
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.680
Telinga para kadet langsung terpikat oleh kabar tersebut. Mereka merasa antusias dan penasaran dengan apa yang akan dipelajari dalam kelas senjata berikutnya. Wajah mereka berbinar-binar saat mereka membayangkan pengalaman baru yang menanti.
Denia melanjutkan, "Kelas senjata adalah kesempatan untuk kalian memahami penggunaan dan teknik senjata dalam pertempuran. Ini akan membantu kalian meningkatkan kemampuan bertahan dan berkontribusi lebih baik dalam tim."
Setelah memberikan pengumuman, Instruktur Denia meninggalkan ruang kelas dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan para kadet yang masih bersemangat dan penuh antusiasme.
Langkahnya cepat dan tegas, seolah memiliki tujuan yang mendesak untuk dikejar. Mata para kadet mengikuti kepergiannya, dan sejenak ada rasa penasaran tentang apa yang mungkin sedang terjadi.
Beberapa dari para kadet saling bertatapan, mencoba mencari tahu apa yang mungkin telah membuat Instruktur Denia keluar dengan cepat. Bisik-bisik pun terdengar di antara mereka, tetapi belum ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
Apapun itu, mereka tahu bahwa kelas mereka telah berakhir dan mereka segera bersiap untuk melanjutkan aktivitas selanjutnya.
Saat Instruktur Denia menghilang di balik pintu, suasana di ruang kelas mulai mereda. Beberapa kadet mulai berdiri dan mengumpulkan barang mereka, siap untuk meninggalkan ruangan.
Ada perasaan campur aduk di udara – antara semangat belajar yang masih menyala dan keingintahuan tentang apa yang baru saja terjadi.
Dalam sekejap, ruangan itu menjadi lebih sepi ketika para kadet satu per satu meninggalkan tempat duduk mereka.
Langkah mereka yang beranjak keluar terdengar seperti dentingan kecil di lantai, meninggalkan ruang kelas yang kini terasa lebih sunyi.
Hegi dan Noy berjalan beriringan melalui koridor, langkah mereka seirama seolah mencerminkan kekompakan yang telah terbina di antara mereka.
Senyum kecil tergambar di wajah mereka, menandakan bahwa mereka masih terbawa suasana pembelajaran tadi.
Mereka berbicara dengan penuh semangat, saling bertukar pandangan saat membahas kelas yang baru saja mereka alami.
"Kamu percaya nggak, Noy? Aku benar-benar merasa penasaran dengan alat yang dia tunjukkan tadi. Terdengar menarik, kan?" Hegi berkata dengan ekspresi antusias.
Noy mengangguk setuju, "Iya, bener. Aku juga penasaran. Kayaknya kelas ini bakal penuh dengan kejutan menarik deh."
Hegi mengangguk dan tertawa. "Betul juga. Semua ini seru dan baru buatku. Kita pasti akan belajar banyak hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."
Mereka melanjutkan langkah mereka, sambil masih terlibat dalam percakapan. Sesekali, mereka tertawa meresapi humor dalam hal-hal yang mereka pelajari atau bahkan perbincangan ringan yang mereka lakukan.
Kehangatan persahabatan mereka semakin terasa saat mereka berbagi pandangan dan pendapat tentang pengalaman mereka hari ini.
"Noy, berapa jawaban yang kamu jawab benar?" tanya Hegi dengan wajah penuh semangat.
Noy berpikir sejenak, kemudian menjawab dengan cermat, "Hmm, delapan. Bagaimana denganmu, Hegi?"
Hegi tersenyum dan mengangkat alisnya dengan percaya diri, "Sembilan. Aku punya satu lebih banyak dari kamu."
Noy tertawa kecil. "Selamat ya, kamu lebih banyak yang benar. Tapi entah kenapa, aku senang dengan hasilku."
Hegi tertawa balik. "Tidak masalah, Noy. Yang penting kita berdua belajar dan berusaha. Kita pasti bisa meningkatkan hasil kita di kelas-kelas selanjutnya."
Mereka terus berjalan, semangat belajar dan persaingan yang sehat tetap ada di antara mereka. Cahaya matahari yang lembut menerangi perjalanan mereka, memberikan nuansa hangat dan cerah.
Dengan tawa dan candaan, mereka melanjutkan perjalanan mereka, siap menghadapi tantangan baru yang menanti di depan.
Dengan langkah yang bersemangat, Hegi dan Noy melanjutkan perjalanan mereka keluar dari markas pusat.
Mereka memutuskan untuk tidak menggunakan lift karena biasanya lift selalu penuh dengan orang yang ingin pergi ke lantai-lantai lain. Meskipun harus menuruni tangga, mereka merasa lebih nyaman dan tenang dengan pilihan ini.
Mereka melangkah di lorong yang dikelilingi oleh dinding kokoh markas pusat, merasakan udara yang sejuk meskipun sudah siang. Cahaya matahari tepat di atas kepala mereka, memberi semangat baru untuk menghadapi sisa hari ini.
__ADS_1
Seiring mereka melangkah, mereka melihat beberapa rekan prajurit yang juga tengah sibuk dengan aktivitas siang mereka. Saat akhirnya mereka keluar dari bangunan markas pusat, pemandangan di luar begitu mempesona.
Angin sepoi-sepoi membawa kehangatan matahari, mengusap wajah mereka dengan lembut. Langit cerah memberikan warna biru yang menyegarkan, menciptakan suasana yang menyenangkan di tengah hari.
"Hari ini begitu cerah, ya?" ujar Hegi, sambil memandangi langit biru.
Noy mengangguk setuju. "Benar, terasa menyegarkan setelah selesai kelas tadi. Ayo,
mari kita menuju kantin dan nikmati makan siang."
Hegi mengangguk, senyum lebar terukir di wajahnya. Mereka berdua melanjutkan langkah dengan semangat, berjalan menuju kantin untuk menikmati makan siang bersama.
Langit cerah dan matahari yang hangat menciptakan suasana yang menyenangkan saat mereka melangkah di bawah naungan pepohonan di sepanjang jalan.
Sesampainya di kantin, mereka memilih makanan yang disukai dan duduk di meja yang nyaman. Udara segar dari luar masuk ke dalam kantin, mencampur dengan aroma makanan yang lezat.
Hegi dan Noy mulai mengobrol, berbagi cerita dan tawa tentang apa yang telah mereka pelajari dan alami hari ini.
"Jujur, aku masih terkejut dengan alat baru yang dia tunjukkan di kelas tadi," ujar Hegi sambil mengambil gigitan pertama dari makanannya.
Noy mengangguk sambil tersenyum. "Iya, sepertinya teknologi itu akan sangat membantu kita dalam pertempuran melawan monster morsus. Meskipun kadang masih merasa aneh menggunakan alat seperti itu."
Hegi mengangguk setuju. "Tapi setidaknya ini adalah langkah maju dalam memanfaatkan teknologi untuk tujuan pertahanan dan strategi. Kita harus terbuka terhadap perubahan."
Noy mengangguk paham, kemudian wajahnya berubah riang. "Oh ya, bagaimana dengan rencanamu setelah ini, Hegi?"
Hegi tersenyum, "Aku berencana untuk menghabiskan waktu di dalam asrama sambil membaca buku. Rasanya seperti menjadi pelarian dari hiruk-pikuk aktivitas dan memungkinkanku untuk merenung."
Noy mengangguk mengerti. "Itu suatu ide yang bagus. Kita semua membutuhkan waktu untuk merenung dan memperdalam pemahaman kita. Semoga kamu bisa mendapatkan pengetahuan baru yang berharga."
Hegi tersenyum mengapresiasi. "Terima kasih, Noy. Bagaimana denganmu?"
Hegi tersenyum mengerti. "Tentu, istirahat juga sangat penting. Jangan terlalu memaksakan diri."
Noy tersenyum kembali. "Aku akan mencoba untuk mengambil tidur siang yang lebih panjang, siapa tahu nanti bisa lebih segar dan siap menghadapi kelas senjata."
Hegi mengangguk setuju. "Baguslah, semoga istirahatmu bermanfaat. Dan jangan lupa, kita masih memiliki kelas senjata besok hari. Jadi, pastikan kita siap dalam pelajaran berikutnya."
Noy mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, aku akan siap untuk itu. Semoga kita bisa belajar banyak dan menjadi prajurit yang lebih baik."
Setelah selesai makan, Hegi dan Noy membereskan tempat makan mereka dengan rapi.
Mereka kemudian berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada penjaga kantin dengan senyuman ramah sebelum meninggalkan area kantin.
Langkah mereka membawa mereka kembali ke asrama, di mana mereka berdua merasa senang dapat segera beristirahat dan bersiap untuk kelas senjata besok.
Dalam perjalanan menuju asrama, mereka terus bercakap-cakap dengan antusiasme. Mereka membahas berbagai hal, dari pelajaran di kelas hingga rencana masa depan mereka sebagai prajurit.
Sambil berbicara, mereka merasakan ikatan persahabatan mereka semakin erat dan saling mendukung satu sama lain.
Sesampainya di kamar asrama mereka, Hegi dan Noy berpisah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.
Hegi dengan cermat memilih buku dari rak buku di sudut kamarnya. Dia duduk dengan nyaman di tempat tidurnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam dunia kata-kata dan cerita yang ada di halaman buku.
Setiap kata yang ia baca membawanya jauh dari realitas sejenak, memungkinkannya untuk memperdalam pengetahuan dan memenuhi imajinasinya.
Sementara itu, di sisi lain kamar, Noy merasa lelah setelah kelas dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dengan santai, menutup mata sejenak.
Dia merasakan kehangatan dan kenyamanan tempat tidur yang memeluknya, membuatnya merasa tenang dan rileks.
Dia merenung sejenak, membiarkan pikirannya melayang-layang sebelum akhirnya dia tertidur pulas, mengejar istirahat yang diperlukan setelah aktivitas pagi yang intens.
__ADS_1
...****************...
Dengan langkah cepat, Denia melangkah menuju ruangan tempat rapat yang terletak di lantai atas markas pusat.
Suasana hatinya penuh dengan antusiasme dan kecemasan, karena panggilan tadi datang dengan tiba-tiba dan tampaknya memiliki urgensi yang tinggi.
Ia merenung sejenak, mencoba mengingat semua kemungkinan situasi yang bisa saja menjadi alasan di balik panggilan tersebut.
Saat ia tiba di depan pintu ruangan, Denia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ia menggenggam gagang pintu dan dengan tegas membukanya.
Ruangan itu tampak tenang, dikelilingi oleh meja-meja dan kursi-kursi yang tersusun rapi. Di tengah ruangan, meja besar dengan layar holografis di atasnya tampak sangat menonjol.
Dalam langkah penuh keyakinan, Denia melangkah masuk ke ruangan yang telah dipenuhi oleh para petinggi Benteng Selatan.
Tatapannya melayang sejenak ke seluruh sudut ruangan, mengenali wajah-wajah yang hadir di sana.
Kapten Rachel dan Profesor Aster tampak berdiri di depan, siap memulai rapat. Kehadiran mereka menunjukkan seriusnya situasi yang akan dibahas dalam rapat ini.
Dengan langkah mantap, Denia menyusuri lorong di antara kursi-kursi yang tersusun rapi. Ia memilih tempat duduk yang strategis, memungkinkannya untuk melihat dan mendengar setiap percakapan dengan jelas.
Denia merasa bersyukur karena ia tiba tepat waktu sebelum rapat dimulai, memberinya kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan suasana ruangan dan menenangkan diri.
Saat Denia duduk, ia merasakan pandangan dari beberapa petinggi yang mengenali kehadirannya. Ia mencoba menjaga ekspresinya tetap netral, meskipun hatinya berdegup kencang.
Rapat ini jelas memiliki signifikansi yang tinggi, dan Denia merasa bahwa ini adalah momen penting dalam perjalanan Benteng Selatan.
Denia duduk dengan tenang di antara Sely dan Celi, sesama prajurit yang telah menjadi temannya sejak lama. Mereka saling memberikan senyuman kecil sebagai sapaan hangat sebelum rapat dimulai.
Denia merasakan atmosfer yang serius dan tegang di ruangan, menunjukkan betapa pentingnya pertemuan ini.
Saat sedang menunggu, pintu ruangan tiba-tiba kembali terbuka. Endri dan Wili memasuki ruangan hampir bersamaan, menciptakan suasana semakin lengkap dengan kehadiran pasukan elit yang handal.
Denia merasakan energi yang kuat dari kedua prajurit tersebut, mengingat pengalaman dan kemampuan mereka dalam pertempuran.
Mereka semua duduk berdampingan, menciptakan barisan prajurit yang tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan.
Denia memandang sekeliling, merasakan semangat persatuan dan solidaritas di antara mereka. Meskipun Zara tidak ada karena tengah memberi kelas, tetapi kebersamaan ini tetap kuat dan nyata.
Saat suasana ruangan telah tenang dan semua hadir dengan penuh, proyektor di tengah ruangan dinyalakan, memancarkan cahaya putih yang menyoroti layar besar di dinding, menciptakan fokus pada layar yang terpampang di depan.
Mata semua hadirin tertuju pada layar tersebut, menanti informasi penting yang akan diungkapkan. Profesor Aster, seorang pakar dalam bidang ilmu pengetahuan dan strategi, berdiri di samping Kapten Rachel.
Kehadirannya memberikan aura pemahaman dan otoritas. Kapten Rachel, sebagai pemimpin pasukan elit yang sangat dihormati, juga memancarkan keberanian dan tekad dalam pandangan matanya.
Dengan suara yang tenang dan tegas, Profesor Aster memulai pembukaan rapat. Ia menampilkan latar belakang situasi terkini, menggambarkan ancaman yang semakin nyata dari monster morsus.
Gambar-gambar dan data-data penting ditampilkan di layar, memberikan pandangan jelas tentang keberadaan dan karakteristik monster morsus.
“Terima kasih kepada semua yang telah hadir dalam rapat ini,” ucap Profesor Aster dengan penuh penghargaan, suaranya memenuhi ruangan.
Seluruh hadirin, termasuk Denia, menganggukkan kepala mereka sebagai tanggapan atas ucapan tersebut. Kehadiran mereka di rapat ini menunjukkan komitmen dan dedikasi mereka terhadap keselamatan Benteng.
Profesor Aster melanjutkan dengan suara yang tenang namun penuh kepastian, "Kita berkumpul di sini untuk membahas situasi yang semakin mendesak di Benteng Selatan. Seperti yang telah saya paparkan, semenjak lima tahun yang lalu Benteng Timur jatuh ke tangan musuh, intensitas serangan monster morsus semakin meningkat di wilayah Benteng Selatan."
Dia memanipulasi layar proyektor, menampilkan data dan grafik yang menggambarkan peningkatan serangan morsus selama lima tahun terakhir. Grafik tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa ancaman morsus semakin mendekati pusat wilayah.
Profesor Aster melanjutkan dengan suara yang tenang namun penuh urgensi, "Kami telah melihat bahwa pola serangan ini semakin tidak terprediksi, dan monster morsus tampaknya semakin cerdas dalam taktik dan strategi mereka. Benteng Selatan menjadi titik fokus serangan ini, dan kita harus segera mengambil tindakan untuk menghentikan ancaman ini sebelum situasinya semakin buruk."
"Kami semua menyadari bahwa kita harus bertindak dengan cepat dan efektif untuk mengatasi ancaman ini. Oleh karena itu, rapat ini akan difokuskan pada merumuskan strategi yang kuat untuk menghadapi situasi ini dan melindungi wilayah kita," kata Profesor Aster dengan bersemangat.
Ketegangan terasa di udara saat para hadirin merenungkan informasi yang baru saja mereka terima. Mereka menyadari bahwa situasi semakin mendesak dan langkah-langkah harus segera diambil. Wajah-wajah mereka mencerminkan kekhawatiran, tetapi juga tekad untuk menghadapi tantangan ini.
__ADS_1