Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
36


__ADS_3

”Di mana minyaknya, ya? Nah, itu dia.” Sri pun menuangkan minyak di bawah westafel agar ketika Nining mencuci, dia terpeleset dan jatuh.


Setelah menyelesaikan rencananya, bergegas Sri kembali. Dia tak mau ketahuan, tapi masih akan berada di sana untuk melihat Nining terjatuh.


***


“Sayang. Kalau capek, nanti Mas aja yang cuci piringnya,” tawar Dony, tak mau istrinya kecapekan.


“Gak pa-pa, Mas. Aku gak capek, kok. Kaliankan jarang bertemu, ngobrol aja, biar aku yang cuci piring,” jawab Nining dengan senyuman. Nining pun meninggalkan ruang tamu menuju dapur.


Sri duduk di samping suaminya, sesekali dia melirik Nining yang akan menuju dapur. Lirikannya sangat senang, berharap dia akan melihat Nining jatuh dan kesakitan.


“Sebentar, ya. Aku gak tega kalau biarin Nining nyuci sendirian. Nanti aku kembali,” pamit Dony langsung bangun menuju dapur.


“Iya, gak pa-pa. Kita juga mau pamit dulu. Terima kasih atas jamuan makan paginya,” ucap Lucky.


Sri cemberut. Belum juga drama yang dia buat terjadi, suaminya malah mau pulang. Tidak asyik sekali.


“Ayo Sayang, kita pulang. Bukankah kamu mau dibelikan es krim yang lagi viral itu?” ajak Lucky yang ingat semalam Sri minta dibelikan es krim di sebuah Mall.


“Iya, Mas. Ayo kita pulang.” Antara senang dan tidak, Sri pun tak bisa mengelak karena takut ketahuan. Mereka berdua pun akhirnya pulang.


***


Dony melihat Nining sedang mencuci piring. Ketika Nining akan bergeser ke kanan, tiba-tiba Nining terpeleset. Segera Dony mendekat dan menangkapnya agar tidak jatuh.


“Aaa,” teriak Nining sangat cemas dan khawatir. Membayangkan dirinya jatuh di atas lantai yang keras pasti sakit sekali.

__ADS_1


“Hap, ketangkep. Untung bisa Mas tangkep. Hebatkan Mas nangkepnya?” canda Dony agar Nining tertawa dan melupakan kejadian barusan.


“Mas ini bisa aja. Makasih,” jawab Nining tertawa.


Terlalu senang membuat Dony enggan melepas pelukannya. Bahkan kali ini dia menggendong Nining dan membawanya ke kamar.


“Mas. Mas mau bawa aku ke mana?” tanya Nining.


“Kamu istirahat dulu. Dari kemarin kamu capek ngerjain tugas rumah, jadi hari ini mumpung Mas libur, biar Mas aja yang ngerjain tugas rumah. OK. Oh, iya. Kaki kamu pasti sakit gara-gara terpeleset tadi. Mas akan pijat kaki kamu.”


“Gak usah, Mas. Aku udah biasa. Gak pa-pa, kok.” Nining merasa tak enak jika suaminya mengerjakan pekerjaan rumah sendirian sedangkan dia enak-enakan istirahat. Dia pun ingin menyelesaikan tugas rumahnya seorang diri.


“Pokoknya gak boleh. Kamu harus istirahat dan diam di kamar. Ini perintah! Titik,” paksa Dony yang tak mau Nining terlalu capek.


Mau bagaimana lagi? Nining pun tidak bisa menolak, dia istirahat di kamar.


“Sudah sampai.” Dony meletakkan tubuh Nining di atas kasur dengan pelan-pelan. Dia duduk di sampingnya dan memijat kaki Nining satu demi satu.


“Gak pa-pa. Sini kakinya. Pijatan Mas enak, lho? Atau kamu gak mau dipijat sama Mas, ya? Mas tersinggung, lho, kalau kamu gak mau terima pijatan Mas,” rajuk Dony pura-pura. Tak lain agar Nining mau dipijat olehnya.


“Bukan begitu, Mas. Aku gak enak. Harusnya aku yang pijetin Mas, masa Mas yang pijetin aku.”


“Suami istri itu harus saling. Saling membantu mengerjakan tugas rumah, saling pijat kalau lagi sakit dan nanti kalau kita punya anak, saling menjaga anak, mendidiknya juga. Benarkan?” Dony ikhlas. Dia tidak pernah menganggap tugas istri membersihkan rumah. Dia selalu menerapkan pada diri sendiri kalau membersihkan rumah adalah tugas bersama, bukan hanya tugas istri atau ibu.


Dony pun memijat lembut kaki Nining. Terasa sedikit sakit, tapi enak. Tanpa terasa Nining pun keenakan dan terlelap karena pijatan Dony.


“Kamu tidur, ya, Sayang? Kamu pasti kecapekan, kasihan kamu. Maafin, Mas, ya? Mas belum bisa sewa ART untuk membantu meringankan tugas kamu di rumah. Tapi Mas janji, Mas akan selalu bantu kamu. Sekarang kamu tidur dulu, biar Mas yang selesaikan semuanya. Cup.” Dony mengecup kening Nining lalu menyelimuti istri tercintanya itu. Kemudian dia pergi untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai.

__ADS_1


***


Di dapur, Dony menemukan minyak yang sangat banyak. Dia merasa aneh melihat minyak itu. Kalau tidak sengaja tumpah, pasti botol minyaknya ada di dekat genangan minyak itu. Namun, ini berbeda. Botol minyak ada di tempat penyimpanan di atas.


“Minyak di lantai? Ada yang aneh. Ini seperti—“ Dony mencurigai sesuatu yang janggal. Dia pun melihat sekitar, siapa tahu ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti.


“Apa ini?” Sebuah cincin dengan mata berlian kecil jatuh tak jauh dari genangan minyak itu. “Cincin ini sepertinya gak asing. Tapi punya siapa, ya?” Dony berusaha keras mengingat pemilik cincin itu, tapi dia masih belum ingat. Dia pun memilih untuk menyimpan cincin itu untuk dia cari lagi nanti. “Masalah cincin ini … aku simpan dulu aja. Kalau pemilik cincin ini ketemu, berarti dia yang sudah berusaha mencelakai Nining. Sekarang aku harus membersihkan rumah dulu.”


Dony membersihkan rumah, mulai dari mengelap genangan minyak agar tidak ada korban lagi. Mencuci piring, menyapu dan mengepel. Baju sudah dicuci dan dijemur, sehingga semua pekerjaan sudah selesai.


***


Sri kelimpungan mencari cincin berliannya yang hilang di rumah Nining saat menuang minyak. Cincin itu memang kebesaran, tapi Sri ngotot ingin yang itu sehingga Lucky pun membelikannya. Semua kamar diobrak-abrik. Bahkan dia beralih ke ruang tamu untuk mencari cincin itu.


“Sayang. Kamu cari apa?” tanya Lucky yang melihat Sri sedang memberantaki bantal yang ada di ruang tamu.


“Cincin. Cincin berlian saya hilang. Ayo bantu cari. Itu cincin yang saya suka. Jangan sampai hilang,” jawab Sri dengan cemas dan takut. Dia tak mau kehilangan cincin itu.


“Cincin yang kebesaran itu?”


“Bukan kegedean, tapi jari saya belum gede,” protes Sri. Dia memang selalu protes jika dibilang cincin itu kebesaran di jarinya.


“Iya-iya. Cincin yang jarinya masih belum gede ilang? Teraskhir ditaruh di mana?” tanya Lucky sambil terus mencari di sela-sela sofa.


“Gak tahu, saya lupa. Terakhir kali saya simpan di kamar. Tapi sekarang di kamar gak ada. Pokoknya cincin itu harus ketemu. Saya suka banget sama cincin itu.”


Semua tempat sudah dicari, tapi tidak ada hasilnya. Sri pun sangat marah dan terus mengomel pada Lucky.

__ADS_1


“Saya tidak mau kehilangan cincin itu! Pokoknya kamu harus cari cincin itu. Temukan cincin itu di manapun berada. Kalau kamu tidak menemukannya, saya tidak mau bertemu dengan kamu lagi. Saya benci kamu. Benci-benci-benci,” keluh Sri penuh emosi dan sedih. Dia berteriak sangat keras hingga tenggorokannya terasa sakit. Setelah capek teriak, Sri malah menangis.


Samar Dony mendengar Sri mengatakan cincin berlian. Dony merasa itu adalah cincin Sri.


__ADS_2