir istriku ini wanita murahan, hah? Dia wanita terhormat yang gak bisa sembarangan menerima barang dan ajakan orang lain,” sungut Dony langsung mencengkeram krah baju lelaki itu.
Bukannya takut, dia malah tertawa. Tersenyum mengejek dia dengan mudahnya melepas jeratan tangan di bajunya. “Gak usah sok hebat. Kalau kamu hebat, kamu gak akan banyak alasan untuk tidak membelikan apa yang dia suka. Aku yakin bukan hanya ini yang gak mau belikan, tapi banyak barang mewah yang gak akan mampu kamu belikan, karena apa? Karena kamu miskin.” Hinaan itu langsung mengena di hati dan harga diri Dony.
Dia bahkan mengangkat tangannya ke atas, segera memukul laki-laki itu.
Sebuah pukulan mendapat di wajah dan ujung bibirnya terdapat darah yang merembes. Nining terpekik kaget melihat Dony memukul laki-laki itu tanpa ampun.
“Ya Tuhan. Mas Dony. Apa yang kamu lakukan? Kamu gak pa-pa?” Nining marah pada Dony dan mendekati laki-laki yang tersungkur di lantai. Dia sangat takut terjadi apa-apa dengan laki-laki itu.
“Lihatlah dia. Dia begitu arogan dan emosional. Aku yakin dia gak akan segan buat mukul kamu kalau kamu membuat dia marah. Yakin kamu masih mau bertahan dengan dia? Atau kamu bersamaku yang sudah pasti jauh lebih baik dari suamimu itu,” ungkap laki-laki itu. Nadanya sangat datar, tapi menyimpan makna yang sangat melukai hati Dony.
Nining melihat Dony yang sedang menahan amarah. Tak ada kelembutan maupun perhatian yang diinginkan oleh Nining. Dia pun mengingat semua yang terjadi selama mereka kenal. Tidak ada barang mahal maupun liburan mewah yang pernah dia terima dari Dony. Justru kesedihan dan penderitaan yang harus dia alami karena terus berhemat dengan gaji sedikit yang dia dapat dari suaminya itu.
“Aku pemilik Mall ini. Sudah pasti aku punya banyak uang. Aku akan menjamin hidupmu. Jangankan baju itu, seluruh tokonya akan aku belikan untuk kamu. Akan aku beri seratus juta untuk setiap bulan. Kamu boleh beli apa saja yang kamu mau, pergi ke mana saja yang kamu inginkan. Pikirkan lagi untuk terus bersamanya. Aku di sini menunggu kamu,” tawarnya lagi membuat Nining bimbang.
__ADS_1
Dia menoleh lagi pada Dony. Kali ini Dony menunjukkan ekspresi seakan mengatakan jangan pergi bersama laki-laki yang baru saja dia kenal itu.
“Nining, Sayang. Jangan terpengaruh ucapan dia. Kamu gak kenal sama dia, jangan kamu ikut dengan dia. Aku suamimu, aku yang akan mencukupi semua kebutuhanmu. Kembalilah padaku dan aku janji akan kerja lebih keras lagi agar aku bisa membelikan barang-barang mewah untuk kamu. Aku janji akan ajak kamu liburan keliling dunia, tapi jangan ikut dia. Dia orang jahat yang ingin memisahkan kita berdua,” bujuk Dony agar Nining tidak masuk perangkap laki-laki itu.
Nining bingung. Sekarang giliran dia melirik laki-laki asing itu.
“Sampai berapa tahun dia bisa mewujudkan apa yang dia janjikan? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Atau tiga puluh tahun? Yang ada ... sekali kamu beli baju mahal atau liburan mewah, tabungan kamu habis. Setelah itu kamu akan hidup miskin dan bisa juga kamu disuruh bekerja untuk menggantikan uang yang sudah kamu pakai. Yakin kamu masih mau hidup bersama laki-laki seperti itu?” Laki-laki itu terus menjelek-jelekkan Dony hingga Nining tak semudah itu menjatuhkan pilihan.
Dia terus saja melirik kedua orang yang sedang mempertahankan dirinya.
“Sayang, jangan dengarkan laki-laki itu. Ikut sama aku dan kita kembali menjalani rumah tangga kita,” rayu Dony menjulurkan tangan agar Nining menyambutnya.
“Pikirkan lagi pilihanmu karena kesempatan gak akan datang dua kali. Pilih dia dan hidup susah atau pilih aku dan hidup bahagia,” sela laki-laki itu dengan angkuh. Dia memasukkan kedua tangan di saku celananya. Sangat yakin bisa merebut Nining dari tangan Dony yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekayaan yang dia punya.
Nining berpikir keras untuk memilih salah satu di antara mereka. Setelah menimbang dan memikirkan semuanya dengan matang, Nining mendekati orang asing itu.
“Ayo kita pergi. Aku ingin hidup bahagia bergelimang harta dan perhatian.” Nining pun pergi bersama laki-laki yang baru saja dia kenal.
Dony tidak menyangka akan ditinggalkan begitu saja oleh Nining hanya karena uang.
“Nining! Nining! Kembali kamu, Sayang. Jangan tinggalkan aku!” Dony meraung mengejar Nining yang kini sudah masuk ke dalam mobi mewah. Terlihat dia sangat bahagia bersama laki-laki itu dan sebaliknya untuk Dony. Dia begitu hancur ketika ditinggalkan Nining. Sakit sekali mendapat perlakuan terhina ini.
“Nining. Kenapa kamu tega sama aku? Lihat saja. Aku akan buat kamu menyesal dengan keputusan kamu ini,” tekad Dony penuh amarah.
__ADS_1