
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.671
Noy melihat ekspresi di wajah Hegi yang penuh dengan tanda tanya dan bertanya padanya, "Hegi, apakah itu ada hubungannya dengan liontin yang diberikan oleh Kak Sera?"
Hegi menganggukkan kepalanya, "Mungkin iya. Liontin itu diberikan langsung oleh ayahku sebagai kenang-kenangan dari ibuku. Ayahku yang selalu mengatakan bahwa ibuku menyimpan sebuah sesuatu di dalam liontin itu, tetapi dia tidak pernah memberi tahu apa itu."
Noy berpikir sejenak, mencoba mencari hubungan antara pesan singkat di surat itu dengan liontin misterius punya Hegi.
"Mungkin ada sesuatu yang penting yang ibumu tinggalkan di Benteng Timur. Dan ayahmu ingin kamu menemukan atau mengetahui tentangnya," ujar Noy dengan penuh spekulasi.
Hegi memandang surat itu kembali, dia mencoba menghubungkan beberapa petunjuk yang telah ada dengan jelas.
"Kamu mungkin benar, Noy. Aku rasa ada alasan mengapa ayahku memberi pesan ini padaku dan memberikan liontin itu kepadaku. Mungkin inilah saatnya aku harus mencari tahu lebih banyak tentang masa lalu ibuku dan kisah kelam yang mungkin tersembunyi di Benteng Timur."
Noy memberikan dukungan pada Hegi, "Aku yakin kamu akan segera menemukan jawabannya, Hegi. Dan aku akan selalu mendukungmu dalam setiap perjalanan ini."
Hegi membuka halaman belakang kertas tersebut, dan di sana, dia menemukan sesuatu yang lebih misterius lagi. Tersembunyi di balik halaman surat, ada sebuah titik koordinat yang tercetak di dalamnya dengan rapi.
Dia berpikir sejenak, mencoba mencari tahu apa makna dari koordinat tersebut. Apa ini merupakan petunjuk dari ayahnya? Ataukah ada sesuatu yang disembunyikan di tempat yang diwakilkan oleh titik koordinat tersebut?
Noy yang melihat ekspresi wajah Hegi yang penuh teka-teki bertanya, "Apa itu, Hegi? Apa maknanya?"
Hegi menunjukkan titik koordinat itu kepada Noy, "Lihat, ini adalah sebuah titik koordinat, seperti lokasi geografis. Tapi aku tidak tahu apa artinya."
Noy juga ikut berpikir, mencoba mencari tahu apakah titik koordinat tersebut mengarah pada suatu tempat yang penting atau mungkinkah merupakan petunjuk khusus yang berhubungan dengan pesan di surat itu.
"Mungkin ini adalah petunjuk dari ayahmu, Hegi. Kemungkinan besar koordinat ini mengarahkanmu ke suatu tempat yang mungkin memiliki kaitan dengan ibumu atau kisah masa lalu keluargamu," ucap Noy dengan penuh spekulasi.
Hegi setuju dengan perkataan Noy. Dia merasa semakin yakin bahwa ini adalah petunjuk dari ayahnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang ibunya dan misteri yang menyelimuti keluarganya.
"Dengan ini, tugasku semakin menarik. Aku harus mencari tahu arti koordinat ini dan apa yang mungkin tersembunyi di tempat yang dituju," kata Hegi dengan penuh semangat.
Noy mendukung keputusan Hegi, "Aku akan selalu ada untukmu, Hegi. Kita akan bersama-sama mengungkap misteri ini dan menemukan apa yang ayahmu maksudkan."
Tak terasa, perjalanan mereka telah tiba di Tembok Pusat atau Ibukota. Kereta berhenti sekitar tujuh ratus meter dari Tembok Pusat. Hegi dan Noy melihat pemandangan yang mengagumkan dari jendela kereta saat mereka mendekati ibukota. Dua bagunan megah yang menjadi landmark terkenal berdiri gagah memancarkan pesona tembok pusat yang maju.
Mereka berdua turun dari kereta dengan perasaan senang dan berterima kasih kepada masinis yang telah mengantarkan mereka dengan aman dan nyaman. Rasa harap dan semangat yang menggebu pun semakin mengisi hati mereka ketika melangkah menuju gerbang masuk Tembok Pusat.
__ADS_1
Mereka memasuki gerbang tembok pusat yang dijaga oleh dua orang petugas. Wajah petugas-petugas itu terlihat tegas, seolah-olah mereka telah menjalankan tugas ini berulang kali.
Dengan penuh kewaspadaan, petugas pertama bertanya kepada Hegi dan Noy, "Siapa kalian dan apa keperluan kalian di tembok pusat ini?"
Tanpa sedikit pun terlihat gugup, Hegi dan Noy berdiri tegak dan menjawab dengan suara mantap, "Kami adalah calon prajurit yang telah melewati seleksi ketat dan berhasil menjadi anggota resmi prajurit di sini. Kami datang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban kami."
Mendengar jawaban mereka yang lugas dan penuh keyakinan, ekspresi serius di wajah petugas mulai berkurang. Mereka saling pandang sejenak, mengkomunikasikan sesuatu yang tak terucapkan.
Akhirnya, petugas kedua memberikan senyuman kecil, menandakan bahwa mereka percaya dengan pernyataan Hegi dan Noy.
"Baiklah, kalau begitu selamat datang di tembok pusat. Semoga sukses dalam perjalanan kalian," ujar petugas pertama sambil memberikan isyarat agar mereka diizinkan masuk.
Setelah diberi izin masuk oleh petugas, Hegi dan Noy segera melangkah masuk ke dalam Tembok Pusat yang megah. Meskipun semangat mereka membara untuk segera menemui asrama dan memulai peran baru mereka sebagai prajurit baru, mereka menyadari bahwa perut mereka sudah terasa keroncongan setelah perjalanan yang panjang. Tanpa ragu, mereka menuju kantin, tempat makan siang gratis disediakan untuk para prajurit.
Kantin itu ramai dengan suara riuh dan tertawa para prajurit serta prajurit baru yang sedang makan dan berbincang. Hegi dan Noy merasa antusias melihat atmosfer yang begitu hidup dan penuh semangat di kantin tersebut. Mereka bergabung dengan barisan antrian, bersiap untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
Sambil menunggu giliran, Hegi dan Noy dikelilingi oleh rekan-rekan baru yang sudah lebih dahulu menjadi prajurit. Mereka dengan ramah bertegur sapa dan bertanya tentang asal Hegi dan Noy. Beberapa di antaranya memberikan tips dan nasihat yang berharga tentang kehidupan di Tembok Pusat dan tugas-tugas sebagai prajurit.
Akhirnya, giliran Hegi dan Noy untuk menerima hidangan. Mereka duduk bersama di meja dan menikmati makan siang dengan lahap. Rasanya begitu lezat dan menyegarkan setelah perjalanan panjang yang mereka alami.
Setelah kenyang dengan hidangan lezat di kantin, Hegi dan Noy bergegas menuju asrama mereka. Perjalanan dan kegiatan hari itu telah melelahkan, dan mereka sangat menantikan momen untuk beristirahat. Di tengah kegembiraan dan semangat, kini saatnya untuk mendapatkan istirahat yang pantas.
Saat Hegi dan Noy sampai di asrama, mereka terkejut melihat sebuah surat diletakkan di bawah pintu asrama mereka. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka segera membuka surat itu dan membacanya. Surat itu berisi pengumuman penting kepada seluruh prajurit baru untuk acara penyambutan yang akan diadakan besok pagi di Aula militer Tembok Pusat.
Terdapat perasaan campur aduk dalam diri Hegi dan Noy. Mereka merasa senang karena akan menjadi bagian dari acara penyambutan yang istimewa ini. Ini akan menjadi kesempatan bagus bagi mereka untuk bertemu dengan prajurit lain, serta para petinggi dan pemimpin Tembok Pusat. Acara tersebut juga akan menjadi momen untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut tentang tugas dan tanggung jawab mereka sebagai prajurit resmi.
Setelah membaca surat itu, Hegi teringat akan satu hal yang selalu mengganjal di hatinya. Dia merasa penting untuk berbicara dengan sahabat terdekatnya, Noy, tentang perasaannya yang begitu dalam. Dengan hati-hati, Hegi memulai percakapan dengan Noy.
"Noy, sebenarnya mimpi yang ingin kubicarakan kemarin adalah tentang ibuku," ucap Hegi dengan suara lembut. "Dia meninggal dunia karena ditembak oleh ayahku. Kau sudah mendengar itu kan?"
Noy terkejut mendengar pengakuan ini, tapi dia tetap tenang dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia tahu betapa beratnya rahasia yang telah diemban oleh Hegi selama ini.
Hegi melanjutkan, "Aku tahu ini adalah rahasia kelam keluargaku, tapi aku merasa sudah waktunya untuk berbicara tentang ini denganmu. Aku butuh seseorang untuk mendengarkan dan memahami perasaanku."
Noy dengan lembut meletakkan tangannya di atas bahu Hegi, memberikan dukungan tanpa kata-kata. Dia merasa terhormat bahwa Hegi memilihnya sebagai orang yang dipercayai untuk berbicara tentang hal ini.
"Terima kasih, Noy," ujar Hegi dengan wajah penuh haru. "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu. Kehadiranmu membuatku merasa lebih kuat dan siap menghadapi apapun."
Noy tersenyum dan membalas, "Kita adalah sahabat sejati, Hegi. Aku akan selalu berada di sampingmu, dalam suka dan duka. Kita akan hadapi masa depan bersama, dan aku akan selalu mendukungmu."
Hegi merasa lega setelah berbicara dengan Noy. Beban yang selama ini dipendamnya perlahan-lahan berkurang, karena dia tahu ada sahabat yang selalu ada untuknya. Kehadiran Noy memberikan dukungan yang tak ternilai harganya, dan Hegi merasa lebih kuat untuk menghadapi masa depan dengan kepercayaan dan semangat yang baru.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Hegi merasa tenang dan merasa semakin dekat dengan Noy. Namun, saat itu juga ia merasa kelelahan setelah berbicara mengenai peristiwa emosional tentang ibunya. Dia merasa perlu untuk beristirahat sejenak.
"Demi kesehatan, aku sarankan kamu beristirahat siang sekarang," ucap Noy dengan ramah. "Kamu pasti lelah setelah berbicara tentang hal itu. Istirahatlah dengan nyaman, besok kita akan menghadapi hari yang baru." Hegi setuju dan berterima kasih pada Noy.
Saat berbaring di tempat tidur, Hegi merenungkan tentang masa depannya sebagai prajurit. Dia menyadari bahwa hidupnya akan berubah drastis, dan ada banyak hal yang mungkin tidak akan sama seperti dulu. Istirahat siang seperti ini, yang biasa dia nikmati, mungkin akan menjadi langka karena tugas dan tanggung jawab yang harus ia hadapi sebagai prajurit.
Namun, dalam pikirannya, Hegi juga merasa antusias dan siap menghadapi tantangan baru. Ia telah menantikan momen ini untuk menjadi prajurit di Benteng Selatan, dan ia bertekad untuk memberikan segala yang terbaik.
Sementara ia memejamkan mata, bayangan masa depan sebagai prajurit mengisi pikirannya. Ia membayangkan momen-momen keberanian di medan pertempuran, kemenangan yang diraih bersama rekan-rekannya, dan kebahagiaan ketika dapat melindungi orang-orang yang ia sayangi. Harapan dan semangatnya semakin menggebu, memberinya kepercayaan diri dan keyakinan bahwa ia dapat menghadapi semua rintangan.
Lama kelamaan, ketegangan dan kelelahan menghilang dari tubuh Hegi. Ia semakin rileks dan tenang ketika menyadari bahwa ia akan menjalani perjalanan besar sebagai prajurit sejati. Dalam mimpinya, Benteng Selatan dan tugasnya menjadi prajurit tampak semakin jelas, seperti panggilan yang tidak bisa ditolak.
Dengan pikiran yang penuh harapan dan cita-cita, Hegi perlahan-lahan terlelap. Ia tahu bahwa esok hari adalah awal dari babak baru dalam hidupnya, dan ia siap menyongsong masa depan yang penuh dengan pengalaman dan perjuangan.
Dalam tidurnya, Hegi membawa serta keyakinan bahwa bersama sahabat dan keluarganya, ia akan menjadi prajurit yang tangguh dan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi Benteng Selatan dan orang-orang yang ia cintai.
...****************...
Hegi terbangun dari tidurnya setelah tidur selama tiga jam. Ia melihat Noy yang masih tertidur di ranjang sebelahnya dan memutuskan untuk tidak membangunkannya terlebih dahulu. Hegi merasa cukup segar setelah tidur sejenak, dan dia memutuskan untuk segera mandi dan berganti pakaian.
Hegi bergegas menuju kamar mandi dan merasakan semangat yang menggebu untuk mempersiapkan diri menghadapi hari yang baru. Saat air mandi mengalir menyentuh kulitnya, Hegi merasa betapa menyegarkan dan menyenangkan rasanya. Setiap tetes air terasa seperti menghapus kelelahan dan beban emosional yang ia rasakan hari ini.
Setelah mandi, Hegi merasa segar dan siap menghadapi hari. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru. Kemudian, dia menatap cermin dengan senyuman. Dia melihat sosok dirinya yang keren dan rupawan, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan datang.
Dengan langkah mantap, Hegi keluar dari kamar mandi dan membangunkan Noy untuk bersiap menghadapi hari yang menantang. Senyumnya tak henti-hentinya terpancar, karena ia tahu bahwa bersama sahabat dan semangat yang menggebu, tidak ada yang tak bisa mereka lalui sebagai prajurit pilihan Benteng Selatan.
Dengan lembut, Hegi membangunkan Noy di sore hari ketika matahari mulai beranjak turun. Dia mengguncang bahu Noy dengan penuh keceriaan, "Noy, waktunya untuk bangun, sahabatku. Ayo kita bersiap-siap untuk makan malam!"
Noy menggeliat dan membuka matanya perlahan, "Sudah sore ya? Aku tidur cukup lama, sepertinya."
Hegi tersenyum, "Iya, tapi kamu memang butuh istirahat setelah hari menghadapi hari yang penuh emosi. Sekarang saatnya kita nikmati makan malam bersama."
Mereka berdua bersiap dan Hegi menunggu sejenak sambil memberi Noy kesempatan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menuju kantin untuk makan malam. Setelah Noy selesai mandi dan berganti pakaian, mereka berdua pergi bersama ke kantin.
Di kantin, suasana hangat dan akrab begitu terasa. Mereka bertemu dengan rekan-rekan sejawatnya yang sedang menikmati waktu santai. Para prajurit saling tertawa dan berbicara, menukar cerita tentang pengalaman dan perjalanan mereka sebagai bagian dari Benteng Selatan.
Hegi dan Noy bergabung dalam percakapan yang seru, berbagi pengalaman mereka sejak tiba di Benteng Selatan. Mereka juga mendengarkan cerita menarik dari rekan-rekan lainnya, yang membuat suasana semakin ceria dan penuh semangat.
Setelah makan malam, Hegi dan Noy kembali ke asrama. Mereka berdua merasa lelah setelah seharian yang penuh aktivitas dan emosi. Begitu sampai di asrama, Hegi dan Noy dengan cepat mempersiapkan diri untuk tidur.
Tidak butuh waktu lama bagi Hegi dan Noy untuk tertidur pulas. Mereka menutup mata dengan hati yang tenang dan penuh harapan, siap menghadapi pagi esok yang penuh dengan potensi dan peluang baru.
__ADS_1