
“Gak usah ke rumah sakit. Di rumah aja. Minum obat juga nanti sembuh,” tolak Sri yang tidak mau disuntik oleh dokter. Dia masih pura-pura lemas agar tidak ada yang curiga kalau sakit perutnya hanya pura-pura.
“Kalau begitu, makan di rumah kami aja. Habis makan terus minum obat. Kalian belum masakkan?” Nining memberi usul.
Tanpa disadari semua orang, Sri melirik dengan kesal. Bukannya semakin berhasil dengan rencananya, dia malah terjebak sendiri. Mana sempat dia masak. Yang ada dia baru sikat gigi. Lucky pun baru selesai beres-beres.
“Ide bagus. Ayo kita makan di rumah Nining. Pasti kamu bisa langsung sembuh. Dony selalu memuji masakan Nining, aku jadi penasaran. Seberapa enaknya makanan buatan Nining sampai Dony rela gak makan sebelum sampai di rumah dan makan makanan istrinya,” puji Lucky yang baru saja diceritakan oleh Dony.
“Ah, Mas Dony terlalu berlebihan. Mana ada aku masak biasa aja.” Nining merendah.
‘Ih, nyebelin banget. Sok, ngerendah padahal itu niatnya. Dasar licik. Hmmm, saya punya ide bagus. Saya akan buat drama yang bagus saat makan nanti,’ niat dalam hati. Tentu bukan niat yang baik, niat buruk semuanya.
***
Nining dan Dony duduk bersebelahan, di sampingnya ada Sri dan Lucky. Mereka mulai mengambil makanan mereka satu per satu. Ada Lucky yang mengendus aroma makanan yang sangat wangi, sedangkan Sri melengos malas. Walaupun dalam hatinya dia memuji, tidak akan dia lakukan.
“Sayang. Kamu suka ikan bakar madukan? Ini Mas suapi. Aaa,” ujar Lucky menyuapkan nasi dan sangat banyak daging ikan bakar madu yang sangat wangi dan kaya rempah dan bumbu. Dari jauh saja sudah tercium wangi dan enaknya apalagi dari dekat. Tanpa sadar Sri membuka mulut dan mengunyahnya.
‘Hmmm. Enak banget. Kok, bisa seenak ini? Bumbunya banyak tapi gak enek. Dagingnya empuk dan gak amis. Enak banget. Apa masakan restoran mahal kayakgini rasanya,’ gumam Sri dalam hati memuji masakan Nining.
“Enakkan? Ayo makan lagi.” Lucky terus menyuapi Sri makan hingga dua piring sudah nasi bersama ikan habis hanya untuk Sri seorang.
“Aaa.” Sri bersendawa karena terlalu kenyang. Dia tak tahu kalau dia sudah menghabiskan dua piring nasi. “Maaf. Baru dua sendok kok, udah sendawa kekenyangan, ya? Apalagi kalau dua piring. Pasti kekenyangan beneran,” kilah Sri menahan malu.
“Dua sendok? Iya, Sayang. Dua sendok. Mau makan lagi?” tawar Lucky lagi. Siapa tahu dia masih lapar.
__ADS_1
“Enggak. Udah kenyang.” Sri melirik ikan yang ada di depannya. Sisa tulang ikan dan nasi yang sedikit. Padahal tadi banyak sekali nasi dan iaknnya. “Mas … kok, Mas makan banyak banget sampe ikannya habis? Malu-maluin aja,” tegur Sri dengan menurunkan nada suaranya. Dia berbisik pada telinga Lucky agar Nining tidak mendengar.
“Mas belum makan, Sayang. Baru kamu aja yang makan. Dony dan Nining juga belum makan,” jawab Lucky tak kalah lirih.
Sri terbengong-bengong mendengarnya. Mana bisa dia makan sebanyak itu? Lucky pasti bohong.
“Mana ada saya makan sebanyak itu? Mas bohong. Masakannya gak enak, mana mungkin bisa habis sama saya?” kilah Sri tak mau mengaku. Bisa hancur harga diri kalau sampai dia memuji Nining di depan Dony. Bisa-bisa mereka akan semakin sulit untuk dipisahkan.
“Sayang. Mau rendang, gak?” Dony menawari Nining makan.
“Boleh.” Nining pun disuapi oleh tangan. Iya, dengan tangan, tidak menggunakan sendok dan rasanya semakin nikmat.
“Enak? Lagi?” Melihat keenakan, Dony kembali menyuapi Nining. “Kamu itu kalau makan kayak anak kecil, belepotan. Sini Mas bersihin.” Dony sangat perhatian. Segala bumbu rendang yang menempel di bibir Nining dia lap dengan pergelangan tangan.
Nining tersenyum. Dia memang selalu bahagia setiap kali suaminya mengelap bibirnya dengan pergelangan tangannya. Ada sensasi yang indah, tak pernah terlupakan. Bahagia yang dia rasakan akan bertambah berkali-kali lipat setiap kali Dony melakukan hal itu padanya.
Sri menggelayut pada tangan Lucky lalu mengambil piring yang tengah kosong.
“Mas mau makan? Mau saya ambilkan apa?” sembari mengambil nasi, Sri melihat masakan apa yang masih ada. Hanya ada rendang dan masakan khas padang yaitu sambel ijo dan daun singkong.
“Rendang aja, Sayang.”
Sri pun mengambil rendang lalu menyuapi Lucky makan.
“Pesawat datang. Nguing … buka mulutnya,” kata Sri seolah-olah Lucky adalah anak kecil yang susah makan. Dony dan Nining menahan tawa. Sebenarnya Lucky juga ingin tertawa, tapi dia tahan sekuat tenaga. Kalau sampai dia menertawakan Sri, akan sangat fatal akibatnya.
__ADS_1
Lucky membuka mulut dan mengunyahnya. Sri menyuapi Lucky sampai habis dengan cara yang sama. Layaknya anak kecil dengan pesawat terbang bentuk sendok berisi nasi.
“Hmmm, ngomongin orang tapi sendirinya sama aja. Belepotan,” tegur Nining yang melihat bibir Dony belepotan. Dia pun melakukan hal yang sama. Dengan pergelangan tangan, dia mengelap bibir Dony. Namun, ketika akan ditarik, Dony memegang tangan Nining.
“Jangan sampai tangan kamu kotor. Biar Mas aja yang kotor, tangan kamu jangan.” Dony mengelap pergelangan tangan Nining dengan tangannya. Tangan Nining pun bersih. Barulah Dony melepas tangannya.
Nining tersipu malu. Sungguh, dia sangat beruntung punya suami seromantis Dony. Tidak ada lawan romantis dan kasih sayangnya. Dia suami sempurna yang tidak akan pernah dia sia-siakan.
‘ih, nyebelin banget, sih. Pamer mulu-pamer mulu.’ Sri terbakar cemburu sampai dia membengkokkan sendok yang dia pegang. Sadar sendoknya bengkok, dia menyembunyikannya di bawah karpet yang dia duduki.
Dony tahu dengan yang dilakukan oleh Sri. Dia mulai merasakan ada yang janggal, tapi dia tetap diam. Dia berusaha mengali semuanya agar tidak ada yang salah.
“Cie-cie. So sweet banget, sih, kalian. Apa-apa serba berdua. Aku jadi iri,” puji Lucky.
“Biasa aja. Kamu juga bisa kayak kita. Kan udah ada Sri. Dia bisa kamu gombalin,” canda Dony lalu terkekeh bersama.
Makan pagi sudah selesai. Nining membereskan piring kotor dan masuk ke dapur. Sri mempunyai niat jahat. Di dapur, dia bisa memberikan pelajaran pada Nining yang selalu membuatnya terbakar. Cemburu.
“Saya bantu, ya?” Sri pura-pura membawa piring agar bisa melancarkan aksinya.
“Mas bantu juga, ya?” Dony ingin juga membantu.
‘Wah, gawat. Kalau Dony membantu. Bisa gagal rencananya mengerjai Nining. Jangan sampai Dony membantu kita,’ harap Sri dalam hati.
“Gak usah. Mas di sini aja ngobrol sama Mas Lucky. Masa ke dalem semua, nanti Mas Lucky-nya sendirian,” tolak Nining.
__ADS_1
Sri menyeringai puas. Ternyata doanya terkabul. Inilah saatnya balas dendam. Dia berada di belakang Nining dan siap meletakkan piring di atass westafel. Ketika Nining kembali ke luar untuk mengambil sisa piring yang belum dibawa, Sri mencari minyak sayur. Tentunya akan dia tuang agar Nining terpeleset.