Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
23


__ADS_3

Nining membersihkan tubuhnya dari keringat panas mereka selamam. Banyak tanda merah serta rasa nyeri yang disisakan akibat ganasnya serangan Dony. Tentu saja dia tidak menyesal, diajustru tersenyum bahagia karena hubungannya dengan sang suami sudah membaik.


“Kamu udah bikin aku kalah. Besok gantian aku yang bikin kamu kalah, Mas.” Nining berniat dalam hati membalas permainan mereka. Dia pun segera menyelesaikan aktivitas mandinya serta tak lupa menjalankan kewajiban sebagai umat yang baik.


Entahlah yang dilakukan Dony di saat dia menjalankan subuhnya, tiba-tiba saja Nining melihat tempat tidurnya sudah kosong. Ke mana Dony sepagi ini? Nining penasaran dan segera mencari suaminya tentunya setelah melipat rapi pakaian shalatnya.


“Mas Dony! Mas Dony di mana?” teriak Nining dengan suara yang tidak terlalu keras.


“Iya, Sayang. Mas di sini.” Rupanya Dony ada di dapur. Dia sedang menggoreng nasi serta menyiapkan dua gelas susu coklat kesukaan Nining.


“Waw, enak, nih. Cicipin boleh ga?”


“Boleh, dong. Ini … aaa,” balas Dony mengambil sendok lalu menyuapkan sesendok nasi goreng yang masih ada di atas penggorengan. Tak lupa ditiup lalu dipastikan sudah tidak panas baru dia suapkan pada Nining.


“Hmmm, enak. Enak banget. Oh, iya. Dulu Mas Dony jurusan tata boga, ya? Aku sampai lupa kalau dulu waktu ngapelin suka bawa makanan buatan sendiri,” kenang Nining ketika mereka berkenalan dua tahun yang lalu.


“Masih inget aja. Dulu Mas suka bawain nastar. Terus kamu bilang, ‘Emang lebaran pake bawa nastar segala?’ Terus aku bilang, ‘Emang momen lebaran aja cuma boleh buat nastar?’ habis itu kamu diem. Jutek banget waktu pertama kenal. Eh, sekarang malah gak bisa jauh. Baru ditinggal sebentar udah nyariin aja,” ledek Dony merasa senang dengan sikap Nining yang sudah banyak berubah setelah mereka menikah.


“Kalau gak dicari, takutnya ilang digondol tikus. Kan Mas paling takut sama tikus. Apalagi kalau tikus kecil yang larinya cepet. Pasti Mas kalang kabut sampe lupain aku.” Nining melipat kedua tangan di depan dada setiap kali ingat Dony yang melupakan dirinya saat pertama kencan. Mereka datang ke kafe untuk makan malam, tapi melihat mainan tikus di lantai, seketika Dony mengambil langkah seribu dan meninggakan Nining seorang diri.


“Iya, ya? Malu banget waktu itu. Mas sampai teriak histeris terus lari terbirit-birit gara-gara anak iseng yang bawa mainan tikus. Besoknya kamu ngambek sampe seminggu. Eh, pas dibawain nastar buatan Mas … langsung luluh, deh. Emang seenak itu nastar buatan Mas sampai bikin kamu yang ngambek mendadak maafin Mas?” Dony penasaran. Semenjak dia menikah dan bekerja dan naik jabatan, tidak pernah lagi memegang alat-alat di dapur.

__ADS_1


“Biasa aja, sih. Ya … cuma kasihan gitu. Masa udah mohon-mohon, ngrayu-ngrayu sampe seminggu masih gak dimaafin. Takutnya frustasi dan bunuh diri,” kekek Nining sambil tertawa meledek.


“Iya, deh, iya. Emang, sih. Kalau waktu itu kamu gak maafin Mas, rencananya mau beli sianida terus ngopi bareng. Habis … kamu marahnya gak ketulungan. Takut Masnya.” Asyik membicarakan masa lalu, sampai Dony lupa dengan nassi gorengnya. Gosong, deh.


“Mas, gosong.” Nining segera mematikan kompor dan melihat bagian bawah nasi gorengsudah berubah warna menjadi hitam. Untungnya Dony memakai api kecil sehingga masih bisa diselamatkan nasi gorengnya.


“Kamu, sih. Pake ngenang cerita kita dulu. Kan Mas jadi lupa sama masakannya. Enak ga, ya?” Dony mengambil lagi satu sendok nasi goreng lalu mencicipinya. Hmmm, tapi masih enak, kok. Gak gosong banget.”


Nining penasaran. Dia pun mendekat dan mencicipinya lagi dan ternyata masih enak. Bahkan jauh lebih enka jika dimakan bersama keraknya yang sudah berwarna sedikit gelap. Nining sampai nambah dua kali karena nasi goreng buatan Dony sangat enak.


“Lapar apa doyan?” Dony mengelap nasi yang ada di bibir Nining. Dia sudah menghabiskan dua piring nasi goreng dan dia melihat Nining masih ingin makan lagi.


“Laper sama doyan juga. Habis enak banget, sih. Masih ada lagi gak?” Nining dengan manja meminta lagi nasi goreng yang ada di piring Dony.


“Pake syarat-syarat segala. Nyebelin,” omel Nining kesal. Dia cemberut dan itu membuatnya semakin menggemaskan. Dony suka hal itu.


“Habis kamu nggemesin banget kalau cemberut. Mas kangen sama cemberutnya kamu. Syaratnya gampang, kok. Cuma tiga.”


“Banyak banget tiga. Apa aja?” Nining semakin kesal dibuatnya.


“Pertama. Ini.” Dony menunjuk bibirnya dengan isyarat meminta jatah di pagi hari.

__ADS_1


Seketika wajah Nining berubah merona. Dia malu lalu menutup mukanya dengan kedua tangan. Gaya manjanya keluar dan itu membuat Dony ingin menggigitnya karena gemas.


“Malu,” jawab Nining dengan gayanya yang khas anak kecil kesukaan Dony.


“Kenapa malu? Di sinikan cuma ada kita berdua. Lagian … kalau ada suami istri saling menyentuh, itu dosa-dosanya berguguran dari jari-jarinya. Dan juga … pahala tahu menyenangkan hati suami.”


Nining ragu dan juga malu. Walaupun mereka bukan pengantin baru lagi. Rasanya tabu jika dia yang mendekat dan menyentuh Dony duluan. Biasanya Dony yang akan merayu serta menunjukkan jurus seribu rayuan barulah dia mengikutinya. Namun, kali ini dia yang harus mendekat dan mengecup bibir Dony. Rasanya aneh saja bagi Nining.


“Emmm, tapi tutup mata ya?” pinta Nining ragu, tapi berusaha menuruti permintaan Dony.


Dony pun menurut. Dia menutup kedua matanya. Perlahan Nining mendekat. Ragu-ragu dan malu, dia melihat wajah suaminya dari dekat. Jauh lebih tampan dan dia baru menyadari hal itu. Alisnya yang hitam, mukanya yang mulus, hidungnya yang mancung semakin menambah rasa cinta di hati Nining.


Berbeda dengan Nining yang sedang memberanikan diri melawan rasa takutnya, Dony mulai tidak sabar. Dia mengintip sedikit. Ada Nining di depan badannya. Dony tak mau menunggu lagi. Dony menarik tubuh Nining untuk duduk di atas pangkuannya lalu meraup bibirnya yang ranum.


Nining kaget bahkan membola sempurna. Tindakan Dony yang tidak dia duga membuat jantungnya berdegup sangat kencang, tapi dia tak bisa menolak aksi Dony pada bibirnya tersebut. Perlahan dia menikmati setiap sentuhan Dony dan dia mulai membalasnya lembut. Mereka hanyut hingga lupa waktu. Bahkan, Nining sampai melupakan nasi goreng yang dia inginkan itu.


Lama mereka melampiaskan rasa rindu mereka hingga matahari mulai menampakkan diri. Nining mulai kehabisan napas, pelan dia pun melepas penyatuan bibir mereka.


“Kamu gak bisa napas, ya? Sini Mas kasih napas buatan,” goda Dony sekali lagi saat melihat Nining dengan rakus mengambil napas dengan dada naik turun.


Nining cemberut. Bisa-bisanya dia kalah lagi. Padahal dia ingin membalas permainan Dony semalam, eh, dia lagi-lagi kalah. Dua kosong, deh.

__ADS_1


‘Pokoknya nanti malam aku gak boleh kalah. Aku akan buat Mas Dony yang kewalahan,’ tekad Nining dalam hati. Rasanya malu ditertawakan terus oleh Dony dan dia ingin membuktikan kalau dirinya bisa juga membuat Dony kewalahan di atas ranjang.


__ADS_2