
Semua pelayan kebingungan melihat Sri yang ngotot ingin cincin yang kebesaran itu. Salah satu dari mereka pun memanggil pemilik toko.
“Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?” tanya pemilik toko.
“Saya sangat menyukai cincin berlian ini, tapi terlalu besar di jari saya. Saya ingin cincin ini pas di jari saya tanpa merubah modelnya,” jawab Sri.
“Gampang. Silahkan ukur jari Anda di sana lalu berikan cincin yang Anda inginkan. Karyawan kami akan rubah ukurannya tanpa merubah modelnya,” tunjuk pemilik toko pada seorang laki-laki yang sedang duduk mengukir model cincin.
“Di sana? Emangnya bisa?” Sri masih ragu. Namun, dia tetap mendekat dan membuktikan ucapan pemilik toko.
“Maaf. Saya disuruh ukur jari di sini dan menunjukkan cincin ini agar ukurannya pas di jari saya. Apa Anda bisa?” Sri menjulurkan jari lalu memberikan cincin yang diincarnya.
“Tentu saja bisa. Saya ukur dulu.” Laki-laki itu pun mengukur jari Sri lalu mengepaskan cincin yang diinginkan oleh pelanggannya itu.
Tak lama menunggu, laki-laki itu memberikan cincin itu pada Sri untuk dicoba.
“Wah, pas banget. Mas lihat. Ini udah gak kebesaran lagi.” Sri sangat senang dan itu membuat hati Lucky berbinar-binar.
“Berapa harganya? Aku transefer saja, ya, aku gak bawa uang cash.” Lucky siap-siap transfer pada pemilik toko.
Tak kurang dari seratus juga cincin itu kini sudah berganti pemilik. Sri sangat senang sampai tak henti mengelus serta memandangi jarinya yang dipenuhi lima cincin berlian.
***
“Mas. Mas ke mana?” seru Nining yang menyadari tidak ada Dony di dekatnya. Walaupun kakinya masih sakit, dia berjalan tertatih mencari Dony.
“Sayang. Kamu mau ke mana? Kamu masih sakit, jangan jalan dulu.” Dony yang sedang membersihkan ruang tamu segera lari dan menggendong tubuh Nining.
“Aku gak pa-pa, Mas. Malah kalau tidur terus, aku pusing. Aku mau bantu beres-beres.”
__ADS_1
“Gak boleh. Pokoknya selama kamu masih sakit, Mas yang akan layani kamu seperti Ratu. Ok. Sekarang balik lagi ke kamar.” Dony memaksa Nining kembali ke kamar walaupun Nining protes. Dony pura-pura tidak mendengar hingga mereka pun sampai di kamar.
“Mas. Aku bosen di kamar terus.”
“Kamu mau jalan-jalan ke mana?” ajak Dony.
“Ke taman yang sejuk, segar dan wangi.”
“Laksanakan. Mas akan siap-siap. Kamu tunggu di sini dulu. Stop, kamu gak usah ngomong.” Nining mau ngomong sesuatu, tapi dipotong dan tidak boleh bicara oleh Dony.”Kamu pasti mau ngomong bawa makanan dari sini, bawa minuman sendiri biar lebih iritkan? Mas udah siapin kayakgitu. Mas semalam udah beli banyak banget camilan dan air minumnya Mas akan isi dari botol yang ada di rak dapur.”
Dony sudah tahu isi pikiran Nining dan tentu saja dia melakukannya. Kalau dia tidak melakukannya, Nining bisa marah dan Dony tidak mau itu terjadi. Dony pun ke dapur lalu mengisi botol dengan air putih dan membawa camilan ke dalam plastik besar.
“Ok. Semuanya sudah siap. Ayo kita jalan,” ucap Dony. Dia bersiapmenggendong Nining.
“Gak usah digendong, aku bisa jalan sendiri.” Nining berjalan sendiri walaupun kakinya masih sedikit sakit.
***
“Kamu senang, Sayang?” tanya Dony.
“heeh, aku senang. Terima kasih, ya, Mas. Mas baik banget sama aku.” Nining sangat beruntung mendapatkan suami sebaik dan sepengertian Dony. Suami idaman semua perempuan. Pantas kalau Dony menjadi rebutan.
Bunga mawar merah merekah, Dony ingin memetik dan menghadiahkan untuk Nining. Namun, dia ragu karena mawar itu milik taman. Kalau dia petik,Dony takut akan dapat sangsi. Tiba-tiba datang seorang anak kecil memasarkan bunga.
“Ade, sini. Ade jualan bunga?” tanya Nining ketika ada anak kecil umur sembilan tahun membawa keranjang penuh dengan bunga yang sudah dijadikan buket kecil-kecil.
“Iya, Tante. Tante mau beli bungaku? Bagus-bagus, lho Tante,” ucap anak kecil itu.
Nining sedih melihat anak sekecil itu sudah berjualan. Dia pun mengajak anak itu untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Nama kamu siapa, Nak?” tanya Dony yang juga ikut kasihan.
“Rara, Om. Om mau beli bungaku?” lagi, Rara menawari bunga.
“Berapa satu tangkainya?” sambung Dony.
“Sepuluh ribu, Om.”
“Om beli sepuluh, ya. Ini uangnya, seratus ribu. Dada Rara.” Dony mengambil sepuluh tangkai lalu dijadikan satu kemudian dia persembahkan untuk Nining yang sedang tersenyum.
“Bunga yang cantik untuk orang yang cantik. Ini, terima. Kamu suka sama bunga inikan?”
“Iya. Mas tahu aja kalau aku suka bunga. Mas sering ngasih bunga ke cewek-cewek, ya?” ledek Nining sedikit cemburu.
“Ya Tuhan, enggak, Sayang. Mas cuma kasih bunga buat kamu aja. Pacaran aja cuma sama kamu, lansung nikah.”
“Pacaran cuma sama aku? Sinta itu bukannya pacar Mas?” Nining terkejut dengan pengakuan Dony.
“Sinta? Sinta siapa? Seingat Mas, Mas gak pernah punya teman namanya Sinta. Lagian kata siapa Mas punya pacar namanya Sinta?”
“Kata tetangga. Malah Sinta datang langsung beberapa hari yang lalu. Awalnya dia minta Mas buat tanggung jawab karena dia mandul gara-gara Mas pernah nyuruh Sinta buat gugurin kandunga,” kenang Nining saat dia ingat dengan kejadian tentang Sinta.
“Apa? Mandul? Mas gak kenal sama Sinta, sumpah demi Tuhan. Gimana mau nyuruh gugurin, kenal aja enggak. Perjaka Mas itu buat kamu, Sayang. Mas gak pernah macam-macam sama cewek manapun. Kalau kamu gak percaya, kamu tanya orang tua, Mas. Orang tua Mas juga gak kenal sama Sinta,” kilah Dony yang sama sekali tidak kenal dengan Sinta.
“Terus yang datang ke rumah siapa, dong? Apa dia salah alamat? Tapi namanya sama, kok. Mas Dony.” Nining dibuat bingung oleh ulah Sri yang menyuruh seseorang menjadi Sinta.
“Mungkin aja orang iseng atau mau bikin rumah tangga kita berantakan. Udah, jangan dipikirin. Di dunia ini banyak sekali orang yang tidak bisa kita anggap baik. Baik di depan, belum tentu baik juga di belakang. Sekarang kita harus waspada pada siapa pun. Termasuk tentang kejadian tadi pagi. Seperti ada yang sengaja naruh minyak dan ingin kamu jatuh,” ungkap Dony.
“Minyak? Masa, sih, Mas? Yang ikut ke dapurkan cuma Mba Sri. Masa iya yang nglakuin itu semua Mba Sri?” Nining tidak percaya.
__ADS_1
“Mas juga nemuin cincin berlian milik Sri di dekat minyak itu. Dia, sih, bilang cincinnya longgar, jadi sering jatuh. Tapi anehnya kenapa bisa di dekat minyak itu. Mas curiga kalau ini semua ada hubungannya dengan Sri. Kamu ingat tentang baju itukan? Sri itu bilang ke Mas kalau kamu nyuruh Sri bohong dan diberi uang lima ratus ribu. Itu bertolak belakang dengan pengakuan kamu, Sayang. Itu artinya Sri memang agak aneh.”