Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
11


__ADS_3

Nining semakin bingung apalagi sekarang Dony menjauhinya.


“Mba. Mba Nining kenapa nglamun? Pasti lagi mikirin Mas Dony, ya?” tegur Sri yang melihat Nining mulai goyah.


Nining kembali tersenyum. Dia memang sangat suka senyum daripada cemberut ataupun marah.


“Kalau menurut saya, apa yang diomongin tetangga itu terlalu berlebihan. Mas Dony itu gak pernah nyuruh-nyuruh, dia cuma ngancem doang. Aku pernah denger sendiri waktu Mas Dony ngomong sama Sinta. Dia minta Sinta buat ganti baju, Sinta nolak karena dia sudah capek disuruh ganti baju terus. Eh, Mas Dony malah mukul sama ngancem bakal bongkar rahasia mereka. Ya, itu. Tentang video intim mereka berdua. Sinta langsung nangis terus pergi. Saya kira Sinta akan ninggalin Mas Dony, ternyata dia balik lagi dan udah ganti baju.” Sri terus membongkiar aib Dony yang tak tahu benar atau tidak.


“Masa Mas Dony kayakgitu?” Rasanya Nining tidak percaya kalau Dony yang dia kenal lembut bisa sekasar dan sejahat itu.


“Mba gak percaya sama saya? Kalau saya bohong, apa untungnya buat saya, Mba? Saya ini teman Mas Dony sejak kecil. Tahu persis Mas Dony itu kayak apa,” tepis Sri meyakinkan Nining.


Nining bimbang. Masih ada rasa tidak percaya kalau suaminya mempunyai masa lalu yang kelam.


‘Ayo percaya sama karangan saya tentang sifat Mas Dony yang buruk. Semakin kamu percaya sama karangan saya, saya akan semakin dekat untuk mendapatkan Mas Dony,’ gumam Sri dalam hati.


“Aku mau cuci baju. Permisi, ya?” Tak mau mengurusi ucapan Sri yang terlalu memaksakan pemikiran, Nining memilih masuk. Dia tak mau menggunjingkan orang apalagi suaminya sendiri.


‘Saya akan pastikan kamu masuk perangkap saya. Akan saya bikin nama baik Mas Dony hancur di mata kamu dan kamu akan membenci dia seumur hidup kamu,’ seringai Sri penuh keyakinan. Sri pun pulang dan siap untuk rencana keduanya.


Setelah satu jam menunggu, seseorang yang dinantikan akhirnya datang juga.


“Akhirnya kamu datang juga. Kamu sudah tahu tugas kamukan?” titah Sri langsung ke pokok masalah.


“Siap, Bos. Sekarang juga akan gue laksanain perintah dari Bos.” Setelah membicarakan pembagian tugas, wanita yang sudah dibayar oleh Sri meninggalkan rumah Sri dan pergi ke rumah Nining.


Di depan rumah Nining, wanita yang disuruh menyamar menjadi Sinta datang mengetuk rumah Nining.

__ADS_1


“Mba. Mba Nining tolong buka pintunya,” rengek wanita itu.


Nining yang sedang mencuci piring, segera mengelap tangannya dan buru-buru membuka pintu.


Betapa kaget Nining ketika melihat seorang wanita tengah menangis. Dia pun langsung memeluk tubuh Nining, semakin mengencangkan tangisnya.


“Eh, Mba ini siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Nining heran semabri mengusap rambut wanita berbaju pink itu.


“Mba Nining. Gue Sinta ... mantan pacar Mas Dony. Gue ke sini mau minta pertanggungjawaban dari Mas Dony,” isaknya lagi.


“Pertanggungjawaban? Maksudnya apa, ya, Mba?” Nining bingung.


“Dulu gue pernah hamil anak Mas Dony, tapi Mas Dony gak mau tanggung jawab. Dia malah nyuruh gue gugurin. Karena gue sayang banget sama Mas Dony, gue lakuin apa yang diinginkan oleh Mas Dony. Tapi setelah gue gugurin, Mas Dony malah ninggalin gue. Sekarang gue udah mau nikah sama orang lain, tapi kata dokter gue gak bisa punya anak gara-gara proses pengguguran kandungan waktu itu membuat rahim gue rusak. Gue gak bisa hamil,” cerita Sinta dengan kesedihan yang sangat dalam.


Belum hilang rasa kaget Nining tentang gosip tetangga, kini dia justru didatangi langsung oleh wanita yang dimaksud. Serasa hancur dunia Nining. Tak pernah menyangka kalau dia harus menerima kenyataan pahit ini.


Dapat dia lihat betapa terkejutnya Nining mendengar semua keluhannya. Tanpa terasa bulir bening mulai luruh dari mata lentiknya itu dan sinta pun tersenyum bahagia. Yes, rencananya berhasil. Aktingnya sangat bagus sampai Nining percaya dengan ucapan bohongnya.


“Ta—tanggung jawab seperti apa yang Mba inginkan dari suamiku?” gagap Nining sangat berat menjawab pertanyaan yang menyakitkan itu.


“Aku ingin Mas Dony nikahin aku. Atau ...” Sinta sengaja menggantung ucapannya agar dia tahu seberapa serius Nining menginginkan Dony bertanggung jawab padanya.


“Atau apa?”


“Atau Mas biaya semua kebutuhan hidupku. Satu bulan sepuluh juta.”


Nining kembali dibuat syok. Sepuluh juta? Gaji Dony saja hanya sepuluh juta, kalau semuanya diberikan untuk Sinta, bagaimana nasibnya nanti. Nining menelan ludah dengan susah. Kenapa nasibnya malang sekali?

__ADS_1


Masih bingung dengan jalan keluar, tak disangka datang seseorang.


“Sinta. Ternyata kamu di sini. Aku ke sini mau jemput kamu. Maafin aku yang udah mutusin kamu. Aku emosi sampai-sampai asal bicara. Aku sadar kalau hidup ini bukan hanya tentang anak, tapi tentang menerima semua kekurangan. Kalau kamu gak bisa punya anak, kita bisa adopsi anak. Sinta, maafin aku. Aku sangat menyesal. Sekarang aku sadar kalau kamu sangat berarti untuk hidupku. Ayo, kita urus pernikahan kita,” ajak seorang laki-laki yang entah siapa namanya.


Sinta bersemu bahagia. Kekasihnya ternyata sudah menyadari kesalahannya.


“Apa yang kamu bilang itu serius?” Sinta masih tidak percaya.


“Aku serius, Sayang. Aku juga udah bicaraian semua sama keluarga besar kita dan mereka menerima kekurangan kamu. Mereka akan tetap melanjutkan pernikahan kita. Ayo kita pulang. Kita cetak undangan, fitting baju, booking WO, foto prewedding ...” Lelaki itu menggandeng tangan Sinta sembari ngobrol tiada henti tentang rencana pernikahan mereka.


Nining senang dan juga sedih. Senang karena dia dan Dony tidak dituntut oleh Sinta. Namun, dia sedih karena aib Dony terungkap dengan cara yang sangat mengagetkan. Sama sekali dia tak menyangka kalau masa lalu Dony begitu kelam sampai-sampai dia tega menyuruh Sinta untuk membunuh darah dagingnya sendiri.


“Aku gak nyangka ternyata kamu seburuk itu, Mas? Apa sekarang kamu akan mengulangi itu sama aku?” gumam Nining pilu. Sakit sekali menerima kenyataan ini, menyayat seperti sebuah pisau berkarat menggores ke dalam kulitnya.


“Mba, tadi itu Sintakan?” tanya Sri yang tiba-tiba saja sudah sampai di depan Nining.


“Iya.” Jawaban Nining sangat singkat tanpa senyuman.


“Mba, tadi kalau gak salah denger ... Sinta mandul karena pernah gugurin kandungan, ya? Jahat banget, ya, Sinta? Padahal banyak banget pasangan di luar sana yang pengin punya keturunan. Eh, dia malah udah dikasih malah disia-siain. Rasain, dapat karmakan?” umpat Sri sengaja memancing reaksi Nining.


“Karma?” ulang Nining seakan tidak mendengar jelas ucapan Sri.


“Iya, karma. Karma itu ada, Mba. Dan aku yakin kalau sebentar lagi Mas Dony juga bakal dapat karma. Tapi gak tahu karmanya bentuk kayak apa. Kan dulunya dia jahat banget, udah pasti dia akan dapat karma yang jauh lebih buruk dari apa yang diterima Sinta.”


‘Karma? Apa ini karma untuk Mas Dony? Karma karena sudah menyuruh Sinta untuk menggugurkan kandungan makanya sampai sekarang kita belum dikaruniai anak?’ pikir Nining dalam hati. Dia mulai terpengaruh ucapan Sri.


“Yang saya denger, kalau kita dekat atau berhubungan sama seseorang yang lagi kena karma, kita juga akan kena karma juga. Ih, serem, ya? Mba Nining, jangan dekat-dekat dulu sama Mas Dony. Nanti kena karma juga, lho.” Sri menakut-nakuti.

__ADS_1


Entah kenapa Nining merinding mendengarnya antara percaya dan tidak percaya.


__ADS_2