
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.680
Saat senja menyapa dengan kehangatan, Noy membuka mata perlahan dan merasa sedikit kantuk. Ia meregangkan tubuhnya di tempat tidur, merasakan kenyamanan tempat itu.
Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Ketika ia memutar pandangannya ke arah samping, ia melihat Hegi duduk dengan tumpukan buku di sebelahnya.
Hegi masih tenggelam dalam bacaannya, wajahnya tampak serius dan terfokus pada halaman buku yang dipegangnya.
Dalam senja yang semakin meresap ke dalam kamar, Noy memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur, membiarkan matahari terbenam dengan hangatnya. Ia melanjutkan momen diamnya, memperhatikan Hegi yang tetap asyik dengan bacaannya.
Meskipun tidak banyak kata yang terucap, tetapi dalam keheningan itu terdapat pemahaman yang
mendalam antara mereka berdua, seperti sahabat yang telah lama mengenal satu sama lain.
Setelah beberapa saat, Hegi akhirnya mengangkat kepala dari bukunya dan memperhatikan Noy yang duduk di ranjangnya.
"Oh, kau sudah bangun?" ujarnya dengan senyum lembut.
Noy mengangguk, "Iya, aku baru saja bangun. Sudah lama kah kau membaca?"
Hegi menggaruk kepala sambil tersenyum, "Sejak tadi siang, sebenarnya. Buku ini sangat menarik."
Noy tertawa, "Apakah kah memang haus akan pengetahuan? Aku senang melihatmu begitu bersemangat dalam membaca."
Hegi tersenyum lebih lebar, "Kata siapa? Kau juga selalu bersemangat dalam banyak hal."
Mereka saling bertukar senyuman, menciptakan momen kehangatan di tengah senja yang memancarkan ketenangan.
Sambil menikmati kehadiran satu sama lain, mereka kembali ke dalam percakapan ringan yang telah menjadi ciri khas hubungan persahabatan mereka.
Hegi merasa puas dengan waktu yang telah ia habiskan untuk membaca, dan dengan perlahan ia menutup halaman bukunya. Ia melihat ke jam alarm di meja dan menyadari bahwa waktunya untuk beristirahat sejenak sebelum malam tiba.
Dengan langkah ringan, Hegi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Saat Hegi memasuki kamar mandi, Noy juga merasa bahwa waktunya untuk beristirahat sejenak setelah tidur siang yang menyegarkan.
Dengan langkah ringan, Noy bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri kamar mandi yang berada di sebelah kamar Hegi.
Hegi membuka keran air, membiarkan air mengalir dengan dingin. Ia merasakan sensasi yang sangat menyegarkan saat air menyentuh tangannya dan wajahnya.
Dalam beberapa saat, Hegi memutuskan untuk mandi dengan cepat untuk merasa lebih segar. Dengan hati-hati, Hegi melepaskan pakaian dan memasuki aliran air yang menyegarkan. Ia merasa semburan air mengalir menenangkan dan meremajakan tubuhnya.
Sambil membiarkan air mengalir di atas dirinya, Hegi merasa rileks dan menikmati momen kesendirian ini. Ia mengambil sabun dan mulai membersihkan tubuhnya dengan perlahan, ia membiarkan kesegaran menyelimuti tubuhnya.
Saat air mengalir di atasnya, Hegi merasa bagaimana kelelahan dari aktivitas harian dan latihan terkikis. Ia merasa segar dan siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Setelah selesai mandi, ia mematikan keran air dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut. Hegi melangkah keluar dari kamar mandi dengan rasa nyaman dan tenang, siap untuk menghabiskan sisa malam dengan damai.
Kembali ke kamarnya, Hegi merasa rasa nyaman dari pakaian yang ia kenakan dan ia merasa cukup bugar setelah mandi. Ia kembali melihat bukunya yang masih terbuka di meja dan merasa puas dengan waktu yang ia habiskan untuk membaca.
Dengan senyum kecil, Hegi merasa rasa syukur atas momen-momen seperti ini yang memberikan kepadanya kedamaian dan peluang untuk merenung.
Hegi merapatkan bukunya dan menyimpannya kembali di rak buku. Ia merasakan kelelahan ringan menyeruak, mengingatkannya bahwa istirahat adalah hal yang penting.
__ADS_1
Ia memutuskan untuk merebahkan diri di atas ranjangnya, membiarkan kenyamanan ranjang itu memeluk tubuhnya. Dalam ketenangan asrama yang semakin menuju malam, Hegi merasakan kelelahan mulai menyelimuti tubuhnya.
Dengan mata yang semakin berat, Hegi merasa dirinya terbenam dalam rasa kenyamanan dan ketenangan, siap untuk memasuki dunia mimpi yang membawa kesegaran untuk hari berikutnya.
Sesaat sebelum memasuki dunia mimpi, Hegi mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi. Ia merasakan kehadiran Noy dengan langkah ringan.
Mata Hegi bertemu dengan senyuman hangat yang diberikan Noy, sebuah senyuman yang mengandung arti bahwa Noy telah merasakan sensasi kesegaran dari mandi yang baru saja diambilnya.
Dengan tatapan penuh semangat, Noy berbicara kepada Hegi, suaranya terdengar lembut namun penuh antusiasme, "Ayo ke kantin, perutku sudah lapar."
Matanya berbinar-binar saat ia melontarkan usulan tersebut, seolah-olah ia telah menemukan ide brilian untuk mengakhiri hari mereka.
Hegi melihat Noy dengan senyuman, merasakan keakraban dalam kata-kata dan ekspresi temannya tersebut. Ia merasakan energi positif yang dipancarkan oleh Noy, dan tidak bisa menolak ajakan untuk makan malam bersama.
"Terdengar bagus, Noy," ujar Hegi sambil tertawa ringan. "Aku juga merasa lapar. Mari kita ke kantin dan nikmati makan malam."
Noy mengangguk, senyumannya semakin lebar. "Baiklah, ayo kita segera berangkat sebelum kantin penuh dengan orang."
Keduanya bergegas keluar dari kamar asrama, berjalan beriringan menuju kantin. Langit senja yang semakin merah menghiasi langkah mereka, menciptakan suasana yang tenang dan nyaman.
Sepanjang perjalanan, mereka terus berbicara, membagikan cerita dan tawa mereka, seakan tak ada batas waktu di antara pertemanan mereka berdua.
...****************...
Di tempat lain, Profesor Aster melanjutkan dengan penuh perhatian, "Saat ini, kami dari Tim R&D, tengah berusaha mengembangkan sebuah senjata pertahanan inovatif yang baru. Namun, sayangnya, senjata ini belum melalui uji coba praktis. Jika kita berhasil mengatasi tahap uji coba ini, maka kami berencana untuk membuat produksinya ke skala yang lebih besar."
Sorotan dari layar proyektor berpindah dari data statistik ke desain konseptual senjata pertahanan tersebut. Sketsa-skesa awal dari senjata tersebut ditampilkan, menunjukkan kecanggihan teknologi yang diusungnya.
"Sesuai dengan rencana, senjata ini dirancang untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat dan efektif terhadap serangan morsus. Namun, perlu diingat bahwa upaya pengembangan ini masih berada dalam tahap awal, dan kami membutuhkan kerja sama dan dukungan dari setiap elemen dalam Benteng ini," lanjut Profesor Aster dengan serius.
Denia, Sely, Celi, serta semua anggota hadirin yang lain merenungkan informasi tersebut. Mereka menyadari pentingnya senjata pertahanan baru ini dalam menghadapi ancaman morsus yang semakin besar.
Pandangan dari para hadirin pindah dari layar proyektor ke Profesor Aster, memperhatikan setiap kata yang diucapkannya.
Denia merasakan tekad dan urgensi dalam kata-kata profesor tersebut. Semua yang hadir menyadari bahwa cristorium, sumber daya langka yang sangat dibutuhkan untuk melawan morsus, menjadi tanggung jawab bersama.
Endri dan Wili saling bertatapan, menunjukkan rasa keseriusan dan tekad mereka dalam mengatasi tantangan ini. Denia, Sely, Celi, serta semua yang hadir merasa kewajiban untuk berkontribusi dalam upaya ini.
"Kami memahami bahwa misi ini memiliki risiko, dan kami akan memberikan pelatihan lebih lanjut serta perlengkapan yang diperlukan. Tetapi ingatlah bahwa hasil dari upaya kalian akan berdampak besar bagi keselamatan dan keberlanjutan Benteng kita," tambah Kapten Rachel dengan nada tegas.
Saat sedang menjelaskan, Sely mengangkat tangannya dengan penuh antusias. "Maaf, boleh saya bertanya? Apakah jumlah cristorium yang kita miliki saat ini cukup untuk melakukan uji coba senjata pertahanan yang baru?"
Profesor Aster menghormati pertanyaan Sely dengan senyuman. "Pertanyaan yang baik. Saat ini, jumlah cristorium yang kita miliki masih terbatas, dan memang menjadi alasan utama mengapa uji coba belum dilakukan. Namun, jika misi pencarian ini berhasil, kami berharap bisa mendapatkan pasokan yang cukup untuk melanjutkan pengembangan senjata tersebut."
Sely mengangguk mengerti, memahami bahwa setiap langkah harus diambil dengan hati-hati dan strategi yang matang dalam upaya menghadapi ancaman morsus.
Setelah menjawab pertanyaan Sely, Profesor Aster melanjutkan dengan pemaparan lebih lanjut tentang rencana pencarian cristorium dan tahap-tahap yang akan diambil dalam mengatasi tantangan tersebut.
"Dalam misi ini, kita akan membentuk beberapa tim eksplorasi yang akan diberi tugas untuk mencari dan mengumpulkan informasi cristorium di daerah-daerah yang telah kami identifikasi sebagai potensial," jelas Profesor Aster sambil menampilkan peta daerah-daerah tersebut di proyektor.
"Kalian akan bekerja sama dengan tim penjelajah dalam mengumpulkan data dan menyelidiki area-area tersebut."
Pandangan semua yang hadir berpindah antara satu dengan yang lain, tampaknya mereka menyadari kegentingan situasi.
Proyektor kembali menampilkan data, kali ini menunjukkan peta wilayah Bumi dan beberapa lokasi potensial tempat Cristorium dapat ditemukan.
__ADS_1
Peta itu dipenuhi dengan tanda dan tanda yang menunjukkan daerah-daerah yang telah diidentifikasi sebagai kemungkinan tempat tersembunyinya Cristorium.
Profesor Aster berbicara dengan suara yang penuh tekad, "Kami telah melakukan analisis yang mendalam terhadap pola serangan morsus dan daerah-daerah yang mereka serang. Berdasarkan data tersebut, kami telah mengidentifikasi titik-titik potensial di mana kita dapat menemukan sumber cristorium."
Peta itu terus berubah saat Profesor Aster menjelaskan lebih detail tentang setiap lokasi potensial, termasuk daerah-daerah yang memiliki sejarah serangan morsus dan tingkat keparahan serangan tersebut.
Setiap lokasi tampak memiliki tantangan unik, dari lingkungan yang keras hingga kondisi cuaca yang ekstrem.
Ia kemudian melanjutkan, “Rencana awal kami adalah mengirimkan tim penjelajah yang akan mengidentifikasi tempat-tempat potensial. Setelah mereka mendapatkan semua informasi yang diperlukan, kami akan mengirimkan tim pembebasan atau pasukan militer, termasuk kalian, untuk melaksanakan misi selanjutnya." Profesor Aster menjelaskan dengan tegas.
Pernyataan Profesor Aster tersebut membuat semua hadirin dalam rapat merasa semakin serius dan fokus.
Mereka menyadari bahwa tanggung jawab besar ada di pundak mereka, dan bahwa kesuksesan misi ini akan sangat penting dalam menghadapi ancaman morsus.
Rapat berlanjut dengan pembahasan lebih rinci tentang bagaimana persiapan akan dilakukan dan bagaimana tim penjelajah akan dipilih.
Diskusi juga terfokus pada bagaimana berkoordinasi dengan pasukan lain dan mengatur komunikasi efektif selama operasi. Setiap pertimbangan penting diuraikan secara mendalam, dengan tujuan untuk meminimalkan risiko dan mencapai hasil terbaik.
Setelah melakukan beberapa diskusi yang intens, Kapten Rachel mengangguk kepada semua yang hadir sebagai tanda bahwa semua hal yang perlu dibahas telah selesai.
Ia kemudian berdiri, mengambil peran sebagai pemimpin rapat, dan dengan suara yang tenang dan tegas, ia mengucapkan kata-kata penutup.
"Terima kasih kepada semua yang hadir hari ini. Kita telah mendengarkan dan berdiskusi tentang rencana yang krusial bagi keberlanjutan wilayah kita. Semua langkah yang akan kita ambil dalam pencarian Cristorium akan membutuhkan kerja keras, koordinasi, dan dedikasi dari kita semua. Mari kita berusaha sebaik mungkin untuk mengatasi tantangan ini."
Tatapannya melintas di antara para hadirin, memberikan semangat dan keyakinan. Kapten Rachel kemudian mengangkat tangan untuk memberikan salam dan mengucapkan terima kasih lagi sebelum akhirnya mengumumkan penutup rapat.
"Rapat ini ditutup. Mari kita bekerja bersama dan menjaga semangat untuk melindungi wilayah dan mencari solusi dalam menghadapi morsus."
Dengan semangat yang berkobar, para hadirin berdiri dan berpisah di ruangan rapat.
Masing-masing dari mereka memiliki peran yang penting dalam pelaksanaan rencana yang telah disepakati.
Langkah-langkah cepat terdengar saat mereka bergerak menuju pintu keluar, masing-masing dengan tujuan dan tugas yang berbeda.
Dalam sekejap, ruangan rapat yang tadinya penuh dengan pembicaraan dan rencana, kini menjadi sepi dan tenang. Namun semangat dan tekad untuk melaksanakan tugas yang diemban tetap membara dalam hati setiap individu yang hadir.
Dengan langkah mantap, mereka melangkah keluar menuju perjalanan yang menantang namun penuh harapan.
...****************...
Tiba di kantin, suasana yang ramai dengan para kadet yang menikmati makan malam mereka setelah sehari yang penuh aktivitas menyambut Hegi dan Noy.
Suara percakapan dan tawa riuh mengisi udara, menciptakan aura kebersamaan di sekeliling mereka. Mereka berdua mencari tempat duduk yang nyaman dan segera mengantri di depan area pilihan makanan.
Setelah memilih hidangan favorit dan kembali duduk, Noy memulai percakapan dengan senyum di bibirnya. "Jadi, apa yang kamu baca tadi Bukankah hari ini sudah cukup penuh dengan pelajaran?"
Hegi menjawab sambil tersenyum. "Oh, buku ini sebenarnya bukan bacaan pelajaran. Aku sedang membaca novel fiksi, cukup menyenangkan untuk merilekskan pikiran setelah kelas tadi."
Noy mengangguk mengerti. "Bukankah kita akan memiliki kelas senjata besok? Aku rasa persiapan mental juga penting."
Hegi tertawa. "Benar juga, tapi kadang-kadang melepas sedikit kepenatan dengan membaca juga bagus. Membantu kita tetap seimbang dan terhindar dari terlalu banyak stres."
Noy setuju sambil mengangkat gelas minumnya. "Sangat setuju. Keseimbangan itu penting. Oh ya, apa novel yang sedang kamu baca?"
Hegi memberikan senyuman misterius. "Ah, ini cerita fantasi tentang petualangan di dunia lain. Sangat memikat dan membuatku melupakan sejenak dunia nyata."
__ADS_1
Sambil menikmati makanan mereka, Hegi dan Noy juga melihat sekeliling kantin dan melihat wajah-wajah akrab dari rekan-rekan sejawat mereka.
Setiap gigitan makanan adalah nikmat, dan setiap percakapan adalah tanda persahabatan yang kokoh.