
2240
Distrik Tenggara Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.674
Setelah makan siang, Hegi mengajak Noy untuk berkeliling desanya. Bagi Noy, yang berasal dari Tembok Dalam yang mayoritas merupakan perkotaan, hal ini merupakan pengalaman yang seru dan menarik. Dia penasaran dengan kehidupan di desa dan ingin melihat lebih dekat bagaimana Hegi tumbuh besar di lingkungan tersebut.
"Kamu benar-benar tinggal di desa yang indah, Hegi!" ucap Noy ketika mereka berjalan-jalan di sekitar desa.
Hegi tersenyum, "Iya, aku sangat menyukai kehidupan di sini. Desa ini memiliki suasana yang tenang dan harmonis, serta orang-orang yang ramah dan akrab satu sama lain."
Noy mengangguk, mengamati dengan antusias rumah-rumah yang tampak modern dengan sentuhan nuansa alam di sekeliling mereka. Dia merasa begitu tertarik dengan kehidupan pedesaan yang berbeda dari apa yang dia kenal sebelumnya.
"Mereka menanam banyak tanaman dan bunga di sekitar rumahnya, ya? Sungguh cantik," ucap Noy sambil menunjuk pada beberapa taman di halaman rumah-rumah penduduk.
Hegi menjelaskan dengan riang, "Ya, banyak orang di desa ini senang berkebun. Selain itu, kami juga memiliki kebun sayur dan kebun buah yang diurus oleh warga secara bersama-sama. Hal ini membuat desa kami menjadi lebih hijau dan sejuk."
Selama berkeliling desa, Noy juga bertemu dengan beberapa warga desa yang ramah dan bersahabat. Mereka menyambut Noy dengan hangat, dan Noy merasa seperti dianggap sebagai tamu istimewa di sini.
"Mereka sangat ramah, ya! Aku merasa begitu diterima di sini," ucap Noy dengan senang hati.
Hegi tersenyum, "Masyarakat di desa kami memang sangat akrab satu sama lain. Kami selalu bersedia membantu dan mendukung satu sama lain dalam segala hal."
Perjalanan keliling desa tersebut menjadi momen yang sangat berarti bagi Hegi dan Noy. Hegi senang bisa berbagi kehidupannya di desa dengan Noy, dan Noy merasa terkesan dengan keramahan dan keindahan desa tersebut.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, malam pun akhirnya tiba. Dengan langit gelap mulai menghampiri, mereka berdua, Hegi dan Noy, kembali ke rumah Hegi yang hangat dan nyaman setelah berkeliling desa.
Meskipun mereka sudah lelah dan bisa tidur dengan kenyamanan di dalam rumah dengan tempat tidur empuk, Hegi dengan penuh semangat mengusulkan ide yang menggelitik hati.
"Hey, bagaimana kalau kita tidur di luar malam ini? Udara segar dan langit berbintang pasti akan membuat tidur kita semakin nyenyak," ucap Hegi kepada Noy dan Sera.
Noy terkesan dengan ide itu, "Benarkah? Tidur di luar di bawah langit berbintang pasti akan menjadi pengalaman yang seru."
Hegi kemudian meminta izin kepada Sera, "Bagaimana menurutmu, Kak Sera? Apakah kita boleh tidur di luar?"
Sera tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja boleh, asalkan kalian merasa nyaman. Aku akan membawa beberapa selimut dan bantal agar tidur kita lebih nyaman."
Dengan persetujuan Sera, mereka pun mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk tidur di luar. Sera membawa selimut dan bantal dari dalam rumah, sementara Hegi dan Noy berusaha membuat api unggun kecil dengan kayu-kayu yang mereka kumpulkan dari rumah, agar tetap hangat di malam yang sejuk.
Setelah api unggun menyala dan sinar bulan menerangi halaman rumah Hegi. Cahaya hangat dari api unggun membuat mereka merasa semakin bersemangat dengan pilihan tidur di luar di bawah langit berbintang.
Sera kemudian datang, menyajikan beberapa cemilan yang ia bawa dari dalam rumah. Ada buah-buahan segar, camilan gurih, dan cokelat untuk memanjakan lidah mereka di malam yang menyenangkan ini.
Mereka duduk bersila di sekitar api unggun, menikmati makanan dan minuman sambil bersenda gurau. Canda tawa mereka mengisi malam dan semakin mempererat ikatan persahabatan di antara mereka.
Dikelilingi api unggun yang menari-nari, Hegi dan Noy saling bercanda dan bercerita dengan penuh antusiasme tentang petualangan yang telah mereka lalui selama perjalanan mereka mengelilingi desa.
__ADS_1
Hegi menceritakan dengan riangnya tentang saat mereka bermain-main di padang rumput yang luas, mencoba menirukan suara binatang di hutan, dan tertawa bersama ketika menghadapi tantangan di jembatan goyang.
Noy menambahkan kisah seru tentang saat mereka menyusuri sungai yang mengalir deras, merasakan kesegaran air yang menyejukkan tubuh mereka di tengah cuaca yang panas.
Dengan cahaya bintang-bintang di atas kepala mereka dan riak-riak api yang memancarkan kehangatan, malam mereka menjadi semakin berkesan dan membawa kedamaian.
Mereka merasakan keajaiban alam yang begitu indah dan saling menghargai momen ini sebagai hadiah berharga dalam perjalanan persahabatan mereka.
Tak lama kemudian, kelelahan perjalanan akhirnya mulai menghampiri mereka satu per satu. Dengan perasaan bahagia dan penuh syukur, mereka berjajar dalam tidur di bawah langit berbintang. Sera mengatur selimut dan bantal untuk mereka agar tetap nyaman di alam terbuka.
Hembusan angin malam yang sejuk menjadi selimut yang menenangkan, dan suara riak api unggun menjadi musik lelap bagi tidur mereka.
Tiba-tiba, suasana malam yang tenang di bawah langit berbintang dipenuhi dengan kegembiraan ketika Noy menunjuk ke langit.
"Lihat, ada bintang jatuh!" serunya dengan penuh kekaguman.
"Wow, benar! Ayo kita berikan keinginan pada bintang jatuh," ajak Hegi dengan riang gembira.
Tidak mau melewatkan kesempatan istimewa ini, mereka bertiga merapatkan diri dan menutup mata. Dengan hati yang penuh harapan, mereka mengucapkan keinginan masing-masing pada bintang jatuh yang berkilauan di langit malam.
Meskipun keinginan mereka hanya disampaikan dalam hati, namun rasa bahagia dan kekaguman atas momen tersebut terpancar jelas dari wajah mereka.
Sera tersenyum melihat keceriaan adiknya dan temannya. "Tidur di luar di bawah langit berbintang memang memberikan pesona tersendiri, ya?" ujarnya dengan hangat.
Hegi dan Noy mengangguk setuju. "Benar sekali, Kak Sera Pengalaman ini tak terlupakan. Terima kasih sudah mengizinkan kami melakukannya," ucap Noy dengan tulus.
Setiap detik menjadi berharga, dan keindahan alam semesta menyatukan mereka dalam perasaan syukur dan kebahagiaan.
Malam itu berjalan dengan tenang, langit berbintang menyinari langkah-langkah mereka di alam terbuka. Dengan api unggun yang memancarkan kehangatan, ketiganya merasakan kenyamanan dan kebahagiaan menyelimuti hati mereka.
Tidur di luar di bawah langit yang penuh gemerlap dan keheningan alam, memberikan mereka pengalaman yang begitu indah dan tak terlupakan.
Dalam suasana yang penuh kedamaian, semilir angin malam mengelus wajah mereka, seolah-olah alam ikut berbahagia atas momen kebersamaan ini. Mereka merasa begitu dekat dengan alam, seakan menjadi bagian dari keindahannya yang magis.
Semakin malam larut, semakin dalam mereka tenggelam dalam tidur. Semilir angin malam yang lembut mengantar mereka ke dalam mimpi-mimpi manis. Setiap detik berlalu dengan penuh damai, dan momen-momen indah seperti inilah yang akan selalu mereka kenang dalam perjalanan hidup mereka.
Pagi pun tiba, dan dengan lembut, Hegi dan Noy dibangunkan oleh Kak Sera dengan senyuman hangat di wajahnya. "Waktunya bangun, teman-teman! Matahari sudah mulai bersinar cerah," ucap Kak Sera dengan lembut.
Dengan perasaan bahagia dan segar, Hegi dan Noy membuka mata mereka. Mereka langsung disambut oleh pemandangan indah dari langit yang mulai berubah warna, menandakan kedatangan matahari terbit yang spektakuler.
Melihat pemandangan matahari terbit yang menakjubkan, Hegi, Noy, dan Sera merasa terpukau oleh keindahan alam yang begitu mempesona. Mereka menyadari bahwa malam yang lalu telah meninggalkan kenangan tak terlupakan dalam hati mereka, dan momen itu akan selalu membekas dalam ingatan mereka.
Sambil menghirup udara segar pagi, mereka saling tersenyum, mengingat momen-momen indah yang mereka alami bersama di bawah langit berbintang. Api unggun yang menyala dan canda tawa yang mengisi malam itu menjadi bagian dari kenangan indah yang takkan pernah pudar.
Mereka melihat sekeliling dan merasa beruntung bisa tidur di alam terbuka di bawah langit berbintang yang megah. Sera mengucapkan terima kasih kepada alam atas keindahan yang telah mereka nikmati bersama, sementara Hegi dan Noy menyampaikan rasa syukur mereka atas momen yang luar biasa tersebut.
"Ayo Noy, kita harus bersiap untuk kembali ke ibukota," ucap Hegi kepada Noy dengan sedikit rasa penyesalan.
__ADS_1
Noy mengangguk, "Iya, kita harus kembali. Tapi sebelum itu, ayo kita mandi dulu, biar segar dan siap menghadapi perjalanan."
Sera yang mendengar percakapan mereka merasa terkejut, dan ekspresi keheranannya tidak dapat disembunyikan. "Kenapa cepat sekali?" tanya Sera dengan wajah penuh tanya.
Hegi menjawab dengan penuh penjelasan, "Iya, Kak. Kita hanya diberi waktu dua hari oleh militer untuk bersiap-siap dan menetap di ibukota. Aku datang ke desa ini untuk menemuimu, karena aku ingin berbagi kabar dan waktu bersama sebelum kami berpisah lagi."
Sera merasa campur aduk, tetapi ia mengerti pentingnya situasi. "Baiklah, aku mengerti. Kita harus mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya," ucap Sera dengan wajah cemas namun tetap mantap.
Mendengar itu, Hegi menyadari perasaan kakaknya. "Kak Sera, jangan khawatir. Kami akan selalu menjaga komunikasi dan memberitahumu tentang perkembangan selanjutnya. Kita dapat datang kesini lagi saat ada kesempatan liburan atau waktu luang nanti," ujarnya dengan penuh perhatian.
Sera tersenyum, meskipun hatinya sedih, namun ia tahu bahwa inilah bagian dari perjalanan kehidupan yang harus dijalani. Ia memberi dukungan pada Hegi dan Noy, "Baiklah, semoga kalian selalu dalam perlindungan dan berhasil dalam tugas kalian di ibukota. Jangan lupa untuk menghubungi ku, ya!"
Setelah percakapan itu, mereka berdua dengan cermat membersihkan tempat di mana mereka tidur di alam terbuka. Mereka memadamkan sisa-sisa api unggun dengan hati-hati dan mengumpulkan sampah-sampah kecil yang mereka tinggalkan, sebagai bentuk rasa hormat pada alam yang telah memberikan momen indah bagi mereka.
Setelah selesai membersihkan, ketiganya bersama-sama menuju kamar mandi untuk mandi sebelum perjalanan kembali ke ibukota. Meskipun waktu yang mereka miliki terbatas, mereka tetap berusaha menjalani rutinitas dengan penuh perhatian dan kebersihan.
Mereka berdua sepakat untuk mandi bergantian di kamar mandi yang ada. Hegi memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sementara Noy menunggu dengan sabar di luar.
Hegi memasuki kamar mandi dengan perasaan rileks setelah istirahat yang mengesankan. Air yang mengalir dari pancuran terasa menyegarkan, menghilangkan rasa lelahnya. Dengan hati yang bahagia, dia merenungkan kenangan indah dari malam sebelumnya, yang akan selalu membekas dalam ingatannya.
Setelah selesai mandi, Hegi keluar dari kamar mandi dan memberikan kesempatan pada Noy untuk mandi selanjutnya. Noy dengan gembira memasuki kamar mandi, menyanyikan lagu kecil sembari membasuh dirinya.
Sera, yang menunggu di luar, tersenyum melihat persahabatan mereka yang begitu dekat. Dia merasa beruntung memiliki orang-orang seperti Hegi dan Noy, yang selalu saling mendukung dan menghargai satu sama lain. Dengan penuh kasih sayang, Sera kemudian masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi Hegi dan Noy.
Di dalam dapur, Sera dengan cekatan memasak berbagai hidangan lezat. Dia tahu bahwa perjalanan kembali ke ibukota akan memerlukan energi yang cukup, jadi dia berusaha memberikan sarapan yang enak dan bergizi untuk mereka berdua.
Setelah Noy selesai mandi, mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Sera, dengan cermat, meletakkan hidangan di atas meja makan dengan indah. Ada nasi hangat, lauk-pauk yang bervariasi, dan buah-buahan segar sebagai penutup.
Ketika Hegi dan Noy masuk ke ruang makan, mereka dengan senyum lebar menyambut sarapan yang telah disiapkan dengan penuh kasih oleh Sera.
"Terima kasih, Kak Sera! Semuanya terlihat begitu lezat," ucap Hegi dengan rasa terharu.
Noy mengangguk setuju, "Ya, terima kasih banyak. Kau benar-benar kakak yang selalu peduli dengan kami."
Sera tersenyum bahagia melihat reaksi mereka, "Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Ini adalah cara ku menunjukkan rasa sayang dan dukungan ku kepada kalian. Mari, mari kita makan bersama dan nikmati sarapan ini sebelum berangkat."
Ketiganya pun duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan yang lezat sambil berbincang dan berbagi tawa. Sarapan pagi ini menjadi momen lain yang indah dalam perjalanan mereka. Setelah sarapan selesai, mereka membersihkan meja dengan penuh kerjasama.
Meskipun mereka akan berpisah sebentar dalam perjalanan ke ibukota, mereka tahu bahwa ikatan mereka akan selalu bersatu dan kuat, seperti hubungan yang telah mereka bangun ini.
Dengan perut kenyang dan hati penuh kasih, Hegi dan Noy bersiap-siap untuk kembali ke ibukota. Mereka tahu bahwa mereka akan selalu memiliki Sera di hati mereka, yang dengan penuh cinta telah menyemangati dan meramaikan setiap momen perjalanan mereka.
Sebelum berangkat, Sera memberikan sebuah surat kepada Hegi. Hegi awalnya merasa keheranan dengan surat tersebut, tidak menyangka bahwa Sera memiliki sesuatu yang begitu berarti untuknya.
"Dulu, sebelum ayah pergi meninggalkan kita, beliau memberikan surat ini untukmu, Hegi," ujar Sera sambil menepuk lembut bahu Hegi. "Aku menyimpannya dengan baik, karena aku tahu suatu saat nanti kamu pasti harus membacanya."
Sera melanjutkan, "Surat ini juga memiliki hubungan dengan liontin yang pernah aku berikan padamu sebelumnya. Ayahmu menyuruhku memberikan liontin itu kepadamu ketika kamu masuk militer."
__ADS_1