Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 20: Menuju Akhir Tes


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.671


"Tolong!!" suara wanita itu memecah keheningan yang mencekam, menusuk masuk ke dalam telinga Hegi dengan kegentingan yang terasa.


Tanpa ragu dan dengan refleks yang cepat, Hegi segera merespons panggilan tersebut. Ia tahu bahwa tanggapannya bisa menjadi penentu nyawa seseorang dalam simulasi ini.


Dalam situasi yang tegang dan penuh dengan ketidakpastian, Hegi mempertaruhkan segalanya untuk membantu wanita yang membutuhkan pertolongan. Ia mempercepat langkahnya, bergerak ke arah suara yang datang dari jam empat. Adrenalinnya meningkat, tetapi Hegi tetap fokus dan mempertahankan kejelian pikirannya.


Ia melihat dengan ngeri dua ekor morsus yang sedang menyerang dengan keganasan yang mematikan. Di depan mereka, terjebak dua orang manusia yang berusaha keras melawan untuk bertahan. Namun, dalam perjuangan yang sia-sia, satu anak kecil akhirnya dimakan dan menjadi korban morsus yang rakus.


Tangisan putus asa anak kecil itu mengisi udara, memecah keheningan yang mencekam. Hegi, yang menjadi saksi adegan yang mengerikan itu, merasakan ketakutan yang luar biasa membanjiri dirinya. Kengerian dan keputusasaan mencengkeram hati Hegi saat ia melihat ketidakberdayaan dan penderitaan yang tak terhindarkan.


Hegi merasakan kejutan yang mendalam saat gambaran di depan matanya mengingatkannya pada tragedi masa lalu yang terjadi lima tahun yang lalu. Tempat kelahirannya diserang oleh morsus yang ganas, meninggalkan bekas luka emosional yang dalam dalam dirinya.


Ingatan itu terus menghantuinya, tetapi ia bersumpah untuk tidak membiarkan masa lalu mengendalikan dirinya di saat yang paling kritis. Meski gambaran di depannya membawa kembali ingatan yang menyakitkan, ia tahu bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk bertindak dan mencegah kejahatan yang sedang terjadi.


Ia berlari menuju wanita yang membutuhkan pertolongan, mendorong dirinya untuk melampaui ketakutannya dan memperlihatkan sisi kepahlawanannya. Dalam hitungan detik, Hegi tiba di samping wanita yang masih terpaku ketakutan. Ia meraih tangannya dengan erat, memberikan kekuatan dan dukungan yang diperlukan di saat-saat genting seperti ini.


Tanpa ragu, mereka berlari bersama menuju bangunan yang masih berdiri, meskipun hanya tersisa sebagai reruntuhan dari kehancuran sekitarnya. Meskipun bangunan itu telah terluka dan tak sempurna, mereka menganggapnya sebagai tempat yang lebih aman dalam keadaan darurat ini.


Dalam kegelapan dan keheningan yang melingkupi mereka, Hegi dan wanita itu mencari tempat perlindungan di antara sisa-sisa yang masih tegak. Di tengah kekacauan, Hegi berusaha menghadirkan ketenangan bagi wanita itu dengan kata-kata penghiburan yang lembut, memberikan harapan bahwa mereka akan selamat dari situasi yang mengerikan ini.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Hegi dengan suara lembut, kekhawatiran jelas terpancar dari raut wajahnya saat mereka mencapai tempat yang dianggap aman. Ia memperhatikan wanita itu yang masih terguncang oleh kejadian mengerikan yang baru saja mereka lalui.


Wanita itu, terlihat lemah dan hancur, tidak mampu menjawab pertanyaan Hegi. Ia hanya menganggukkan kepala dengan mata yang masih penuh dengan ketakutan dan kebingungan, serta tangisan yang tak terbendung.


Hegi memahami betapa traumatis kejadian tersebut bagi wanita itu dan berusaha memberikan dukungan emosional dengan kehadirannya yang penuh perhatian dan pengertian.


Hegi merasakan beban emosional yang dialami oleh wanita itu. Ia mengerti bahwa trauma seperti ini tidak bisa diatasi dengan kata-kata yang sederhana. Ia duduk di dekat wanita itu dan dengan lembut meletakkan tangannya di atas bahunya, memberikan dukungan dan kehangatan yang ia bisa berikan.


"Maukah kau berbicara padaku?" Hegi bertanya dengan suara lembut, menunjukkan kepedulian dan keinginannya untuk mendengarkan. "Aku di sini untuk membantu, dan kau tidak sendirian."


Wanita itu melihat wajah Hegi yang penuh kebaikan dan kepercayaan. Perlahan, air mata mulai mengalir di pipinya, dan suara gemetar keluar dari bibirnya, "Anak-anakku... Mereka... Mereka pergi..."


Hegi merasakan kedalaman kesedihan yang terpancar dari setiap kata yang diucapkan oleh wanita itu. Ia memahami betapa beratnya kehilangan yang dialami olehnya.

__ADS_1


Dengan penuh empati, Hegi merangkul wanita itu dengan lembut, memberikan kehangatan dan dukungan yang diperlukan. Hegi memahami rasa kehilangan yang dirasakan oleh wanita itu. Ia merasa tanggung jawabnya untuk memberikan dukungan dan menghibur wanita itu yang telah kehilangan anaknya.


Hegi merasa terkejut dan sedikit terguncang oleh situasi yang baru saja mereka alami. Meskipun mereka berada dalam simulasi, kejadian tersebut melebihi ekspektasinya dan menciptakan rasa keterkejutan yang nyata.


Ia menyadari bahwa simulasi ini dirancang untuk menguji ketangguhan mental dan kemampuan pengambilan keputusan dalam situasi yang ekstrem.


Namun, meskipun mengetahui bahwa itu hanya simulasi, Hegi tidak bisa menahan perasaan bahwa kejadian tersebut membuatnya merasakan kembali trauma dan rasa takut yang pernah ia alami dalam kehidupan nyata. Ketakutan yang dihadapi oleh wanita dan anak-anak dalam simulasi tersebut menciptakan respons emosional yang kuat dalam dirinya.


Hegi melirik keadaan sekitar dengan hati-hati, memastikan bahwa mereka berada dalam lingkungan yang aman. Dalam pandangan dari jendela yang terbuka, ia melihat bahwa morsus yang menyerang mereka telah pergi.


Rasa lega menyelubungi dirinya, namun ia tetap waspada terhadap potensi bahaya lain yang mungkin ada di sekitarnya. Dengan penuh kehati-hatian, Hegi mendekati wanita yang masih terguncang dan tidak mampu berkata-kata.


Hegi kemudian berbicara dengan lembut kepadanya, "Ayo keluar, aku akan mencari bantuan. Keadaan di luar telah aman." Hegi berharap dapat memberikan sedikit ketenangan pada wanita tersebut dan membantu memulihkan kepercayaan dirinya.


Wanita itu, meski masih dalam keadaan trauma, mengerti pesan yang disampaikan oleh Hegi. Ia mengangguk perlahan dan bersiap untuk keluar dari tempat perlindungan. Hegi membimbingnya dengan hati-hati, memberikan dukungan emosional, dan memastikan bahwa mereka bergerak menuju area yang lebih aman.


Di luar bersama wanita itu, Hegi merasa kebingungan. Sebenarnya, ia tidak tahu dengan pasti di mana mereka berada dalam simulasi ini. Ia sadar bahwa ia telah berbohong kepada wanita itu tentang mencari bantuan. Namun, ia tidak ingin menambah kepanikan atau kekhawatiran wanita itu dengan memberitahunya kebenaran.


Hegi memperhatikan keadaan sekitar, mencoba mengidentifikasi tanda-tanda yang bisa membantu mereka menemukan jalan keluar. Ia merasa bertanggung jawab untuk melindungi wanita itu dan membimbingnya menuju keadaan yang lebih aman.


Walaupun tidak yakin apa langkah yang harus diambil selanjutnya, Hegi berusaha mempertahankan ketenangan dan keyakinan di hadapan wanita itu.


"Denganmu bersama, kita akan mencari jalan keluar dari sini," ucap Hegi dengan suara mantap, meskipun ia tidak yakin apakah kata-katanya akan terbukti benar. "Aku akan menjaga kita tetap aman. Kita harus tetap bersama dan berusaha mencari petunjuk atau tanda yang bisa membawa kita ke tempat yang lebih baik."


Hegi langsung merasakan detak jantungnya dipercepat. Namun, ia tidak ragu lagi dan segera mengambil tindakan. Dengan kekuatan dan ketepatan, ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dan dengan cepat berlari menjauhi ancaman yang mendekati mereka.


Tangannya yang erat memegang tangan wanita itu, memberikan rasa perlindungan dan ketenangan di tengah situasi yang mencekam. Hegi berusaha menjaga ketenangan dan memberikan dukungan pada wanita tersebut, membimbingnya melalui gerakan yang cepat dan menghindari serangan morsus yang ganas.


Hegi bisa merasakan nafas wanita itu terengah-engah di sampingnya, tetapi mereka terus berlari tanpa memperhatikan kelelahan yang mulai merasuki tubuh mereka.


Morsus yang memburu mereka mengeluarkan raungan ganas, membuat mereka semakin mempercepat langkahnya. Hanya tujuan mereka yang ada di benak, yaitu melindungi diri dan bertahan hidup.


Morsus itu terus mengejar mereka dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ketika berlari, Hegi melihat bahwa wanita itu semakin lelah dan tak mampu lagi untuk melanjutkan. Ia melihat ke dalam mata wanita itu, dan melihat keputusasaan yang terpancar di dalamnya.


Dengan napas tersengal-sengal, wanita itu berkata pada Hegi dengan suara yang lemah, "Pergilah... Kau bukan dari sini kan? Saat ini tes mu telah berhasil. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Selamatkan dirimu sendiri."


Wanita itu dengan tiba-tiba mendorong Hegi dengan kekuatan yang tak terduga. Sebelum Hegi bisa merespons, ia melihat dengan ngeri bagaimana tubuh wanita itu terjatuh ke tanah dan menjadi mangsa morsus yang ganas.


"AAAAAAA!" Teriakan Hegi tercekat di tenggorokannya, keheningan yang mendalam memenuhi udara. Ekspresi wajahnya mencerminkan rasa tak percaya dan ngeri atas apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Dalam sekejap, dunia Hegi berputar dan segala keberanian yang ia rasakan sebelumnya lenyap seketika. Hatinya terisi dengan kehilangan dan penyesalan yang mendalam, menyadari bahwa ia telah kehilangan nyawa seorang wanita yang ia coba selamatkan.


Saat Hegi berteriak dengan keras, tubuhnya tiba-tiba terasa ringan dan ia merasakan sensasi aneh. Dalam sekejap, ia menyadari bahwa ia keluar dari pengalaman VR yang intens tadi. Mekapun muncul notifikasi di layar, menunjukkan bahwa ia telah menyelesaikan tes tersebut.


Dalam keadaan yang masih terguncang, Hegi perlahan melepaskan alat VR dari kepalanya. Ia merasa tubuhnya berkeringat dan lelah, mencerminkan intensitas pengalaman yang baru saja dialaminya. Matanya terus terpaku ke dalam hampa, mencoba memproses dan memahami apa yang baru saja terjadi.


Wanita yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya, keadaan mengerikan di dalam simulasi, dan sensasi nyata yang dirasakannya, semuanya menjadi satu dalam kebingungan dan keterkejutan Hegi. Ia terus merasakan getaran emosi yang mendalam, mencampur aduk antara rasa syukur, kesedihan, dan rasa hormat kepada wanita yang telah berkorban.


Hegi menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengembalikan ketenangan dan keseimbangannya. Ia tahu bahwa ini hanya tes, meski pengalaman yang ia rasakan sangat nyata dan menggetarkan. Namun, dampaknya terasa begitu kuat dalam pikirannya, mempengaruhi emosi dan persepsi tentang apa yang baru saja dialaminya.


Dalam keadaan yang masih terpaku dengan apa yang baru saja dialaminya, Hegi perlahan bergerak dari tempatnya dan duduk di pojok aula. Ia membutuhkan waktu untuk memproses semua yang telah terjadi, untuk mencari kedamaian dalam dirinya yang terguncang.


"Karena semua telah selesai melakukan tes ini, saya akan menyampaikan hal penting", kata penguji Wili kepada para peserta tes bertahan hidup.


Suara penguji membuyarkan lamunan Hegi, ia tidak tahu sudah berapa jam dia duduk disana. Terdiam sejenak, Hegi menarik diri dari pemikirannya dan memfokuskan perhatiannya pada ucapan penguji.


"Saya akan menyampaikan bahwa pengumuman yang lolos seleksi dan tidak akan dilaksanakan besok pagi di sini, aula militer. Saya harap kalian datang kesini tepat waktu," kata Wili dengan suara tegas, memastikan semua peserta mengerti pentingnya hadir pada acara pengumuman tersebut.


"Dan untuk alat VR yang kalian pegang, kalian dapat menyimpannya," lanjutnya sambil menunjuk ke arah alat VR yang masih dipegang oleh para peserta tes.


Para calon prajurit menganggukkan kepala sebagai tanda pemahaman. "Apa kalian paham?" tanya Wili sekali lagi, memastikan peserta benar-benar memahami instruksinya.


"Paham, Pak!" jawab para calon prajurit serentak, tampak fokus dan siap menerima hasil pengumuman nanti.


Tampak kelegaan di wajah mereka karena tes yang melelahkan akhirnya berakhir, dan antusiasme mereka memenuhi ruangan saat mendengar tentang pengumuman hasil seleksi. Hegi merasa detak jantungnya mulai mereda, namun ia tetap penuh harap akan hasil pengumuman nanti.


“Karena kalian sudah paham, saya pamit untuk undur diri. Semoga kesuksesan bersama kalian,” ucap Wili kepada para calon prajurit.


Penguji Wili akhirnya pergi untuk meninggalkan aula militer, meninggalkan para calon prajurit. Mata mereka dipenuhi dengan semangat dan harapan, karena pengalaman tes bertahan hidup telah membawa mereka lebih dekat dengan impian menjadi prajurit yang tangguh dan berdedikasi.


Mengikuti Wili, para calon prajurit itu akhirnya pergi meninggalkan tempat itu, mereka menuju ke asrama militer. Langkah-langkah mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan harapan, seakan membawa aura kebersamaan dan kepercayaan diri setelah menjalani tes yang menantang.


Meski tubuhnya merasa lelah dan terguncang, Hegi merasa lebih baik setelah mengetahui bahwa semua telah berakhir. Rencananya ia akan langsung pergi tidur dan melupakan semua yang telah dialaminya hari ini.


...****************...


Hegi tiba di dalam asramanya, ia langsung melepas bajunya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dengan air yang mengalir menenangkan, dia merasa seolah-olah semua beban dan kelelahan dari tes berat tadi sirna pergi.


Setelah mandi dan mengenakan bajunya, ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Rasa nyaman tempat tidur tersebut menghampirinya, dan ia merasa tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat setelah hari yang melelahkan. Namun, pikirannya masih dipenuhi dengan antusiasme dan ketegangan akan pengumuman hasil seleksi besok pagi.

__ADS_1


Dalam keheningan asrama, Hegi merenung tentang perjalanan yang telah ia lalui selama tes. Ia merasa bangga atas usaha keras yang telah dilakukannya, dan meskipun ketidakpastian masa depan masih mengintai, ia merasa lebih percaya diri dengan apa yang telah dicapainya.


Setelah beberapa saat merenung, akhirnya kelelahan dan antusiasme tersebut mengantar Hegi ke dalam tidur yang nyenyak. Ia berharap besok pagi akan membawa kabar baik dan peluang baru dalam hidupnya, dan dengan keyakinan yang kuat, ia membiarkan mimpi-mimpinya membawanya ke dalam dunia imajinasinya.


__ADS_2