Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 40: Rencana Menghabiskan Senja


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.677


Setelah Celi meninggalkan ruangan dengan langkah mantap, para kadet, termasuk Hegi dan Noy, mengikuti jejaknya keluar dari ruangan kelas. Mereka berjalan dengan langkah hati-hati, masih tergugah oleh suasana dan informasi yang baru saja mereka terima.


Ruangan yang sebelumnya penuh dengan kegiatan dan penjelasan kini menjadi sunyi, hanya menyisakan keheningan yang menandakan berakhirnya pertemuan itu.


Suasana sunyi tersebut memberi mereka waktu untuk merenung dan meresapi semua yang telah mereka pelajari. Setiap kata dan nasihat dari Celi terdengar beresonansi dalam pikiran mereka.


Dalam keheningan tersebut, makna dari tujuan mereka sebagai prajurit dan tanggung jawab untuk melindungi Benteng Selatan semakin mendalam.


Saat melangkah keluar, Hegi dan Noy bergabung dengan sekelompok kadet lainnya yang juga sedang meninggalkan kelas. Mereka beralih dari suasana kelas yang serius menjadi suasana yang lebih santai di luar ruangan.


Dengan semangat yang masih menggebu, para kadet mulai saling berbicara dan berbagi kesan tentang apa yang baru saja mereka pelajari dalam kelas medis.


Beberapa di antara mereka berbicara tentang poin-poin penting dari penjelasan Celi, seperti pentingnya pertolongan pertama dalam misi ofensif dan peralatan medis yang akan mereka bawa.


Mereka berdiskusi tentang bagaimana cara menghadapi situasi medis yang mungkin terjadi di lapangan dan bagaimana memberikan pertolongan pertama dengan cepat dan efektif.


Tidak hanya itu, para kadet juga membagikan kesan mereka tentang kelas medis secara umum. Beberapa mungkin merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan medis di medan perang, sementara yang lain mungkin merasa ada hal baru yang perlu mereka pelajari lebih dalam.


Hegi dan Noy juga ikut berbincang-bincang dengan teman-teman mereka. Hegi menceritakan betapa pentingnya pertanyaan yang diajukan tentang membawa tas medis dalam misi ofensif.


Noy mengungkapkan kesan positifnya tentang kepraktisan tas medis yang ia rasakan saat mencobanya. Mereka juga mendengarkan cerita dari kadet lain tentang pertanyaan dan perdebatan yang muncul selama kelas.


Noy, yang selalu tertarik pada semuanya, termasuk keterampilan medis, berbicara tentang harapannya untuk memahami lebih lanjut tentang pertolongan pertama dalam situasi yang penuh tekanan. Ia ingin belajar bagaimana memberikan bantuan kepada rekan-rekannya dengan cepat dan tepat, bahkan dalam kondisi yang sulit.


Beberapa di antara mereka bergeser ke topik kelas bertahan hidup yang akan datang dan mulai berbagi ekspektasi mereka tentang apa yang akan mereka pelajari dari Instruktur Wili. Diskusi ini membuat suasana semakin hidup dan penuh semangat di antara para kadet.


Hegi mengekspresikan keingintahuannya tentang berbagai teknik bertahan hidup di lingkungan yang keras dan medan perang yang mungkin terasa asing bagi mereka. Ia juga berharap dapat memperoleh pengetahuan tentang bagaimana mengatasi situasi darurat dan menghadapi tantangan tanpa kehilangan akal sehat.


Beberapa kadet lain juga berbicara tentang pentingnya pengetahuan tentang mencari makanan dan sumber air di medan yang tidak familiar, serta teknik membangun tempat berlindung yang efektif.


Mereka membayangkan bagaimana kelas tersebut akan memberikan wawasan tentang kemandirian dan ketangguhan yang dibutuhkan untuk bertahan dalam situasi yang mungkin ekstrem.


Namun, ada juga beberapa kadet yang merasa sedikit cemas tentang apa yang akan mereka hadapi dalam kelas bertahan hidup. Mereka merasa bahwa tantangan-tantangan yang akan diberikan oleh Instruktur Wili mungkin tidak mudah.


Namun, mereka juga menyadari bahwa ini adalah kesempatan berharga untuk tumbuh dan belajar, serta menguji kemampuan mereka dalam situasi yang nyata.


Meskipun kelas hari ini telah berakhir dan para kadet meninggalkan ruangan, semangat dan dedikasi yang telah terpancar dari pertemuan tersebut masih berdenyut kuat dalam hati mereka.


Setiap kata dan pengetahuan yang mereka peroleh telah membangkitkan semangat juang yang lebih tinggi, dan keyakinan mereka pada manfaat latihan dan pelatihan ini semakin menguat.


Mereka memahami bahwa perjalanan untuk menjadi prajurit yang tangguh dan berkualitas tidaklah mudah. Namun, keyakinan mereka dalam tujuan mereka mendorong mereka untuk terus berusaha dan belajar.


Mereka yakin bahwa setiap latihan, setiap pelajaran, dan setiap tantangan adalah langkah penting dalam mempersiapkan diri mereka menghadapi dunia yang penuh ancaman.

__ADS_1


Semangat untuk menghadapi tantangan dan kesediaan untuk belajar dari pengalaman adalah yang membuat para kadet ini begitu istimewa.


Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak hanya sebatas mengasah keterampilan fisik dan mental, tetapi juga merangkul nilai-nilai seperti disiplin, keberanian, dan dedikasi. Setiap langkah mereka adalah investasi dalam diri mereka sendiri dan komunitas Benteng Selatan.


Seiring mereka melangkah keluar dari kelas, semangat ini terus mengiringi langkah mereka. Kegigihan untuk terus maju dan menjaga semangat juang tetap hidup adalah hal yang menggerakkan mereka.


Mereka menyadari bahwa menjadi prajurit sejati melibatkan kerja keras dan tekad yang kuat, dan mereka siap untuk menghadapi perjalanan ini dengan kepala tegak dan hati penuh semangat.


Ketika matahari semakin tinggi di langit dan Tembok Pusat Benteng Selatan kembali ramai dengan kegiatan, semangat dan dedikasi para kadet menjadi bagian tak terpisahkan dari atmosfer.


Dengan keyakinan yang bulat, mereka melangkah maju dalam perjalanan mereka untuk menjadi prajurit yang siap menghadapi tantangan, menjaga perdamaian, dan melindungi keindahan dunia mereka dari ancaman monster morsus.


Hegi dan Noy, dengan wajah penuh semangat, juga merasa bahagia dan bersyukur karena telah diberi kesempatan berharga untuk belajar dari instruktur yang berpengalaman seperti Celi.


Mereka saling berbicara tentang bagaimana kelas ini akan memberikan kontribusi besar dalam persiapan mereka untuk menghadapi situasi medis yang mungkin mereka hadapi di medan perang.


Melalui percakapan mereka, Hegi dan Noy semakin yakin bahwa kelas medis ini akan membekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang sangat berharga.


Mereka merasa lebih siap untuk menghadapi tantangan medis di medan perang dan memberikan pertolongan pertama kepada rekan-rekan mereka yang mungkin membutuhkan.


Dalam perjalanan mereka menjadi prajurit yang tangguh dan siap, pengetahuan dari kelas ini akan menjadi aset penting yang akan membantu mereka menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh komunitas di Benteng Selatan.


Sambil berjalan kembali menuju asrama mereka setelah kelas, Noy dengan wajah berbinar-binar mendekati Hegi. "Hari ini kelasnya sangat menarik, ya?" ujarnya dengan semangat.


"Betul sekali," balas Hegi dengan senyuman. "Kelas medis dan kelas bertahan hidup memang menarik dan penuh wawasan baru. Aku benar-benar merasa bahwa ilmu yang kita dapatkan dari sana akan sangat berguna di masa depan."


Noy mengangguk setuju. "Aku setuju. Meskipun akan menjadi tantangan besar, aku merasa senang bahwa kita diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan tambahan. Itu akan membuat kita menjadi lebih siap menghadapi situasi yang mungkin terjadi di medan perang."


Noy tersenyum. "Hegi, bicara tentang kesiapan, mungkin sekarang sudah saatnya kita memenuhi panggilan perut kita. Apa kau lapar?"


Hegi tertawa. "Benar juga, kita belum makan tadi pagi. Ayo, kita ke kantin dan isi perut dulu."


Langkah Hegi dan Noy yang penuh semangat membawa mereka menuju kantin, tempat di mana aroma makanan sedap dan suasana hangat selalu menyambut para prajurit setelah kelas atau latihan.


Mereka berdua berjalan melintasi koridor yang dikelilingi oleh dinding yang kokoh, mengobrol sambil tertawa kecil seolah mereka tidak merasa lelah setelah kelas pagi yang penuh ilmu dan wawasan.


Di bawah langit selatan yang cerah, Hegi dan Noy melangkah bersama menuju kantin. Suara langkah mereka terdengar di jalan setapak, sementara udara siang memberi semilir angin yang menyegarkan. Keduanya mengobrol dengan ringan, sambil membagikan pemikiran mereka tentang kelas medis yang baru saja mereka ikuti.


"Jujur, aku merasa sangat senang tentang kelas medis hari ini," ucap Noy, tersenyum pada Hegi.


Hegi mengangguk setuju. "Aku juga. Ini adalah kesempatan emas untuk belajar keterampilan medis yang mungkin bisa sangat bermanfaat di medan perang nanti. Selain itu, melihat tas medis yang kami akan bawa membuat semuanya terasa semakin nyata."


Noy mengangguk setuju. "Ya, rasanya seperti menjadi langkah nyata menuju peran prajurit yang lebih komprehensif. Kita tidak hanya belajar bertarung, tapi juga belajar bagaimana memberikan pertolongan pertama kepada rekan-rekan kita."


Hegi mengambil napas dalam-dalam. "Betul. Meskipun kadang-kadang terdengar menakutkan, kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa medan perang bisa sangat tidak terduga. Kita harus bisa memberikan bantuan jika ada yang terluka, bahkan ketika situasinya kacau."


Sementara mereka berbicara, kantin mulai terlihat di kejauhan. Bau harum makanan pagi yang menggoda mulai mengisi udara.


"Kau tahu," ujar Noy dengan candaan,"rasanya seperti ada misi baru yang menunggu kita di kantin. Misi untuk memenuhi perut kosong kita!"

__ADS_1


Hegi tertawa. "Sepertinya kita siap untuk misi itu. Tapi ya, jujur, setelah belajar tentang pertolongan pertama dan kesiapan medis, aku merasa lebih menghargai arti penting makanan dan istirahat bagi prajurit."


Noy mengangguk setuju sambil tertawa. "Kau benar. Dalam dunia pertempuran yang keras, hal-hal sederhana seperti makanan dan istirahat bisa menjadi faktor yang menentukan. Ayo, kita cepat sampai di kantin sebelum antrian terlalu panjang."


Ketika langkah mereka membawa Hegi dan Noy lebih dekat ke pintu kantin, aroma lezat dari masakan yang disajikan membuat perut mereka bergemuruh dengan antusiasme. Mereka tak sabar untuk menikmati makanan setelah beberapa jam aktivitas fisik dan belajar.


Saat mereka memasuki kantin, suasana ramai dan penuh semangat langsung menyambut mereka. Suara obrolan dan tawa dari para prajurit yang berkumpul menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh kebersamaan.


Hegi dan Noy menemukan tempat di antara teman-teman sejawat mereka, menempati kursi yang kosong di meja yang penuh dengan energi positif.


Sambil memilih hidangan yang menggiurkan dari berbagai pilihan yang tersedia, Hegi dan Noy tidak bisa menahan senyum. Mereka merasa beruntung bisa menjadi bagian dari komunitas yang begitu solid dan penuh semangat.


Sesekali, mereka memberikan senyuman dan melambaikan tangan kepada rekan-rekan sesama kadet yang mereka kenal, menguatkan ikatan persahabatan yang telah terjalin.


Saat mereka mulai menyantap makanan, obrolan dan tawa ringan semakin mengisi ruangan. Hegi dan Noy pun bergabung dengan percakapan, berbicara tentang pelajaran dari kelas medis tadi pagi dan membagikan ekspektasi mereka menghadapi kelas bertahan hidup besok. Tak jarang, mereka juga tertawa karena candaan dan cerita lucu dari teman-teman mereka.


Saat mereka meninggalkan kantin, senyum kepuasan masih terpancar jelas di wajah Hegi dan Noy. Hidangan lezat yang baru saja mereka nikmati telah meninggalkan rasa kepuasan di perut mereka.


Namun, lebih dari itu, momen itu juga menjadi bukti kebersamaan mereka dengan sesama prajurit dan tim kantin yang bekerja keras untuk menyajikan makanan berkualitas.


Sejenak, mereka berhenti di dekat meja di mana penjaga kantin tengah mengatur dan membersihkan tempat duduk.


Hegi dengan tulus mengucapkan, "Terima kasih banyak atas makanannya."


"Sama-sama, semoga kalian menikmati makanannya," balas penjaga kantin dengan senyuman hangat.


Hegi dan Noy melanjutkan langkah mereka, menghembuskan napas lega. Mereka merasa bahwa momen ini lebih dari sekadar makan siang. Itu adalah kesempatan untuk bersantap bersama rekan-rekan sejawat, mengisi energi mereka setelah kelas medis bersama Celi, dan juga menghargai upaya penjaga kantin yang turut berkontribusi dalam persiapan prajurit.


"Sekarang apa rencananya?" tanya Noy kepada Hegi sambil tersenyum.


Hegi berpikir sejenak. "Mungkin kita bisa berjalan-jalan sebentar di sekitar Benteng Selatan. Udara segar dan pemandangan di sini cukup menenangkan setelah sesi pagi yang padat."


Noy mengangguk setuju. "Ide Bagus! Mari kita nikmati waktu istirahat kita dengan santai sejenak."


Dengan perut kenyang dan semangat yang tinggi, Hegi dan Noy melanjutkan langkah mereka keluar dari kantin. Di bawah sinar matahari yang cerah, mereka berbicara dengan antusias tentang rencana mereka untuk menghabiskan waktu istirahat dengan berjalan-jalan di sekitar Benteng Selatan.


"Dengar, Noy, mengapa kita tidak keluar sebentar dari tembok pusat?" ajak Hegi dengan semangat yang terpancar dari matanya.


Noy mengerutkan kening dengan rasa ingin tahu. "Keluar? Kemana kita akan pergi?"


Hegi tersenyum dan mulai berbagi ide yang bersemangat. "Bagaimana kalau kita naik kapal Kita bisa menghabiskan waktu di sungai, menikmati udara segar dan mungkin saja melihat pemandangan menarik sepanjang perjalanan."


Noy langsung merespon dengan antusias. "Ide yang bagus sekali! Ayo, mengapa tidak?"


Dengan semangat penuh, Hegi dan Noy merencanakan untuk menghabiskan waktu di luar tembok pusat dan menjelajahi wilayah yang lebih luas.


Mereka mempersiapkan diri dengan cepat, memastikan mereka membawa barang-barang penting dan nyaman untuk perjalanan mereka.


Setelah siap, mereka bergegas keluar dari tembok pusat menuju pelabuhan distrik utara, yang terkenal sebagai tempat kapal-kapal bersandar. Perjalanan menuju pelabuhan memberi mereka kesempatan untuk berbicara lebih dalam tentang rencana mereka.

__ADS_1


Hegi berbicara tentang betapa pentingnya waktu bersama di luar rutinitas militer, sementara Noy mengekspresikan antusiasmenya untuk mengeksplorasi wilayah baru. Mereka membicarakan apa yang mungkin mereka temui di perjalanan, termasuk pemandangan dan pengalaman yang mereka harapkan dapat mereka nikmati.


__ADS_2