
2240
Distrik Timur Laut Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.677
Dalam cahaya matahari pagi yang masih memancar, kata-kata instruktur itu membawa rasa urgensi dan kepentingan bagi para prajurit yang mendengarkan.
Hegi dan Noy merasa semangat mereka semakin terpanggil, mengerti betapa pentingnya latihan ini untuk perkembangan mereka sebagai prajurit yang berbakat.
Instruktur Wili kemudian melanjutkan dengan suara yang tegas, "Saya akan segera memulai kelas ini. Seperti yang kalian tahu, dalam hutan ini terdapat berbagai sumber daya yang bisa menjadi potensi makanan atau minuman yang kita butuhkan. Tugas kalian sekarang adalah untuk mencari makanan dan minuman yang layak untuk kalian konsumsi."
Kata-kata Instruktur Wili mengarahkan perhatian para prajurit ke lingkungan sekitar. Mata mereka bergerak dari satu sudut hutan ke sudut lainnya, mencari tanda-tanda yang bisa menjadi petunjuk tentang potensi sumber makanan atau minuman.
Instruktur Wili kemudian dengan sigap naik ke atas pohon di dekatnya, mengambil perlengkapan yang telah ia siapkan sebelumnya. Para prajurit menyaksikan dengan rasa penasaran saat Instruktur Wili mengambil sesuatu dari atas pohon tersebut. Terlihat bahwa perlengkapan tersebut berisi kertas label dan alat tulis.
Setelah meraih perlengkapan itu, Wili kembali ke tanah dan melanjutkan pembicaraannya dengan suara yang jelas, "Perlengkapan ini akan kalian gunakan untuk menandai makanan atau minuman yang layak untuk kalian konsumsi. Namun, ada aturan khusus yang harus kalian ikuti."
Para prajurit mendengarkan dengan seksama, siap untuk memahami instruksi lebih lanjut.
"Ini adalah latihan kolaboratif," lanjut Instruktur Wili dengan tegas. "Jika kalian menemukan buah yang dapat dimakan, jangan memetiknya. Jika kalian menemukan hewan, jangan membunuhnya. Ini untuk keperluan teman kalian sesi selanjutnya. Cukup berikan nama kalian pada label ini dan tempelkan pada objek tersebut."
Hegi dan Noy saling bertatapan, merasa bahwa ini adalah pendekatan yang unik dan bermanfaat. Mereka merasa diingatkan bahwa latihan ini tidak hanya tentang mencari makanan dan minuman, tetapi juga tentang memahami pentingnya menjaga lingkungan alam dan melindungi ekosistem yang ada.
Instruktur Wili melanjutkan, "Ini adalah bagian dari kecerdasan bertahan hidup. Kalian akan belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan tanpa merusaknya. Ingat, sebagai prajurit, tanggung jawab kita juga termasuk menjaga alam sekitar."
Hegi dan Noy mengangguk setuju, merasa semakin terinspirasi untuk mengambil bagian dalam latihan ini dengan sungguh-sungguh.
Mereka tahu bahwa ini adalah pelajaran yang tak hanya berdampak pada kemampuan bertahan hidup mereka, tetapi juga pada sikap mereka terhadap lingkungan dan rekan-rekan mereka.
Dengan gerakan yang tegas, Instruktur Wili kemudian mendistribusikan label dan alat tulis kepada dua puluh lima kadet yang hadir. Setiap prajurit menerima label dengan hati-hati, merasa tanggung jawab yang terkandung dalam tugas ini.
Sambil memberikan perlengkapan tersebut, Instruktur Wili memberikan panduan lebih lanjut dengan suara yang tegas namun lembut, "Ingat, jangan memetik buah dan jangan membunuh hewan yang kalian temui. Ini adalah tugas kolaboratif yang melibatkan semua prajurit di sini. Kalian akan memberi nama pada label ini dan menempelkannya pada objek yang sesuai."
Setiap prajurit menerima pesan tersebut dengan penuh perhatian, mengerti pentingnya menghormati aturan yang diberikan oleh instruktur mereka. Panduan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai arahan praktis dalam tugas ini, tetapi juga sebagai pengingat tentang tanggung jawab mereka terhadap lingkungan dan rekan mereka.
Hegi dan Noy menerima label dan alat tulis mereka. Mereka merasa tanggung jawab mereka untuk menjalankan tugas ini dengan bijaksana dan hati-hati.
Panduan "jangan dipetik dan jangan dibunuh" menjadi pedoman yang mereka pegang erat dalam setiap langkah yang akan mereka ambil.
Setelah ia selesai membagikan label dan alat tulis kepada semua kadet, Instruktur Wili kembali berbicara dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan, "Sekarang, tugas kalian adalah menyelesaikan sepuluh label ini dengan benar. Setelah kalian selesai, berkumpul kembali di tempat ini. Saya akan memeriksa hasil kerja kalian satu per satu."
Setiap prajurit mendengarkan instruksi tersebut dengan penuh perhatian, menyadari bahwa ini adalah tahap penting dalam latihan ini. Mereka merasa semakin termotivasi untuk menjalankan tugas ini dengan baik, dengan harapan bahwa hasil pekerjaan mereka akan memenuhi harapan instruktur mereka.
__ADS_1
Instruktur Wili melanjutkan, "Ini adalah langkah pertama dalam membangun kemampuan bertahan hidup. Kemampuan mengidentifikasi sumber daya yang aman dan mematuhi aturan lingkungan adalah keterampilan yang penting bagi seorang prajurit. Lakukan dengan hati-hati dan teliti."
Hegi dan Noy mengangguk, merasa yakin bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Mereka merasa semakin termotivasi oleh tujuan belajar dan pertumbuhan yang terkandung dalam latihan ini.
Instruktur Wili juga memberikan pengingatan kepada para kadet, "Ingatlah, berhati-hatilah ketika berada di dalam hutan karena masih banyak hewan liar yang hidup di sini."
Pesan tersebut disampaikan dengan nada perhatian yang tulus, memberi tahu para prajurit tentang potensi bahaya yang bisa ada dalam lingkungan alam ini.
Setelah memberikan pengingatan, Instruktur Wili melanjutkan, "Sekarang, mari kita mulai pencarian ini." Dengan langkah mantap, dia memimpin langkah pertama dalam menjalankan tugas ini.
Para kadet menerima pesan itu, merasa diingatkan akan pentingnya tetap waspada dan berhati-hati dalam menjalankan tugas ini. Mereka tahu bahwa walaupun tugas ini bertujuan untuk memahami lingkungan alam, namun keselamatan mereka tetap harus menjadi prioritas utama.
Dengan instruksi yang telah diberikan dan peringatan tentang keberadaan hewan liar, para kadet mulai bergerak. Mereka menjelajahi hutan dengan pandangan tajam, mencari tanda-tanda yang bisa menjadi petunjuk tentang sumber makanan atau minuman yang aman.
Setelah mendengar instruksi tersebut, para kadet mulai bergerak dan berpencar, mencari apa yang telah diinstruksikan kepada mereka.
Instruktur Wili memperhatikan dengan seksama, melihat para kadet dengan teliti bergerak di antara pohon dan semak, menjalankan tugas dengan tekun dan hati-hati.
Sementara para kadet berfokus pada tugas mereka, Instruktur Wili kembali mendekati pohon beringin yang telah ia gunakan sebelumnya. Dengan langkah cepat, ia mendaki pohon tersebut dan duduk di atasnya dengan pandangan yang meliputi seluruh lapangan.
Dari tempatnya yang tinggi, ia bisa melihat gerakan dan aktivitas para kadet, mengawasi bagaimana mereka mengidentifikasi dan menandai sumber daya yang layak.
Instruktur Wili duduk di atas pohon dengan sikap yang santai, tetapi tetap penuh kewaspadaan. Dia melihat para kadet yang bergerak dengan tekun di antara dedaunan dan pepohonan, mencari tanda yang mungkin menjadi petunjuk tentang sumber makanan atau minuman yang aman.
Namun, ia juga menyadari bahwa tanggung jawab mereka tidak hanya terhadap diri mereka sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan alam yang harus dijaga dan dihormati.
Sambil menunggu para kadet menyelesaikan tugas mereka, Instruktur Wili merasakan angin lembut yang bertiup di antara daun-daun pohon. Dia merasa bangga melihat semangat dan ketekunan para kadet dalam menjalankan latihan ini. Dalam diam, dia berdoa agar pengalaman ini dapat memberikan pembelajaran yang berharga bagi mereka semua.
Di dalam hutan yang rimbun, Hegi telah aktif bekerja, menandai setidaknya setengah dari label yang telah diberikan oleh Instruktur Wili. Dengan hati-hati dan tekun, ia tidak hanya menempelkan label pada objek-objek yang sesuai, tetapi juga memberi nama pada setiap label tersebut.
Pengalaman dan pengetahuan yang diberikan oleh Kak Sera sebelumnya membantu Hegi dalam mengenali sumber daya yang aman dan layak untuk diberi label.
Dalam prosesnya, Hegi merasa semakin percaya diri dalam memilih benda yang cocok untuk ditandai. Ia dapat mengenali jejak keberadaan sumber makanan dan minuman, serta mengidentifikasi tumbuhan dan benda yang bisa memberikan manfaat bagi mereka.
Setiap label yang ditempelkan menjadi tanda dari kecerdasan bertahan hidup yang ia pelajari, serta komitmennya untuk menjaga alam sekitar.
Sementara ia melanjutkan pekerjaannya, Hegi terus memperhatikan lingkungan sekitar. Ia memahami bahwa di dalam hutan ini masih banyak hewan liar yang beraktivitas, dan ia berusaha untuk tetap waspada dan berhati-hati.
Setiap langkah yang diambilnya didasarkan pada pertimbangan yang hati-hati, mengutamakan keamanan dirinya dan teman-teman sejawat.
Setelah satu jam penuh konsentrasi dan kerja keras, Hegi akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya dengan menempelkan label terakhir pada seekor kelinci yang ia temui.
Meskipun ada sedikit kesusahan dalam menempelkan label pada hewan yang lebih aktif, tetapi dengan ketekunan dan usaha, Hegi akhirnya berhasil melakukannya.
__ADS_1
Dia merasa puas dengan hasil pekerjaannya, menyadari bahwa setiap label yang ia pasang adalah hasil dari pemahaman dan keterampilan yang telah ia kembangkan selama ini.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Hegi meninggalkan hutan dengan perasaan bangga. Langkahnya yang berhati-hati membawanya keluar dari rimbunan pepohonan dan kembali ke tempat pertemuan awal, di mana para kadet lainnya juga berkumpul.
Dalam sinar matahari pagi yang masih cerah, Hegi merasa rasa kepuasan yang mendalam, mengetahui bahwa ia telah menjalankan tugasnya dengan baik.
Saat ia bergabung dengan para kadet lainnya, mereka saling bertukar cerita tentang apa yang telah mereka temukan dan bagaimana mereka berhasil menandai sumber daya yang layak.
Wajah-wajah mereka berseri-seri, tercermin rasa senang dan pencapaian yang mereka rasakan setelah menyelesaikan latihan ini. Hegi juga ikut tersenyum dan mendengarkan dengan penuh antusias, merasa terhubung dengan rekannya dalam pengalaman yang bermanfaat ini.
Setelah menunggu tiga puluh menit di tempatnya, Hegi akhirnya melihat seorang kadet yang terakhir menyelesaikan tugasnya. Dengan pandangan penuh apresiasi, ia melihat bahwa semua kadet kembali dengan keadaan yang baik-baik saja.
Mereka mengikuti instruksi dari Instruktur Wili dengan baik dan tetap menjaga keamanan dalam menjalankan tugas ini. Namun, terlihat jelas bahwa kelelahan terpancar dari wajah-wajah mereka setelah melalui latihan yang intens ini.
Hegi merasa bangga dan terkesan oleh semangat dan dedikasi rekan-rekannya. Meskipun tampak lelah, tetapi mereka tetap berdiri dengan tegar, siap menerima penilaian atas hasil pekerjaan mereka.
Hegi tahu bahwa ini adalah pengalaman berharga yang telah mengajarkan mereka lebih dari sekadar keterampilan bertahan hidup, tetapi juga sikap tanggung jawab dan kerja sama dalam tim.
Dalam cahaya matahari yang semakin hangat, para kadet berkumpul di tempat pertemuan dengan perasaan puas atas pencapaian mereka. Mereka merasa terhubung satu sama lain, sebagai tim yang telah berhasil menjalankan tugas dengan baik.
Instruktur Wili turun dari pohon dan berdiri di tengah-tengah mereka dengan sikap yang penuh penghargaan terhadap hasil kerja keras para kadet. Dengan senyuman hangat, ia memberikan penghargaan pada usaha dan dedikasi yang mereka tunjukkan selama latihan ini.
Instruktur Wili mulai berbicara dengan suara yang tegas namun penuh penghormatan, "Kalian semua telah berhasil menyelesaikan tugas ini dengan baik. Saya ingin mengucapkan apresiasi kepada kalian atas usaha keras dan kedisiplinan yang telah kalian tunjukkan. Latihan bertahan hidup ini bukan hanya tentang menandai sumber daya alam, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga lingkungan dan saling mendukung sebagai tim."
Para kadet mendengarkan dengan perasaan bangga, merasa diakui atas upaya mereka yang telah mereka lakukan selama latihan ini. Mereka merasa semakin terhubung dengan instruktur mereka, mengetahui bahwa kerja keras mereka tidak luput dari perhatian.
Instruktur Wili melanjutkan, "Saya akan segera mengecek hasil pekerjaan kalian satu per satu dan memberikan kesimpulan dari latihan ini. Ini adalah momen yang penting bagi kalian untuk melihat apa yang telah kalian pelajari dan bagaimana kalian dapat terus berkembang dari pengalaman ini."
Setelah mengucapkan kata-katanya, Instruktur Wili tiba-tiba berlari menuju hutan dengan kecepatan yang luar biasa. Para kadet yang menyaksikannya terkagum-kagum oleh aksi tiba-tiba ini.
Mata mereka memandangi instruktur mereka yang bergerak cepat dan lincah, seperti seorang ahli di alam liar. Gerakan Instruktur Wili yang tiba-tiba dan gesit ini meninggalkan kesan yang mendalam pada para kadet.
Mereka terkesan oleh kelincahannya dan mungkin juga sedikit terkejut oleh kecepatan dan ketangkasan yang dimilikinya. Gerakannya yang tegas dan mantap menggambarkan keahlian dan kemampuan yang luar biasa dalam beradaptasi dengan lingkungan alam.
Para kadet bertukar pandangan dengan penuh kekaguman, menyadari bahwa Instruktur Wili adalah contoh langsung dari kecakapan yang dapat dicapai melalui latihan dan pengalaman yang terus-menerus.
Tindakan tiba-tiba ini juga memberikan pesan bahwa mereka memiliki potensi untuk terus berkembang dan menjadi lebih tangkas serta terampil dalam menghadapi situasi yang beragam.
Setelah aksi tiba-tiba Instruktur Wili dan dia pergi ke dalam hutan, para kadet tinggal di tempat pertemuan, menunggu dengan antusias untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mereka merasa penasaran tentang alasan di balik tindakan mendadak instruktur mereka dan apa yang mungkin akan terjadi setelahnya.
Sementara mereka menunggu, para kadet saling berbicara dan bertukar pandangan. Beberapa dari mereka mengobrol tentang latihan yang baru saja mereka selesaikan, sementara yang lain berbicara tentang pengalaman mereka selama tugas ini.
__ADS_1
Waktu berlalu dan matahari terus naik di langit, para kadet tetap menunggu dengan penuh kesabaran. Mereka merasa semakin dekat sebagai sebuah kelompok, merasakan ikatan persaudaraan yang tumbuh dalam menjalani latihan ini bersama-sama.