
Nining mempunyai sebuah cara ampuh. Dia harap kali ini rencananya akan berhasil, tapi itu hanya bisa dilakukan untuk esok harinya.
Sore tiba. Sekarang waktunya Nining untuk menjemur baju.
“Lho, kok, bajunya belum diangkat?” tanya Nining heran. Dia meletakkan kembali keranjang berisi baju basah yang sudah siap untuk dijemur. Kesal, marah dan emosi sudah pasti. Sudah menunggu lama, nyatanya Sri tidak juga mengambil bajunya, padahal Nining menunggu bajunya cepat kering karena ada baju yang ingin dia pakai.
Hari sudah semakin sore, terlihat awan hitam mulai berkumpul, matahari pun bermain petak umpet dengan sang awan.
“Udah mau hujan. Aku harus cepet jamur baju agar cepat kering. Baju ini mau aku pakai untuk kondangan,” keluh Nining pada Sri yang seenaknya sendiri. Memperhatikan baju Sri yang penuh di jemurannya.
“Daripada bajuku gak kering, aku angkatin aja, deh, bajunya.”
Baju-baju tebal dan besar itu pun terpaksa diangkat oleh Nining agar dia bisa secepatnya menjemur baju miliknya. Cukup berat dan kesusahan karena baju-baju itu berukuran jumbo serta berat walaupun sudah kering. Tubuh kurus Nining sampai hampir jatuh karena tidak kuat membawa semua baju Sri.
“Alhamdulillah selesai semua. Sekarang waktunya jemur baju.”
Tak lama setelah baju itu diangkat, Sri datang.
“Wah, ternyata udah diangkatin. Terima kasih, Mba. Oh iya. Lain kali jangan suka ambil jemuran orang. Itu karma buat Mba karena udah ambil jemuran saya. Mas Dony gak pulang dan hubungan kalian hancurkan? Itu karma, lho. Hati-hati, jangan sampai diulang lagi, ya,” ujar Sri sangat menyebalkan. Dia berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah.
Tanpa rasa bersalah, dia membawa semua bajunya yang dimasukkan ke dalam keranjang milik Nining. Setelah pergi meninggalkan Nining dengan segala kesibukannya
“Untung ada keranjangnya Mba Nining, jadi aku gak usah kesusahan bawa baju-baju ini.” Sri tidak mengatakannya langsung pada Nining saat meminjam keranjang bajunya karena dia sangat yakin Nining akan meminjamkanya.
Di halaman rumah Nining, Nining mencari keranjang baju yang tadi dia pakai untuk menampung semua baju basahnya. Tadi ada, sekarang tidak ada. Nining tak tahu kalau yang ambil adalah Sri sehingga dia ketakutan.
__ADS_1
”Keranjangku ilang lagi? Yah, udah dua kali keranjangku ilang terus. Padahal tadi aku lihat ada di sini.” Nining mengingat-ingat siapa yang datang dan mengambil jemuran “Eh, tunggu. Tadi kan ada Sri. Apa Sri yang ambil keranjangku?” pikir Nining. Semua mengarah pada Sri karena hanya ada mereka berdua.
“Kalau Sri yang pinjam, kenapa dia gak bilang padaku?” Nining bingung tapi yakin kalau Sri yang mengambilnya tapi dia tak berani mendatangi Sri untuk mengambil keranjangnya. Dia membiarkan begitu saja keranjang-keranjangnya hilang.
***
“Kali ini aku gak boleh kecolongan lagi. Aku akan jemur baju di pagi hari sebelum adzan subuh.”
Adzan subur belum berkumandang, tapi Nining sudah mencuci baju. Dia segera keluar untuk menjemur agar tidak keduluan Sri.
“Masih sepi. Gelap juga. Jadi merinding,” ucap Nining mengintip dari balik tirai. Memang benar Sri belum ada sebelum adzan subuh. Nining sebenarnya takut, tapi terpaksa. Daripada nanti bajunya tidak kering, lebih baik dia menjemur baju sekarang. Tentunya dengan jurus secepat kilat.
“Mba Nining. Ngapain Mba di sini?” tanya Sri pada Nining yang hampir selesai dengan jemurannya.
“Ih, kok, kayakgitu? Terus nasib bajuku gimana?” keluh Sri sembari membawa baju basah. Dia meletakkan keranjang bajunya ke bawah dengan keras disertai kemarahan.
“Ya, maaf. Aku ada keperluan jadi harus pakai baju ini. Makanya aku jemur pagi-pagi biar nanti sore bisa dipakai. Permisi,” pamit Nining tidak mau berdebat dengan Sri.
“Eh, tunggu, Mba! Jangan curang gitu, dong. Pelit banget jadi tetangga. Masa pinjem jemuran aja gak boleh. Sok banget, sih, jadi orang! Baru juga tinggal di sini setahun, lagaknya udah kayak asli orang pribudi. Jadi tetangga itu berbagi, jangan pelit kayakgitu,” lengking Sri di pagi hari.
Mendengar Sri bersuara sangat keras, Nining malu. Dia tak ingin mengganggu tetangganya apalagi sepagi ini. tapi Sri nampaknya tak peduli dengan semua itu.
“Mba, tolong jangan teriak-teriak. Ini masih pagi, masih banyak orang yang belum bangun.”
“Kenapa? Malu? Makanya jangan cari masalah. Jangan pelit jadi orang. Pinjem jemuran aja gak boleh,” timpal Sri geram.
__ADS_1
“Iya, aku minta maaf.” Nining tak mau mencari masalah, dia pun masuk dan membiarkan Sri marah-marah sendirian.
“Dasar pelit. Awas, ya, kamu.”
Sri sangat marah. Sia-sia dia bawa baju basah capek-capek tapi tidak jadi dijemur. Tahu seperti ini, dia tak akan bangun sepagi ini. Biasanya dia bangun siang. Karena ada misi untuk mengerjai Nining, dia jabanin agar Nining kesal. Siapa sangka setelah beberapa hari berhasil, hari ini dia gagal. Kesal, gondok dan emosi sekali. Ingin dia cubit hingga berdarah.
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Sri berkumpul dengan tetangga saat menunggu tukang sayur lewat. Ibu-ibu pada umumnya, membicarakan apa saja agar tidak membosankan ketika menunggu.
“Eh, tahu gak, Bu. Mba Nining di sebelahku itu, orangnya pelit banget. Masa saya pinjem jemurannya aja gak boleh,” mulai Sri mengingat kejadian tadi pagi.
“Ah, masa Mba? bukannya Mba Nining itu orangnya baik dan dermawan,” sangkal salah seorang teman Sri yang tetanggaan juga dengan Nining.
“Iya, bener. Sama saya saja suka ngasih. Mba kali yang pinjemnya gak sopan makanya dia gak ngebolehin.”
“Iya bener. Orang dari kemarin saya lihat Mba Nining jemur baju sore-sore padahal mau ujan. Katanya jemurannya ada yang minjem tapi dia gak tahu siapa yang minjem. Dia gak marah, tuh. malah senyum ramah dan biarin orang itu pinjem jemurannya sampai bajunya kering. Jangan-jangan Mba Sri yang pinjem jemuran Mba Nining diem-diem, ya?” tuduh ibu yang lain menyudutkan Sri.
“Ih, apaan, sih, Bu? Kok, jadi saya yang dijulidin? Harusnya Mba Nining yang dijulidin. Dia itu pelit. Pinjem jemuran aja gak boleh,” debat Sri tidak mau disalahkan.
“Kalau eke jadi Mba Nining juga pasti gak bolehlah. Orang jemurannya mau dipake sendiri masa dipinjemin. Bisa gak kering baju-baju eke yang mahal-mahal dan bagus-bagus itu. Secara semua pakaian yang eke punya branded semua, jadi gak akan eke rela minjemin ke orang lain. Kalian tahukan kalau jemur baju mahal itu beda caranya. Gak bisa kena matahari langsung, bisa sensitiv gitu,” saut ibu-ibu rempong yang lain.
“Betul itu. Kalaupun bukan baju mahal, udah pasti kalau kita punya baju yang akan dijemur, gak akan dipenjemin itu jemuran. Kalau dipinjemin, gimana kita mau jemur, ya, gak, Bu? Bisa-bisa gak kering kita punya pakaian,” bela yang lain juga. Semua membela Nining seakan tahu kalau Sri sudah mencurinya sangat banyak.
“Kalian ini nyebelin banget. Udahlah, saya mau masuk. Males cerita sama kalian yang gak seiya sama saya. Dah,” ucap Sri kesal. Dia meninggalkan gerombolan ibu-ibu dengan sombong.
“Kurang ajar. Pake ilmu apa Nining sampe semua tetangga pada bela dia semua. Ini gak bisa dibiarin. Saya harus beri dia pelajaran.”
__ADS_1