Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 11: Menuju Ibukota Benteng Selatan


__ADS_3

2240


Distrik Tenggara Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.673


Langit selatan terbuka, memperlihatkan lapisan awan yang terangkat dan menghiasi birunya langit pagi. Matahari terbit perlahan, memancarkan sinar emas yang membelah kegelapan dan menerangi segala sesuatu yang ada di bawahnya.


Di tenggara, ada sebuah rumah sederhana berdiri kokoh di tengah ladang hijau yang subur. Rumah itu dibangun dengan bahan-bahan modern dan tahan lama, rumah itu memiliki desain minimalis dengan atap berwarna hitam yang terbuat dari material yang canggih dan ramah lingkungan.


Rumah tersebut menyatu dengan lingkungan sekitarnya, dikelilingi oleh pepohonan hijau yang merangkulnya dengan lembut. Dedaunan segar dan bunga-bunga yang bermekaran memberikan sentuhan keindahan alam pada halaman rumah.


Sejuknya angin pagi berdesir di antara pepohonan, membuatnya mengisi udara dengan aroma segar dari alam yang terjaga. Sinar matahari menembus melalui jendela-jendela kaca yang besar, sehingga menciptakan suasana hangat di dalam ruangan.


Rumah itu merupakan tempat perlindungan yang nyaman bagi semua penghuninya, tempat di mana momen penting dan kehidupan yang penuh makna dapat terjadi.


Dalam pagi yang cerah ini, di tengah suasana pagi yang menenangkan, keputusan penting yang akan membentuk masa depan seorang anak sedang dibicarakan dengan penuh perhatian dan perasaan di dalam rumah sederhana itu.


Dari dalam rumah sederhana tersebut, terdengar suara yang memecah keheningan fajar dengan lembut namun tegas. Suara itu mengisi setiap ruang dengan getaran emosi dan kekhawatiran yang terasa dalam.


"Kau yakin ingin masuk militer, Hegi?" ucap Sera, kakak perempuan di rumah itu, suaranya pelan namun penuh perhatian.


Dia menatap wajah adik laki-laki manisnya dengan tatapan hangat, mencerminkan kekhawatiran dan cintanya sebagai seorang kakak.


Cahaya yang lembut dari dalam lampu di kamar memancarkan kehangatan, menciptakan atmosfer yang intim di antara mereka berdua.


Hegi yang sedang membereskan barang-barang di kamar, merasa terkejut akan kehadiran kakaknya itu. Ia menjawab dengan mantap, "Tentu saja Kak, ini sudah menjadi pilihanku."


Suaranya menggema dengan keberanian yang tak terduga, mengungkapkan tekadnya yang begitu bulat. Hegi mengepalkan salah satu tangannya di depan dadanya, menunjukkan kedewasaan yang melebihi usianya, lima belas tahun.


Sera, seorang wanita berusia dua puluh satu tahun dengan rambut coklat yang indah dan bola mata hitam yang tajam, menatap adik kecilnya dengan campuran antara kebanggaan dan kekhawatiran yang terpancar di matanya.


Ekspresi di wajahnya mencerminkan kepedulian yang mendalam saat ia berkata, "Aku tahu betapa besar impianmu untuk melayani kota dan untuk melindungi orang-orang tercinta. Tapi ingatlah, masuk militer bukanlah hal yang mudah. Kamu harus siap menghadapi semua tantangan dan pengorbanan yang begitu besar."


Hegi menganggukkan kepalanya dengan serius. "Aku siap, Kak. Aku telah mempersiapkan diriku dengan baik. Aku akan menjalani pelatihan dan latihan yang diperlukan agar menjadi prajurit yang tangguh dan penuh oleh rasa tanggung jawab."


Sera merasa bangga melihat determinasi adiknya. Dia memeluk tubuh Hegi erat-erat, merangkulnya dengan penuh cinta dan kebanggaan, dan tangan mengusap-usap lembut kepala adiknya itu. "Aku sangat bangga kepadamu, adikku," ucap Sera dengan suara lembut.


"Jangan ragu untuk meminta bantuan atau nasihat jika kamu membutuhkannya. Keluarga akan selalu mendukungmu dalam setiap langkahmu."


Hegi merasa hangat dalam pelukan kakaknya. Dia merasakan kelembutan dan dukungan yang luar biasa dari Kak Sera. Dalam momen itu, semua keraguan dan kekhawatiran yang mungkin masih ada dalam dirinya tersapu oleh kepastian bahwa dia memiliki keluarga yang setia di sisinya.


Hegi tersenyum penuh rasa syukur. "Terima kasih, Kak. Aku benar-benar beruntung memiliki kakak sepertimu yang selalu mendukung dan sangat mencintaiku," katanya dengan penuh rasa terima kasih.


"Aku tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi dengan dukungan darimu Kak, aku merasa semakin kuat dan termotivasi. Aku berjanji akan berjuang keras untuk mencapai impianku dan membuatmu bangga memiliki adik sepertiku."

__ADS_1


Sera tersenyum dengan bangga ketika mendengar kata-kata adiknya. Dia merasa sangat bahagia dan terharu melihat tekad dan rasa tanggung jawab yang dimiliki Hegi.


"Aku tidak meragukan kesungguhan mu, Hegi," ujarnya dengan tulus. "Kamu memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa, dan aku yakin kamu akan mencapai segala yang kamu impikan. Aku akan selalu berada di sini untuk mendukungmu sepanjang perjalananmu."


Setelah melalui percakapan singkat tersebut, Hegi kembali fokus pada tugasnya untuk membereskan barang-barang yang akan dibawanya.


Dengan penuh keteraturan, ia menyusun dan memeriksa setiap barang dengan teliti. Ia ingin memastikan bahwa semuanya siap dan rapi untuk perjalanan yang akan mengubah hidupnya.


"Kak Sera, aku akan berangkat!" teriak Hegi dengan semangat di depan pintu rumahnya, mempersiapkan diri untuk meninggalkan tempat yang sudah lama ia panggil rumah.


Dia merasakan perasaan campuran antara kegembiraan dan sedih, karena perjalanan yang selama ini ia impikan akhirnya tiba, namun juga harus mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang telah menjadi tempatnya selama ini.


Sera, yang mendengar teriakan adiknya, segera melangkah keluar untuk menemui Hegi. Ia menyambutnya dengan senyuman hangat yang mencerminkan campuran kebanggaan, haru, dan cinta yang mendalam di matanya. Dalam tangannya, Sera memegang sesuatu yang dipegang dengan penuh perhatian dan arti.


"Hegi, tunggu sebentar. Bawalah ini," ucap Sera sambil memberikan sebuah kotak kecil kepadanya.


Ia meraih sebuah kotak kecil berwarna perak yang terlihat indah dan misterius. Cahaya mentari pagi memantul di permukaan kotak perak tersebut, menciptakan kilauan yang mempesona.


Hegi menerima hadiah tersebut dengan rasa penasaran yang jelas terpancar dari wajahnya. "Apa ini, Kak?" tanya Hegi dengan keingintahuan yang tak terbendung, tatapannya terfokus pada kotak misterius di tangannya.


Sera tersenyum dengan lembut, menunjukkan kebijakan dan kehangatan sebagai kakaknya. "Ada hal di dunia ini yang harus kamu ketahui, adikku," ujarnya dengan suara lembut. "Bawalah ini, ia akan menunjukkan kepada kamu hal tersebut, suatu saat nanti."


Hegi mengambil kotak kecil itu dengan hati-hati dan membukanya dengan perasaan penuh keingintahuan. Di dalamnya terletak sepotong liontin yang berbentuk kotak dengan warna perak yang berkilauan. Ia merasa terpesona oleh keindahan dan kehalusan detail-detailnya yang rumit.


Hegi memperhatikan dengan seksama setiap detilnya, mencoba memahami makna yang terkandung di balik hadiah tersebut yang diberikan oleh kakaknya dengan penuh perhatian.


Ketika liontin itu bersentuhan dengan kulitnya, Hegi merasakan energi dan keberadaan yang mengalir di sekitarnya. Ia merasa seperti membawa sebuah rahasia yang menjanjikan petualangan baru dalam hidupnya.


Sebelum Hegi berangkat, Sera mengusap lembut rambut adiknya, mencerminkan rasa sayang dan kelembutan.


Dengan suara lembut, ia menyampaikan pesan penting kepada Hegi, "Hati-hati di perjalananmu, Hegi. Ingatlah, dalam hidup ini, penting untuk menemukan arti dan tujuan yang lebih besar. Jadilah dirimu yang terbaik dan berjuang dengan keberanian yang tak tergoyahkan."


Hegi merasakan kelembutan dan kehangatan dalam sentuhan Sera. Matanya dipenuhi dengan rasa terima kasih yang mendalam karena kakaknya memberikan nasihat yang berarti.


Ia memandang Sera dengan penuh apresiasi dan berkata, "Terima kasih, Kak. Aku akan selalu mengingat nasihatmu dan berhati-hati di perjalananku. Aku berjanji bahwa aku akan berjuang dengan segala keberanian dan kekuatan yang ada padaku."


Sera tersenyum dengan penuh kebanggaan dan rasa haru. Ia melihat kedewasaan yang berkobar di mata adiknya, dan percaya sepenuhnya bahwa Hegi akan menghadapi tantangan dengan sikap yang tangguh.


"Aku percaya padamu, Hegi," ucap Sera dengan suara yang penuh keyakinan. "Jadilah dirimu yang baik dan berjanjilah kau akan pulang dengan selamat."


Hegi menatap kakaknya, bola mata birunya bersinar cerah mencerminkan determinasi yang membara di dalam dirinya. "Aku berjanji, Kak," katanya dengan suara penuh keyakinan. "Aku akan pulang dengan selamat. Kau akan melihatku kembali dengan senyuman di wajahku."


Dengan penuh keyakinan dan semangat yang membara, Hegi melangkah meninggalkan rumah mereka, kalung itu menghiasi lehernya dengan gemerlap yang memancar keberanian.


Ia merasa sangat beruntung memiliki seseorang seperti Sera dalam hidupnya. Kakaknya selalu memberikan dukungan tak tergantikan dan cinta yang mendalam. Hegi yakin bahwa cinta dan dukungan itu akan selalu menerangi setiap langkah perjalanan hidupnya.

__ADS_1


Di depan rumah, Hegi disambut oleh temannya Sofya dengan penuh semangat. Sofya adalah teman masa kecil Hegi yang telah dikenalnya sejak lama. Mereka telah melewati banyak perjalanan bersama sejak serangan yang terjadi di kota mereka, Benteng Timur, lima tahun yang lalu.


Serangan itu memaksa mereka untuk meninggalkan kota asal dan mengungsi ke Benteng Selatan, yang dianggap sebagai tempat yang lebih aman dan dilindungi.


"Selamat pagi, Hegi! Wow, banyak sekali barang bawaan mu," sapa Sofya dengan ceria, sambil memandang heran sejumlah barang bawaan Hegi yang berjejer di depan pintu.


Mata Sofya langsung tertuju pada tumpukan barang tersebut, yang menunjukkan bahwa Hegi telah bersiap dengan baik untuk perjalanan ke seleksi yang akan datang.


Hegi tersenyum bangga dan merasa yakin dengan dirinya. "Tentu saja, Sofya. Aku sudah yakin bahwa aku akan diterima," ucapnya dengan sedikit sombong.


Sofya tertawa melihat sikap Hegi yang terlalu percaya diri dan terlihat manis. "Haha, keluarlah sifat sombong mu. Jangan lupa, seleksi ini akan menjadi tantangan besar bagi kita semua," kata Sofya sambil mencoba mengingatkan Hegi.


Hegi mengangguk sambil membenahi barang bawaannya. "Kamu benar, Sofya. Maaf jika terdengar sombong tadi. Aku hanya ingin menjaga semangatku dan percaya pada kemampuan kita."


Sofya tersenyum lembut. "Tentu, Hegi. Kita sudah melewati banyak hal bersama sejak kecil. Ayo kita dukung satu sama lain dan berjuang bersama dalam seleksi ini."


Setelah percakapan singkat tersebut, Hegi dan Sofya segera memasuki mobil yang dikendarai oleh ayah Sofya. Dengan penuh semangat, mereka menggeser barang bawaan mereka ke dalam bagasi dan menata diri sejenak di dalam mobil sebelum memulai perjalanan panjang menuju Ibukota Benteng Selatan.


Perjalanan mereka diperkirakan akan memakan jarak sekitar sepuluh kilometer. Begitu mobil melaju keluar dari pemukiman mereka, suasana sekitar segera terlihat berbeda.


Hegi menatap keluar jendela dengan antusias, memperhatikan suasana kota yang dipenuhi dengan mobil listrik, perumahan modern, perkebunan dan pertanian yang subur, serta panel surya yang tersebar di atap gedung


Namun, saat mereka memasuki tembok dalam kota, Hegi melihat pemukiman yang sangat padat namun tersusun dengan sangat rapi.


Hegi terpesona melihat perubahan yang signifikan di dalam tembok dalam kota. Pemukiman yang padat, namun tertata dengan rapi, mencerminkan efisiensi dan pengaturan yang baik dalam pemanfaatan ruang.


Meskipun begitu, Hegi juga menyadari bahwa padatnya pemukiman ini menunjukkan bahwa populasi di tembok dalam jauh lebih besar daripada yang di tembok luar.


Di sepanjang jalan, Hegi melihat gedung-gedung bertingkat yang tinggi dan terlihat begitu megah. Bangunan-bangunan ini tampak modern dan canggih, dengan desain yang menarik dan efisien.


Hegi dapat melihat bagaimana kota ini berhasil memanfaatkan ruang yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan penduduk dengan cara yang efisien dan berkelanjutan.


Di antara bangunan-bangunan yang padat, Hegi masih bisa melihat sentuhan alam yang ada. Beberapa perkebunan dan pertanian yang subur masih mampu bertahan di tengah kesibukan perkotaan.


Pertanian vertikal di dinding bangunan dan taman komunal di antara gedung-gedung memberikan rasa kehidupan alami di tengah kota yang sibuk.


Hegi juga melihat panel-panel surya yang tersebar di atap gedung, bahkan di lingkungan yang padat seperti ini. Cahaya matahari yang bersinar terang memberikan sumber energi terbarukan bagi kota ini, mengurangi ketergantungan mereka pada sumber daya yang tidak terbarukan.


"Sofya, lihatlah sekeliling kita! Kota ini begitu indah dan ramah lingkungan," ucap Hegi dengan penuh kagum, matanya dipenuhi dengan kekaguman saat melihat sekitar.


Sofya tersenyum setuju, mengamati semua pemandangan yang memukau di sekeliling mereka. "Ya, Hegi. Benteng Selatan memang menginspirasi dengan upaya mereka dalam menjaga lingkungan. Sungguh mengesankan melihat begitu banyak mobil listrik yang berlalu-lalang di jalan-jalan ini, dan energi terbarukan yang digunakan di sini."


Hegi mengangguk, menyadari pentingnya langkah-langkah keberlanjutan yang diambil oleh kota ini. "Benar, ini adalah contoh bagaimana kita dapat hidup dalam harmoni dengan alam. Panel surya yang tersebar di atap gedung memberikan sumber energi yang bersih dan berkelanjutan, sedangkan lahan terbuka memberikan ruang bagi alam untuk berkembang."


Sofya setuju, mengamati dengan penuh kekaguman. "Dan perhatikan betapa subur dan hijaunya perkebunan dan lahan pertanian di sekitar kita. Mereka tidak hanya memberikan makanan lokal yang berkualitas tinggi, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan dan keberlanjutan pangan."

__ADS_1


Hegi mengangguk setuju, mengerti betapa pentingnya menjaga ketahanan pangan dan menjaga keseimbangan lingkungan. "Kita juga harus berkontribusi dalam menjaga lingkungan ini. Ketika kita menjadi anggota militer, kita akan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam inisiatif yang berfokus pada keberlanjutan dan perlindungan lingkungan. Kita harus menggunakan posisi kita untuk membuat perubahan yang positif."


Sofya merasa haru dengan semangat dan tekad Hegi. Dia menggenggam tangan Hegi dengan erat. "Tentu, Hegi. Bersama-sama, kita bisa membuat perbedaan dan menjaga keindahan Benteng Selatan ini untuk generasi mendatang. Mari kita berjanji untuk melindungi alam ini dan menjadi pahlawan bagi lingkungan kita."


__ADS_2