Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 39: Kelas Medis Celi


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.677


"Maaf atas keterlambatan saya. Ada beberapa hal mendesak yang harus saya selesaikan sebelum kelas dimulai," ucap Instruktur Celi dengan sopan.


Para kadet mengangguk memaklumi, menghargai dedikasi dan tanggung jawab instruktur mereka dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di Benteng Selatan.


"Ini adalah pertemuan pertama di kelas medis," ujar Instruktur Celi dengan penuh antusias.


"Sebelum kita masuk ke materi dan pembelajaran, saya ingin menjelaskan tujuan dari kelas ini. Seperti kelas-kelas sebelumnya, tujuan utama dari kelas medis ini adalah untuk membekali kalian dengan pengetahuan dan keterampilan medis yang sangat penting dalam menjalankan tugas sebagai prajurit di Benteng Selatan."


Para kadet, termasuk Hegi dan Noy, duduk dengan penuh perhatian, siap untuk mendengarkan penjelasan instruktur mereka. Mereka tahu bahwa tujuan kelas ini pasti berkaitan dengan mempersiapkan mereka menjadi prajurit yang siap menghadapi berbagai situasi medis di medan perang.


"Ini adalah kesempatan emas bagi kalian untuk mengasah kemampuan medis dan menjadi prajurit yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan apa pun yang mungkin kalian hadapi di medan perang," lanjut Celi dengan semangat.


Para kadet mengangguk sebagai tanda pengertian mereka untuk memanfaatkan pelajaran ini dengan sebaik-baiknya.


Celi kemudian mulai menjelaskan tujuan kelas ini dengan penuh perhatian, "Dalam medan perang, khususnya saat kalian mendapat misi ofensif, kemungkinan terjadinya luka atau cidera sangat tinggi. Oleh karena itu, pengetahuan medis dan keterampilan pertolongan pertama adalah hal yang sangat penting bagi setiap prajurit di Benteng Selatan."


Para kadet mendengarkan dengan serius, menyadari betapa relevannya pengetahuan medis ini dalam menjalankan tugas mereka sebagai prajurit. Mereka menyadari bahwa kecepatan dan ketepatan dalam merespons situasi medis darurat dapat menjadi perbedaan antara hidup dan mati bagi mereka dan rekan mereka di medan perang.


"Saat mendapat misi defensif, kalian mungkin akan langsung mendapatkan pertolongan medis dengan segera, tetapi berbeda dengan misi ofensif," lanjut Celi dengan penuh kebijaksanaan.


"Dalam misi ofensif, ketika berada di garis depan pertempuran, akses terhadap tim medis mungkin terbatas atau bahkan tidak ada. Oleh karena itu, kalian sebagai prajurit harus memiliki pengetahuan dan keterampilan medis yang memadai untuk dapat merespons dan merawat luka atau cidera dengan cepat dan tepat."


Para kadet mendengarkan penjelasan instruktur mereka dengan sungguh-sungguh. Mereka menyadari bahwa di garis depan pertempuran, setiap detik bisa menjadi sangat berarti dan kemampuan untuk memberikan pertolongan pertama menjadi kunci untuk menyelamatkan nyawa.


"Cara kalian merespons dan merawat luka atau cidera bisa berdampak pada keselamatan dan kelangsungan hidup kalian sendiri, serta keselamatan rekan tim kalian," lanjut Celi dengan penuh kebijaksanaan.


"Dalam kelas ini, kalian akan belajar teknik-teknik pertolongan pertama yang tepat, bagaimana menangani berbagai jenis luka, dan tindakan medis yang harus diambil dalam situasi darurat."


Saat sedang menjelaskan, Celi mengambil tas dari kolong meja tempatnya dan dengan hati-hati meletakkannya di atas meja. Ia kemudian menujuk tas tersebut kepada para kadet dengan penuh perhatian.


"Ini adalah tas medis yang berisi berbagai peralatan dan obat-obatan yang akan sangat berguna dalam memberikan pertolongan pertama di medan perang," jelas Celi sambil membuka tas tersebut dan menunjukkan isinya kepada kadet.


Para kadet mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Celi menunjukkan tas yang akan mereka bawa dalam misi di medan perang. Mereka tahu betapa pentingnya tas itu sebagai persiapan dalam menghadapi situasi darurat.


Dalam tas medis tersebut terdapat peralatan seperti perban, plester, gunting medis, alat pembedahan kecil, termometer, dan alat penjepit luka. Selain itu, ada juga berbagai obat-obatan seperti antiseptik, analgesik, antibiotik, dan obat pereda nyeri.


"Ini adalah alat-alat dan obat-obatan yang akan menjadi sahabat kalian dalam mengatasi berbagai luka atau cidera di medan perang," lanjut Celi dengan serius.


"Kalian harus mengerti fungsi dan cara penggunaan masing-masing peralatan dan obat-obatan ini agar dapat memberikan pertolongan yang tepat dan efektif."


Para kadet mengangguk sebagai tanda mengerti, menyadari bahwa penguasaan terhadap isi tas medis ini sangat penting bagi keselamatan mereka dan rekan-rekan mereka di medan perang.

__ADS_1


Mereka siap untuk belajar sungguh-sungguh dan berlatih dalam mengoperasikan setiap peralatan dan mengenali setiap obat-obatan tersebut.


"Dalam latihan nanti, kalian akan berlatih menggunakan peralatan medis ini dan menghadapi situasi simulasi darurat," jelas Celi dengan penuh semangat.


"Latihan ini akan membantu kalian untuk menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi situasi medis yang sebenarnya di lapangan."


Para kadet bersemangat menyambut kesempatan untuk berlatih dan meningkatkan keterampilan medis mereka. Mereka sadar bahwa tas medis ini adalah salah satu alat yang akan membantu mereka menjadi prajurit yang siap dan tanggap dalam melindungi Benteng Selatan dan melawan monster morsus.


"Pertolongan pertama hanya bisa dilakukan saat kalian selesai konfrontasi langsung, saat morsus sudah berhasil dibunuh," tegas Celi sambil menekankan pentingnya keselamatan para kadet dalam situasi medan perang.


"Kalian harus sedikit menahan rasa sakit dan fokus pada misi untuk mengalahkan monster morsus. Setelahnya, kalian bisa mencari tempat aman dan memberikan pertolongan pertama."


Instruksi dari Celi tersebut sangat penting, karena dalam situasi medan perang yang penuh bahaya, keselamatan diri dan rekan-rekan harus menjadi prioritas utama.


Para kadet diingatkan untuk tidak terlalu terburu-buru dalam memberikan pertolongan pertama selama pertempuran berlangsung, karena tindakan semacam itu dapat menyebabkan gangguan dalam misi bahkan membahayakan diri mereka sendiri.


Celi melanjutkan, "Selama pertarungan, coba untuk tetap fokus dan bekerja sama sebagai tim. Setelah mengamankan daerah dan memastikan tidak ada ancaman, barulah kalian bisa memberi pertolongan pertama dengan tenang dan hati-hati."


Para kadet mengangguk, paham pentingnya melakukan tindakan yang tepat pada waktu yang tepat. Mereka berjanji akan mengutamakan keselamatan diri dan rekan-rekan mereka di medan perang sebelum memberikan pertolongan pertama kepada korban.


"Kalian akan belajar teknik-teknik untuk mengatasi luka ringan dan mengendalikan pendarahan sementara hingga kalian bisa mencari tempat aman untuk memberikan perawatan lebih lanjut," jelas Celi.


"Ingat, kalian adalah bagian dari tim, dan membantu rekan-rekan yang terluka juga merupakan tanggung jawab kalian sebagai prajurit."


Para kadet mendengarkan dengan penuh perhatian, mengerti betapa pentingnya mengetahui kapan dan bagaimana memberikan pertolongan pertama dengan bijaksana di medan perang. Mereka tahu bahwa keterampilan ini dapat membuat perbedaan besar dalam menyelamatkan nyawa dan melindungi keselamatan tim mereka.


"Kalian adalah calon guardian yang melindungi dunia kita dari ancaman monster morsus, dan pengetahuan medis ini akan menjadi senjata ampuh dalam tugas mulia itu."


"Saya memiliki pertanyaan, Ibu Celi," tanya Hegi dengan sopan saat Celi sedang menjelaskan tentang pertolongan pertama di medan perang.


Celi mengangguk dan tersenyum, memberikan kesempatan pada Hegi untuk bertanya. "Tentu, Kadet. Silakan bertanya apa yang ingin kamu ketahui."


“Sebelumnya perkenalkan, saya Hegi, dan saya ingin bertanya kepada Ibu Celi, mengapa saat kita menjalani misi ofensif tidak membawa atau memanggil tim medis secara langsung?” tanya Hegi dengan sopan.


Celi mengangguk mengapresiasi pertanyaan Hegi yang cerdas. "Pertanyaanmu sangat bagus, Hegi," ucapnya dengan senyum ramah.


"Dalam situasi misi offensif, kecepatan dan ketepatan waktu adalah hal yang sangat penting. Membawa tim medis secara langsung akan mengganggu fokus pada misi utama, yaitu melawan monster morsus."


Celi melanjutkan, "Ketika berhadapan dengan monster morsus, prajurit harus fokus pada pertarungan dan menjaga keselamatan diri dan rekan-rekannya. Membawa tim medis dalam situasi seperti itu bisa membuat prajurit kurang siap menghadapi ancaman dan dapat mengganggu mobilitas dan koordinasi taktis."


Celi kemudian melanjutkan untuk pertanyaan tentang memangil tim medis, "Pada dasarnya, misi ofensif letaknya sangat jauh dari markas pusat," lanjut Celi menjelaskan dengan serius.


"Jika dalam situasi darurat harus memanggil tim medis dari markas pusat, akan memakan waktu yang lama untuk mereka tiba di lokasi misi. Dan itu bisa sangat berisiko bagi keselamatan korban yang membutuhkan pertolongan medis dengan segera."


"Ini menjadi alasan tambahan mengapa prajurit diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pertolongan pertama," tambah Celi.


"Dengan kemampuan pertolongan pertama yang baik, kalian bisa memberikan bantuan segera bagi korban dalam situasi darurat dan meningkatkan peluang keselamatan mereka sebelum tim medis lebih lengkap tiba."

__ADS_1


Selain itu, Celi juga menjelaskan, "Tentu saja, dalam misi ofensif, prajurit diharapkan untuk bekerja sebagai tim yang solid dan saling mendukung. Ketika ada korban, anggota tim lain di medan perang bisa memberikan bantuan atau cover sementara untuk prajurit yang memberikan pertolongan pertama."


Hegi dan para kadet lainnya mendengarkan dengan saksama, memahami betapa pentingnya keterampilan pertolongan pertama dalam situasi medan perang yang kompleks dan jauh dari markas pusat.


Hegi bertanya lagi dengan wajah penuh pertimbangan, "Apakah membawa tas itu tidak menyulitkan pergerakan kita di medan perang, terutama saat harus bergerak secara cepat dan lincah?"


Celi menghargai pertanyaan yang relevan dari Hegi. "Pertanyaanmu sangat tepat, Hegi," jawabnya sambil mempertimbangkan faktor tersebut.


"Membawa tas pertolongan medis memang bisa berdampak pada mobilitas kita, terutama jika kita harus bergerak cepat dalam situasi tertentu di medan perang."


"Namun, tas medis yang kita bawa telah dirancang dengan ergonomis dan praktis, sehingga tidak akan terlalu mengganggu pergerakan kita," lanjut Celi menjelaskan.


"Selain itu, penting juga bagi kita untuk belajar dan berlatih mengatur beban dengan bijaksana. Kita harus memahami bagaimana membawa dan meletakkan tas dengan nyaman sehingga tidak mengganggu kelincahan kita saat bergerak."


Celi kemudian menyuruh Hegi untuk maju dan merasakan tas medis yang akan dia bawa dalam misi. Hegi dengan penuh antusiasme mengikuti instruksi tersebut dan dengan cermat memasang tas di bahunya, ia merasakan bagaimana tas tersebut terasa.


Celi melanjutkan dengan tersenyum, "Bagus, Hegi. Kini coba berjalan beberapa langkah dan lihat bagaimana perasaanmu saat membawa tas medis."


Hegi pun melakukan seperti yang disarankan instruktur. Dia berjalan beberapa langkah dengan tas medis yang dipasang di bahunya. Rasa cemas awalnya berangsur hilang ketika dia merasa bahwa tas tersebut ternyata ringan dan nyaman di pundaknya.


Desain ergonomis tas medis memungkinkan prajurit untuk membawanya tanpa menghambat pergerakan dan lincah saat bergerak di medan perang.


"Bagus, Hegi! Kalian harus bisa merasa nyaman dan tidak terganggu dengan tas medis saat bergerak di medan perang," ujar Celi memberikan pujian. "Ketika kalian sudah terbiasa dengan tas ini, kalian akan lebih siap menghadapinya di lapangan."


"Tas ini dirancang dengan bahan ringan dan ergonomis, agar kalian bisa membawanya dengan nyaman dan tidak mengganggu pergerakan di medan perang," ucap Celi sambil memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Selain itu, kita juga telah mengatur posisi dan pengaturan beban tas ini agar kalian bisa lebih leluasa dalam bergerak."


Setelah mencoba tas medis dengan perasaan puas, Celi mengizinkan Hegi untuk kembali ke tempatnya di kelas. Hegi dengan hormat mengucapkan terima kasih kepada instruktur sebelum ia kembali mengambil tempatnya.


Hegi merasa senang mendapati tas medis yang ia bawa memang nyaman dan tidak memberikan beban yang berlebih pada tubuhnya. Ia merasa lebih percaya diri untuk membawa tas tersebut di medan perang dan memberikan pertolongan pertama yang dibutuhkan saat diperlukan.


Celi melanjutkan, "Kalian akan diajari bagaimana cara mengatur beban tas dengan benar, agar tidak memberikan tekanan berlebih pada tubuh kalian dan tetap menjaga mobilitas selama misi. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dilatih agar kalian bisa tetap siap dan tanggap dalam setiap situasi."


Setelah memberikan beberapa penjelasan dan tujuan kelas diadakan, Celi menyimpulkan pertemuan hari ini dengan penuh semangat.


"Terima kasih atas perhatiannya, para kadet. Saya harap kalian mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya keterampilan medis dan pertolongan pertama dalam misi ofensif."


Celi melihat wajah para kadet yang tampak penuh semangat dan siap menghadapi latihan medis selanjutnya.


"Latihan medis ini tidak hanya akan mempersiapkan kalian sebagai tim medis yang handal, tetapi juga akan meningkatkan kemampuan kalian dalam menghadapi berbagai situasi medis yang mungkin terjadi di lapangan. Jadi, jangan ragu untuk bertanya atau meminta bimbingan jika ada hal yang kurang jelas."


Sebelum benar-benar pergi, Celi memberikan sebuah informasi penting kepada para kadet. "Ingat, untuk kelas kalian besok adalah kelas bertahan hidup dengan Instruktur Wili yang akan diadakan di distrik timur laut," ucapnya dengan tegas.


Sebelum benar-benar pergi, Celi memberikan informasi penting kepada para kadet. "Sekedar pengingat, untuk kelas kalian besok adalah kelas bertahan hidup yang akan diadakan di distrik timur laut. Instruktur Wili akan menjadi pengajar dalam kelas tersebut."


Celi menjelaskan, "Kelas bertahan hidup ini akan melatih kalian untuk menghadapi situasi-situasi darurat di lapangan, termasuk bagaimana bertahan hidup di lingkungan yang keras dan menghadapi berbagai tantangan yang bisa terjadi selama misi."

__ADS_1


"Itu saja yang saya sampaikan, sampai jumpa minggu depan," ucap Celi dengan ramah. Setelah mengucapkan itu, Celi meninggalkan ruangan kelas dengan langkah mantap.


__ADS_2