Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
56


__ADS_3

Dony menunggu sambil dudukmemandangi istri yang tengah mengandung buah hati mereka. Seandainya sampai Nining tidak bangun juga alias kebablasan, Dony pun akan rela menunggu.


“Hmmm.” Nining meregangkan tangan ke atas lalu membuka mata. Dia sangat kaget begitu bangun sudah ada di kamar dan dia semakin terkejut saat melihat Dony sedang duduk di bawah sambil tersenyum melihatnya. “Mas Dony. Kenapa duduk di bawah?”


“Nungguin kamu. Maaf, ya. Mas lama. Cuma ada satu yang buka.”


“Ya Tuhan, Mas. Harusnya Mas pulang aja kalau gak ada sate ayam madura. Aku bisa makan yang lain. Mas pasti capek sama ngantuk, mau aku buatin kopi atau minuman segar?” Nining mengkhawatirkan Dony.


“Gak usah. Lebih baik sekarang kamu makan. Sate ayam maduranya sudah ada di ruang tamu. Kamu udah nunggu lamakan?” Dony langsung menggendong tubuh Nining dan Nining pun mengalungkan tangan di leher sang suami. Dia sangat bahagia mendapatkan laki-laki yang siaga menjaga. Dia suami sempurna yang tidak akan pernah Nining sia-siakan.


***


“Enak?” Dony melihat Nining makan begitu lahap. Terselip rasa sakit dan bersalah melihat istrinya kelaparan seperti itu dan tak terasa air matanya pun menetes tanpa bisa ditahan.


Bulir bening itu jatuh mengenai tangan Nining yang saat itu sedang berada di atas meja. Nining menoleh dan melihat Dony yang mengusap pipi yang basah.


“Lho, Mas, kok, nangis? Mas kenapa? Sakit?” Nining khawatir.


“Enggak.” Dony memegang tangan Nining lalu menempelkannya ke pipinya sendiri. “Maafin Mas, ya? Gara-gara Mas telat bawa makanannya, kamu dan anak kita jadi kelaparan,” sesal Dony.


Tak bisa dia bayangkan anak dan istrinya harus menahan lapar beberapa jam dan itu pasti tidak mudah. Apalagi untuk ibu hamil dan calon anak yang masih kecil.


Nining tersenyum lalu mengusap pipi Dony dengan tangan satunya. “Enggak, Mas. Kita gak selapar itu. Cuma semangat aja. Kitakan kuat, ya kan, De?” Nining mengusap perut sebagai tanda mereka kompak.


“Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung ngomong aja ke Mas. Mas pasti akan langsung belikan dan lakukan semua yang terbaik untuk kalian. Sayang, maafin Papa, ya? Papa sayang banget sama kalian,” ucap Dony sembari mengusap perut Nining.


Hari berlalu sangat cepat. Tak terasa sudah memasuki bulan terakhir. Dony dan Nining sudah berbelanja keperluan calon anak mereka.


“Udah lengkap semua. Jadi kalau suatu saat terasa pembukaan, kita langsung bawa tas ini dan ke rumah sakit.” Nining mengingatkan sambil menaruh tas itu di lemari bagian bawah.


“Iya, Sayang. Tapi jangan kamu juga yang bawa. Tinggal suruh Mas aja. Sini tasnya.” Dony mengambil tas lalu menaruhnya di lemari.


Tiba-tiba perut Nining terasa sakit. Dia menahannya sekuat tenaga karena sejak tadi dia pun merasakan hal yang sama. Namun, kali ini tidak cepat mereda. Padahal sejak tadi lima menit sakit, nanti sembuh lagi. Sekarang satu menit sakit tapi tidak berkurang juga sakitnya.


Sebisa mungkin dia tersenyum menyembunyikan rasa sakitnya agar Dony tidak panik. Selalu Dony lebih panik dari dirinya setiap kali Nining mengeluh sakit. Nining mengambil napas lalu mengeluarkannya perlahan untuk mengurangi rasa sakit. Lima kali dia lakukan seperti itu, tapi tidak ada hasil.

__ADS_1


‘Sakit banget. Tapi kenapa sakitnya gak berkurang? Apa ini tanda-tanda mau melahirkan? Memang tadi pagi udah ngeflek, sih. Dan sekarang sakitnya mulai jeda sebentar. Apa aku bilang ke Mas Dony untuk bawa aku ke rumah sakit?’Nining bingung, dia hanya bergumam dalam hati sambil melihat Dony yang kebingungan dengan apa yang akan dia lakukan lagi.


Walaupun belum yakin karena ini pengalaman pertama, Nining memberanikan diri untuk mendekati Dony. Tentunya menahan sakit yang kian lama kian terasa nikmat.


“M—Mas. A—apa Mas bisa bawa aku ke rumah sakit?” tanya Nining menahan sakit yang semakin terasa sertiap kali dia bicara.


”Sayang. Kamu mau melahirkan?” Dony panik dan langsun menggendong Nining.


Terlihat Nining tidak bisa lagi bicara, menahan sakit membuatnya terus meremas punggung Dony yang sedang membawanya menuju depan.


Sesampainya di depan rumah, kebetulan ada angkot, Dony pun segera menyetopnya. Dony langsung naik bersama Nining.


“Mau melahirkan, ya, Mas?” tanya satu-satunya penumpang. “Mas ayo cepat ke rumah sakit. Gak usah peduliin saya, yang penting bawa dia dulu ke rumash sakit,” pinta penumpang itu lagi.


“Terima kasih, Bu.” Dony sangat beruntung bertemu penumpang baik hati itu. Angkot pun segera menuju rumahsakit terdekat.


Dalam lima menit mereka sudah sampai. Tak hanya meminta Dony dan Nining diutamakan, penumpang itu pun membayari Nining dan Dony agar mereka bisa segera mengurus persalinan Nining.


Nining didorong menggunakan brangkar dan segera diperiksa. Ternyata Nining sudah memasuki pembukaan sepuluh. Artinya Nining sudah siap melahirkan. Dony setia menunggui Nining di ruang persalinan.


Penuh perjuangan, bahkan Dony sampai menangis melihat perjuangan Nining melahirkan kedua anaknya. Dia tidak tega melihat Nining berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk sang buah hati. Dony lebih cengeng dan karena hal itu, dia yang ditenangkan untuk keluar oleh suster yang menemani persalinan.


“Yang kuat,Pak. Ibunya harus dikuatkan, Bapak juga harus kuat,” bisik suster di telinga Dony agar Nining mempunyai banyak tenaga. Mendengar hal itu, Dony mengusap air matanya. Walaupun sesungguhnya dia tidak rela Nining menahan sakit yang sangat dahsyat, dia pura-pura kuat.


“Sayang. Lihat anak kita sudah menunggu untuk melihat kita berdua. Yang kuat, ya, Sayang. Kamu pasti bisa. Cup.” Dony mengecup kening Nining penuh ketulusan.


Sungguh keajaiban. Nining bisa mengejan dengan lancar dan lahirkan anak pertama mereka yang berjenis kelamin perempuan. Tak lama disusul dengan anak kedua mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Nining istirahat, disambut dengan tangis dari ketiga orang yang sangat Nining sayang. Siapa lagi kalau kedua anak serta suaminya.


“Alhamdulillah, ya, Allah. Engkau telah mengaruniai kami dua anak yang sangat lucu.” Dony memeluk mesra istri yang sudah sangat berjasa menjadikannya seorang ayah.


Nining tersenyum. Rasa sakit itu seketika menghilang saat mendengar tangis anak-anaknya. Kedua anak mereka sedang ditimbang lalu membawanya untuk IMD. Kedua anaknya diletakkan dia atas dada Nining agar bisa menyusu sendiri dan benar saja, kedua anak Nining langsung bisa mendapatkan ASI mereka. Dony siaga memegangi kedua anak serta istrinya.


Nining masih lemas, tapi dia belum boleh tidur. Setelah dua jam, barulah dia boleh tidur. Nining pun bertahan hingga dua jam ke depan, setelah itu baru dia bisa mengistirahatkan badannya.


Dony menelpon kedua orang tua dan mertuanya. Mereka pun segera datang untuk melihat cucu pertama dan kedua mereka.

__ADS_1


“Dony selamat, ya. Kamu sudah menjadi ayah. Itu artinya tanggung jawab kamu semakin besar. Anak adalah titipan. Berhubung anak kamu laki-laki dan perempuan, kamu harus mengeluarkan tiga kambing untuk aqiqah. Cara mendidiknya pun berbeda. Kamu jangan sampai salah, ya,” ucap Arya mengingatkan.


“Iya, Pak. Aku akan sudah mempersiapkan tiga kambing untuk mereka. In sya Allah setelah tujuh hari, kami akan mengadakan syukuran dan aqiqah anak kami.”


***


Sri di penjara karena tindakannya yang kriminal sudah menusuk Dony dengan gunting. Dia mendapatkan perlakukan yang buruk selama di penjara. Dia disuruh memijat napi senior danjatah makannya pun dirampas. Sering sekali dia tidak bisa tidur karena perut yang lapar.


“Rasain kamu. Emang enak tinggal di penjara. Udah enak punya suami kaya dan baik, malah mau curi suami orang. Tidur sana di lantai. Ini kawasan kami. Kamu gak boleh tidur di sini,” hina napi senior. Mendorong tubuh Sri hingga terjengkang di lantai.


Sri meringkuk di pojok ruangan, memegangi perutnya yang melilit. Dia menangis. Menyesal tidak bersyukur dengan semua yang dia dapatkan dulu.


‘Ya Tuhan. Inikah balasan atas perbuatan saya dulu? Saya sering menyuruh Mas Lucky sesuka hati. Mengabaikannya bahkan membencinya. Sekarang saya di penjara sangat menderita. Tuhan, beri saya kesempatan satu kali lagi. Saya akan berubah dan akan mencintai Mas Lucky sepenuh hati,’ sesal Sri dalam hati dengan lelehan air mata.


Penyesalan selalu datang terlambat. Sering kali merasa apa yang didapat tidak membuat bahagia. Padahal di luar sana, apa yang dipunyai menjadi impian orang lain dan itu yang terjadi pada Sri.


“Saudara Sri. Ada yang menjenguk,” ucap penjaga penjara. Dia membuka pintu lalu menyuruh Sri untuk ikut dengannya.


Sri pun ikut dan melihat Lucky sedang duduk di bangku ruang tunggu tahanan. Sri sangat senang melihat suaminya menjenguk. Dia langsung menghambur ke pelukan Lucky dan meminta maaf dengan semua yang sudah terjadi.


“Mas. Saya kangen sama kamu. Mas kangen juga sama saya makanya Mas sengaja datang ke sini untuk menjenguk saya?” tanya Sri sangat senang. Dia berharap bisa membina rumah tangga dengan membuka lembaran yang baru.


Tanpa disangka, Lucky melepas pelukan Sri dan memandangnya dingin. “Maafkan aku. Bukan itu maksudku datang menemui kamu. Aku ke sini untuk memberikan ini.” Lucky memberikan sebuah surat dan Sri pun langsung membukanya dengan jantung yang berdebar tidak menentu.


“Apa ini Mas?” Sri membuka surat itu dengan perasaan takut. ”Gugatan cerai? Enggak, Mas. Saya gak mau cerai dari Mas. Tolong jangan ceraikan saya. Saya menyesal, tolong berikan saya kesempatan satu kali lagi. Saya akan memperbaiki semuanya. Saya mohon, Mas,” harap Sri dengan penuh harapan.


Sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak mau Sri kehilangan semuanya.


“Maafkan aku. Aku tidak bisa memberikan kamu kesempatan kedua. Kalau kamu mengkhianati aku, aku masih bisa terima. Tapi yang kamu lakukan sangat keterlaluan. Kamu sudah memfitnah Dony dan kamu juga sudah menusuknya sampai dia masuk rumah sakit. Kamu tahu kalau Dony sahabat baik aku, tapi apa yang kamu lakukan?” Lucky tidak bisa menahan emosi setiap mengingat apa yang dilakukan pada Dony sahabat dekatnya.


”Maafkan saya, Mas. Tolong maafkan saya. Saya khilaf,” rengek Sri sambil bersimpuh di kaki Lucky yang ingin pergi dari penjara itu.


Melihat Sri, membuatnya marah. Namun, dia tak mau berbuat keributan. Lucky pun memilih pergi tanpa berkata apa-apa. Lagi pula perceraian sudah terjadi tanpa sepengetahuan Sri. Mereka sudah resmi cerai dan dia hanya ingin memberitahu itu semua.


Sri ditinggal sendirian dengan penuh penyesalan dan air mata. Sedangkan Lucky pergi untuk melanjutkan hidup. Terkadang apa yang diinginkan tidak harus dimiliki karena itu bukan yang terbaik untuk diri sendiri.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2