Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 15: Besama Noy


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.671


Hegi dan Noy berjalan meninggalkan aula dengan langkah yang ceria. Mereka merasa bahwa momen ini adalah kesempatan yang sempurna untuk menjelajahi sekitar tembok pusat markas militer, menjelajahi wilayah yang sebelumnya belum pernah mereka jelajahi.


Dengan semangat petualangan yang membara, Hegi dan Noy memutuskan untuk bergerak ke arah barat dari aula. Mereka memilih jalan yang berkelok-kelok, melintasi koridor-koridor yang menghubungkan bangunan satu dengan lainnya. Dalam perjalanan mereka, mereka dapat menikmati setiap detik petualangan dengan lebih intens.


"Sungguh indah di sini," ucap Hegi, matahari senja menerangi langkah mereka sambil menciptakan bayangan yang menarik di dinding tembok pusat.


"Betul, Hegi. Perjalanan ini membuatku semakin menghargai keindahan yang ada di sekitar kita," jawab Noy dengan antusiasme.


Mereka melintasi koridor yang dihiasi dengan seni militer yang megah dan jendela-jendela yang menawarkan pemandangan indah ke luar. Angin sepoi-sepoi melintas melalui lorong-lorong tersebut, mengirimkan sensasi menyegarkan ke wajah mereka saat mereka melangkah maju.


Selama perjalanan mereka yang berliku-liku, mereka terpukau oleh keindahan arsitektur tembok pusat yang menjulang tinggi di depan mereka. Batu-batu besar dengan ketahanan yang kuat menyiratkan keberanian dan keteguhan prajurit yang menjaga keamanan dan integritas militer.


Saat mereka melanjutkan perjalanan, Hegi dan Noy melihat para prajurit yang sedang berlatih dengan lightblade dan lightgun di tenggara. Cahaya senja memancar dan menciptakan suasana yang magis, memperkuat kesan yang mengagumkan dari alat-alat tersebut.


"Keren kan, Noy? Aku harap dapat memainkannya," ujar Hegi dengan penuh antusiasme, matanya terpancar keinginan untuk mencoba senjata-senjata tersebut.


"Iya, aku juga. Mereka benar-benar menguasainya dengan baik," jawab Noy, wajahnya berbinar-binar melihat aksi para prajurit.


Hegi tidak bisa menahan rasa kagumnya saat melihat keahlian dan ketangguhan para prajurit dalam mengoperasikan senjata-senjata tersebut. Ia merasa semakin terinspirasi dan termotivasi untuk mengembangkan keterampilan dan keahliannya sebagai seorang prajurit.


Dia menyadari bahwa latihan dan dedikasi yang keras akan menjadi kunci untuk mencapai tingkat keahlian seperti mereka.


Tak lama setelah itu, Hegi dan Noy sampai di sebuah kantin yang terletak di sebelah barat daya. Kantin itu tampak ramai oleh prajurit yang ingin makan malam.


Kantin ini memancarkan pesona dengan gaya arsitektur yang mencerminkan keprajuritan dan kepraktisan. Bentuk kantin tersebut mengingatkan Hegi dan Noy pada bangunan-bangunan militer yang kokoh.


Dindingnya terbuat dari beton yang kuat dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan. Atapnya dilengkapi dengan rangka logam yang kokoh, memberikan perlindungan dan ketahanan.


Terdapat tangga-tangga besi yang terhubung ke lantai atas, mungkin sebagai akses tambahan atau sebagai tempat duduk untuk prajurit yang ingin menikmati makanan mereka dengan pemandangan yang indah.


Pintu masuk kantin terbuka lebar, menyambut prajurit yang berduyun-duyun masuk. Di dalam, terdapat meja-meja dan kursi-kursi kayu yang teratur tersusun, menciptakan suasana yang ramah dan nyaman.


Warna cat dinding dan furnitur yang sederhana memberikan kesan kesederhanaan dan kemandirian yang sering dikaitkan dengan lingkungan militer.


Di sepanjang dinding, terdapat gambar-gambar dan poster-poster yang menggambarkan semangat dan dedikasi prajurit. Pesan-pesan inspiratif dan motivasi terpampang dengan jelas, mengingatkan para prajurit untuk tetap fokus dan bersemangat dalam tugas mereka.


"Ayo kita masuk, aku mendengar dari prajurit di sini bahwa kantin ini memberikan makanan secara gratis," ucap Noy dengan antusias.


"Hah, benarkah? Ayo kalau begitu, perutku juga belum terisi sejak tadi," jawab Hegi dengan senyum. Mereka berdua masuk ke dalam kantin dengan langkah bersemangat, siap untuk menikmati hidangan yang ditawarkan.


Hegi dan Noy merasa termotivasi saat memasuki kantin ini. Mereka melihat prajurit-prajurit yang sedang menikmati hidangan mereka dengan semangat, tertawa, dan bercanda satu sama lain. Suasana kantin penuh dengan kehangatan persahabatan dan solidaritas, menciptakan ikatan antara para prajurit di sana.

__ADS_1


Hegi dan Noy bergabung dengan antrean untuk mengambil hidangan mereka. Terdapat berbagai macam makanan yang disajikan, mulai dari hidangan klasik hingga makanan lokal yang khas. Mereka berdua memilih hidangan favorit mereka dan duduk di meja yang nyaman.


Sambil menikmati hidangan mereka, Hegi dan Noy tidak hanya merasakan kelezatan makanan tersebut, tetapi juga kebersamaan dan kebanggaan menjadi bagian dari komunitas militer yang saling mendukung. Mereka merasakan rasa solidaritas yang kuat di antara sesama prajurit yang hadir di kantin tersebut.


"Makanan di sini enak sekali," ucap Hegi sambil tersenyum puas.


"Benar, dan juga gratis!" jawab Noy dengan antusias.


Mereka berdua saling berbagi cerita tentang pengalaman mereka di markas, mengungkapkan tantangan dan kegembiraan yang mereka rasakan sebagai calon prajurit. Gelak tawa mereka memenuhi kantin, menciptakan suasana hangat dan persahabatan di antara mereka.


Setelah makan selesai, Hegi dan Noy berterima kasih kepada para prajurit yang mengelola kantin tersebut atas pelayanan yang ramah dan hidangan yang lezat. Mereka merasa terhibur dan terpenuhi setelah makan malam yang menyegarkan.


Dengan perasaan kenyang dan semangat yang baru, Hegi dan Noy melanjutkan perjalanannya di sekitar markas. Mereka merasa semakin siap menghadapi serangkaian tes yang menantang besok.


Percakapan, tawa, dan kebersamaan di kantin telah memberikan energi positif dan kekuatan mental yang diperlukan untuk menghadapi tantangan selanjutnya.


Setelah keluar dari kantin, Hegi dan Noy melanjutkan perjalanan jalan-jalan mereka dengan semangat yang masih membara. Mereka ingin mengeksplorasi lebih banyak lagi sebelum akhirnya kembali ke asrama militer.


Langkah mereka terasa ringan di bawah langit senja yang memancarkan warna-warni indah. Mereka menikmati keindahan alam dan suasana yang menenangkan, sambil saling bertukar cerita dan tawa.


Tak lama setelah itu, Hegi dan Noy sampai di tempat parkir helikopter yang terletak di lapangan bagian barat dari markas pusat. Mereka terpesona oleh pemandangan yang terbentang di hadapan mereka.


Helikopter-helikopter berjejer dengan rapi di sepanjang landasan. Lapangan parkir helikopter ini memiliki arsitektur yang fungsional dan efisien. Landasan yang terbuat dari beton yang kokoh dan dilengkapi dengan tanda-tanda navigasi yang jelas.


Rambu-rambu pengaman dan marka jalan memastikan keamanan dalam operasi pendaratan dan lepas landas helikopter. Helikopter-helikopter yang terparkir di sana memiliki berbagai gaya dan ukuran.


Hegi berdiri di samping helikopter terdekat, matanya terpesona dengan ukuran dan kompleksitas mesin di dalamnya. "Satu, dua, tiga," ucapnya sambil menghitung helikopter-helikopter yang ada di sekitarnya. "Banyak juga helikopter yang siap bertugas di sini. Mereka benar-benar mengesankan!"


Noy menyimak dengan rasa kagum yang sama. "Betapa mengagumkannya prajurit-prajurit yang terlatih untuk menguasai dan mengoperasikan mesin yang rumit seperti ini. Mereka sungguh luar biasa."


Cahaya matahari senja yang memancar dari langit menciptakan siluet indah helikopter-helikopter tersebut. Angin sepoi-sepoi membuat bendera yang berkibar di sekitarnya. Suasana lapangan parkir helikopter ini terasa


tenang dan sarat dengan semangat militer yang tangguh.


Hegi dan Noy berjalan mengelilingi lapangan, mendekati beberapa helikopter dan mengamati detailnya. Mereka saling bertukar pengetahuan tentang jenis helikopter, kemampuan dan peran masing-masing. Diskusi mereka penuh dengan kekaguman dan kegembiraan, semakin memperdalam pemahaman mereka tentang dunia militer dan teknologi helikopter.


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di lapangan parkir helikopter, Hegi dan Noy mengucapkan terima kasih kepada prajurit yang menjaga dan merawat helikopter tersebut. Dengan semangat yang membara, mereka melanjutkan perjalanan jalan-jalan mereka.


Hegi melangkah dengan hati yang berdebar-debar melalui koridor asrama perempuan yang terletak di sebelah barat daya. Koridor ini dirancang dengan arsitektur yang mencerminkan kepraktisan dan kenyamanan yang sangat penting dalam lingkungan militer.


Dindingnya yang terbuat dari bahan yang tahan lama dan tahan gores memberikan keamanan tambahan bagi para penghuninya. Sementara itu, pencahayaan yang cerah dan tata letak ruangan yang teratur menciptakan atmosfer yang menyenangkan dan memudahkan navigasi.


Tidak hanya itu, suasana asrama yang tenang dan teratur juga membantu para perempuan prajurit menjaga fokus dan keseimbangan mereka di tengah kesibukan dan tuntutan tugas militer.


Koridor yang luas dilengkapi dengan lantai keramik yang terawat dengan baik, memberikan kesan kebersihan dan ketertiban. Dindingnya dicat dengan warna netral yang lembut, menciptakan suasana yang tenang dan nyaman.


Penerangan yang baik melalui lampu-lampu langit-langit memberikan cahaya yang cukup untuk memudahkan aktivitas sehari-hari.

__ADS_1


Saat Hegi melintasi koridor, ia melihat pintu-pintu kayu yang terbuka menuju kamar-kamar tidur para prajurit wanita. Setiap kamar dilengkapi dengan tempat tidur yang teratur, lemari untuk penyimpanan pakaian, dan kamar mandi.


Desain interior kamar-kamar tersebut didominasi oleh warna yang lembut dan hangat. Lembaran-lembaran foto keluarga dan teman-teman terpajang di dinding, memberikan sentuhan personal bagi setiap prajurit yang tinggal di sana.


Setelah melintasi koridor asrama perempuan, Hegi berhenti sejenak di tengah jalan, memperhatikan pintu-pintu yang tersusun rapi di sepanjang lorong. Dia teringat temannya, Sofya.


Dia merasa cemas dan berharap dapat menemukan Sofya, temannya. Dengan harapan terpancar dari matanya, Hegi memutuskan untuk mencari Sofya dengan bertanya kepada Noy, yang berada disampingnya.


"Kira-kira Sofya ada di mana ya?" tanya Hegi penuh harap kepada Noy, mencoba mendapatkan petunjuk yang mungkin membantu.


Noy mempertimbangkan pertanyaan tersebut sejenak sebelum memberikan tanggapannya. "Sofya? Temanmu Mungkin kamu bisa mencoba menanyai setiap orang di sini," jawab Noy dengan penuh pertimbangan.


Hegi merenung sejenak, menyadari bahwa mencari Sofya dengan cara tersebut mungkin adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki. "Ah, benar juga," ucap Hegi dengan setengah berbisik, membenamkan dirinya dalam keheningan yang penuh harap.


Tanpa ragu lagi, Hegi mulai mengetuk pintu satu per satu, dengan hati yang penuh harap, bertanya kepada para prajurit yang tinggal di asrama apakah mereka pernah melihat Sofya.


Dalam setiap ketukan pintu, Hegi menaruh harapan untuk menemukan temannya, mengandalkan dukungan dari rekan-rekannya dalam upaya mencari yang dilakukannya.


Namun, satu per satu jawaban yang diterima Hegi adalah negatif. Dalam setiap pintu yang dia ketuk, prajurit-prajurit di asrama perempuan tersebut mengatakan bahwa mereka tidak melihat Sofya. Rasa kecewa mulai merasuki pikiran Hegi, dan kekhawatiran tentang keberadaan Sofya semakin membesar.


Hegi mulai berpikir bahwa mungkin Sofya berada di tempat lain, atau ada tugas yang membuatnya tidak berada di asrama saat ini. Dia mencoba meredakan kegelisahannya dengan mencari alasan yang rasional, tetapi hatinya tetap resah.


Dalam keheningan koridor yang menggantung, Hegi berusaha menenangkan diri, berharap bahwa ada penjelasan yang masuk akal untuk ketidakhadiran Sofya di asrama.


"Tidak ada di manapun, ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Hegi dengan suara lirih. Dia merasa kecewa dan sedih karena pencariannya belum membuahkan hasil, namun ia memahami bahwa terus bergerak maju adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki saat ini.


Noy mengangguk dengan simpati, mengerti perasaan Hegi. "Hmm," jawab Noy sambil menunjukkan dukungannya kepada Hegi, meskipun ia juga merasa sedikit kecewa atas hasil pencarian yang nihil.


Dengan hati yang berat, Hegi mengambil napas dalam-dalam dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama Noy. Di bagian utara dari markas pusat, Hegi dan Noy melihat sebuah garasi besar yang memukau.


Garasi ini dipenuhi dengan mobil-mobil militer yang kokoh, terparkir rapi dan tersusun dengan teliti. Saat mereka mendekati garasi tersebut, mereka merasakan keberadaan kekuatan militer yang tangguh dan kesiapan yang terpancar dari setiap kendaraan.


Gaya arsitektur garasi ini mencerminkan kepraktisan dan kekuatan. Bangunan garasi terbuat dari beton yang kuat, dengan dinding dan atap yang kokoh.


Jendela-jendela besar memungkinkan cahaya matahari senja menyinari ruangan, menciptakan efek yang mempesona. Warna dominan di garasi ini adalah hijau militer yang khas, menggambarkan semangat dan identitas militer yang kuat.


Pintu-pintu besi yang besar dan kokoh memberikan akses yang mudah untuk masuk dan keluar dari garasi, dengan sistem keamanan yang ketat.


Mobil-mobil militer yang terparkir di dalam garasi ini merupakan perwujudan teknologi dan kekuatan. Kendaraan-kendaraan tersebut beragam jenis dan ukurannya, mulai dari truk berat hingga kendaraan lapis baja. Mereka menonjol dengan tampilan yang tegap dan aerodinamis, mencerminkan kesiapan dan mobilitas militer.


Hegi dan Noy terpesona oleh keindahan dan kehebatan garasi ini. Mereka melihat-lihat dengan penuh kagum. Mereka membayangkan diri mereka mengemudikan mobil-mobil militer tersebut, merasakan getaran kekuatan yang terpancar dari setiap kendaraan.


Setelah puas melihat-lihat sekitar, Hegi dan Noy melanjutkan perjalanan mereka ke markas pusat dan laboratorium R&D yang terletak persis di tengah-tengah tembok pusat.


Mereka merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam bangunan-bangunan tersebut, berharap bisa melihat teknologi dan inovasi terkini yang dikembangkan di sana.


Namun, ketika mereka tiba di pintu masuk markas pusat, penjaga di sana menghentikan mereka. "Maaf dek, calon prajurit tidak diperkenankan masuk ke dalam," ucap penjaga dengan tegas, menjelaskan aturan yang berlaku.

__ADS_1


__ADS_2