
Lucky langsung membuat jus buah naga serta makanan dari bahan yang sudah dia beli. Dia memasak nasi dan juga sop ayam. Tentunya bukan masalah besar karena sekarang sudah ada bumbu praktis yang tinggal tuang. Yang tidak pernah memasak pun akan pintar dan rasanya tidak kalah enak dengan yang sudah mahir, semua karena kecanggihan zaman.
“Sudah jadi, deh. Tinggal tunggu Sri bangun. Baju juga udah beres dicuci, rumah sudah bersih. Jemuran yang baru sudah dibeli. Oh, iya. Kalau selama ini dia tidak punya jemuran besi, di mana dia menjemur baju ya?” Lucky menggaruk kepala berharap mendapat jawaban dari hal yang tidak bisa dia tahu selain dari pengakuan Sri sendiri.
Ya sudahlah. Lucky tidak mempermasalahkannya. Sekarang Lucky hanya menunggu Sri bangun sambil menonton TV. Sudah pukul delapan, Sri belum bangun. Lucky yang sedari tadi sudah olahraga pekerjaan rumah mulai merasa lapar.
“Enggak. Aku gak boleh makan dulu. Aku harus nunggu Sri bangun. Pasti sebentar lagi dia bangun.” Lucky keras kepala menunggu Sri walaupun perutnya sudah melilit. Dia sangat yakin Sri tidak mungkin tega membuatnya menderita. Bagaimanapun juga Lucky adalah suaminya yang sudah memberikannya segala kehidupan mewah dan hedon.
Sementara itu, Sri sudah bangun. Dia malas sekali untuk keluar kamar. Ada Lucky, dia menjadi malas. Padahal biasanya dia sangat suka keluar rumah, tentunya hanya untuk melihat Dony dan memata-matai Nining agar hidupnya tidak harmonis dengan sasarannya itu.
“Saya gak mau keluar kamar. Pokoknya kalau ada dia, saya akan mengurung diri di sini. Untung kemarin saya sempat beli camilan. Bisa makan di kamar, deh.” Tanpa rasa bersalah, Sri makan semua camilan yang dia punya tanpa memikirkan Lucky yang tengah kelaparan menunggu dirinya di ruang tamu.
***
Lucky mulai merasakan perutnya melilit sekali. Dia punya sakit lambung dan tidak boleh telat makan, tapi demi Sri, dia mengabaikan semua itu.
“Lambungku pasti sedang protes. Tenang, ya, lambung. Sebentar lagi kamu akan diisi makanan. Tenang, ya,” hibur Lucky sambil mengusaplembut perut yang mulai tidak sabar.
Hingga jam sepuluh Sri masih belum keluar kamar juga, Lucky mulai tidak kuat. Pandangannya mulai kabur, dan kesadarannya berkurang. Terlalu lama menahan sakit, Lucky tak bisa lagi bertahan. Dia pun jatuh pingsan di ruang tamu tanpa ada yang tahu.
Pintu terbuka, Dony yang biasa main ke rumah Lucky setiap kali dia pulang, hari ini pun main.
“Lucky. Hai, kamu lagi apa di sana?” sapa Dony yang melihat Lucky pingsan di ruang tamu.
Tidak biasanya Lucky diam saja kalau disapa, Dony merasa ada yang aneh. Dia pun memberanikan diri untuk masuk karena pintu rumah sengaja dibiarkan terbuka.
“Lucky. Lucky kamu tidur? Kalau tidur, jangan di sini, di kamar aja. Lucky,” tegur Dony sambil menyenggol pundak Lucky untuk membangunkannya.
__ADS_1
Lucky tidak merespon. Dony pun mengira Lucky kelelahan makanya tidur sangat pulas.
“Ya, sudah. Aku pulang aja. Mungkin dia capek banget. Lain kali aja aku main dan ngobrol. Dia pasti lagi kangen banget sama istrinya.” Dony pun melangkah untuk pulang.
Hal tak terduga terjadi. Terdengar bunyi sangat keras dari perut Lucky. Dony yang baru beberapa langkah menjauhi Lucky, terdiam dan memastikan bunyi apa itu.
“Ada bunyi yang aneh. Bunyi apa, ya?”
Lagi. Terdengar suara yang sama, tapi kali ini tidak lebih keras dari yang pertama. Dia pun mendekati perut Lucky karena mencurigai suara itu dari perutnya.
“Jangan-jangan lambung Lucky kambuh. Wah, bahaya. Dia pasti pingsan sekarang. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit.” Dony bersiap untuk menggendong Lucky.
Sri yang sedari tadi di kamar, tiba-tiba turun. Dia juga merasakan sakit perut gara-gara kebanyakan makan camilan. Begitu melihat Dony, dia pura-pura tidak kenapa-kenapa. Dia malah bergaya manja dan sok cantik. Dia mendekati Dony dengan jalan yang dibuat-buat.
“Hai, Mas Dony. Kok, tumben ke sini. Ada apa?” tanya Sri manja.
“Mba. Ini Lucky kenapa pingsan?” tanya Dony cemas.
Sri pun mendekati Lucky. Dia terlihat pucat dan tidak bergerak sama sekali. Bunyi dari perut Lucky terus berlanjut walaupun tidak sekeras yang pertama. Sri panik dan kebingungan.
“Ayo kita bawa dia ke rumah sakit.” Dony memaksa Sri membawa Lucky, dia takut terjadi sesuatu pada Lucky—sahabatnya itu.
“I—iya. A—ayo kita bawa ke rumah sakit.”
***
Dony tidak habis pikir dengan yang terjadi pada Lucky. Harusnya dia pulang disambut bahagia oleh istrinya. Ini malah Lucky pingsan.
__ADS_1
“Dokter. Apa yang terjadi dengan sahabatku?” tanya Dony khawatir.
“Sepertinya dia telat makan. Jadi lambungnya bermasalah,” jawab dokter.
“Telat makan?” Dony melirik Sri dengan tajam. Ada yang tidak beres dengan rumah tangga mereka. Namun, tidak sekarang membicarakan rumah tangga di depan dokter. “Tapi Lucky masih bisa sembuhkan, Dok?”
“Tentu. Pasien ini kuat. Selain dia, pasti hasilnya jauh lebih buruk. Pasien tidak usah dirawat, bisa berobat jalan.” Dokter pun meninggalkan mereka.
Kini giliran Dony mengintrogasi Sri. Sri terlihat ketakutan. Siapa lagi yang harus bertanggung jawab selain Sri.
“Masalah rumah tangga kalian, aku tidak berhak ikut campur. Tapi karena ini sudah menyangkut nyawa, aku harus ikut campur. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Lucky bisa sampai telat makan?” cecar Dony tajam.
Sri menelan saliva karena sangat takut. Apa yang harus dia katakan?
“Eh, sebenarnya. Ini gak seperti yang Mas Dony pikirkan. Saya dan Mas Lucky sedang marahan gara-gara semalam Mas Lucky pulang jam satu malam dan dia gak kasih tahu saya. Ditelpon gak dijawab, di-chat juga gak dibalas. Makanya saya ngambek gak keluar kamar. Mungkin itu sebabnya Mas Lucky gak mau makan,” ujar Sri. Dia tidak bohong, tapi dia tidak menceritakan semuanya dengan jelas.
“Aneh. Gak mungkin Lucky seperti itu. Aku gak percaya,” tepis Dony tidak percaya.
“Mana mungkin saya bohong. Saya mengatakan yang sejujurnya. Kalau gak percaya, nanti tanya aja sama Mas Lucky langsung.” Sri tidak takut karena apa yang dia katakan benar.
Dony duduk di ruang tunggu. Dia tidak percaya, tapi tidak mungkin dia berdebat dan ikut campur dengan masalah rumah tangga orang lain. Dony pun memilih diam.
***
Lucky sudah pulang ke rumah. Sri semakin benci dengan Lucky. Karena Lucky, Dony memarahinya.
“Puas? Mas udah puas bikin nama saya jelek di mata Mas Dony? Gara-gara Mas pingsan, Mas Dony mikirnya saya udah buat sesuatu sama Mas.” Sri mengomel di kamar, padahal Lucky terbaring lemas.
__ADS_1
“Ma—maafin Mas, Sri. Mas gak ada maksud buat bikin nama baik kamu jelek,” sesal Lucky.
“Pokoknya Mas harus kembaliin nama baik saya di depan Mas Dony.”