Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 13: Pendaftaran


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.673


Hegi dan teman-temannya tiba di lokasi tes di dalam markas pusat Benteng Selatan. Mereka merasa antusias melihat aula yang luas di sebelah utara yang telah disediakan sebagai tempat mereka berkumpul.


Dengan langkah-langkah bersemangat, mereka berjalan menuju meja pendaftaran di depan pintu aula. Petugas di sana memberikan mereka nomor antrian untuk proses pengecekan identitas yang akan dilakukan.


"Enam puluh sembilan, nomor yang bagus," gumam Hegi dalam hatinya dengan senyum kecil, merasa beruntung setelah mendapatkan nomor antrian tersebut. Ia percaya bahwa angka itu mungkin membawa keberuntungan dalam proses seleksi ini.


Tanpa ragu, ia segera menempati kursi yang nyaman yang disediakan di sudut ruangan aula. Dalam suasana yang penuh harap-harap cemas, Hegi bersabar menunggu giliran panggilan nomornya sambil melihat sekeliling.


"Nomor lima puluh satu," panggil petugas wanita dengan suaranya yang jelas dan lantang. Hegi, yang duduk tidak jauh dari tempat pemilik nomor tersebut, melihat seseorang berdiri dan mulai bergerak menuju suara panggilan.


Ia merasa sedikit iri karena nomornya belum dipanggil. Namun, ia menyadari bahwa ini adalah bagian dari proses seleksi yang adil dan acak. Dalam hati, ia menguatkan diri bahwa giliran pasti akan tiba.


Hegi merasa waktu menunggunya masih cukup lama. "Aku ingin pergi ke toilet dulu, tapi di mana ya lokasinya?" gumamnya dalam kegelisahan. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan saat ia menggeliat di kursinya, berusaha mencari tahu solusinya. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. "Sepertinya aku harus bertanya kepada petugas di pintu keluar."


Hegi bangkit dari tempat duduknya dan mendekati petugas penjaga yang berjaga di pintu keluar aula. Dengan sopan, ia meminta izin untuk bertanya mengenai lokasi toilet.


"Permisi Pak, ada yang ingin saya tanyakan," ucap Hegi kepada petugas penjaga dengan ramah, berharap mendapatkan petunjuk yang jelas.


Petugas penjaga tersenyum ramah dan menjawab, "Oh iya, ada pertanyaan apa?"


"Toilet ada di sebelah mana ya, Pak? Saya ingin ke sana," tanya Hegi dengan rasa penasaran, ingin memastikan agar tidak tersesat.


"Toilet, ya? Kamu tinggal keluar dari pintu ini, terus belok ke arah kanan. Nanti tinggal ikuti petunjuk saja," jawab petugas dengan ramah, memberikan instruksi yang mudah dimengerti.


"Begitu ya, Pak. Terima kasih banyak," ucap Hegi sambil tersenyum, merasa lega mendapatkan arahan yang jelas dari petugas tersebut. Dengan penuh semangat, ia segera meninggalkan aula dan mengikuti petunjuk menuju toilet.


Sambil melangkah, Hegi memikirkan rencananya untuk segera kembali ke aula setelah menggunakan toilet. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak melewatkan giliran panggilan nomornya. Dengan bersemangat, ia merencanakan waktu yang cukup agar bisa kembali tepat waktu dan tetap fokus dalam mengikuti proses seleksi.


Saat Hegi berjalan menuju toilet, dia tak dapat mengabaikan aktivitas yang sibuk terjadi di dalam benteng. Ia melihat para prajurit yang sedang berlatih dengan menggunakan lightblade dan lightgun. Cahaya yang memancar dari lightblade memikat perhatiannya dengan warna-warni yang berbeda, menggambarkan pemiliknya masing-masing. Sementara itu, lightgun hanya memiliki warna putih yang monoton.


Hegi terpesona melihat adegan tersebut. Ia merasa kagum dengan keahlian dan ketangkasan para prajurit dalam mengendalikan lightblade, senjata yang penuh keanggunan.Setiap warna cahaya yang berkilauan melambangkan keunikan dan kepribadian pemiliknya. Hegi tak bisa menahan keinginannya untuk juga bisa memiliki lightblade dan merasakan sensasi memainkan senjata yang begitu menakjubkan.


Hegi terpesona oleh tarian cahaya yang tercipta dari pergerakan lightblade. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. "Keren. Aku harap bisa mendapatkan lightblade," gumam Hegi dengan antusias, terpesona oleh keindahan dan variasi warna yang terpancar dari senjata tersebut. Ia merasa lightgun terlihat membosankan dengan hanya satu warna yang monoton.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Hegi tiba di toilet pria. Ia langsung masuk ke dalamnya, tetapi di dalam, ia tak sengaja mendengar percakapan antara dua prajurit yang sedang mencuci tangan. Suara mereka terdengar jelas di ruangan yang agak sepi.


"Katanya tahun ini mereka akan membagi prajurit yang mendaftar menjadi dua divisi," ucap salah seorang prajurit sambil menggosok-gosok sabun di tangannya, menimbulkan rasa penasaran Hegi.


Hegi, yang tertarik dengan pembicaraan itu, berdiri di samping tembok toilet dan memperhatikan dengan seksama, ingin mengetahui lebih lanjut.


"Benarkah? Lalu apa dua divisi tersebut?" tanya prajurit yang diajak bicara sambil mengeringkan tangannya dengan handuk.


"Militer dan R&D. Kau tahu kan R&D sedang kekurangan tenaga, makanya mereka akan mengambil separuhnya," jelas prajurit pertama sambil memperbaiki posisi topi yang sedikit miring.


"Oh iya, aku mendengarnya. Katanya mereka akan menguji coba penemuan baru. Karena itu, mereka membutuhkan banyak orang," tambah prajurit kedua sambil memasukkan handuk ke dalam kantong saku.


Hegi terkejut mendengar percakapan itu. Ia baru mengetahui bahwa markas ini terbagi menjadi dua divisi, militer dan R&D. Tiba-tiba, segala hal yang ia saksikan saat memasuki markas menjadi jelas.


Bangunan-bangunan yang menonjol dengan karakteristik berbeda, seperti fasilitas pelatihan militer dan laboratorium penelitian, memang menunjukkan perbedaan antara kedua divisi tersebut. Hegi merasa kebingungan di dalam hatinya, tidak yakin tentang pilihan yang terbaik baginya.


Dengan pikiran yang berkecamuk, Hegi menyelesaikan urusan di toilet dan bersiap kembali ke aula untuk tidak melewatkan giliran panggilan nomornya. Hegi melihat kembali nomor antriannya sebelum meninggalkan toilet dan memastikan bahwa ia tidak lupa untuk membawanya.


Dengan hati yang berdebar-debar, ia bergegas kembali ke aula. Saat ia melintasi koridor, Hegi tak bisa menahan rasa penasaran untuk melihat prajurit-prajurit yang sedang berlatih dengan lightblade dan lightgun. Ia terpesona oleh gerakan lincah dan keahlian mereka dalam mengendalikan senjata-senjata tersebut.


Meski ia berharap untuk mendapatkan lightblade, Hegi menyadari bahwa keputusan tersebut tidak sepenuhnya ada di tangannya. Ia harus menerima apapun yang menjadi pilihannya nanti.


Dengan perasaan campuran antara gugup dan antusias, Hegi menempati kursinya yang telah ia tinggalkan sebelumnya. Ia meletakkan nomor antrian dengan hati-hati di depannya dan memeriksanya sekali lagi, memastikan bahwa ia siap ketika gilirannya tiba.


Waktu terus berlalu perlahan, menciptakan suasana yang semakin tegang di dalam aula. Setiap kali ada nomor yang dipanggil, calon prajurit dengan nomor tersebut berdiri dengan semangat dan pergi menuju arah suara panggilan. Hegi, dengan hati yang berdebar-debar, terus memantau dengan cermat, berharap bahwa giliran panggilannya akan segera tiba.


Di tengah kerumunan yang tegang, suara petugas memanggil nomor-nomor satu per satu dengan lantang, memecah keheningan aula. Hegi merasakan adrenalinnya semakin meningkat, namun ia berusaha menjaga ketenangan dan fokus yang diperlukan dalam proses ini.


Setiap panggilan nomor membuat detak jantung Hegi semakin cepat, karena ia menyadari bahwa setiap panggilan mendekatkannya pada saat penilaian diri yang krusial. Ia berharap dapat melewati proses pengecekan identitas dengan baik, menunjukkan dedikasi dan kualitasnya sebagai seorang prajurit potensial.


"Enam puluh sembilan," terdengar suara wanita yang memanggil nomor antrian Hegi dengan jelas di tengah keheningan aula yang tegang.


Hegi, yang telah lama menantikan momen ini, merasakan gelombang kelegaan yang menyapu dirinya. "Ah, ini dia!" gumam Hegi dengan senyuman lega, sambil sedikit bergurau dalam hati, "Aku pikir mereka melupakan nomorku, haha." Ia merasa seperti mendapatkan kembali semangatnya saat nomornya akhirnya dipanggil.


Dengan hati yang penuh semangat, ia berdiri dari kursinya dan dengan langkah mantap, melintasi barisan kursi-kursi yang kosong menuju sumber suara panggilan yang memanggilnya.


Pandangan Hegi terfokus pada petugas di depan yang sedang memanggil nomor-nomor calon prajurit dengan penuh profesionalisme. Ia merasa sedikit gugup, tetapi juga penuh harap akan tes apa yang akan dia jalani selanjutnya.


Hegi mempertahankan fokusnya dan mengingat saran-saran serta persiapan yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia berusaha mempertahankan kepercayaan diri dan ketenangan di tengah ketegangan yang melingkupinya.

__ADS_1


Dengan langkah mantap, Hegi mendekati petugas dan memberikan nomor antriannya dengan penuh kebanggaan. Ia merasa semakin dekat dengan tahap pengecekan identitas dan tes yang akan menguji kemampuan serta potensi dirinya sebagai seorang prajurit.


Meskipun gugup, Hegi mengingat motivasinya dan keinginannya yang kuat untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan dan melaksanakan tugas sebagai seorang prajurit yang bertanggung jawab.


Dalam hati, Hegi bertekad dengan kuat untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya yang sebenarnya. Ia mengharapkan dapat mengesankan para penilai dan ditempatkan di divisi yang telah lama menjadi impian dan keinginannya.


Dalam dirinya, terdapat campuran perasaan harapan yang tinggi dan ketegangan yang melingkupinya saat ia menanti instruksi selanjutnya dari petugas yang akan membimbingnya melalui tahap seleksi ini.


"Enam puluh sembilan, nomor yang cantik. Biar kulihat dulu berkas-mu," ucap wanita tersebut, Amelia, dengan nada yang profesional, sambil memeriksa berkas Hegi dengan seksama.


Hegi, dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kegelisahan, menyaksikan dengan cermat ekspresi serius yang melintas di wajah Amelia saat ia memeriksa setiap detail berkas. Hegi merasakan tekanan yang semakin meningkat, menyadari betapa pentingnya keseluruhan penampilan dan persiapan yang ia lakukan untuk momen ini.


"Nama kamu Hegi Russel ya? Nama yang bagus," ucap Amelia setelah melihat berkas Hegi. Hegi merasa sedikit lega melihat bahwa berkasnya terlihat lengkap dan teratur, menunjukkan persiapan yang matang yang telah ia lakukan.


"Benar Bu, Ibu bisa memanggilnya Hegi kalau Ibu mau," jawab Hegi dengan sopan, memberikan persetujuan untuk menggunakan panggilan tersebut. Ia merasa senang bahwa Amelia menggunakan panggilan yang akrab, menciptakan ikatan kecil antara mereka.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan memanggilmu Hegi," ucap Amelia dengan senyum ramah. Hegi merasakan kehangatan dalam sikap Amelia, membuatnya merasa lebih rileks dan nyaman dalam lingkungan yang sedikit tegang. Setelah melewati tahap pemeriksaan berkas dengan sukses, Hegi merasa semakin siap untuk menghadapi tahap tes berikutnya.


Kemudian, Amelia menyerahkan sebuah kunci brankas kecil kepada Hegi, dengan nomor enam puluh sembilan. "Dan ini adalah kunci untuk brankas-mu, nomor enam puluh sembilan. Untuk tesnya, akan dimulai besok. Kamu akan menginap di sini sampai tes selesai," lanjut Amelia memberikan penjelasan yang penting bagi Hegi.


Hegi mengambil kunci brankas dengan penuh hormat dan mengucapkan terima kasih kepada Amelia. Ia merasa senang mendapatkan fasilitas tersebut yang akan memberinya tempat untuk beristirahat dan mempersiapkan diri dengan lebih baik menjelang tes. Hegi menyadari betapa pentingnya mendapatkan waktu yang cukup untuk beristirahat dan memulihkan energi sebelum menghadapi tantangan berikutnya.


Namun, saat Hegi menerima kunci brankas, pandangannya tak bisa menghindari kalung dengan gagang pedang yang terlihat di leher Amelia. Ia merasa penasaran dengan cerita di balik kalung tersebut dan apakah ada makna khusus di dalamnya.


Dengan keingintahuan yang tulus, Hegi mengajukan pertanyaan dengan sopan, "Ibu, jika boleh bertanya, kenapa Ibu memakai kalung dengan gagang pedang itu?" Ia berharap untuk memahami sejarah yang mungkin terkait dengan kalung tersebut, serta bagaimana hal itu berhubungan dengan Amelia.


"Oh, ini. Sebenarnya ini adalah lightblade milik seseorang yang sangat kucintai, tapi sekarang orang itu sudah tidak ada lagi," jawab Amelia dengan sedih, wajahnya tampak melankolis. Hegi dapat merasakan aura kehilangan yang terasa dalam kata-kata dan ekspresi Amelia.


Hegi tiba-tiba merasa tidak nyaman dan menyesal karena telah menyinggung perasaan Amelia dengan pertanyaannya. Ia menyadari bahwa kalung itu mungkin memiliki makna yang mendalam bagi Amelia, terhubung dengan kenangan dan kehilangan yang telah dia alami. Hegi segera menyadarkan diri akan kesalahannya dan ingin menebus kekurangperhatiannya.


"Maaf, Ibu. Saya tidak tahu," ucap Hegi dengan suara yang penuh penyesalan, berusaha menunjukkan rasa permintaan maafnya. Ia merasa menyesal karena telah membuka luka lama dan memicu perasaan sedih dalam Amelia. Hegi berharap bahwa permintaan maafnya dapat mengurangi rasa sakit yang mungkin dia timbulkan.


"Oh, tidak apa-apa, anak manis. Apa kamu ingin melihat lightblade sungguhan?" tawar Amelia, dengan penuh kebaikan hati, berusaha mengalihkan perhatian ke topik yang lebih ringan.


Dengan senyuman, Amelia memperlihatkan lightbladenya kepada Hegi. Cahaya hijau yang memancar dari lightblade itu, seperti warna mata Amelia yang mempesona, mengisi ruangan dengan aura kekuatan dan keindahan yang tak terelakkan.


Hegi, yang terpesona oleh keindahan dan kemegahan lightblade, melihat dengan kagum saat Amelia memegang senjata tersebut dengan penuh keahlian. "Cahayanya begitu memukau. Lightblade benar-benar menakjubkan," ucap Hegi dengan suara penuh kagum. Ia terpesona oleh cahaya hijau yang memancar dari senjata tersebut, seolah-olah merefleksikan semangat dan kepribadian Amelia yang kuat.


Amelia tersenyum bangga melihat reaksi Hegi yang terkesan. "Terima kasih, Hegi. Lightblade memang merupakan simbol penting dalam peran kami sebagai prajurit. Ia melambangkan perlawanan kita," jelas Amelia dengan penuh semangat.

__ADS_1


Setelah percakapan itu, Hegi meninggalkan aula dengan perasaan yang terisi oleh cerita Amelia. Ia melangkah menuju asramanya, dalam perjalanan, merenungkan betapa berartinya senjata lightblade bagi petugas seperti Amelia. Hegi menyadari bahwa sesuatu yang tampak sederhana, seperti sebuah senjata, bisa memiliki arti dan makna yang mendalam bagi seseorang.


__ADS_2