
Sri sangat kesal. Segala cara sudah dilakukan untuk membuat Lucky marah dan benci padanya. Namun, semua itu tidak membuahkan hasil. Malah membuat Lucky semakin cinta.
Makanan datang. Banyak sekali yang dipesan oleh Sri, tapi dia tidak tahu apa saja yang dia pesan karena itu makanan jepang yang serba mentah.
“Ih, apaan, nih? Kok, bentuknya aneh dan mentah?” Sri mendengus dan melihatnya dengan jijik.
“Kenapa, Sayang? Ayo makan. Katanya kamu mau makan di sini,” tanya Lucky mulai mengambil makanan yang dia pesan. Lucky yang sudah biasa makan makanan laut mentah tidak kaget melihat makanan yang dipesan oleh Sri.
‘Makanan mentah? Saya ada ide bagus. Ini buat Lucky aja, pasti dia kesal dan marah. Terus ceraiin saya. Bagus Sri, ide yang brilian,’ gumam Sri dalam hati.
“Ini buat Mas. Makanannya enak, lho,” kata Sri menawarkan makanan yang dia pesan.
“Sayang. Kamu, kok, bisa tahu kalau Mas suka makanan Jepang? Mas kalau di laut suka banget sama cumi yang dicocol sama cuka. Di sini malah ada cumi sama wasabi-nya, Mas suka banget,” jawab Lucky tersenyum gembira.
Sri kembali dibuat melongo. Bukannya dibenci, tapi dipuji. Nasib-nasib. Sudah berusaha dibenci, justru semakin dicintai. Sri mendengkus kesal. Sri pun tidak makan apapun karena dia memang tidak suka makanan mentah.
***
Kruk kruk
Perut Sri berbunyi karena sejak tadi dia tak makan apapun. Lucky tertawa, lalu mendekati Sri yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya duduk.
“Kamu lapar? Mau Mas belikan apa?” tanya Lucky perhatian.
__ADS_1
“Gak mau. Di sini gak ada makanan yang enak,” jawab Sri ketus. Sedang lapar dan capek membuat emosinya semakin tidak terkendali.
“Ya udah. Mau makan apa? Nanti Mas belikan di manapun tempatnya.”
“Saya mau ayam bakar madu yang ada di kota sebelah. Di sana ayamnya enak banget dan ngantrinya lama,” ucap Sri asal.
“OK. Laksanakan.” Ternyata Lucky langsung pergi untuk mencari makanan yang diminta Sri.
Sri sampai kaget pas Lucky langsung pergi, padahal dia hanya bercanda. Sudah pukul sebelas malam, apa masih ada makanan yang dikatakan oleh Sri tersebut?
“Ini orang. Nurut banget. Disuruh apa-apa mau. Padahal dari tadi udah disuruh nyapu, ngepel dan cuci piring. Gak capek apa?” Sri merasa aneh dan rasa bersalah mulai menyergap.
“Enggak-enggak. Saya gak boleh jatuh cinta sama dia. Saya cuma cinta sama Mas Dony. Titik.” Sri menepis segala rasa sayang yang baru akan bersemi.
“Bodoh amat. Saya gak peduli. Saya mau tidur aja.” Sri pun ke kamar lalu tidur.
“Mobilnya belum ada di depan, berarti Mas Lucky belum pulang. Aduh, ngrepotin aja, sih, ini orang. Kalau sampai Mas Lucky sampai pagi belum pulang juga terus saya ditanya macam-macam sama keluarganya, gimana? Masa iya saya ngomong jam sebelas malam saya minta ayam bakar madu di kota sebelah? Bisa tambah dimarahi saya,” omel Sri seorang diri.
Sri terus menunggui Lucky sambil menelponnya. Namun, semua panggilannya hanya tersambung tapi tidak diangkat. Sri semakin cemas dan kesal.
“Ih, ini orang ke mana, sih? Udah pagi belum pulang juga. Bikin kesel aja. Nyebelin.” Sri berteriak untuk mengungkapkan rasa kesalnya. Namun, semua itu tidak menyelesaikan masalah. Hingga pukul satu pagi Lucky masih belum pulang juga.
“Jam satu pagi. Ih, ke mana dia? Apa dia sengaja ngerjain saya, ya? Gara-gara sikap saya yang selalu ketus sama dia? Ya Tuhan. Jahat banget kamu. Saya benci Lucky,” jerit Sri semakin tidak tertahan.
__ADS_1
“Sayang. Aku pulang,” sapa seseorang yang membuat hati Sri lega. Dia segera mendekati Sri yang tengah bingung dan murka.
“Mas Lucky. Mas Lucky ke mana aja, sih? Udah jam berapa ini? Ditelpon gak diangkat, di-chat gak dibalas. Mau bikin saya mati karena kebingungan?” Sri menggerutu dengan keras pada Lucky yang baru pulang.
Padahal semua itu Lucky lakukan untuk menyenangkan hati Sri. Jika Lucky pulang dengan tangan kosong, Lucky bisa didiamkan selama berhari-hari. Bisa-bisa jatah libur yang hanya satu minggu setengah tahun, habis tanpa berkesan. Itulah sebabnya Lucky muter-muter mencari ayam bakar madu sampai ketemu.
“Aku bawa ayam bakar madu pesanan kamu. Maaf, ya, lama. Ayo makan. Mau aku suapi?” Lucky ke dapur lalu mengambil nasi dan meletakkan ayam bakar madu satu ekor yang sudah dia beli sampai ke kota seberang yang jauh sekali.
“Saya sudah gak laper! Lihat aja jam berapa ini? Yang ada saya marah. Kalau gak ada, ya, udah gak usah beli! Ngapain dicari sampai dua jam?” Sri marah-marah tanpa menghargai perjuangan Lucky yang sudah susah payah mencari ayam bakar madu yang dia emban.
“Aku minta maaf. Tapi setidaknya cicipi dulu makanannya.”
“Enggak! Saya sudah tidak mau!” Sri masuk ke kamar lalu menutup pintunya dengan keras.
“Huh. Nasib-nasib. Bodoh kamu Lucky. Harusnya tadi waktu Sri telpon diangkat, jadi dia gak akan khawatir. Dia pasti takut terjadi apa-apa denganku, makanya dia sangat marah. Maafkan aku, Sayang. Aku gak akan mengulangi kesalahanku lagi.” Bukannya marah, Lucky malah menyesal. Dia menyalahkan dirinya sendiri dan berpikiran positif pada Sri.
Lucky mencari cara agar Sri tidak marah lagi padanya. Dia mencoba mengingat sesuatu yang disukai Sri agar Sri tidak lagi marah padanya.
“Sri itu suka banget sama jus buah naga. Aku buat jus buah naga aja kalau begitu. Dia pasti suka.” Lucky ke dapur lalu mencari buah naga, tapi tidak ada buah apapun di sana.
“Gak ada apa-apa. Nasib-nasib. Ya, udah. Tidur aja di ruang tamu. Kita tunggu pagi terus beli buah naga buat bikin jus buah naga.”
Baru satu menit terasa tertidur, pagi sudah datang saja. Lucky masih merasa kurang dalam tidur. Namun, dia harus segera bangun agar membuat Sri tak lagi marah padanya. Lucky mandi lalu memakai baju yang sama. Semua bajunya ada di kamar, tidak mungkin dia masuk ke kamar untuk ganti baju.
__ADS_1
Dia segera ke pasar untuk belanja buah dan juga baju yang segera dia pakai agar tidak bau.
Di pasar, dia belanja banyak sekali bahan makanan, baik yang mentah maupun yang matang. Tentu saja itu dia lakukan untuk menarik perhatian Sri. Berharap semua usahanya kali ini berbuah manis. Namun, apakah Sri akan menerima niat baiknya dan melupakan masalahnya semalam?