Gara-gara Jemuran Tetangga

Gara-gara Jemuran Tetangga
15


__ADS_3

Nining mulai sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Semenjak menikah, memang tidak lagi bekerja. Dulu dia sibuk menjadi SPG produk kecantikan yang membuat dirinya semakin terkenal karena kecantikannya. Walaupun sekarang sudah tidak menjadi SPG lagi, dia masih rajin merawat diri agar tidak terlihat kusam.


"Ya udahlah. Aku juga gak tahu itu baju milik siapa. Yang penting aku gak buang baju itu." Nining membiarkan baju itu hilang, tapi dalam hatinya masih ada ragu kalau nanti yang punya baju ngomel karena dititipi tapi malah hilang.


Nining meninggalkan jemuran dengan hati was-was. Sembari menonton televisi, ekor matanya selalu mengintip ke depan. Siapa tahu pemilik baju itu tiba-tiba datang dan marah-marah padanya. Ternyata kekhawatiran Nining tidak terjadi. Hingga malam tiba, tidak ada satu orang pun yang datang.


Keesokan harinya Nining kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Daripada terus memikirkan Dony yang rak kunjung ada kabar, lebih baik melakukan hal yang lebih bermanfaat.


Tak disangka, dia kembali menemukan jemuran baju miliknya sudah terisi oleh baju milik seseorang yang tidak dia kenal. Dia juga menemukan keranjang baju miliknya yang kemarin hilang bersama baju misterius itu.


“Ckckck, siapa sebenarnya yang menjemur baju di jemuranku? Aku gak bisa jemur baju kalau gini,” cebik Nining kesal.


Dia ingin mengangkati baju itu, tapi dia tidak berani. Dia tak ingin mencari masalah dengan orang lain sekalipun dia tidak bersalah. Akhirnya dia memutuskan kembali membiarkan baju itu berada di jemuran miliknya dan kembali meletakkan baju basah miliknya di depan tepat di bawah jemuran yang telah terisi jemuran milik orang lain.


Di balik tembok, kembali seseorang menyeringai licik. “Rasaian kamu, Nining. Aku akan buat hidup kamu semakin kesusahan. Setiap hari aku akan buat baju kamu gak kering.”


***


“Lah, kok udah gak ada jemurannya? Kebetulan. Ini waktunya aku jemur baju.” Tanpa rasa curiga, Nining menjemur baju di jam tiga sore.


Tanpa disangka, tiba-tiba langit mendung. Petir bersautan dan cuaca menjadi tidak bersahabat. Angin menerbangkan benda-benda di jalanan hingga membuat pengguna jalan tidak nyaman. Semua mempercepat laju kendaraan agar cepat ke tujuan dan yang dekat rumah segera pulang.


“Andi, masuk. Mau hujan.”

__ADS_1


“Iya, Bu.”


Ibu-ibu menyuruh anaknya untuk masuk ke rumah, mereka takut terjadi sesuatu pada buah hati tercintanya. Yang mempunyai jemuran, segera mengambilnya, termasuk Nining.


Lain dengan seseorang berbaju serba hitam, dia justru mengendap-endap di halaman depan rumah Nining. Dia mengikat kaki-kaki jemuran baju milik Nining. Dia juga mengendurkan baut-baut pengokohnya agar susah ketika diangkat. Baju yang dijemur itu dijepit semua agar semakin susah ketika diambil. Baju-baju itu diikat satu dengan yang lainnya agar terbawa semua ketika diangkat. Sehingga Nining tidak bisa membawa setengahnya dulu, melainkan harus semua dibawa agar semua aman.


Buru-buru orang itu melaksanakan tugasnya. Setelah dia selesai, Nining yang saat itu baru sadar akan turun hujan, tergesa-gesa berlari menuju jemuran baju. Dia mengangkat jemurannya.


“Aduh, kok, dijepit semua? Perasaan aku cuma punya jepitan baju sedikit. Aduh, jadi lama ngangkatnya.” Nining membutuhkan waktu lebih lama karena harus mengambil jepitannya lebih dulu. Belum lagi dia tak bisa mengambil separuh, harus semua dibawa karena baju itu saring terikat dan untuk melepaskannya sangat susah.


“Aku angkat sekalian sama jemurannya aja kalo gitu.” Nining mendapatkan ide bagus. Segera dia mengangkat jemuran itu sendirian. Biasanya dia bisa melakukannya sendiri karena tidak terlalu berat.


“Yah, kok, copot semua tiang penyangganya? Yah-yah-yah, aduh,” jerit Nining kesusahan membawa tiang jemuran yang mulai copot satu persatu.


Kedua tangan kecilnya kewalahan menangkap tiang yang mulai berhamburan jatuh satu per satu. Belum lagi bajunya masih berada di atasnya dan itu cukup mempersulit dirinya untuk membawanya.


Sementara itu, dia sisi yang lain ada seseorang yang merasa sangat senang melihat Nining kesusahan seperti itu. Dia sangat menikmati kesusahan yang dialami oleh Nining. Itu sebuah pertunjukan hebat yang tidak pernah dia lihat.


“Rasain kamu, Nining. Aku seneng banget lihat kamu kesusahan seperti itu. Hmmm, besok apalagi yang harus aku lakuin, ya? Sebelum aku dengar kabar perceraian kamu sama Mas Dony, aku akan buat hidup kamu menderita,” desis orang itu.


Nining sangat kewalahan menangani jemuran penuh baju yang roboh. Dia tak bisa berjalan karena tiang itu membuatnya keberatan. Belum lagi hujan mulai turun.


“Aku tarik ajalah.” Nining pun menarik jemuran itu, tapi tidak bisa. Ada seutas tali yang mengikat kaki-kaki jemuran dengan pohon yang ada di depannya. Nining pun hampir jatuh karena tidak tahu kaki-kaki jemurannyaterikat ke pohon. Kuatnya tarikan itu membuat badannya tertahan, untung saja tidak jatuh.

__ADS_1


“Lho, kenapa ini? Siapa yang iseng ngiket jemurannya? Gimana ini? Mana tiangnya udah pada copot, kakinya keiket lagi? Ya udah, deh,. Aku lepas dulu ikatannya.” Walaupun susah,. Nining melepas ikatan itu satu per satu.


Sesekali Nining melihat ke atas. Nampak langit semakin mendung, awan hitam berkumpul sangat pekat. Petir bersautan menampakkan kilau yang mengerikan.


“Ya Tuhan, lindungilah aku. Tuhan, tolong bantu aku untuk melepas tali ini dengan mudah.”Seketika itu doa Nining terkabul, keempat ikatan itu terurai sangat cepat, bahkan dua di antaranya terputus sendiri karena tertarik saat berusaha dilepas.


“Alhamdulillah, udah copot semua. Sekarang tinggal tarik jemurannya aja. Kalau ambil satu satu, bajunya terlalu banyak, tanganku gak kuat buat angkat semuanya.” Terpaksa dia menarik jemuran itu walaupun tiangnya sudah mulai berjatuhan. Ketika menariknya pun menimbulkan bunyi berderit yang memekakan telinga.


Jeder


Petir berkilat dan gledek mengikuti, Nining tersentak kaget sampai melepaskan tiang yang sedang dipegangnya. Tiang jemuran itu pun jatuh menimpa badannya, Nining seketika jatuh ke tanah.


“Aduh ... badanku. Tolong-tolong,” jerit Nining menahan tiang jemuran yang menindih tubuhnya.


Buruknya cuaca membuat satu orang tidak ada yang lewat, Nining bertahan sampai ada yang membantu, tapi sudah lama dia bertahan, tidak ada juga yang datang. Akhirnya Nining berusaha bangun sendiri dengan mengangkat tiang jemuran berserta baju-bajunya yang masih ada di sana.


Sakit dan sedih sekali merasakan hal seperti ini. Harusnya dia tidak merasakan hal seperti ini kalau ada Dony. Sekarang dia sendirian, tidak ada yang membantu.


“Enggak. Aku harus kuat. Aku bisa tanpa bantuan siapa pun.” Nining menyemangati dirinya dan dia pun bisa mengangkat tiang-tiang besi beserta baju basahitu sendirian. Tak lama, hujan mulai turun. Bajunya yang sudah basah semakin basah terkena hujan.


“Yah, hujan. Aku harus secepatnya bawa baju ini ke dalam.”


Nining segera menarik jemuran yang sudah rusak beserta bajunya.Tak peduli bajunya berjatuhan, Nining terus menariknya agar masuk ke rumah. Biarlah basah, asal jemuran serta bajunya selamat dari hujan.

__ADS_1


“Alhamdulillah, akhirnya bisa masuk juga.” Capek dan mengenaskan sekali nasib Nining. Walaupun dia hidup bertetangga, tapi di saat dia butuh bantuan, tidak ada satu orang pun yang membantu. Justru dia mendapati orang iseng yang membuat hidupnya semakin susah.


“Padahal kemarin jemurannya masih baik, kenapa sekarang rusak, ya? Eh, tunggu. Ini bukan rusak, tapi bautnya copot. Kebetulan apa ini sengaja, ya? Kalau sengaja, siapa yang nglakuin ini ke aku?”


__ADS_2